Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Sibuk sendiri...


__ADS_3

Saat ini, kak Khadijah sedang mengantarkan paman dan bibi ke loket bus Bayang Pane. Kak Khadijah dan suaminya Raka, akan langsung kembali ke Binjai.


Nenek dan adik iparku sedang istirahat di kamar tidur mereka. Aku sedang sibuk menyusui bayi cantikku, Syakira. Sedangkan suamiku sudah tertidur pulas dan tidak bisa di ganggu gugat lagi.


Selesai menyusui putriku, aku bergegas menaruhnya ke box bayi, agar aku bisa tidur nyenyak malam ini. Tapi, naluri keibuanku melarangku untuk tidur nyenyak, aku harus siaga menjaga bayiku, agar dia tidak menangis karena rasa laparnya atau karena pup nya.


Aku memiringkan tubuhku, agar aku bisa memandang wajahnya yang cantik dan polos tanpa dosa. Di saat aku memandangi bayiku, aku jadi teringat ibu kandung yang melahirkan ku, dan sempat juga merawatku selama empat tahun.


Mungkin dia meninggalkan kami untuk hidup bersama nenek adalah keputihan yang terbaik menurutnya. Sehingga dia tega meninggalkan kami berdua dan hidup bergantung kepada nenekku. Saat itu, ayahku juga pergi meninggalkan kami demi wanita lain.


Mungkin hal itu yang membuat ibuku nekat untuk meninggalkan kami. Dulu, sebelum menikah dan merasakan sakitnya melahirkan hingga bertaruh nyawa, membuat hati dan pikiranku mulai berubah.


Perlahan, aku mulai berdamai dengan diriku sendiri dan mulai memaafkan kesalaha ibuku yang sudah meninggalkan kami sejak kecil. Aku yakin, suatu saat nanti, kami pasti bertemu, ucapku dalam hati.


Akhirnya aku tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingku. Aku ingin bermimpi bertemu dengan ibu kandungku, karena sejak kecil, aku tidak pernah melihat wajahnya. Terkadang aku sangat merindukannya. Apalah dayaku, aku saja tidak mengingat wajahnya, karena nenekku tidak memiliki fotonya atau apapun itu.


Sehingga membuatku berimajinasi bagaimana wajah ibu kandungku.


Waktu berlalu, hari berganti hari, seminggu pun berlalu. Hari ini adalah hari terakhir nenekku berada di rumah kami, karena dia mau pulang ke desa kami, desa Lansia


Aku meminta suamiku untuk membelikan oleh-oleh untuk dibawa pulang oleh nenek.


Aku membantu nenekku untuk berkemas saat bayiku sedang tidur di buaian.


" Kalian baik-baik disini ya sayang, kalau berumah tangga itu banyak ujiannya, dan kita harus kuat dan tabah dalam menghadapi ujiannya, dan setiap ujian selalu ada hikmahnya", ucap nenek menasehatiku.


" Iya nek, Inshaa Allah, aku akan mengingat dan menuruti semua nasihat nenek", ucapku sambil tersenyum padanya.


Selesai berkemas, aku meminta nenek untuk makan malam duluan sebelum diantar bang Izal ke loket bus Bayang Pane.


Selesai makan malam, kemudian nenekku sholat Maghrib di rumah kami, agar tidak repot kalau sholat Maghrib di loket busnya.


" Hati-hati ya nek di jalan, titip salam untuk paman dan bibi disana", ucapku sambil memeluknya erat.


" Iya sayang, kalian baik-baik disini ya", ucap nenek sambil mencium keningku.


Suamiku mengantarkan nenek dengan menggunakan sepeda motornya.

__ADS_1


Nenek melambaikan tangannya pada kami sambil tersenyum.


Setelah kepergian nenek, seketika itu aku merasa kesepian dirumah ini, walau masih ada adik iparku dan bayi cantikku, Syakira.


Saat ini, bayiku sedang tidur pulas di dalam box bayi. Aku bergegas menuju ruang tv untuk merapikan pakaian yang sudah kering, yang dicuci bersih oleh adik iparku.


Aku merasa terbantu dengan adanya adik iparku.


Aku hanya memasak makanan untuk kami, dan mengurus bayiku. Kalau masalah cuci baju, dilakukan oleh suamiku dan mencuci piring dan membersihkan rumah dilakukan oleh adik iparku.


Satu jam kemudian, di saat aku selesai merapikan pakaian kami, suamiku sudah tiba di depan rumah kami. Aku bergegas berjalan menuju pintu rumah kami untuk membukakan pintu.


" Assalamualaikum", ucap suamiku.


" Wa alaikum salam", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Putri kita masih tidur sayang?", ucapnya.


" Iya bang, pulas banget tidurnya, aku sampe heran, biasanya setiap dua jam, dia akan haus, minta nyusu, ini udah ada dua jam setengah", ucapku sambil berjalan menuju kamar kami.


Aku memeriksa bayiku, yang ternyata sudah bangun dan main sendiri sambil menghisap jari tangannya , tanpa menangis.


Setelah kenyang, bayiku tidur lelap kembali di dalam pangkuanku. Aku bergegas meletakkannya ke dalam box bayi yang ada di dekat tempat tidur kami.


Suamiku tersenyum melihat tingkahku yang sedang menciumi wajah bayiku.


" Ntar bangun dianya, adek jadi repot lagi nidurkannya kayak kemaren malam, jadi begadang semalaman deh mamanya nanti", ucapnya sambil memeluk tubuhku.


" Dek, nifas mu berapa lama lagi sayang, Abang udah dua minggu lebih nih ga dapat jatah ", ucapnya sambil berbisik ke telingaku.


" Sabar ya sayang, dua minggu lagi, karena nifas adek masih banyak", ucapku sambil tersenyum.


" Gimana ya caranya biar bisa si juniorku dapat jatah, udah pada tegang nih sayang", ucapnya sambil menciumi wajahku.


" Abang ke kamar mandi aja sana pake sabun mandi, biar mantap, biasanya laki-laki kan gitu caranya biar tersalurkan", ucapku sambil menggodanya.


" Teganya adek sama abang, ntar kebuang donk bibit unggulnya ke saluran pembuluh", ucapnya lagi, sambil meraba-raba tubuhku, membuatku merasa geli.

__ADS_1


Suamiku semakin bergairah di saat aku membalas ciumannya dan cumbuannya dengan penuh gairah.


Akhirnya, kami melakukan percintaan tanpa hubungan intim, agar hasrat seksual suamiku tersalurkannya dengan cara yang memuaskan.


Aku ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhku, karena berkeringat. Aku tersenyum sendiri mengingat ulah kami yang lucu.


Selesai dengan aktivitasku di dalam kamar mandi, aku memakai piyama yang sebelumnya kupakai. Aku melihat suamiku sedang tertidur pulas, dan bayi kami pun sama.


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan memakai selimutku. Aku pun tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingku.


Dua jam kemudian, bayiku menangis, mungkin karena merasa lapar. Aku bersandar ke dinding untuk menyusui bayi cantikku Syakira agar dia tertidur kembali.


Setelah bayiku tertidur lelap, akupun kembali tidur dengan nyenyaknya.


Waktu terus berputar, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tidak terasa, putriku sudah berumur enam bulan. Sekarang, putri ku sudah memakan nasi tim pake telur dan sayuran buatanku sendiri, agar lebih bergizi dan higienis.


" Assalamualaikum" ucap suamiku sambil tersenyum padaku.


" Wa alaikum salam", jawabku.


" Sayangku lagi maem ya" ucap suamiku sambil mencium pipi Putri kami.


" Yang kuat ya sayang maemnya biar cepat Gede dan sehat selalu", ucap suamiku lagi.


Akupun tersenyum melihat tingkahnya.


Semenjak Syakira lahir, setiap hari, suamiku akan menyempatkan diri untuk pulang ke rumah kami di jl am istirahat.


Setelah makan siang, barulah dia kembali ke kantornya. Aku senang dengan perubahan yang terjadi pada suamiku, dia semakin bertanggung jawab dan semakin sayang pada kami.


Semoga hubungan kami semakin kuat dan harmonis, serta bahagia, sampai maut yang memisahkan kami, ucapku dalam hati.


Tepat pukul lima sore, di saat suamiku sudah pulang bekerja. Saat itu kami sedang mengobrol, tiba-tiba ponsel suamiku berdering.


" Assalamualaikum om", ucapnya.


" Wa alaikum salam nak, om minta maaf sebelumnya jika mengganggu waktu nak Izal, tapi ada hal penting yang harus kami sampaikan kepada kalian", ucap pamanku di seberang telepon.

__ADS_1


" Ada apa om", tanya suamiku cemas dan khawatir.


" Kalian harus pulang ke kampung, karena...


__ADS_2