
Di saat aku membuka pintu, aku melihat bang Raka sudah berdiri di depan pintu rumah kami.
Aku mempersilahkan dia untuk masuk ke dalam rumah, karena kak Khadijah sedang di ruang tv, dan kulihat bang Raka bergegas menuju ruang tv.
Aku mengunci pintu rumah dan menyusul suamiku yang sudah berada di kamar.
" Sayang udah tidur?", tanyaku sambil memeluk tubuhnya.
" Belum sayang, ini masih mengkhayalkan percintaan malam pertama kita dulu", ucapnya mulai menciumi wajahku.
" Sayang, bang Raka sama kak Khadijah mungkin masih di ruang tv, malu donk kalau mereka denger suara kita lagi bercinta", ucapku sambil berbisik padanya.
" Kapan Raka datang?", tanyanya.
" Baru saja bang,dan mungkin mereka masih mengobati di ruang tv", ucapku sambil tersenyum.
" Ya udah, kita pelan-pelan aja ya sayang, kalau perlu kita main di kamar mandi aja yuk", ujarnya.
Aku tersenyum melihatnya yang kepengen banget untuk bercinta. Suamiku mulai mencumbuiku dengan penuh gairah, sehingga aku mengeluarkan suara ******* yang penuh dengan kenikmatan. Suamiku langsung menggendongku menuju kamar mandi, setelah semua pakaian kami terlepas.
__ADS_1
Akhirnya kami melakukan hubungan intim selama satu jam lebih di dalam kamar mandi. selesai saling memuaskan,nkami mandi bersama, tentunya dengan berbagai adegan percintaan yang lebih hot.
Kami keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan handuk. Aku bergegas mengambil pakaian suamiku beserta ********** dan memberikannya, sedangkan aku memakai piyama ku yang berwarna peach, dengan lengan panjang.
Karena kelebihan, kami langsung tertidur lelap sambil berpelukan.
POV. Raka
Setelah menyelesaikan urusanku di kantor, untuk mengurus surat mutasi kerja ku di kantor lurah Binjai, agar aku tidak capek kerja, karena jarak rumah dan kantor yang terlalu jauh.
Sebelumnya aku memegang jabatan sebagai bendahara di kantor lurah Kota Medan ini, dan gajiku lumayan besar, sehingga aku bisa membayar cicilan mobil yang sudah kuimpikan sejak lama. Terkadang aku masih bisa memberikan ibu dan kakakku sejumlah uang, jika gajiku masih ada.
Karena aku mengetahui mereka yang salah, aku memilih Khadijah istriku, yang sudah menjadi tanggung jawabku untuk membahagiakannya dan melindunginya. Apalagi dua hari yang lalu, kami sudah melakukan penyatuan tanda cinta kami, dan kesucian cintanya bisa kulihat dari tatapan matanya padaku, walau aku mencintainya dengan separuh hatiku.
Malam ini kami akan tidur di rumah Ani. Kami sekarang sudah berada di kamar tamu yang sudah disediakan oleh pemilik rumah ini.
Saat ini aku meminta hakku sebagai suami pada Khadijah, dan dia mengerti maksudku.
Aku mulai menciumi wajahnya, dan aku mulai melepaskan pakaiannya satu persatu, dan pakaiannya juga. Akhirnya, kami melakukannya lagi dan lagi, sampai kami merasa puas dan bahagia dengan penyatuan kami. Khadijah selalu bisa melayaniku dengan baik, sehingga setiap kali berhubungan intim dengannya, aku selalu merasa bahagia dan puas.
__ADS_1
Aku mengecup kening dan bibirnya sebelum aku terkulai lemas sambil memeluk tubuhnya.
Malam yang penuh dengan kenikmatan dan kehangatan pin segera berlalu dan diganti dengan pagi hari yang dingin, karena hujan deras yang mengguyur kota Medan ini.
Untuk menghangatkan tubuh kami, kami bercinta kembali, untuk saling memuaskan satu sama lain. Untunglah kamar tamu ini memiliki kamar mandi, sehingga kami tidak perlu keluar kamar untuk mandi junub. Memang nyata, surga dunia ini sangat nikmat dan memabukkan, sehingga kita harus bisa mengendalikan nafsu kita sendiri.
Hujan deras yang mengguyur kota Medan ini, cukup lama. Sehingga aku berencana untuk menunda keberangkatan kami menuju kota Binjai. Saat hendak membuatkan kopi, aku melihat Ani sedang merajang sayuran untuk sarapan pagi ini.
" Oo..bang Raka udah bangun ya!, sini biar adek aja yang buatin kopinya, pasti kak Khadijah masih tidur ya, karena kecapean, biasalah masih pengantin baru", ucapku menggodanya, dan Raka hanya tersenyum menanggapi ucapanku.
Setelah Ani meletakkan kopinya di atas meja, aku membawanya menuju ruang tamu, karena hujannya masih turun lumayan deras. Aku melihat Izal sedang menyeruput teh manis hangatnya sambil memainkan hp nya.
" Udah lama duduk disini zal?", tanyaku.
" Belum lama juga Ka, ini nungguin hujan reda barulah berangkat kerja. Jadi kapan kalian mau pindah ke Binjai?", ujarnya.
" Insha Allah hari ini Zal, biar bisa cepat selesai urusan di rumah, karena sampai kapan pun, mereka tidak akan mau menerima Khadijah, dan aku juga sudah bilang sama mereka, kalau mereka tidak mau menerima Khadijah, kami akan keluar dari rumah itu, dan semua pakaian kami sudah ada di dalam mobil. Nanti tinggal berangkat aja Zal", ucapku sambil meminum kopiku.
Aku merasa racikan kopi ini sangat pas di lidahku, sangat enak. Memang sungguh beruntung Izal memiliki istri seperti Ani, yang serba bisa dalam hal apapun, ucapku dalam hati...
__ADS_1
Bersambung...