Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Bertemu...


__ADS_3

Aku melihat seorang wanita yang sedang duduk sendiri di sebuah bangku taman.


Aku menghampirinya untuk sekedar menyapanya.


" Assalamualaikum kk", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Wa alaikum salam dek, silahkan duduk", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Kenalin kk, namaku Ani dan ini putriku Syakira", ucapku memperkenalkan diri.


" Salam kenal ya dek, nama kakak, Eka", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Kakak kok sendirian duduk disini, emangnya ga ada yang nemenin Abang atau saudara lainnya", ucapku membuka pembicaraan.


" Ga ada dek, kakak hanya sebatang kara di dunia ini, orang tua kakak baru dua tahun yang lalu meninggal dunia, karena kecelakaan lalulintas, dan dua minggu yang lalu hal yang sama terhadap pada suamiku dek, kakak hanya ingin mencari ketenangan jiwa di taman ini", ucapnya sambil menahan air matanya.


" Sebelumnya, aku minta maaf ya kak, aku ga bermaksud untuk menambah kesedihan kakak, tapi yakinlah kak, bahw Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya sesuai kemampuannya, dan dibalik semua ujian hidup ini, pasti akan ada hikmahnya untuk kakak ", ucapku mencoba menghiburnya.


" Iya dek, kakak sadar dan ikhlas menerimanya, tapi hanya satu hal yang kakak sesali atas kepergian suamiku ", ucapnya sambil menerawang jauh.


" Ala yang kakak sesali?, bukannya aku mau ikut campur dalam urusan pribadi kakak, mungkin jika kakak mau membaginya dengan ku, mungkin bisa meringankan beban di hati kakak ", ucapku menjelaskan.


" Sebelum kepergian suamiku, malam sebelum kecelakaan lalulintas itu terjadi, aku dan suamiku bertengkar hebat, karena aku mengetahui rahasia perselingkuhannta dengan sahabatku sendiri, dan aku meminta cerai dari suamiku, agar dia bisa bahagia dengan sahabatku itu, tapi dia tidak mau menceraikan aku, karena dia sangat mencintai aku dan dia juga mencintai sahabatku, aku tidak menerima hal itu, dan aku meninggalkannya di rumah kami, sedangkan aku pergi sendiri ke sebuah penginapan untuk menenangkan diri dan pikiranku", ucapnya sambil menghela nafas panjang.


" Pagi harinya, aku kembali ke rumah kami, dan aku melihat suamiku dan sahabatku sedang mengobrol di ruang tamu sambil duduk berdampingan, hatiku sangat sakit melihat kemesraan mereka saat itu, dan aku memutuskan untuk mengambil semua barang- barangku, dan meninggalkan suamiku untuk selamanya, dan tidak pernah kembali padanya, tapi dia tidak memperbolehkan aku untuk pergi darinya, dia akan berusaha untuk menjadi suami yang adil bagi kami berdua ", ucapnya sambil menghela nafasnya kembali.


" Aku terdiam mendengar ucapannya, dan aku mencoba untuk menerimanya, tapi hatiku tidak mau menerima hal itu, akhirnya aku tetap memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua di rumah itu, agar mereka bisa berbahagia imdi atas penderitaan yang aku rasakan ini. Suamiku mengejarku dengan menggunakan sepeda motornya, karena aku saat itu juga menaiki sepeda motor matic milikku, yang dia belikan sebagai hadiah ulang tahunku yang ke tiga puluh lima tahun, aku tidak menghiraukan panggilannya padaku, sampai saat aku mendengar suara klakson yang keras dan suara teriakan orang yang menjerit, yang menyebabkan aku menghentikan laju motor maticku. Aku menoleh ke belakang, dan kulihat banyak orang yang sedang berkerumun di tepi jalan raya yang barusan aku lewati. Aku melihat ke arah kerumunan itu,dan melihat tubuh suamiku yang sudah terbujur kaku di atas aspal, seketika itu aku meminta tolong kepada para penduduk untuk membantuku membawa tubuh suamiku ke rumah sakit. Tapi, di dalam perjalanan menuju rumah sakit, suamiku sempat sadarkan diri dan meminta maaf kepadaku, dan dia juga kehilangan nyawanya setelah itu. Setelah pemakaman jenazah suamiku, aku bertemu dengan sahabatku itu, dan dia berkata kalau Suamiku tetap memilihku dan mau meninggalkan dirinya, karena aku tidak setuju dengan poligami yang diinginkan oleh suamiku.


Seharusnya, aku memberikan dia kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kami, tapi apalah dayaku, aku hanya manusia biasa, yang tidak luput dari kesalahan.


Aku hanya berharap, semoga Allah SWT mengampuni semua dosa suamiku dan memberikannya tempat yang terbaik di sisi-Nya", ucapnya sambil bercucuran air mata.


Otomatis aku, menggenggam tangannya dan berkata" Kakak yang sabar dan tabah ya kak, mudah - mudahan Allah SWT mengabulkan doa Kakak ", ucapku menghiburnya.

__ADS_1


" Iya dek, terima kasih sudah mau mendengarkan cerita kakak, padahal kita baru kali pertama bertemu, tapi sudah terasa dekat di hati, setelah mencurahkan isi hatiku, pikiran dan hatiku sedikit tenang, dan beban yang berat di hatiku seakan hilang tak berbekas ", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Iya kak, setiap manusia menjalani taqdir hidup masing-masing, yang penting kita harus Istiqomah dan berusaha memperbaiki diri kita, karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, hanya Allah SWT yang Maha Sempurna dan Maha segala-Nya ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ngomong-ngomong, adek baru pindah ya ke komplek perumahan ini?", tanyanya padaku.


" Ga kak, aku hanya berkunjung ke rumah Kakakku, Namanya Khadijah dan suaminya Raka, aku hanya tinggal beberapa hari saja disini kak", ucapku menjelaskan.


" Jadi, adek tinggalnya dimana?", tanyanya lagi.


" Aku dan suamiku tinggal di kota Medan kak, mungkin lusa, suamiku akan menjemput kami kesini ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ooh..iya dek, makasih uadh mau mendengarkn curhatan Kakak tadi ya, kalau adek mau, kita ke rumah kakak yuk, hanya lima meter dari taman ini", ajaknya.


" Baiklah kak, kalau tidak merepotkan kakak ", ucapku sambil tersenyum padanya.


Kamipun beranjak dari tempat duduk kami, dan berjalan perlahan menuju rumah kak Eka.


Rumahnya lumayan besar, dan pastinya dia akan kesepian tinggal di rumah yang besar ini .


" Ayo masuk dek, jangan sungkan - sungkan, kakak tinggal disini hanya bersama dua orang pembantu,agar tidak terlalu sepi juag rasanya di rumah ini", ucapnya menjelaskan.


" Iya kak, aku pikir kakak tinggal sendirian di rumah sebesar ini, rasanya pasti sepi banget ya kak", ucapku sambil duduk di kursi tamu jatimya.


Aku memangku putriku dengan berhadapan denganku.


Aku menciumi wajah putriku yang menggemaskan, karena selalu tersenyum dan tertawa melihatku.


" Putrimu cantik dan imut juga ya dek, jadi gemes nengoknya", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya.


" Silahkan di minum tehnya Bu", ucap salah seorang pembantu.

__ADS_1


" Iya terima kasih ya bi", ucapku sambil tersenyum padanya.


Aku mengambil ponselku yang sedang berdering di dalam tas sandangku.


" Assalamualaikum kak Khadijah", ucapku setelah telepon seluler kami tersambung.


" Wa alaikum salam dek, kamu lagi ngapain dan dimana sekarang?", tanyanya khawatir.


" Aku lagi ngobrol nih di rumah kk Eka, yang ada di dekat taman perumahan ini kak", ucapku menjelaskan.


" Cepat pulang ya dek, ada yang mau kakak bicarakan sama kamu, cepat ya", ucap kak Khadijah mendesakku.


" Baiklah kak, aku akan pulang sekarang", ucapku sambil mengakhiri pembicaraan kami di telepon.


" Kak Eka, sebaiknya aku pulang dulu ya, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi, terima kasih atas jamuannya ", ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku dan menggendong putriku Syakira.


" Kok buru-buru banget ya dek, apa terjadi sesuatu?", tanyanya penasaran.


" Ga kak, kak Khadijah nyuruh aku pulang ke rumah sekarang, ada urusan penting katanya", ucapku sambil berjalan menuju pintu rumah ini.


" Baiklah dek, hati- hati ya di jalan, titip salam untuk kakakmu ya!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku bergegas menuju pintu rumahnya dan keluar dari rumahnya dengan terburu-buru sambil menggendong putriku Syakira.


Lima belas menit kemudian, aku tiba di depan rumah Bibiku yang ditempati oleh kak Khadijah.


" Assalamualaikum...", ucapku.


" Wa alaikum salam", jawab mereka serentak.


Aku terpaku melihat mereka yang menjawab salamku adalah...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2