Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Ujian...


__ADS_3

Di saat aku terlelap, di waktu tengah malam, aku terbangun dari tidurku, karena merasakan sakit di bawah perutku. Aku melihat ke sebelah kananku, aku tidak mendapati suamiku tidur disana, karena semarah- marahnya aku, tidak pernah pisah ranjang dengan suamiku.


Aku turun dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju pintu kamar sambil memegangi perutju yang kesakitan.


" Bang Izal...", ucapku dengan keras sambil keluar dari kamar.


Dia pun kaget mendengar panggilanku.


" Ada apa dek, kamu kenapa", ucapnya sambil berjalan sempoyongan ke arahku.


" Perutku sakit banget bang, ga tau kenapa", ucapku sambil meringis kesakitan.


" Ayo kita ke rumah sakit saja!", ucapnya bergegas mengangkati jaketku dan jaketnya, serta memakaikannya padaku.


" Abang bangunin Marni dulu ya dek, tunggu sebentar di ruang tamu ", ucapanya sambil bergegas menuju kamar adek iparku.


Beberapa menit kemudian, bang Izal mendatangiku tergesa-gesa disertai adik ipar ku. Suamiku membopongku keluar rumah untuk mencari becak motor yang lewat.


Biasanya, tengah malam masih ada becak yang lewat dari komplek perumahan yang kami tempati ini.


Beberapa menit kemudian, ada seorang pria yang turun dari becak motor di seberang rumah kami, bang Izal langsung memanggilnya.


" Mau kemana pak?", tanya pak supir becak motor.


" Tolong antarkan kami pak ke rumah sakit, sepertinya istriku mau melahirkan", ucap suamiku sambil memelas dan panik.


" Astaghfirullah, ya udah buruan bawa istrnya ke dalam becak, biar kita langsung berangkat ke rumah sakit umum", ucap si supir becak.


" Iya pak!", ucap suamiku langsung bergegas menghampiriku dan membopongku ke dalam becak motor.


Setelah kami duduk dengan baik, si supir becak motor langsung melajukan becaknya menuju rumah sakit.


" Perlengkapan bayinya sudah ada dibawa pak?", tanya si supir becak sambil melajukan becaknya.


" Belum pak, ini kandungan istri saya baru lewat tujuh bulan, tidak tau kenapa, bisa seperti ini", ucap suamiku khawatir dengan kondisiku.


" Nanti bapak tanya aja sama dokter spesialis kandungannya, biar lebih jelas", ucap si supir becak.


" Masih sakit dek", tanya bang Izal padaku.

__ADS_1


" Iya, sakit banget ini, kayaknya air ketubannya udah pecah bang, ini celanaku sampai basah, malu banget aku, kalau becak bapak ini sampai basah, dan aku melahirkan di becak ini, padahal kata dokter spesialis kandungannya, waktu partusku masih dua bulan lagi, mana perlengkapan bayi belum disiapin, nanti abang nelpon kak Khadijah aja buat beliinnya ya", ucapku dengan menahan rasa nyeri dan memutar di perutku


" Itu semua ga usah adek pikirkan, nanti abang urus semuanya, yang penting adek dan anak kita selamat dan sehat ya", ucap suamiku sambil menggenggam tanganku.


Mendengar perkataannya, hatiku tersentuh dan merasakan kehangatan, suamiku hanyalah manusia biasa juga sama sepertiku, yang tidak luput dari khilaf dan dosa.


Saat itu, aku memutuskan untuk memaafkannya dan membersihkannya kesempatan kedua. Karena tanpa sepengetahuannya, aku melihat dia meneteskan air mata saat aku merasakan sangat kesakitan.


Mungkin dia menyalahkan dirinya sendiri, karena melihat rasa sakit yang kurasakan, karena melahirkan sebelum waktunya.


" Nak, kamu dengerin aja kata suamimu, seandainya kamu melahirkan di becak motor bapak, tidak apa-apa, bapak tidak keberatan, malahan sangat senang dan bersyukur, karena ketiban rejeki yang berlimpah, malahan nanti biaya berobatmu bapak tanggung", ucapnya mencoba menghibur kami.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah sakit umum. Saat itu, dokter jaga yang memberikan pertolongan-Nya pertama padaku, karena dokter spesialis kandungan tidak ada.


Karena masih tengah malam. Aku melihat kepanikan di wajah suamiku dan rasa bersalah yang amat besar. Aku tau, dia menyalahkan dirinya sendiri atas ujian yang menimpa kami saat ini.


" Bang Izal", panggilku.


" Ada apa sayang, apa kamu masih kesakitan?", tanyanya panik.


" Iya, tapi udah mulai mendingan, apa yang dikatakan oleh dokter jaganya bang?", tanyaku.


" Iya bang, Mana yang terbaik aja, yang penting anak kita selamat dan sehat", ucapku dengan khawatir.


" Abang telpon kak Khadijah, bilang agar segera datang kesini", ucapku.


" Iya sayang, Abang sudah mengirimkan SMS tadi, karena takut mengganti pasien yang ada disini", ucapnya sambil mengelus perutku.


" Sekarang sudah jam berapa bang?", tanyaku.


" Sekarang sudah jam tiga pagi, nanti jam enam pagi, dokter spesialis kandungannya akan datang ke rumah sakit ini dek, adek jangan khawatir, selalulah positif thinking dan berdoa", ucapnya menghiburku.


" Apakah Abang mau memenuhi permintaanku?", tanyaku.


" Apa dek, pasti abang penuhi permintaan adek", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Jika dokter nanti meminta Abang untuk memilih siapa, pilihlah anak kita, aku ikhlas menerimanya bang", ucapku sambil menahan air mataku.


" Adek ngomong apa sebenarnya, harusnya adek positif thinking, Abang tidak bisa melakukan itu, kalian berdua harus diselamatkan oleh dokter", ucapnya sambil melepaskan tanganku dan beranjak pergi dari kamar pasien.

__ADS_1


Tepat pukul enam pagi, dokter spesialis kandungannya tiba dirumah sakit dan langsung memeriksa keadaanku.


" Bu Ani, ibu harus segera di operasi ya, karena bisa membahayakan ibu dan anak yang ada di dalam kandungan ibu", ucap pak dokter.


" Iya pak, tolong selamatkan anakku pak, jika bapak nantinya harus memilih", ucapku memohon.


" Jangan berkata begitu Bu Ani, ibu dan anak ibu akan selamat dan sehat, aku akan berusaha melakukan tugasku semaksimal dan sebaik-baiknya", ucap pak dokter.


" Iya pak, tolong selamatkan istri dan anakku pak", ucap bang Izal memohon kepada dokter.


" Berdoalah kepada Allah SWT pak, aku hanya perantara saja, yang menentukan taqdir kita, adalah Allah SWT semata, pintalah pada-Nya", ucap pak dokter menasehati kami.


Setelah prosedur operasi sudah selesai. Aku dibawa suster menuju ruang operasi yang melewati lobi rumah sakit. Di saat bkami berada di lobi rumah saki, kudengar Kak Khadijah memanggilku dan bang Izal.


" Anim...Izaal..!", panggil kak Khadijah dan suaminya Raka.


" Kak Khadijah", ucapku setelah melihat wajah ayunya.


" Kamu yang tegar ya dek, dan positif thinking, jangan patah semangat, serta jangan lupa berdoa ya dek, Kamia akan mendukungmu dan menunggumu di luar ruang operasi, dan perlengkapan bayimu udah kakak bawa semuanya", ucap kak Khadijah sambil tersenyum padaku.


" Terima kasih banyak ya kak", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya dek, jangan takut atau khawatir ya, Allah SWT akan melindunginya hamba Nya yang beriman dan bertaqwa kepada Nya", ucap Kak Khadijah menguatkan hatiku.


" Iya Kak", ucapku sambil tersenyum.


Setibanya di ruang operasi, suamiku, kak Khadijah, dan suaminya Raka, menunggu di luar ruang operasi dan aku dibawa ke dalam ruang operasi.


" Dokter, kondisi pasien baik-baik saj, kami sudah menerima hasil laboratorium yang menyatakan kalau pasien kondisinya baik ", ucap salah salah satu asisten dokternya.


" Baiklah, kita mulai tindakan operasinya", ucap pak dokter spesialis kandungannya.


Dua jam kemudian, operasi Caesar yang kujalani pun selesai. Aku tidak tahu apa jenis kelamin anakku, karena saat operasi aku sempat tidak sadarkan diri.


Aku sempat dibawa ke ruang ICU untuk memantau kondisiku.


Syukurlah, kara dokter spesialis kandungannya dan dokter bedahnya, kondisiku mulai stabil. Saat ini, aku akan dibawa ke ruang perawatan.


Aku sangat ingin melihat bayiku, buah cinta kami. Aku sangat ingin mencium dan memeluknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2