
Dia adalah pria yang selama ini kurindukan, yaitu suamiku. Kupikir dia akan dikalahkan oleh egonya sendiri. Kupikir dia tidak akan pernah datang melihat kami disini. Seandainya dia sampai besok kesini, aku akan pulang ke kampungku, desa Landia.
Aku menggendong putriku Syakira menuju ruang tamu untuk menemui suamiku yang sedang duduk mengobrol dengan bang Raka.
" Kapan datang bang?", tanyaku sambil menyalaminya.
" Barusan dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Ponselmu ga bisa Abang hubungi, takut kalian apa-apa, makanya aku segera datang kesini untuk menjenguk kalian", ucapnya menjelaskan.
Kukira dia datang karena merindukan kami, ternyata tidak, tapi tak apalah, yang penting dia masih ingat dengan kami, ucapku dalam hati.
Aku memberikan putriku Syakira ke pangkuan suamiku.
" Gendong dulu bentar bang, biar aku buatin minum dan cemilan", ucapku sambil berlalu pergi menuju dapur.
" Gimana keadaan kak Khadijah?", tanya Izal kepada Raka.
" Alhamdulillah sehat, kebetulan aku sedang membantunya merawat bayi kami tadi, pas kamu datang, sebentar lagi, Khadijah akan kesini", jawab Raka.
" Udah lama nyampenya dek?", tanya Khadijah kepada Izal.
" Baru saja kak, gimana kabarnya kak?", tanya Izal.
" Alhamdulillah sehat dek, ini semua berkat bantuan dek Ani, dia membantuku merawatku selama di rumah sakit, sedangkan bang Raka bekerja di kantor ", ucap Khadijah.
" Syukurlah kalau Kakak baik-baik saja ", ucap Izal.
"Silahkan di minum tehnya dan di makan cemilannya ", ucapku sambil tersenyum dan duduk di samping suamiku.
" Makasih ya dek, udah bantuin kakak", ucap kak Khadijah sambil tersenyum padaku.
" Ga usah berterima kasihlah kak, kita kan keluarga, sudah sepatutnya kita harus saling tolong-menolong dan saling menyayangi", ucapku sambil tersenyum padanya.
Kamipun mengobrol sampai waktu Maghrib tiba. Setelah adzan magrib berkumandang. Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk mengambil wudhu dan sholat Maghrib di kamar.
Kak Khadijah dan suaminya Raka bergegas menuju kamar tidur mereka. Sedangkan suamiku, sedang duduk santai di ruang tv sambil memainkan ponselnya.
" Abang udah sholat?", tanyaku.
" Ntar lagi, lagi nanggung nih SMS an sama temen kerja", jawabnya sambil sibuk memainkan ponselnya.
__ADS_1
Aku diam saja melihat tingkahnya. Aku pikir dia sudah berubah menjadi orang yang lebih baik dan semakin mendalami ilmu agama Islam, ternyata sama aja.
Dulu, sewaktu ayah mertuaku baru meninggal dunia, dia berubah total menjadi muslim yang taat beribadah dan bertaqwa kepada Allah SWT, tapi itu hanyalah sementara. Sekarang tingkah lakunya semakin parah.
Barulah aku sadari kalau dia memang sifatnya seperti itu, sangat egois, dan selalu mencari kesempurnaan, padahal tidak ada yang sempurna di dunia ini, hanya Allah yang Maha Sempurna.
Berkali-kali kucoba untuk mengingatkannya, tapi tidak berhasil sampai sekarang. Akhirnya, aku biarkan saja, mungkin itu yang membuatnya bahagia.
Terkadang yang kita lihat dari luar baik, belum tentu baik di dalamnya. Semoga Allah SWT menggerakkan hatimu untuk menjadi muslim yang taat kepada Allah dan rasul-nya, serta mencintaiku apa adanya diriku, sebelum rasa cintaku ini hilang ditelan oleh rasa sakit yang kamu berikan, ucapku dalam hati sambil berlalu meninggalkannya menuju kamar tidur kami.
Aku bermain dengan putriku, di umur yang sudah genap sembilan bulan ini, putriku sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan dengan bantuanku. Jujur saja, aku masih takut putriku terjatuh, jika aku melepaskannya untuk berjalan sendiri.
Setelah bermain sejenak, aku menggendong putriku menuju dapur mengambil makanan untuk kami makan malam ini.
Aku terlebih dahulu menyuapi putriku makan, setelah putriku kenyang, barulah aku makan malam. Selesai makan, aku bergegas ke ruang tamu untuk menemui suamiku.
" Abang mau makan malam sekarang?", tanyaku setelah duduk di kursi sebelahnya kirinya.
" Ntar lagi ya, abang belum lapar, kamu istirahat aja dulu, nanti aku ambil sendiri", ucapnya tanpa melihatku sedikitpun, dia hanya memperhatikan ponselnya.
Ntah apa yang dilakukannya dengan ponsel itu. Seandainya aku bisa membuang ponsel itu, aku akan merasa senang dan bahagia, agar dia bisa memperhatikanku lagi seperti dulu, jika kami sedang dalam, dia tidak akan memperdulikan ponselnya, tapi sekarang, melihatku saja, dia tidak mau.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju kamar kak Khadijah.
" Wa alaikum salam dek, masuklah ke dalam", ucap kak Khadijah setelah membuka pintu kamarnya.
" Aku pikir, kakak sudah tidur, ooh ya, bang Raka ngasih nama bayi kakak siapa?", tanyaku penasaran.
" Bang Raka ngasih nama Rizvan Aditya dek, bagus gak menurut Adek?", tanyanya padaku.
" Kalau nama yang dikasih ayahnya sendiri, yah bagus donk kak", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Suamimu udah makan malam?", tanyanya.
" Belum kak, katanya belum lapar, nanti dia ambil sendiri ", ucapku dengan singkat.
" Kamu yang sabar ya dek, semoga suamimu mendapatkan hidayah dari Allah SWT", ucap kak Khadijah sambil menggenggam tanganku.
" Aku hanya takut kak, kalau dia berubah di saat aku sudah menyerah dan lelah, jika sudah seperti itu, aku tidak akan ragu lagi untuk meninggalkannya dan pergi jauh, dan aku akan merawat putriku ini sendirian, inshaa Allah, aku akan berusaha untuk tegar dan kuat dalam menghadapi ujian hidup ini ", ucapku sambil menahan air mataku agar tidak keluar, karena aku tidak mau, putriku melihatku menangis.
" Jangan pernah menyerah dek, yakinlah akan kuasa Allah, teruslah berdoa agar suamimu berubah baik seperti dulu lagi, dan kakak akan bahagia merasa bahagia, jika kamu juga bahagia ", ucapnya sambil memelukku dengan erat.
__ADS_1
" Aku sudah sadar kak, kalau semua kebaikan yang dulu dia lakukan padaku hanyalah sebuah topeng untuk menutup keburukannya, dan aku semakin menyadari kalau dia tidak pernah mencintaiku. Ooh ya kak, sebaiknya aku ke kamarku dulu ya kak untuk istirahat dan menidurkan Syakira", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Baiklah adekku sayang, tetaplah semangat dan optimis, kakak akan selalu mendukungmu", ucap kak Khadijah sambil tersenyum padaku.
Aku bergegas menuju kamar tidur kami sambil menggendong putriku Syakira.
Setelah di dalam kamar, aku menidurkan putriku Syakira yang sudah mengantuk dari tadi. Tidak lama kemudian, ketika putriku sudah terlelap, suamiku masuk ke dalam kamar.
Aku diam saja dan tidak peduli dengan kehadirannya. Aku bergegas menarik selimutku untuk tidur bersama Putriku.
Aku tahu dia mau berbicara denganku, tapi aku pura-pura tidak tahu dan aku memang tidak ingin berbicara dengannya.
Itulah sifat buruk yang kumiliki, keras kepala. Jika aku sudah lelah, aku tidak akan mau mempedulikan siapapun lagi, selain putriku tercinta, Syakira.
Saat aku mulai terlelap, aku merasakan tangan suamiku sedang memeluk tubuhku dari belakang. Aku biarkan saja, karena aku sudah sangat mengantuk.
Tanpa basa-basi, dia menelentangkan tubuhku, dan mulai menciumiku dan mencumbuiku. Aku tidak membalas ciuman dan cumbuannya, tapi aku biarkan saja dia melakukan apapun pada tubuhku, karena dia masih suamiku, dan aku wajib melayaninya, walau tanpa rasa apapun.
Setelah dia menyalurkan hasratnya padaku, aku membuka mataku dan bergegas menuju kamar mandi yang ada di kamar ini untuk membersihkan tubuhku.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku memakai pakaianku kembali dan tidur disamping Putriku dan aku tidur dengan membelakanginya.
Malam pun berlalu, pagi hari pun tiba. Seperti biasa, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya. Setelah mandi wajib, aku melaksanakan tugasku sebagai muslim yang taat kepada Allah SWT. Setelah itu, aku bergegas menuju dapur untuk memasak makanan untuk kami makan pagi ini, berhubung putriku masih tidur.
Selesai memasak makanan, aku mencuci peralatan masak yang kotor dan piring yang sudah kami pakai semalam.
Setelah itu, aku membersihkan rumah bibiku ini, agar bersih dan nyaman.
Aku melakukan pekerjaan rumah tangga ini dengan senang hati, karena ini memang sudah tugasku sebagai ibu rumah tangga, walaupun tidak di rumahku sendiri.
Aku beristirahat sebentar di teras rumah sambil melihat orang yang sedang lalu lalang di depan rumah ini.
" Dek, hari ini kita pulang ke Medan ya, kamu berkemas aja ya", ucap suamiku sambil duduk di kursi sebelah kananku.
" Aku tidak mau pulang bersamamu ke Medan, aku mau disini saja dengan kak Khadijah", ucapku ingin melihat reaksinya.
" Apa kamu tidak malu membebani orang lain?", ucapnya sambil menatapku tajam.
Seketika aku terdiam, dan beranjak dari tempat dudukku, aku berjalan menuju kamar tidur kami untuk melihat putriku yang sedang menangis histeris.
Mungkin putriku...
__ADS_1
Bersambung...