Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Perpisahan yang tidak terduga..


__ADS_3

Aku bingung dengan sikapku sendiri, disaat aku ingin menjauh dari bang Izal, justru anak -anakku yang mendekatkan kami.


Setelah memikirkannya dengan matang, aku memutuskan untuk menghubungi bang Izak, karena kebahagiaan anak-anakku yang paling utama bagiku.


Aku mengambil ponselku dan mulai mencari kontak atas nama Izal di handphoneku yang masih tersimpan di memori internal ponselku.


Aku memandang wajah putriku kembali untuk memastikan ketetapan hatiku, demi kalian anakku sayang, mama akan mengorbankan perasaan mama, sekalipun nyawa mama, pasti akan mama berikan, ucapku dalam hati sambil mencium kening putriku Syakira dan putraku Habib.


Aku menghubungi nomor handphone bang Izal.


Setelah mencoba tiga kali, akhirnya telepon seluler kami tersambung.


" Assalamualaikum bang", ucapku sungkan.


" Wa alaikum salam dek, akhirnya kamu mau menghubungi Abang, padahal Abang sangat merindukan kalian, kalian baik-baik saja kan?", tanyanya.


" Alhamdulillah, kami baik-baik saja bang, aku cuma mau bilang sesuatu sama Abang, ini permintaan dari Syakira", ucapku memulai pembicaraan kami.


" Ada apa dengan Syakira?", tanyanya.


" Syakira ingin bertemu denganmu, dan dia sangat merindukanmu", ucapku.


" Apa kamu tidak merindukanku dek?", tanyanya spontan.


" Kamu tidak usah berlebihan bang, kamu tidak memiliki tempat lagi dihatiku, hubungan kita sudah berakhir, ini saja aku terpaksa menghubungimu, karena aku sudah berjanji kepada Syakira, dan aku tidak ingin putriku Syakira bersedih hanya karena keegoisanku", ucapku dengan tegas.


" Baiklah dek, kebetulan Minggu depan ada tanggal merah setelah hari Minggu, jadi aku bisa menginap di rumahmu untuk semalam", ucapnya.


" Baiklah, tapi kamu menginap di hotel saja, karena kita bukan muhrim lagi ", ucapku dengan tegas.


" Sebelumnya aku tidak pernah menceraikanmu dek, tapi kamu yang menceraikanku, bulan depan kita akan menjadi orang asing, apakah tidak ada lagi rasa kasihanmu terhadapku?, aku juga ingin bersama kalian, tapi jika itu memang kemauanmu akan aku turuti dek", ucapnya.


"Iya, itulah kemauanku, lebih baik kita menjaga jarak, lagian kamu itu seharusnya lebih fokus ngurusin istrimu yang lagi bunting itu, bukan sibuk ngerayu aku!," ucapku mulai emosi.


" Jangan emosi dek, ntar cepat tua lho, Abang cuma bercanda kok, jangan dimasukin ke hati ya, ke kantong aja, sesuai keinginan nyonya Ani, Abang akan menginap di hotel saja", ucapnya.


" Assalamualaikum ", ucapku sambil mengakhiri sambungan telepon seluler kami.


Dasar laki-laki Bua*a, dar*t, ga cukup satu wanita untuknya, sungutku dalam hati.


Aku menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, agar pikiran dan hatiku sedikit tenang.


Aku memejamkan mataku yang sudah mengantuk sambil berdoa kepada Allah SWT, agar senantiasa meridhoi dan melindungi kami.


Waktu berlalu, hari berganti hari, tak terasa lima hari berlalu. Bang Izal mengabariku kalau Jumat malam dia akan berangkat dari Medan menuju rumah pamanku, karena aku tidak ingin dia berbuat semena-mena padaku, karena aku akan sendirian di rumah bersama anak -anakku.


aku sudah memberitahu paman dan bibiku tentang rencana kedatangan bang Izal untuk menemui Syakira dan Habib, pamanku setuju saja, karena bang Izal juga berhak untuk menemui anaknya.


"Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamanku.


" Wa alaikum salam", jawab Bibiku.


" Kalian sudah datang, gimana kabarnya Kira?", tanya Bibiku sambil tersenyum.

__ADS_1


" Alhamdulillah sehat nek, Ooh ya nek, kata mama, ayahku akan datang kesini ya nek?", tanyanya penasaran.


"Iya sayang, besok pagi, mungkin ayahmu sudah tiba di sini ", jawab Bibiku.


" Hooree... makasih ya ma, besok aku di antar ayah saja ke sekolah, biar teman-temanku percaya kalau aku memang punya Ayah ya ma", ucapnya sambil tersenyum bahagia.


" Iya sayang, Kira bilang aja besok pagi sama ayahmu ya nak", ucapku sambil tersenyum padanya.


Yah, malam Sabtu ini, kami menginap di rumah pamanku untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, apalagi kami hanya manusia biasa, dan kami hanya menunggu keputusan akhir dari Sidang perceraian kami di pengadilan agama negeri Sipirok.


Malam pun berlalu, aku melihat reaksi putriku yang sangat bahagia karena ingin bertemu ayah kandungnya, barulah kusadari bahwa putriku sebenarnya sangat menyayangi ayahnya dan sangat merindukannya, dia menekan perasaannya demi aku, padahal dia masih anak-anak, sudah bisa berkorban seperti itu demi aku, sedangkan aku tidak pernah menyadarinya, betapa tidak berdayanya hamba Mu ini ya Allah, kuatkanlah jiwa dan raga kami dalam menghadapi ujian hidup ini, ucapku dalam hati sambil menghapus air mata yang mengalir dari sudut kedua mataku.


Pagi pun tiba, saat adzan shubuh berkumandang, aku terbangun dengan suara ketukan pintu rumah pamanku.


" Assalamualaikum", ucapnya.


Aku bergegas menuju pintu rumah pamanku untuk melihat siapa gerangan yang datang bertamu shubuh begini.


Aku mengintipnya dari kaca samping, aku melihat bang Izal sedang berdiri di depan pintu rumah pamanku.


" Wa alaikum salam", ucapku sambil membuka pintu rumah pamanku.


" Silahkan masuk bang, istirahat dulu di ruang tamu, soalnya paman dan bibi sedang sholat shubuh", ucapku sambil berlalu menuju dapur untuk membuatkan teh manis hangat untuknya.


Selesai membuatkan minuman, aku membawa teh manis hangat tersebut ke ruang tamu dan mempersilahkannya untuk diminum oleh bang Izal.


" Terima kasih ya dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Aku sholat shubuh dulu ya bang, kalau Abang mau sholat, silahkan saja", ucapku sambil berlalu pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh.


Selesai sholat, aku keluar dari kamar tidur kami untuk membantu bibiku memasak.


" Syakira sama Habib masih tidur nak?", tanya Bibiku.


" Iya Bi, mereka belum kuberitahu tentang kedatangan bang Izal, karena aku melihat mereka masih nyenyak tidur", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Aku tahu kamu pasti sedang bimbang dengan perasaanmu sendiri kan nak?", ucap bibiku.


" Iya Bi, aku bingung harus berbuat apa, agar anak-anakku bisa mengerti akan keadaan kami yang sebenarnya ", ucapku sambil mengiris sayuran.


" Tanyakan saja hatimu, berdoalah kepada Allah SWT, mintalah petunjuk dan pertolongan Allah SWT, karena Allah SWT lebih tahu mana yang terbaik untuk kita melebihi kita sendiri, niscaya petunjuk dan pertolongan itu akan datang sendiri ", ucap bibiku menasehati.


" Iya Bi, aku akan meminta petunjuk dan pertolongan Allah SWT, mungkin dengan sholat istikharah dan tahajud, Allah SWT memberikan aku petunjuk dan pertolongan-Nya ", ucapku sambil mengiris vs sayuran dan kentang untuk dimasak.


Selesai memasak, aku membangunkan putriku Syakira dan Habib putraku.


" Bangun sayang, ayahmu sudah datang", ucapku sambil mengelus rambutnya.


Aku melihat Syakira langsung membuka matanya dan menatap wajahku penuh tanya, mungkin dia masih ragu dengan ucapanku.


" Iya sayang, ayahmu sudah datang, dan sedang istirahat di ruang tamu", ucapku sambil tersenyum padanya.


Dia langsung beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju ruang tamu.

__ADS_1


" Aayaaah...", ucapnya dengan keras sambil berlari memeluk tubuh ayahnya.


" Hati -hati sayang, awas jatuh", ucap bang Izal langsung menangkap tubuh putrinya.


" Aku pikir ayah tidak akan datang kesini", ucap Syakira sambil menangis memeluk tubuh ayahnya.


" Tapi, ayah datang kan sayang, jadi Kira jangan sedih lagi ya, ayah sangat merindukan kalian", ucapnya sambil memangku Syakira di kursi tamu.


" Iya Yah, nanti Kira ke sekolah diantar sama ayah aja ya, biar Kira kenalin sama temen-temen Kira, biar mereka percaya kalau Kira memang punya Ayah ", ucapnya sambil memeluk tubuhnya.


Aku melihat bang Izal terdiam mendengar perkataan putrinya, dan menatap wajahku dengan mata nanar dan rasa bersalah.


Aku memalingkan wajahku untuk mengalihkan pandangannya terhadapku.


Karena, aku tidak mau terbawa perasaan dan suasana yang mengharukan ini.


Bibiku saja sampai meneteskannya air mata melihat adegan yang mengharukan ini.


" Habib ", panggil bang Izal.


Habib hanya diam saja, tidak merespon panggilan ayahnya, karena sejak lahir, bang Izal memang kurang dekat dengan Habib, putra kami.


Malahan Habib takut melihat ayahnya, karena dia tidak mengenalinya.


Aku melihat wajah sedih bang Izal, karena anaknya sendiri tidak mengenalnya.


Itu adalah kesalahannya sendiri, karena tidak memperhatikan anak-anak kami dulu saat kami masih bersama.


" Ayo sayang, Kira mandi dulu, biar Ayah antar ke sekolah setelah sarapan pagi", ucap bang Izal.


" Iya Yah", ucapnya sambil berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi, Syakira bergegas memakai seragam sekolahnya dengan rapi.


" Ma, sisirin rambut Kira donk", ucapnya sambil memberikan sisirnya ke tanganku.


Setelah menyisir dan mengikat rambut panjangnya, kuami bergegas menuju dapur untuk sarapan pagi.


Setelah sarapan, ban yg Izal dan Syakira langsung pamit kepada kami untuk ke sekolah Syakira.


Selesai mengantarkan mereka ke teras rumah ku kembali ke dalam rumah untuk memandikan putraku Habib.


Di usia yang baru dua setengah tahun ini, putraku sudah mulai berceloteh tentang apapun yang dilihatnya.


" NTU capa ma", ucapnya.


" Itu ayah sayang", ucapku sambil tersenyum padanya.


" A..yah", ucapnya dengan wajah yang menggemaskan.


" Iya sayang, A..yah", ucapku sambil mencium pipinya dan tertawa melihat wajahnya yang menggemaskan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2