
POV. Izal
Malam pun tiba, ketika aku pulang dari rumah temanku, dan tiba di depan rumah kontrakan kami, aku melihat duduk di teras rumah untuk menungguku pulang.
Dua memberitahuku tentang kepergian istriku dan putriku membawa tas yang lumayan besar dengan menggunakan bahasa isyarat.
Mengetahui hal itu, aku menjadi khawatir dan menyesal karena tidak menemani isteriku untuk menjenguk kak Khadijah.
Tapi, karena aku tahu dia tidak memiliki uang yang banyak, otomatis dia akan cepat kembali ke rumah ini bersamaku, ucapku dalam hati sambil berjalan menuju kamar tidur kami.
Aku merebahkan tubuhku yang terasa lelah. Sejujurnya, aku merasa bersalah telah bersikap cuek padanya selama ini, tapi mau gimana lagi, aku sangat kesal dan kecewa dengan perkataannya waktu itu, yang kk Ebih mementingkan uang daripada kesedihan yang kurasakan.
Walau dia sudah menjelaskan niat baiknya dan meminta maaf kepadaku, tapi hatiku belum siap untuk memaafkannya.
Aku masih mencium wangi melati di dalam kamar ini. Wangi parfum kesukaan istriku. Seketika itu aku merasa sepi dan rindu yang tiada terkira.
Aku bergegas mengambil ponselku yang kuletakkan di atas meja rias, dan mencoba menghubungi nomor handphone istriku.
Setelah beberapa kali kutelpon, tidak kunjung masuk, malahan operator yang berbicara memberitahukan bahwa nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
Mungkin dia lupa mencharger ponselnya, sehingga baterai ponselnya habis dan tidak aktif, ucapku dalam hati.
Setelah merasa tenang, aku beranjak dari tempat tidur menuju dapur untuk makan malam, karena perutku mulai keroncongan.
Aku membuka tudung saji, aku hanya melihat sebuah telur mata sapi dan sayur bening bayam. Walau begitu, aku tetap menyantap makanan itu sampai habis tanpa sisa.
Aku teringat saat istriku menemaniku makan dan mengambilkan air minum untukku, tetap melayaniku dengan baik, walau aku tidak memperlakukannya dengan baik akhir-akhir ini.
Selesai makan dan minum, aku mencoba menghubungi ponselnya kembali, tapi masih tidak tersambung.
Syetan mulai menggodaku dan membisikkan sesuatu yang negatif ke dalam pikiranku, mungkin dia sedang bersenang-senang dengan Raka, karena saat ini, kak Khadijah tidak bisa melayani Raka, ucapku dalam hati sambil mengepalkan tanganku.
Aku semakin gelisah dan tidak bisa tidur. Aku takut dan khawatir jika istriku meninggalkanku, bagaimana aku akan merawat dan membesarkan putriku seorang diri, ucapku dalam hati.
Pikiran dan hatiku berkecambah di dalam bathinku, akhirnya aku tertidur lelap karena merasa lelah bercampur rasa bersalahku pada istriku.
POV. Ani
Waktu berlalu, tidak terasa sudah tiga hari, aku tidak mengaktifkan ponselku juga selama tiga hari ini. Aku memang sengaja menonaktifkan ponselku, karena aku ingin suamiku merasakan rasa sakit, khawatir, dan kesepian seperti yang kurasakan akhir-akhir ini, karena perilakunya.
Hari ini, hari terakhir kak Khadijah dirawat di rumah sakit ini, untuk pemulihan lebih lanjut, bisa dilakukan di rumah kak Khadijah.
__ADS_1
Setelah pemeriksaan terakhir dari dokter spesialis kandungan, dan menerima resep obat rawat jalan dari dokter, kami bersiap-siap untuk pulang ke rumah kak Khadijah.
Karena aku sedang menggendong putriku, otomatis kami meminta bantuan salah satu suster untuk menggendong bayi kak Khadijah, karena bang Raka sudah kerepotan membawa barang-barang kami ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan rumah sakit ini.
" Put, kami mau minta tolong pada salah satu suster rumah sakit ini untuk menggendong bayi kak Khadijah sampai ke rumahnya, karena aku tidak bisa menggendong bayi kak Khadijah, dan Bang Raka yang mengendarai mobil nantinya, sedangkan kak Khadijah masih dalam pemulihan ", ucapku dengan penuh harap.
" Baiklah, nanti suster Cantika yang akan menggendong bayi kak Khadijah samapi rumah kalian, nanti dia kembali kemari naik ojek aja, ga usah diantar ya", ucap Putri sambil tersenyum padaku.
" Terima kasih ya Put, atas semua bantuanmu selama kami disini ", ucapku sambil memeluknya.
" Ga usah berterima kasih Ni, semua yang kulakukan memang sudah tugasku dan kamu adalah teman dekatku, jadi wajar kalau aku membantumu, bahkan jika kamu berjodoh dengan Kakak sepupuku, kamu akan menjadi kakak ipar tersayangku, tapi semua adalah taqdir Allah, dia yang mempertemukan kita kembali disini ", ucapnya sambil membalas pelukanku.
Selesai berkemas, kamipun bergegas menuju mobil bang Raka. Kak Aan Khadijah didorong dengan menggunakan kursi roda, dan bayi Kak Khadijah digendong oleh suster Cantika.
Setelah berpamitan pada Putri, kamipun masuk ke dalam mobil bang Raka yang sudah menyala. Setelah kami duduk dengan tenang, bang Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Jarak rumah sakit ke rumah mereka tidak seberapa jauh, dalam dua puluh menit, kami sudah tiba di depan rumah kak Khadijah yang ada di perumahan, yang sebenarnya adalah rumah bibiku.
Setelah mengangkati barang bawaan kami, bang Raka menggendong Kak Khadijah dari mobil menuju kamar tidur mereka, sedangkan aku bergegas menuju kamar tamu untuk merebahkan tubuh putriku yang tertidur pulas selama di perjalanan dari rumah sakit meuju rumah ini.
Aku melihat suster Cantika duduk di sofa ruang tamu sambil menggendongku bayi kak Khadijah.
" Suster, sini biar aku aja yang gendong, biar Suster bisa kembali ke rumah sakit dengan cepat, untuk bekerja kembali, terima kasih sudah mau membantu kami", ucapku sambil menyodorkan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar padanya.
Dia tertegun mendengar perkataanku, dan segera beranjak dari tempat duduknya dan memberikan bayi kak Khadijah ke pangkuanku.
Dia menerima uang pemberianku sambil mengucapkan terima kasih padaku dan berlalu pergi menuju halaman rumah Bibiku.
Aku tidak terima, Jiak ada seseorang yang berniat buruk terhadap kakakku, karena kak Khadijah sudah kuanggap seperti Kakak kandungku sendiri.
" Ni, mana Susternya", tanya bang Raka.
" Udah balik ke rumah sakit bang, udah kikasih ongkos tadi", ucapku singkat sambil menggendong bayi Kak Khadijah menuju kamar tidur mereka.
Aku meletakkan tubuh bayi kak Khadijah ke dalam box bayi yang ada di samping tempat tidur kak Khadijah.
" Dek, apa kamu ngusir si suster itu?", tanya kak Khadijah mengintrogasiku seperti polisi.
" Ga lah kak, aku kan cuma meminta dia kembali bekerja ke rumah sakit, ntar dimarahi bosnya gimana", ucapku singkat.
" Seharusnya adek kasih minum dulu tadi, atau makan dulu", ucap kak Khadijah.
__ADS_1
Itulah baik hatinya Kak Khadijah, dua ga tau atau ga sadar kalau si Suster itu, ada ciri-ciri wanita Pelakornya, ucapku dalam hati.
" Tadi udah kukasih kok Kak ongkos, uang minum sama untuk jajannya sebagai tanda terima kasih kita padanya, jadi Kak Khadijah ga usah merasa berhutang Budi padanya, karena itu memang sudah tugasnya", ucapku menjelaskan.
" Baiklah adekku sayang, putrimu ada dimana?", tanyanya heran.
" Di dikamar tamu kak, lagi tidur pulas, makanya aku bisa bantu kakak disini", ucapku sambil tersenyum.
" Ooh ya, siapa nama bayi tampan kakak ini", ucapku sambil mencium pipi bayinya.
" Kalau soal namanya, bang Raka yang akan memberikannya, karena sudah kesepakatan kami, kalau perempuan, aku yang ngasih nama, dan kalau laki-laki, Bang Raka yang ngasih namanya", ucap kak Khadijah menjelaskan.
" Mantap..!", ucapku sambil mengacungkan jempolku padanya.
" Kak, aku ke kamar kami dulu ya, takut Syakira nya terbangun dan menangis, kalau tidak melihat wajahku ", ucapku sambil tersenyum.
" Iya, kamu istirahat dulu dek, bang Raka aja ntar yang bantuin kakak ya, kamu juga perlu istirahat, biar ga kecapean gitu, dan mukanya suntux banget kelihatannya, jadi hilang tuh cantiknya", ucapnya menggodaku.
" Kakak bisa aja ya!", ucapku sambil berlalu pergi menuju kamar tamu.
Setibanya di di dalam kamar, aku melihat putriku masih tertidur pulas, dan aku segera merebahkan tubuhku di samping tubuh putriku dan aku mencium keningnya.
Karena lelah, akhirnya aku tertidur lelap juga sambil memeluk tubuh putriku.
Di saat tertidur, aku bermimpi melihat suamiku sedang tertawa bahagia bersama seorang wanita yang cantik dan seksi. Aku menahan air mataku, karena air mataku terlalu berharga untuk menangisinya.
Biarlah dia pergi, Jika itu yang membuat dia bahagia karena cinta tidak bisa dipaksakan.
Tiba-tiba, aku terbangun karena suara alarm yang sudah kuatur sebelumnya.
Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul tiga sore, berarti aku sudah tertidur lelap selama tiga jam, dan aku melihat putriku sedang menghisap jarinya sambil merengek, mungkin karena dia merasa lapar.
Aku bergegas bangun dan menggendongnya menuju dapur untuk mengambil makanan.
Syukurlah, bang Raka sudah memesan makanan tadi secara online.
Aku mengambil nasi putih satu piring penuh dan mengambil ikan nila manis pedas kesukaanku untuk kusantap di siang menjelang sore ini.
Aku menyuapi putriku secara bergantian. Putriku makam nasi pakai kuah sayur bayam dan telur mata sapi. Aku merasa bersalah, karena lupa memberikannya makan siang, karena ketiduran bersamanya.
Putriku makan dengan lahapnya dan akupun sama. Setelah kenyang, aku menaruh piring kami yang kotor di dalam westafel. Aku memberikan mainan yang kubawa untuk putriku, agar aku bisa mencuci piring yang kotor.
__ADS_1
Di saat selesai mencuci piring dan menyusunnya, aku mendengar suara seorang laki-laki yang kukenal, seperti suara dari seseorang yang kurindukan. Dia...
Bersambung...