
Di saat kami sudah di dalam mobil, kami melihat mobil polisi tiba di teras kejadian.
Otomatis, petugas keamanan perkebunan dan suaminya harus keluar dari mobil untuk menemui mereka.
Selesai berbicara dengan para polisi, suamiku dan petugas keamanan perkebunan kembali ke dalam mobil. Kamipun melanjutkan perjalanan kami yang tertunda menuju ke rumah sakit umum terdekat.
" Kalian ngomongin apa sama pak polisinya bang?", tanyaku.
" Kita ngejelasin kronologi kejadian penghadangan dan penyerangan yang dilakukan oleh para preman begal itu, dan kami harus datang ke ke kantor polisi untuk membuat laporan, kata polisi, ketua premannya bernama Jarwo, dan sudah lama menjadi buronan, dia otaknya sangat licik, sehingga di tidak pernah tertangkap basah dalam melakukan kejahatannya, hari ini adalah hari kesialan bagi hidupnya, karen hari ini dia tertangkap berkat keberanian kita, terutama kamu sayang", ucapnya memujiku.
" Tidak sayang, itu semua berkat bantuan para penduduk yang sudah mau membantu kita", ucapku sambil tersenyum.
" Yang dikatakan suamimu memang benar nak, kalau bukan karena keberanianmu meminta bantuan kepada kami dalam kondisi hamil seperti itu, mungkin para komplotan penjahat begal itu tidak akan pernah bisa ditangkap, bapak bangga dengan keberanianmu", ucap si petugas keamanan perkebunan.
" Terima kasih banyak atas pujiannya pak, kamu sangat berterima kasih atas bantuan para penduduk terutama bapak, kalau kalian tidak membantu, mungkin suamiku dan bang Raka akan dalam bahaya. Ngomong -ngomong, nama bapak siapa?, dan rumah bapak dimana?", tanyaku.
" Nama bapak Budiman, panggil saja pak Budi, dan bapak tinggal di perumahan perkebunan teh, kapan & kapan kalian singgah di rumah bapak, pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian ", ucapnya sambil tersenyum.
" Terima kasih ya pak atas kebaikan dan keramahan bapak pada kami ", ucap bang Raka sambil menahan sakit.
Jujur saja, aku kasihan melihat bang Raka yang menahan sakit, karena lukanya, tapi mau gimana lagi, aku takut kalau suamiku akan salah menilai hubungan kami, jika aku mengobati lukanya, seperti aku mengobati luka suamiku.
Hal itu bisa memancing kecemburuan suamiku, karena sebelumnya aku tahu kalau suamiku tidak menyukai bang Raka.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah sakit umum.
Kami memanggil petugas rumah sakit untuk membantu kami untuk membawa kak Khadijah ke dalam rumah sakit.
Bang Izal menggendong kak Khadijah ke dalam rumah sakit, karena petugas rumah sakit terkesan lambat membantu kami.
Suamiku meletakkan tubuh kak Khadijah ke atas brankar rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Para petugas segera menandatangani kak Khadijah dan bang Raka, untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
__ADS_1
Setelah mendapatkan perawatan, bang Raka terlihat lebih baik. Kami membawakan makanan dan minuman untuk bang Raka dan kak Khadijah, karena sudah malam, tentu saja baru sekarang terasa laparnya, karena sudah pukul delapan malam.
" Gimana keadaan kak Khadijah Bang", tanyaku.
" Alhamdulillah, Khadijah sudah lebih baik, tadi setelah siuman, dia kembali tertidur, mungkin karena masih teringat kejadian tadi siang, jadi dia terlihat kelelahan, tapi kondisinya sudah mulai stabil dek", jawabnya sambil menikmati makanan yang kami bawakan.
" Apa kak Khadijah sudah makan?", tanyaku lagi.
" Udah tadi, setelah dia siuman, suster membawakan makanan untuk Khadijah, agar dia bisa meminumnya obat", ucapnya sambil melahap makanannya sampai tidak tersisa.
" Abang kelaparan banget ya, jangan sampai pembungkus nasinya juga Abang embat semuanya ", ucapku sambil menggelengkan kepalaku.
" Maklum saja lah Ni, aku memang kelaparan, dari tadi setelah mendapatkan perawatan, aku sudah menahan lapar, karena tidak tau mau beli makanan dimana, untunglah kalian membawakan makanan tepat waktu, aku bisa pingsan juga saking laparnya", jawabnya sambil tertawa lepas.
" Jadi repotlah kami ngurusin dua orang pingsan ", ucap suamiku sambil tersenyum padanya.
" Ngomong -ngomong kalian tadi kemana saja, kucari kemana-mana ga ketemu, kupikir kalian udah pulang ke Medan, ninggalin kami disini ", ucapnya sambil tersenyum.
" Kami tadi ke kantor polisi bersama pak Budi, untuk membuat laporan atas kejahatan yang dilakukan oleh si Jarwo, dan komplotannya, semua berkas yang diperlukan, sudah diantarkan pak Budi, setelah mengambil kami kesini dengan menggunakan mobilmu, pak Budi kembali ke kantor polisi dengan membawa berkas visum serta foto copy kartu identitas kita!", jawab suamiku.
" Ga apa-apa dek, itu memang sangat penting, kami mengerti apa yang harus kalian lakukan ", ucap bang Raka.
" Aku ke kamar kak Khadijah dulu ya, ntar dia bangun, ga ada yang menungguinnya", ucapku sambil bergegas menuju kamar perawatan kak Khadijah.
" Iya, hati - hati ya sayang, nanti hubungi Abang kalau ada yang perlu, kami disini dulu untuk mengobrol ", ucap suamiku sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di kamar, aku melihat kak Khadijah sedang dibantu suster untuk duduk bersandar ke dinding kamar dengan menggunakan bantal, agar lebih terasa nyaman.
" Gimana kondisi kakak ?", tanyaku sambil menggenggam tangannya.
" Alhamdulillah, Kakak baik-baik saja dek, kalau adek gimana?", tanyanya padaku.
" Alhamdulillah, adek baik-baik juga", jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
" Dek, kakak ada kabar gembira!", ucapnya sambil tersenyum bahagia.
" Ada kabar gembira apa kak ?", tanyaku penasaran.
" Kata dokter yang memeriksa aku tadi, dia bilang aku sedang hamil dek, tapi biar lebih pasti, kami harus cek ke dokter spesialis kandungan", ucapbya dengan bahagia.
" Alhamdulillah kak, sungguh kabar ini sangat menggembirakan untukku kak, semoga kakak dan kandungan kakak sehat selalu dan bahagia", ucapku dengan tulus.
" Aamiin..", ucap Kak Khadijah sambil tersenyum padaku.
" Giman reaksi dari bang Raka?", tanyaku penasaran.
" Dia juga sangat bahagia, dan di sempat mengucapkan kata-kata yang lucu saking bahagianya ", ucap Kak Khadijah sambil tertawa.
" Emangnya bang Raka ngomong apa kak sampai membuat Kakak tertawa seperti itu?", tanyaku penasaran.
" Katanya, syukurlah usahaku bercocok tanam selama ini tidak sia-sia, awalnya aku, dokter dan suster yang ada disini kaget mendengar ucapannya, tapi kemudian kami tertawa lepas mendengar ucapannya bang Raka" , ucapnya sambil tertawa.
Akupun akhirnya ikut tertawa membayangkan wajah malu dari bang Raka.
" Jadi dokter bilang apa kak ?", tanyaku lagi.
" Selamat ya pak, Bu, usaha dan kerja keras bapak bercocok tanam selama ini, akhirnya berhasil juga, ucap Bu dokter sambil tertawa, dan akupun tertawa melihat wajah suamiku yang menahan malu itu" , ucap Kak Khadijah sambil tersenyum padaku.
" Syukurlah kalau Kakak dan bang Raka bahagia, semoga selalu bahagia, dan kita mendapatkan hikmah yang positif atas kejadian yang menimpa kita tadi siang, dan terobati dengan kabar gembira yang Kakak berikan ", ucapku sambil memeluknya.
"Iya dek, Kakak sangat bahagia, dan bersyukur atas nikmat dan berkah yang diberikan Allah SWT, dan semoga adek selalu bahagia dengan Izal", ucapnya sambil membalas pelukanku.
Aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul sebelas malam, aku menyuruh kak Khadijah untuk beristirahat, sedangkan aku akan tidur di tempat tidur pasien yang kosong yang ada di dalam kamar pasien ini juga.
Saat hendak terlelap, aku mendengar suara langkah kaki menuju ke kamar kami, karena merasa takut dan teringat akan kejadian tadi siang, aku membuka mataku lebar -lebar, dan mencoba mendekati jendela kaca yang ada di dekat pintu.
Aku melihat ada.....
__ADS_1
Bersambung...