Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Perpisahan yang tidak terduga...


__ADS_3

" Kalian harus segera pulang ke kampung, desa Lansia, karena Nenek sedang sakit keras", ucap Pamanku menjelaskan.


" Baiklah om, kami akan berangkat malam ini, kita bertemu di rumah nenek saja, karena kami langsung turun di desa Landia saja om", ucap suamiku.


" Iya Zal, kami sekarang akan berangkat juga ke desa Landia, om mu yang dari Sipirok sudah berangkat duluan kesana", ucap Pamanku sambil mengakhiri sambungan telepon kami.


" Ada apa bang?", tanyaku penasaran.


" Kata pamanmu, nenek lagi sakit keras di desa, dan mereka meminta kita untuk pulang ke desa Landia", ucap suamiku.


" Ayo kita pulang bang, aku takut tidak bisa menemui nenek lagi", ucapku sedih sambil beranjak masuk ke dalam rumah untuk berkemas.


Di saat aku ingin masuk ke dalam kamar, adik iparku sedang menyapu rumah.


" Dek, kamu berkemas juga ya, kita akan pulang ke kampung malam ini", ucapku sambil berlalu menuju ke kamar kami.


Aku melihatnya bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah. Selesai berkemas, aku menemui suamiku, dan berkata" Bang, dek Marni juga ikut kan,?, aku sudah memintanya untuk berkemas", ucapku sambil tersenyum.


" Iya dek, lagian kita kan lumayan lama disana, baru saja Abang telpon atasannya Abang untuk minta cuti seminggu, syukurlah atasannya Abang mengizinkan, karena masih ada bawahannya Abang yang bisa mewakili Abang di kantor ", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Syukurlah, atasannya Abang pengertian pada bawahannya", ucapku.


" Syakira masih tidur ya sayang?", tanay bang Izal.


" Iya sayang, Syakira masih tidur nyenyak banget, mungkin ada gempa bumi pun dia ga akan terganggu, karena nyenyaknya", ucapku sambil tertawa.


Baru saja aku selesai ngomong, terdengarlah suara tangisan putriku tersayang, mungkin dia tau kalau kami lagi menceritakan tingkahnya. Aku bergegas menuju kamar tidur kami, untuk menemui putri cantikku.


Aku langsung mengambilnya dari box bayi dan menyusuinya, mungkin karena dia kehausan, sehingga dia tiba-tiba terbangun.


Selesai menyusuinya, aku menggendongnya menuju ruang tv untuk menemui suamiku.


" Sini dek, biar Abang gendong si baby Syakira, putriku tersayang", ucap suamiku sambil mengulurkan tangannya padaku.


Aku menaruh putri kami ke pangkuan ayahnya. Suamiku menimang-nimang putri kami sampai adzan magrib berkumandang.


Selesai melakukan kewajiban kami kepada Allah SWT, kami bergegas untuk makan malam.

__ADS_1


Selesai makan malam dan membersihkan meja, dan mencuci peralatan makan, kami bersiap-siap untuk berangkat menuju loket. Sebelum berangkat, suamiku menitipkan sepeda motor kami kepada tetangga sebelah kami.


Kamipun berangkat ke loket dengan menaiki becak motor.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan loket bus Bayang Pane.


Suamiku membantu supir becak membawa koper kami yang di ikat dibelakang becak yang kami naiki.


Setelah merapikan koper kami, bang Izal berjalan mendekati petugas loket, dan membeli tiket bus untuk empat orang. Setelah membayar tiket, suaminya mendekati kami yang duduk di kursi yang sudah disediakan di loket tersebut.


" Dek, ini tiketnya, adek simpan aja Nike dompet adek", ucapnya sambil memberikan sebuah kertas tiket yang berukuran kecil yang bertulisan empat orang.


" Kok banyak banget bang kursinya Abang bayar?", tanyaku heran.


" Nanti Abang duduk dengan dek Marni aja, biar nanti adek bisa leluasa bergerak, karena menggendong putri kita", ucap suamiku sambil tersenyum.


" Terima kasih ya sayang atas perhatiannya, padahal adek gak kepikiran kesitu lho sayang", ucapku bahagia.


Perhatian sekecil ini, bisa membuatku begitu bahagia, apalagi yang lainnya ya, ucapku dalam hati.


Aku melihat petugas loket memasukkan koper bawaan kami yang lumayan besar ke dalam bagasi bus.


Waktu pun berlalu, Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan. Setelah menempuh delapan jam perjalanan, kami tiba di loket bus Bayang Pane yang ada di desa Landia.


Setelah memeriksa kelengkapan barang bawaan kami, kami bergegas menuju rumah nenekku dengan menaiki becak motor, karena loket bus lumayan jauh jaraknya dari rumah nenekku.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah nenekku yang sudah dipadati sanak saudara kami, para tetangga, dan masyarakat desa sekitar desa kami.


Kami segera masuk ke dalam rumah. Aku berjalan mendekati jenazah nenekku yang sudah terbujur kaku di pembaringannya, dan ditutupi kain putih. Aku membuka penutup kepala nenekku, dan menciumnya sambil meneteskan air mataku yang mengalir deras tanpa henti.


Suara tangis bercampur aduk dengan suara para penduduk yang melayat dan mengaji Yasinan, menambah haru, suasana rumah duka ini.


Aku memeluk bibiku yang juga ikut menangis haru, karena kepergian nenek yang tidak terduga.


Tiga bulan yang lalu, adalah hari terakhir kami bersama, saling berbagi kasih sayang.


Ya Allah, ampunilah semua dosa nenekku, dan terimalah semua amal ibadahnya, serta berikanlah nenekku tempat yang terbaik di sisi-Mu, aamiin..., doaku dalam hati.

__ADS_1


Setelah dikafani, waktunya jenazah nenekku untuk di sholatkan di masjid raya desa Landia. Setelah itu, barulah jenazah nenekku dimakamkan.


Kami tidak kepikiran untuk memberitahu ayah mertuaku, saat selesai pemakaman, aku barulah teringat akan ayah mertuaku.


Aku bergegas menemui suamiku di belakang rumah, kulihat dia sedang membantu pamanku untuk memasak makanan untuk para pelayat yang datang.


" Bang, apa sudah mengabari ayah kita?", tanyaku.


" Astaghfirullah, Abang lupa dek, Abang telpon dulu ya pak Putin, biar pak Putin saja yang memberitahukan ayah agar datang kesini", ucap suamiku sambil mengambil ponsel yang ada di sakunya.


Setelah menelpon pak Putin, suamiku menjelaskan bahwa kakeknya Syakira akan datang sore nanti, karena saat suamiku menelpon, ayah mertuaku sedang mengobrol dengan pak Putin di warung kopi yang ada di dekat rumah pak Putin.


Setelah mendengar ucapannya, aku bergegas membawa putriku untuk beristirahat di kamar tidur tamu.


Syukurlah, putriku tidak rewel, mungkin dia tahu kalau mamanya lagi sedih dan sibuk.


Aku menyusuinya, karena sudah ada lebih dua jam, putriku tidak menyusu. Minum yang banyak ya sayang, biar ga haus dan lapar lagi, ucapku sambil membelai wajah putriku yang cantik.


Mungkin karena kelelahan, akhirnya aku dan putriku tertidur lelap di atas tempat tidur. Aku bermimpi bertemu dengan nenekku, aku melihat dia tersenyum bahagia dan melambai tangannya, sambil berjalan menjauhiku meuju tempat yang kulihat dari kejauhan sangat indah dan menakjubkan.


Akupun tersenyum bahagia melihat senyum bahagia di wajah nenekku, sampai aku terbangun karena suara tangis putriku yang lumayan keras.


" Ada apa sayang", ucapku menggendongnya sambil duduk bersandar ke dinding kamar.


Aku kembali menyusuinya, agar dia tidak menangis lagi.


Aku bergegas membawanya keluar dari kamar tidur dan menemui bibiku yang sedang mengobrol di ruang tamu.


" Bi, emangnya setelah nenek pulang dari Medan, nenek sakit lagi?", tanyaku penasaran.


" Katanya sih, seperti itu Ni, baru-baru ini, darah tinggi nenekmu kambuh lagi, karena ulah pamanmu yang di desa seberang, minta harta warisan, padahal pamanmu itu sudah nenekmu kasih sebidang tanah, dan dibelikan sepeda motor lagi, itupun masih kurang", ucap bibiku.


" Iya, kata tantemu, dua hari yang lalu, pamanmu juga meminta uang pensiunan nenekmu untuk modal usaha, dan nenekmu tidak punya uang, sehingga pamanmu menyuruh nenekmu untuk menjual rumah ini, dan nenekmu tidak mau, sehingga membuat pamanmu marah besar, aku heran dengan pamanmu i TUu, suka sekali menyiksa bathin nenekmu, orang tuanya sendiri, seharusnya dia harus lebih menyayangi Nenekmu, karena dia mendapatkan semua yang dia inginkan, sedangkan Pamanmu yang lain tidak dapat apa-apa ", ucap bibiku yang dari Sipirok.


" Sabar aja ya Bi, semua kejahatan yang dia tanam, pasti akan di tuainya suatu saat nanti, karma itu berlaku sampai hari kiamat nanti, semoga aja dia mendapatkan balasan yang setimpal ", ucapku geram setelah mendengar ucapan kedua bibiku.


Karma akan berlaku sampai hari kiamat tiba, perbanyaklah berbuat kebaikan, agar kebaikan yang kita dapatkan, dan sebaliknya, jika kejahatan yang kita tanam, maka kejahatan pula yang kita tuai nantinya...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2