
Aku dan suamiku terkejut dan bahagia mendengar perkataan dokter umum bahwa aku sedang hamil, dan usia kandunganku sudah tiga minggu. Tak terasa air mata bahagia menetes dari kedua mataku, aku sangat bahagia dan bersyukur atas berkah yang diberikan Allah kepada kami, akhirnya Allah SWT mengabulkan doa kami untuk mendapatkan keturunan.
Aku berpelukan dengan suamiky saking bahagianya, hingga aku lupa masih ada Bu dokter di ruangan ini. Dia hanya tersenyum melihat reaksi bahagia kami, seraya mengucapkan selamat pada kami, dan menyarankan agar kami melakukan USG ke dokter kandungan untuk mengetahui lebih lanjut keadaan janin yang ada di dalam kandunganku. Kamipun mengiyakan pesannya kepada kami.
Setelah dokter keluar dari ruang rawat, suamiku kembali memelukku dan mencium keningku dan berterimakasih kepadaku, karena telah mengandung anaknya. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya, sambil mengeratkan pelukan kami.
__ADS_1
Kaeesokan harinya, setelah keluar dari puskesmas, kami menuju rumah sakit umum untuk memeriksakan kandunganku seperti yang disarankan oleh dokter umum kemaren. Suamiku terlebih dahulu menelpon atasannya, kalau dia tidak bisa bekerja hari ini, dan atasannya pun mengizinkannya.
Beberapa menit kemudian kami tiba di depan rumah sakit dengan menaiki becak motor, karena kami belum sempat pulang. Jarak dari puskesmas ke rumah sakit umum tidaklah seberapa jauh, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki, tapi karena aku baru sembuh dan hamil muda, suamiku khawatir kalau aku kecapean, akan beraksi ke kandunganku, akhirnya aku menuruti kemauannya untuk menaiki becak motor.
Selesai dari dokter kandungan, kami langsung pulang ke rumah kami, karena badanku sudah mulai gerah dan merasa gatal, karena dari kemaren tidak mandi, bahakn pakaian yang kupakai masih yang kemaren ku pakai beserta jilbabku juga. Sewaktu aku pingsan, aku masih mengenakan jilbabku saat itu. Setibanya kami di depan rumah, suamiku membuka pintu rumah, dan kami segera masuk ke dalam rumah. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang terasa lengket. Sebelum ke kamar mandi, suamiku berpesan agar hati-hati, karena lantai kamar mandi licin, jadi dia takut kalau aku bisa terjatuh.
__ADS_1
Selesai mandi, aku berpakaian di kamar tidur. Setelah berpakaian, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, dan suamiku mengikutiku untuk tidur di sampingku. Seketika aku mual ingin muntah karena bau tubuhnya, padahal setelah aku mandi, suamiku pun bergegas untuk mandi, tapi menurutku dia masih bau, mungkin karena hormon kehamilanku.
Akhirnya dengan berat hati, suamiku agak menjauh dariku, karena Bu dokter kandungan sudah menjelaskan tentang pengaruh kehadiran pada si ibu, akan menyebabkan beberapa perubaha, dan dia harus bersabar menghadapinya, agar si ibu hamil tidak stress, dan janinnya kan tumbuh sehat. Jujur saja, aku juga merasa kasihan melihat suamiku, yang biasanya kami selalu berpelukan kalau sedang tidur, tapi sekarang harus berjauhan, aku tidak tahu sampai kapan ini akan terjadi, apakah hanya sementara atau sampai aku melahirkan ?. Mau bagaimana lagi, setiap nikmat yang diberikan Allah SWT, pasti ada ujiannya terlebih dahulu, yang penting harus bersabar, karena semua akan indah pada waktunya...
Bersambung...
__ADS_1