
Maaf ya guys, telat update nya, karena Thor lagi ada urusan keluarga!
Mohon dukungannya dan komentar positif nya ya guys!!!
Love you all ❤️❤️❤️❤️
Lanjut ke topik utama ya guys!
" Enak banget ya kalian, bisa morotin hartanya bang Zain, apalagi kamu!", ucapnya sambil menunjuk wajahku.
" Emangnya kamu siapa?, ngomong gitu sama mamaku?", tanya Syakira.
" Seharusnya aku yang menjadi nyonya dirumah ini bukan mama kamu!", ucapnya dengan suara keras.
" Kok malah nyalahin mamaku, orang om Zain yang ngelamar mamaku untuk menjadi istrinya, kok kamu yang jadi sewot gitu, seharusnya kamu itu nanya langsung sama om Zain, kenapa bukan kamu yang jadi istrinya!", ucap Syakira sambil tersenyum.
" Dasar bocah ingusan, belum tau apa-apa, udah ikut campur segala sama urusan orang tua, apa perlu kamu itu saya ajarin sopan santun!", ucapnya dengan nada tinggi.
" Seharusnya kamu yang diajarin sopan santun, datang ke kamar orang tanpa permisi, itulah tandanya mamaku lebih pantas menjadi istrinya on Zain!", ucapnya sambil tersenyum.
" Udah nak!, biarin aja dia mau ngomong apa, anggap saja dia hantu yang bergentayangan!, ucapku sambil tersenyum.
" Iya ma, kelihatan banget ya ma, dia itu iri sama kita, karena om Zain lebih memilih mama untuk menjadi istrinya, daripada Mak lampir itu!", ucapnya sambil tertawa.
" Iya ma, ada Mak lampir disini ma!, iihhh.. serem ma!", ucap Syifa sambil tertawa.
Karena tidak tahan dengan perkataan kami padanya, akhirnya dia pergi dari kamar, dan berjalan menuju ruang tamu dengan menuruni tangga sambil mengepalkan tangannya untuk menjaga amarahnya.
" Rasain tuh si Mak lampir, emang enak diledekin sama kita!", ucap Syakira sambil tersenyum.
" Jangan kayak gitu lagi ya sayang, sebenarnya mama kurang setuju dengan perbuatan kita barusan, tapi kita harus memberikan dia peringatan sekaligus pelajaran, agar dia tidak bisa menindas kita dirumah ini, karena mama tidak mau masa lalu terulang kembali!", ucapku.
" Iya ma, sebenarnya kami hanya tidak ingin, mama disakiti oleh orang lain, apalagi Mak lampir seperti dia!", ucap Syakira.
" Ya udah nak!, kalian mandi dan siap- siap ya!, ntar lagi habis sholat ashar, kita berangkat ke Medan, gitu kata papa kalian!", ucapku.
" Baik ma!",ucap mereka bersamaan sambil bergegas menuju kamar mandi.
Habib segera ke kamar tidurnya untuk mandi dan bersiap-siap untuk ke Medan. Sedangkan aku bergegas menuju kamar tidur untuk beristirahat sejenak.
Di saat tiba di dalam kamar, aku merebahkan tubuhku sejak, karena merasa lelah akibat aktivitas percintaan kami tadi siang.
Setelah merasa cukup beristirahat, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku dengan gamis berwarna merah maroon dan jilbab berwarna hitam kesukaanku.
Saat sedang bersiap -siap, suamiku datang ke dalam kamar kami.
"Adek udah siap?", tanyanya.
" Udah bang, tinggal memakai jilbab aja, ntar selesai sholat ashar, baru adek pakai, Abang mandi donk!, biar segar!", ucapku.
" Iya dek, ntar lagi sayang, abang istirahat dulu sebentar", ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
" Sini biar adek pijitin kepalanya biar lebih relaks dan kepala Abang ga pusing ", ucapku.
" Iya sayang, adek kok tau kepala Abang lagi pusing?, apa ada ilmu bathinya ya?", tanyanya.
" Ga lah bang, Adek cuma asal nebak aja, kebetulan aja tebakan adek benar", ucapku sambil bergegas duduk di tepi ranjang sambil memijat kepalanya perlahan.
Beberapa menit kemudian, suamiku merasa kepalanya tidak pusing lagi.
" Makasih ya sayang!" ucapnya sambil mencium keningku.
__ADS_1
" Sama-sama sayang, Abang mandu dulu ya!, ntar pakaian ganti Abang adek siapin di atas ranjang ya!" ucapku sambil tersenyum padanya.
" Emangnya adek mau kemana?", tanyanya.
" Adek mau meriksa anak-anak kita apa udah siap atau belum ", ucapku.
" Selesai meriksa mereka, adek balik lagi ya kesini!", ucapnya.
" Iya bang!", ucapku sambil mengambil pakaian gantinya dari lemari dan meletakkannya di atas ranjang.
Setelah suamiku masuk ke dalam kamar mandi, aku bergegas keluar dari kamar tidur kami dan berjalan menuju kamar putraku Habib untuk membantunya.
" Bib!,", panggilku sambil mengetuk pintu kamarnya.
" Iya ma!, masuk aja ma!, pintunya ga dikunci kok!", ucapnya dari dalam kamarnya.
Aku membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
" Bib udah selesai berkemas sayang?", tanyaku.
" Udah m, barang keperluan Habib selama di Medan udah kumasukkan ke dalam tas ransel yang berwarna hitam itu!", ucapnya sambil menunjuk tas ranselnya.
" Bib periksa lagi ya sayang, mana tahu ada lagi yang kurang, seperti pakaian dalam gitu!", ucapku.
" Iya ma, ntar lagi Bib periksa, emang mama mau kemana?" tanyanya.
" Mama mau ke kamar kakak dan adekmu, apa mereka udah siap atau belum, ntar kelamaan dandan, bisa telat kita!", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya ma, nanti Habib nyusul mama ya kesana!, Habib mau ngerapiin kamar Habib lagi ma!", ucapnya.
" Iya sayang!" ucapku sambil berlalu pergi menuju pintu kamarnya dan keluar menuju kamar kedua princess ku.
" Kira!", panggilku sambil mengetuk pintu kamar mereka.
Akupun segera membuka pintu kamar mereka dan masuk ke dalam kamar.
" Kalian udah selesai berkemasnya nak?", tanyaku sambil membelai rambut putriku Syifa.
" Iya ma, kata kakak, dia juga udah selesai berkemas, kalau aku masukin barang bawaanku ke dalam tas ransel pink itu ma!", ucapnya sambil menunjuk tas ransel yang berukuran sedang di atas ranjangnya.
" Tapi, kakak bantuin kok ma nyiapinnya!", ucapnya lagi.
" Ntar, kalau kakak udah di pesantren, siapa yang nemanin Syifa bobo disini ma?", tanyanya.
" Mama sayang,!", ucapku.
" Jadi yang nemanin papa bobo siapa donk?", tanyanya lagi.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya.
Benar juga, ntar siapa yang nemanin suamiku tidur di kamar kami, nanti takutnya si Mak lampir nyari kesempatan untuk merebut bang Zain dari aku, sama seperti Mira dulu yanf merebut bang Izal dariku, aku tidak mau masa lalu yang kelam itu terulang kembali di hidupku sekarang, ucapku dalam hati.
" Ga apa-apa kan nak, kalau seandainya Syifa udah bobo, mama nemanin papa di kamar papa ya?", tanyaku was -was dengan jawaban yang akan diberikan oleh Putriku Syifa.
" Iya ma, ga apa-apa kok, tapi kalau Syifa memang udah bobo ya ma!", jawabnya.
" Makasih ya sayang ", ucapku sambil tersenyum padanya dan mencium pipinya.
" Iya ma, terima kasih ya ma, sudah menjadi mama yang terbaik untuk kami", ucap Syakira dan Syifa sambil memelukku dengan erat.
" Mama yang sangat bersyukur karena Allah telah memberikan mama anak -anak yang baik seperti kalian", ucapku sambil mencium pipi mereka bergantian.
__ADS_1
"²Habib juga mau dicium sama mama!", ucapnya tiba-tiba sambil memeluk tubuhku.
" Iya nak, Habib adalah jagoan mama yang paling tampan!", ucapku sambil mencium pipinya.
Kami pun tertawa bahagia sambil berpelukan.
" Ma, udah adzan ma, kita sholat berjamaah yuk?", ajak Syakira.
" Ya udah, kalian turun duluan ke ruang sholat ya nak!, mama manggil papa dulu di kamar ya!", ucapku sambil tersenyum.
" Iya ma", ucap mereka bersamaan.
Kamipun bergegas keluar dari kamar tidur. Anak-anakku berjalan menuju ruang sholat, sedangkan aku ke kamar tidur terlebih dahulu untuk memanggil suamiku untuk sholat berjamaah.
" Bang, ayo sholat berjamaah di ruang sholat, anak-anak kita udah menunggu disana!", ucapku setengah berada di dalam kamar.
" Emangnya udah adzan dek?", tanyanya dengan wajah bingung.
" Sekarang kan lagi adzan bang, apa Abang ketiduran tadi?", tanyaku.
" Iya dek, mungkin Abang memang ketiduran tadi", ucapnya sambil beranjak dari pembaringannya.
" Ya udah, ayo turun ke bawah, kita ngambil wudhu di kamar mandi yang ada di dekat ruang sholat aja ya bang!", ajakku.
" Ya udah, ayo kita kesana, kasihan anak-anak nungguin kita lama!", ajaknya sambil menggenggam tanganku.
Kamipun berjalan beriringan menuju ruang sholat.
Setibanya di ruang sholat, kami melihat anak-anak kami sudah bersiap di posisi masing-masing.
Selesai mengatakan wudhu, kami bersiap -siap untuk memulai sholat ashar berjamaah.
Tiba-tiba ada Boy melewati ruang sholat.
" Boy, Ayi sholat berjamaah dengan kami nak!", ajakku.
" Ga usah sok baik dan sok alim ya ngajakin aku sholat, mending loe urus aja dirimu sendiri!", ucapku dengan nada sinis.
" Boy, jaga bicaramu itu!, bagaimanapun dia sudah menjadi ibumu, suka atau tidak, kamu harus menghormatinya dan sopan padanya!", ucap ayahnya dengan tegas.
Boy tidak mau mendengar apapun yang dikatakan oleh ayahnya, dia hanya berlalu pergi menuju ruang tamu.
" Ya udah, ga apa-apa kok, juta mulai aja sholatnya!", ucapku sambil tersenyum padanya, agar amarahnya mereda.
Setelah suamiku mungkin tenang, kamipun sholat ashar berjamaah dengan penuh hikmat.
Setelah sholat dan berdoa, kami bersiap -siap untuk berangkat ke Medan.
Barang bawaan kami sudah diangkat supir pribadi kami ke dalam mobil.
Rencananya, kami akan melalui jalan lintas Tapanuli Selatan untuk menuju Medan. Suamiku dan supirbya akan menyetir mobil Seca bergantian.
" Kalian mau kemana?", tanya Mak lampir kepada anak-anakku.
" Kami mau ke Medan jalan-jalan sama mama dan papa!", ucap Syakira sambil tersenyum padanya.
" Kok aku ga ada yang ngasih tau aku kalau kalian mau pergi ke Medan?", tanyanya.
Syakira hanya tersenyum dan berlalu pergi menuju teras rumah untuk menyusul kami di teras rumah.
Setelah kami masuk ke dalam mobil, pak supir menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju kota Medan.
__ADS_1
Bersambung...