
Malam pun berlalu, pagi hari pun tiba. Walau udaranya dingin, tidak menghalangi aku untuk melaksanakan kewajibanku sebagai muslim yang taat kepada Allah SWT.
Aku bergegas menuju dapur untuk memasak makanan untuk sarapan pagi kami. Aku melihat bibiku sedang merajang sayuran dan cabai.
" Kita mau masak apa bi?", tanyaku.
" Pagi ini kita masak ayam goreng pakai sambal terasi dan rebusan sayur campur - campur", ujarnya.
" Mantap donk bi, Ani aja yang buat sambal terasinya, dan merajang sayurannya, apa ayamnya udah di ungkep?", tanyaku.
" Itu masih di kuali Ni, baru bibi ungkep", jawab bibi.
" Ya udah, bibi aja yang menggorengnya, biar merajang sayurannya Ani lanjutin", ucapku sambil melanjutkan pekerjaan bibi yang belum selesai.
" Raihan masih tidur ya Bi?", tanyaku lagi.
__ADS_1
" Iya, tadi jam tiga pagi dia bangun, dan main sebentar, baru tidur lagi di ayunan, Pamanmu yang jagain tadi", jawab bibi sambil menggoreng ayamnya.
Beberapa menit kemudian, menu masakan yang sudah kami masak, aku hidangkan di atas meja makan. Aku mengambilkan makanan untuk nenekku, dan membawanya ke kamar nenek.
" Nek, lagi ngapain?", tanyaku melihatnya sedang duduk bersandar sambil komat-kamit.
" Nenek lagi berdzikir Ni, pakai tasbih", ucap nenek sambil memperlihatkan tasbih yang ada di tangannya.
" Aku pikir nenek sedang baca mantra untuk dapat banyak uang" ucapku sambil tertawa menggodanya.
" Iya nek, aku akan mengingat pesan nenek!", ucapku dengan penuh keyakinan.
" Hari ini, kami akan pulang ke Gunung Tua ya nek, karena cucu menantu nenek ada urusan penting di kampung, nanti sehabis sarapan, kami akan berangkat, nenek yang rajin berobatnya, biar lekas sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa lagi", ucapku menyemangatinya sambil menyuapinya makanan.
" Iya Ni, nenek akan rajin berobat, biar nanti pas kamu lahiran, nenek bisa menemanimu ", jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
" Iya nek, cepat sembuh ya nek", ucapku sambil tersenyum padanya.
Selesai makan, nenek meminum obatnya. Aku bergegas ke kamar tidur kami sambil membawa piring kotor nenek, untuk melihat suamiku sudah bangun atau belum, dan aku melihat koper barang bawaan kami sudah rapi, aku lupa tadi malam untuk membereskannya, mungkin suamiku yang sudah merapikan isi koper kami.
Aku memeriksa apa ada barang bawaan kami yang tertinggal, tapi semuanya sudah ada didalam koper. Aku bergegas keluar kamar menuju dapur. Aku melihat suamiku dan paman sedang sarapan sambil mengobrol, sedangkan bibi sedang menyuapi Raihan makanan.
Aku segera meletakkan piring kotor yang kubawa, ke dalam baskom kecil, dan bergegas bergabung dengan mereka untuk sarapan pagi.
Kami berpamitan kepada Nenek, paman, dan bibi," Kami berangkat ya nek, Paman, bi, suatu saat kami akan kembali mengunjungi nenek, dan paman", ucapku sambil menyalami mereka satu-persatu, begitu juga dengan suamiku.
Selesai sarapan, kami bersiap -siap untuk berangkat pulang ke kampung halaman suamiku, Gunung Tua. Setelah berpamitan dengan nenek, paman dan bibi, kami berjalan menuju ke pinggir jalan depan rumah Pamanku.
Beberapa menit kami menunggu bus yang lewat, akhirnya ada bus yang lumayan penuh penumpang memberhentikan busnya untuk mengangkut kami. Kami segera masuk ke dalam bus dan mencari tempat duduk yang kosong di dekat jendela bus. Setelah kami duduk, sopir bus, melajukan busnya kembali.
Akhirnya kami akan kembali ke Gunung Tua, semoga Nenekku lekas sembuh seperti sedia kala, ucapku dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...