
Setelah memastikan siapa yang ada foto dengan foto yang ada di hp ku,
"Bang Azam..! cepat kemari..!", panggilku setengah berteriak,
" Ada apa sih dek Putri..?", sahutnya dengan terburu-buru menghampiriku.
" Orang yang di bingkai foto ini mirip sekali dengan teman satu kampusku yang di Medan, tapi kami besaa jurusan, aku jurusan Ekonomi, dia MIPA, dan kami adalah teman dekat ", ujarku sambil menunjukkan foto Ani kepada bang Azam.
Bang Azam terkejut melihatnya, dan segera berkata" Ini bukan mirip,tapi ini adalah Raniku, cinta pertamaku dulu di SMA", kemudian dia menanyakan banyak hal tentang Ani padaku. Aku memberitahukan semuanya yang kutahu tentang Ani kepada bang Azam, kecuali satu hal, yaitu, Ani sudah menikah. Aku penasaran bagaimana reaksi Ani ketika melihat bang Azam di depan matanya.
Aku memiliki sebuah ide untuk mempertemukan mereka berdua.
"Bang Azam mau ketemu dengan Ani,temanku ?", tanyaku padanya penuh harap,
__ADS_1
" Aku takut dan malu bertemu dengannya, setelah kesalahanku yang kulakukan dulu sehingga membuat kami berpisah", jawabnya dengan raut sedih,
" Seharusnya abang menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi di antara kalian, mungkin dengan minta maaf, kalian bisa baikan dan temanan lagi", ujarku meyakinkannya,
" Ani orangnya memang baik, tetapi dia ada keras kepalanya juga",ujar bang Azam ragu untuk mengikuti ideku.
" Mungkin kalau kalian bertemu lagi, dan abang bisa menjelaskannya secara langsung, mungkin dia bisa memaafkan abang, ngomong - ngomong, kesalahan apa yang sudah abang perbuat dulu?", tanyaku penasaran,
" Itu adalah rahasia antara kami bertiga, aku,Ani dan Mira, hanya kami yang tahu masalahnya, dan aku tidak bisa menceritakan aib ku sendiri kepada orang lain", ujar bang Azam dengan tegas.
Kami tinggal di kota gunung tua, di rumah om ku selama satu minggu. Hari ini kami akan kembali ke kota Medan. Aku menagih janji bang Azam padaku,
" Abang harus datang, agar masalah yang terjadi pada kalian segera selesai, dan mungkin juga dia sudah memaafkan abang jauh hari, karena yang aku tahu, Ani orangnya. baik dan pemaaf, tapi agak sensitif juga sih!!", ujarku mengingatkan bang Azam. Bang Azam hanya tersenyum menanggapinya perkataanku.
__ADS_1
Aku dan kedua orang tuaku pun berangkat dengan menaiki mobil. Aku melambaikan tanganku pada bang Azam, sambil mengingatkannya.
Beberapa jam kemudian kami tiba di kota Medan. Seminggu setelahnya, bang Azam benar-benar datang ke rumah kami di kota Medan, untuk menemui temanku Ani, setelah mempertemukan mereka, barulah aku yakin bahwa mereka dulu memang mempunyai hubungan sangat dekat, karena kulihat di mata Ani ketika bertatap mata dengan bang Azam, masih ada cinta disana, mungkin bang Azam adalah cinta pertama Ani juga, dan mereka saling mencintai, tapi masalahnya adalah Ani sudah menikah dan sekarang sedang hamil. Sehingga bang Azam terpaksa mundur dari perjuangan cintanya.
Aku merasa kasihan melihat kakak sepupuku itu, mungkin dia tidak mau menikah dengan siapapun yang dikenalkan oleh orang tuanya dan orang tuaku, mungkin karena bang Azam masih mengharapkan Ani, cinta pertamanya, dan mungkin juga karena rasa bersalahnya selama ini, membuatnya trauma sendiri untuk menghadapi wanita, sehingga dia tidak mau menikah, entahlah, aku juga bingung melihat sikap kakakku yang sangat tertutup itu.
Aku berdoa agar bang Azam segera mendapatkan jodoh yang terbaik untuknya, seperti doa yang diucapkan oleh Ani, temanku itu, mungkin sekarang Ani tidak akan mau lagi berteman atau bertemu lagi denganku karena sudah mengetahui tentang aku dan bang Azam, kakak sepupuku.
Setelah pertandingan itu, bang Azam langsung pamit, karena kapalnya akan berangkat besok pagi, dan sekarang dia haru ke Jakarta terlebih dahulu dengan menaiki pesawat, barulah dia ke pelabuhan Merak tempat kapal tengker dimana dia bekerja sedang berlabuh disana. Kami sekeluarga hanya mengangguk mengiyakan perkataannya.
Karena kami tahu, bang Azam sedang terluka hatinya dan mungkin hanya waktu yang bisa mengobatinya luka hatinya secara perlahan.
Semoga bang Azam segera mendapatkan jodoh terbaik untuknya...
__ADS_1
Aamiiin...
Bersambung...