Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Tamu yang tidak disangka- sangka...


__ADS_3

Aku bergegas menuju pintu rumah kami, dan aku mengintip dari jendela kaca, siapa yang datang bertamu siang- siang begini..


Ternyata paman, bibi, dan nenekku yang datang mengunjungi kami. Aku segera membuka pintu rumah kami, dan memeluk nenek dan bibiku, serta menyalaminya mereka satu-persatu. Aku mempersilahkan mereka untuk masuk.


Setelah di dalam rumah, aku memanggilnya bang Izal yang sedang menonton televisi, " bang Izal, datanglah kesini dulu, ada nenek,paman dan juga bibi", ucapku sambil tersenyum melihat nenekku. Bang Izal pun segera menghampiri kami, dan dia langsung menyapa dan menyalami paman, bibi dan nenek.


" Nenek udah makan siang?", tanyaku dengan tersenyum, " Udah Ni, kami tadi makan siang di rumah orang tua bibimu yang tinggal di jalan Masjid", ucapku nenekku sambil tersenyum.


" Kalian pasti terkejut dengan kedatangan kami yang secara tiba-tiba ya?", tanya bibiku,


" Sebenarnya kaget juga bi, tapi kami sangat senang dengan kedatangan kalian mengunjungi kami disini," ucapku dengan penuh semangat.


" Kami sekalian datang mau mengundang kalian ke pernikahan keponakan bibi yang ada di Binjai, hari Minggu ini, hanya pesta kecil-kecilan kok Ni, tapi kalian harus datang sebelum hari pernikahan ya nak", ucap bibiku penuh harap.


"Inshaa Allah ya bi, kami usahakan datang sebelum hari pernikahan, tapi mungkin bang Izal, hari pernikahan nanti dia datangnya, karena hari Sabtu mereka masih bekerja ya bi," ucapku dengan tersenyum pada bibiku.


" Nenek, paman dan bibi nginap dimana?, apa nginap disini aja ya bi?", ujarku,


" Kami sudah dua hari nginap di rumah nenekmu yang di jalan Masjid, ga enaklah Ni, kami nginap disini, tanpa bilang dulu sama nenekmu yang disana, lagian kami ga bawa baju ganti, nanti saja kalau acara sudah selesai, kami akan nginap disini semalam, sebelum kami pulang ke kampung ya Ni", jawab bibiku menjelaskan.


" Baiklah bi, nanti hari Sabtu, aku akan datang ke tempat acara pernikahannya ya bi", ucapku dengan tersenyum.


" Kenalin wajah suamimu agak pucat Ni", tanya pamanku," Aku tadi muntah om, habis tercium bau bawang putih", ucap bang Izal,


" Apa cucuku tersayang sedang hamil?", tanya nenekku sambil menggenggam tanganku,


" Alhamdulillah nek, aku sedang hamil dua bulan lebih", ucapku dengan penuh semangat, " Syukurlah nak, kalau kamu sedang mengandung, semoga anakmu panjang umur,sehat selalu dan jadi anak yang Sholeh ya nak", ucap pamanku dengan tersenyum.


Aku melihat ada kesedihan di mata bibiku, dan aku mengert kenapa dia merasa sedih seperti itu, coba bayangkan, Paman dan bibi sudah menikah lebih dari sepuluh tahun, tapi belum ada momongan, mereka sudah mencoba berobat kesana-kemari, tapi hasilnya nihil.


Mungkin belum waktunya Allah memberikan berkah itu kepada paman dan bibiku.


Manusia hanya bisa berusaha, tapi hanya Allah SWT yang menentukan taqdir hamba- Nya

__ADS_1


Bibi hanya tersenyum mendengar kabar kehamilanku, dan Ikut mendoakan yang terbaik untukku dan anakku.


Aku bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman, karena keenakan ngobrol, jadi lupa bikinkan minuman, sehingga tenggorokanku terasa kering.


Selesai membuatkan minuman teh manis hangat, aku bergegas membawanya ke ruang tamu, mungkin paman,bibi dan nenekku sudah kehausan, ucapku dalam hati.


Sesampainya di ruang tamu dengan membawa minuman, dan meletakkannya di atas meja, aku mempersilahkan mereka untuk meminum minuman yang kubawa.


Kamipun mengobrol bersama selama beberapa jam lamanya. Walau Beberapa menit harus kami sudahi untuk sholat ashar. Sekarang sudah jam lima sore, akhirnya paman, bibi dan nenekku pun pamit untuk kembali ke rumah nenek yang di jalan Masjid, dan kami mengantarkan mereka sampai ke depan rumah kami.


Setelah mereka menaiki angkutan umum, kami bergegas masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintu rumah.


Aku masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.


" Gimana menurut abang, apa kita akan menghadiri pesta pernikahan family kita yang di kota Binjai?", tanyaku pada bang Izal sambil memeluk tubuhnya.


" Iya sayang, kita harus menghadirinya, karena om, tante, serta nenek, sudah secara langsung mengundang kita", ucap suamiku.


Sambil menunggu waktu shalat Maghrib, kami mengobrol di atas tempat tidur sambil berpelukan.


Setelah adzan magrib berkumandang, kami sholat Maghrib berjamaah.


Setelah sholat Maghrib, kami makan malam mie rebus pake telur mata sapi, tanpa pake bawang putih, karena aku takut bang Izal muntah lagi seperti tadi siang.


Selesai sholat isya, kami istirahat di kamar sambil berpelukan.


Malam ini kami lewati dengan berbagi kehangatan.


Pagi yang cerah..


Kami awali dengan bersyukur dan mengharapkan ridho ilahi, dengan melaksanakan kewajiban kami kepada Allah SWT sebagai muslim yang taat.


Hari ini rencananya kami akan belanja ke pusat perbelanjaan di Carrefour. Setelah suamiku pulang, kami akan berbelanja kesana.

__ADS_1


" Sayang, pulangnya jam berapa?", tanyaku pada bang Izal dengan tersenyum,


" Abang usahain nanti pulangnya sebelum ashar ya sayang, nanti Abang kirim SMS, kalau abang udah di jalan, biar adek bisa siap- siap dulu, sebelum Abang nyampe rumah y sayang", ucapnya sambil menatapku.


" Iya sayang, adek tunggu di rumah y, dan jangan lupa ngabarin adek, karena adek kan mau dandan biar tampil cantik dan ga malu- maluin Abang ", ucapku dengan manja


" Istrinya abang bisa aja ya nyenangin hati Abang tapi bagi Abang, mau dandan atau ga, adek tetap cantik kok", ujar bang Izal merayuku, takut ga dikasih jatah ni si Abang, ucapku dalam hati sambil tersenyum sendiri,


" Kok senyum sendiri dek?, pasti mikir yang luar biasa ya sayang?, ntar malam aja mikirin yang abang sangat suka itu, biar makiƱ puaas yang,!", ucapnya sambil mencubit hidungku.


Aku jadi malu sendiri mendengarnya. Wajahku jadi memerah, karena malu, bisa aja nih suamiku tahu apa yang ada di fikiranku, ucapku dalam hati sambil tersenyum.


Setelah mengantarkan bang Izal ke depan rumah, aku masuk ke dalam rumah untuk memulai acara kebersihan rumah. Jujur, aku paling ga tahan dengan keadaan rumah yang berantakan, membuatku pusing dan ga betah di rumah.


Walau bang Izal sudah melarangku kerja yang berat atau banyak aktivitas, karena kondisiku yang hamil muda, aku tetap mengerjakan pekerjaan yang ringan sesuai saran suamiku.


Bagiku, menyapu debu yang menempel di dinding, lantai, tidak terlalu berat, jadi kukerjakan dengan penuh semangat.


Selesai kebersihan, dan mengangkat pakaian yang sudah kering, yang dicuci suamiku tadi pagi, kemudian aku melipatnya dengan rapi, agar tidak susah di setrika.


Kulihat jam menunjukkan pukul 2 siang, karena keasyikan dengan pekerjaan rumah tangga, aku jadi lupa sholat atau makan siang. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sekalian mengambil wudhu, untuk sholat Dzuhur.


Selesai sholat, aku makan siang sendiri di dapur, memang tidak enak kalau di rumah sendiri, aku jadi ngomong sendiri dengan janin yang ada di perutku, sambil mengelus-elus perutku, aku menghibur diriku dengan berbicara dengan janinku yang belum genap 3 bulan di kandunganku.


Ketika sedang makan, suatu mengirimkan SMS padaku, bahwa dia akan segera pulang ke rumah kami. Aku bergegas mencuci piring yang sudah kupakai, bergegas menuju kamar tidur, untuk bertukar pakaian.


Saat ini aku memakai baju gamis berwarna kuning telur, dan aku memakai jilbab warna cream, dan memakai bedak yang tipis tanpa pelembab apapun, karena aku takut kandungan pelembab yang kupakai selama ini, bisa mempengaruhi kandunganku, dan aku mengoleskan lipstik berwarna pink bibir, agar tidak terlalu mencolok, menurutku.


Hanya seperti inilah, dandanan yang biasa kulakukan, karena aku tidak terlalu suka dandanan yang berlebihan.


Selesai berdandan dan memakai jilbabku, aku keluar dari kamar tidur kami, menuju teras rumah kami, untuk menungguku suamiku pulang dengan penuh semangat 45...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2