Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Surprised...


__ADS_3

" Kamu rupanya?", ucapku ketus.


"Kok kasar gitu sama Abang dek, buket bunga mawar merah ini Abang beliin khusus buat adek kok, jangan ngambek lagi ya sayang, bikin Abang kepikiran!", ucapnya dengan nada manja yang membuatku ingin tertawa melihatnya.


" Ngapain datang kesini tuan Zain?", tanyaku dengan ketus.


" Mau ngerayu adek biar ga marah lagi sama Abang", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Ma, siapa yang datang?", tanya Syifa sambil melihat ke arah depan pintu rumah kami.


" Halo Syifa sayang, ini om Zain, om bawa oleh-oleh untuk kalian nak", ucapnya sambil berlalu menuju mobilnya untuk mengambil oleh-oleh yang dibawanya.


" Kak Kira, bang Habib, om Zain datang bawa oleh -oleh yang buuuaaanyaak", ucapnya dengan suara keras.


Kira dan Habib pun menyusul kami ke depan pintu rumah kami.


Bang Zainal pun dengan semangat membawa oleh-oleh untuk anak-anakku, dengan niat by terselubungnya.


Emang dasar crocodona, ucapku dalam hati dengan wajah cuek padanya.


" Hooree, om Zain bawa banyak makanan", ucap Syifa sambil bersorak kegirangan.


Syakira membantu bang Zainal membawa makanan dan minuman yang dibawanya dan menaruhnya ke atas meja di ruang tamu.


" Om, buket bunga mawar merahnya cantik banget, emangnya untuk siapa om?", tanya Kira.


" Untuk mama kalian yang paling cantik sedunia ", ucapnya dengan gaya yang menggemaskan.


Kira pun menatap kami secara bergantian, dan tidak peduli dengan apapun yang terjadi dengan kami sebelumnya.


Karena, dia pernah bilang padaku, kalau masalah orang dewasa itu rumit dan tidak perlu dibahas.


Aku hanya diam saja sambil melihat anak -anakku yang menyantap makanan dan minuman yang dibawa oleh bang Zainal.


" Adek ga mau makan batagornya?", tanya bang Zainal.


" Ga mau ah", ucapku dengan gaya yang cuek.


" Jadi adek maunya apa biar bisa maafin Abang?", tanyanya.


" Maunya nasi goreng spesial buatan Abang sendiri ", ucapku dengan senyum yang terpaksa.


" Baiklah kalau itu maunya adek ", ucapnya sambil berlalu menuju dapur kami.


" Kalian tunggu disini aja ya sayang, habisin makanannya, mama mau ngawasin om Zain dulu, ntar dapur mama diberantaki, kalau ga diawasi ya nak", ucapku sambil berlalu.


" Oke ma, enjoy aja", ucap mereka bersamaan.


Akupun menyusul bang Zainal dari belakang.


Aku hanya diam memperhatikan aktivitasnya.


" Jangan diberantaki dapurnya ", ucapku dengan ketus.


Bang Zainal hanya tersenyum melihat wajahku.


Beberapa menit kemudian, bang Zainal selesai memasak nasi goreng dan menghidangkannya di depanku, di atas meja makan.


" Silahkan dinikmati nyonya Ratu", ucapnya dengan gaya yang lucu.


Aku hanya diam saja melihat tingkahnya, padahal sebenarnya aku ingin sekali tertawa melihat tingkahnya.

__ADS_1


Bayangkan saja, pria berumur separuh baya, berusaha untuk membujuk seorang wanita dengan gaya anak remaja yang lagi kasmaran.


Akupun mulai mencicipi nasi goreng buatan bang Zainal. Jujur saja, rasanya enak banget, semua bumbunya pas banget di lidah.


Tanpa basa-basi lagi, aku menyantap nasi goreng enak yang ada di atas piring tersebut.


" Gimana rasanya dek, enak ga?", tanyanya penasaran sambil menatapku yang sedang menyantap nasi goreng buatannya.


'


" Ga", ucapku dengan singkat sambil terus mengunyah makananku.


" Katanya ga enak, tapi makannya lahap banget, udah mau habis lagi", ucapnya sambil duduk di sampingku.


Karena sibuk menyantap nasi goreng, aku tidak tahu kalau bang Zainal sudah sangat dekat denganku.


Tiba-tiba, dia menarik tubuhku dan mencium bibirku yang sedang mengunyah makananku. Diapun mengambil makanan yang ada di mulutku dengan lidahnya dan melepaskan ciumannya.


Aku kaget dan menatapnya tajam.


" Jangan marah ya sayang, Abang cuma mau ngerasain rasa nasi gorengnya, ternyata enak juga masakanku, apalagi ditambah dengan ciuman bibir adek, makin nikmat rasanya", ucapnya sambil mencubit hidungku.


" Apaan sih Bang, ga kapok- kapok ya ku cuekin", ucapku sambil mencubit hidungnya.


" Tenang saja sayang, ntar Abang masakin lagi nasi gorengnya, biar adek ga marah lagi sama Abang ya", ucapnya sambil memeluk tubuhku.


" Memang ini si crocodona", ucapku sambil mencubit hidungnya lagi.


" Apaan tuh artinya crocodona?", tanyanya penasaran.


" Ga tau ah, biarin aja penasaran ", ucapku sambil menyantap nasi gorengku kembali sampai habis tanpa sisa, karena aku tidak mau ada makanan yang terbuang sia-sia.


Tiba-tiba, bang Zainal memeluk tubuhku kembali dan mencium bibirku. Karena, terbawa suasana, akupun membalas pelukannya dan ciumannya.


" Menikahlah denganku sayang, aku akan mencintaimu apa adanya dan menerima anak -anakmu menjadi anakku", ucapnya sambil membelai wajahku dan mengelus rambutku yang tergerai panjang, karena ulahnya yang melepaskan ikatan rambutku.


Aku terdiam mendengar perkataannya.


" Apa kamu serius dengan ucapanmu itu bang?", tanyaku sambil menatap matanya dalam.


" Iya dek, Abang sangat serius dengan ucapannya Abang, sejak pertama kali bertemu dulu, aku sudah jatuh cinta padamu, memang saat itu, aku masih punya istri, dan kamu masih bersama suamimu Izal, sehingga aku berusaha keras untuk menahan rasa cintaku padamu", ucapnya.


" Apakah itu memang benar?", tanyaku penasaran.


" Iya sayang, setiap kali kita bertemu, aku selalu mendambakanmu, percayalah padaku, aku akan selalu mencintaimu dan setia padamu, dan mencintai anak- anakmu", ucapnya sambil memeluk tubuhku.


Aku pasrah dengan perlakuannya, karena terbawa suasana.


Apakah semudah itu, aku bisa luluh dengannya?, aku bisa melupakan rasa sakit yang kurasakan dulu saat hidup bersama bang Izal?, tanyaku dalam hati.


" Berikanlah aku waktu untuk berfikir, aku harus konsultasi dengan paman dan bibiku, karena mereka memang sudah mengenalmu dengan baik", ucapku sambil melepaskan pelukannya.


" Berapa lama waktu yang kamu minta dek?", tanyanya.


" Tiga hari saja, karena Syakira akan aku daftarkan ke pesantren Tahfidzul Qur'an yang ada di kota Medan, dan jika kita memang berjodoh, kita menikah sebelum dia berangkat ke pesantren Tahfidzul Qur'an", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Baiklah sayang, aku akan menanti jawaban darimu, tiga hari lagi aku akan datang lagi kesini untuk menemuimu", ucapnya sambil tersenyum dan mencium keningku.


Aku hanya diam saja dan membiarkannya.


Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku, siapa yang terbaik untukku, ucapku dalam hati.

__ADS_1


Setelah merapikan rambut dan pakaianku, aku beranjak dari tempat dudukku, karena takut akan aksi yang dilakukan oleh bang Zainal secara tiba-tiba.


Maemang benar kata orang, kalau ada dua orang anak Adam yang sedang berduaan, ketiganya adalah syaitan.


Aku tidak ingin menanggung dosa besar, karena perbuatan zina, sehingga aku harus menjaga jarakku dengannya.


Selesai membersihkan dapur dan mencuci peralatan masak dan makan yang kotor, aku mengajaknya untuk ke ruang tamu, karena anak -anakku sedang asyik menonton film kartun sambil menyantap makanan dan minuman mereka.


" Ini kopi hitam untuk Abang ", ucapku sambil meletakkan nampan berisi dua gelas kopi di atas meja yang ada di ruang tamu.


" Terima kasih ya dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Ma, lagi ngapain disini sama om Zain?" tanya Syifa sambil duduk di sebelah bang Zainal.


" Cuma ngobrol aja sayang", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ooh!", ucapnya singkat.


Aku hanya tersenyum melihat ekspresi wajahnya yang cantik dan cukup menggemaskan untukku.


"Ma, mana nasi gorengnya?", tanya Kira.


" Tu masih ada di bawah tudung saji ya ada di atas meja makan untuk Kira, Habib dan Syifa", ucap bang Zainal sambil tersenyum padaku.


" Kapan Abang menaruhnya?", tanyaku.


" Sewaktu adek menyantap nasi goreng yang Abang masak, tanpa menghiraukan ucapan Abang", ucapnya dengan nada ketus.


" Ooh, iya yah, maaf ya bang", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ga mau ah", ucapnya.


" Ga usah", ucapku dengan singkat.


Mereka pun tertawa mendengar ucapanku.


Akupun tersenyum melihat tingkah mereka.


Anak- anakku segera ke dapur untuk menyantapnya nasi goreng buatan bang Zainal.


" Ngomong -ngomong, Abang pintar masak juga ya!", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ga lah dek, Abang cuma bisa masak nasi goreng aja kok, malahan lebih pintar adek yang masak, daripada Abang ", Ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Emang apa resep andalan Abang, sehingga nasi goreng buatan Abang terasa spesial?", tanyaku.


" Kalau adek mau tahu, sini duduk di dekat Abang ", ucapnya.


" Ga mau ah, ntar Abang kayak tadi lagi, malu donk kalau dilihat orang lain!", ucapku.


" Ga dek, Abang Janji ga akan gituin adek lagi,suuer takewer- kewer", Ucapnya dengan gaya lucunya.


Aku tersenyum melihatnya. Aku pun pindah ke dekatnya, karena saking penasarannya.


" Sini Abang bisikin resep andalan Abang ", ucapnya lagi.


" Ga usah main bisik-bisik napa bang!", ucapku mulai kesal.


" Jangan kesal gitulah sayang, ntar cepat tua lho!, adek kan mau tahu, jadi harus mengalah", ucapnya lagi.


Akupun semakin mendekat padanya dan dia membisikkan sesuatu tentang resep andalannya.

__ADS_1


" Resep andalan Abang adalah....


Bersambung...


__ADS_2