Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Berkunjung... part. 2


__ADS_3

Saat keceplosan ngomong, aku melihat senyuman kak Khadijah.


" Iya, kakak tau itu dek, karena tanda merah hasil karya suamimu terpampang jelas di lehermu", ucapnya sambil tersenyum menggodaku.


Aku langsung bergegas menuju kamar tidur kami untuk mengambil jilbabku. Aku merasa malu sekali dengan kak Khadijah.


" Ini semua gara-gara Abang", ucapku cemberut pada suamiku saat sudah di kamar.


" Emang kenapa sayang?", tanya suamiku.


" Ini tanda merah buatan abang terpampang jelas di leherku dan kak Khadijah melihatnya dan menggodaku", ucapku sambil cemberut.


" Emang kapan kak Khadijah datang dan sama siapa?", tanya suamiku.


" Dari tadi, saat kita mandi, sewaktu Marni ngetuk pintu kamar kita", ucapku sambil memakai jilbab, untung saja rambutku sudah kukeringkan pakai hair dryer, kalau ga ketombean rambutku masih basah ditutupi.


" Ga usah cemberut sayang, kak Khadijah macam ga pernah aja, mungkin kak Khadijah sama bang Raka yang lebih parah gituannya sayang, jadi ga usah malu, enjoy aja ya", ucapnya sambil memeluk tubuhku.


" Ayo keluar, ga enaklah kak Khadijah ditinggal sendirian di ruang tamu, untunglah bang Raka tidak ngeliat, bisa malu banget aku sayang ", ucapku sambil menggenggam tangannya untuk keluar kamar.


" Bag Raka lagi dimana tadi?", tanya suamiku.


" Kata kak Khadijah, bang Raka ke warung untuk beli rokok ", ucapku sambil tersenyum.


Kamipun tiba di ruang tamu.


" Maaf ya kak, agak lama", ucapku malu-malu.


" Ga apa-apa dek, santai aja ", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Assalamualaikum " ucap bang Raka sambil masuk ke dalam rumah.


Kamipun berdiri menyambut bang Raka dan menyalaminya.


" Silahkan duduk bang", ucap suamiku.


" Terima kasih ya Izal, maaf ya kami tiba - tiba datang berkunjung tanpa pemberitahuan, karena ini Kakakmu udah kangen banget sama kalian ", ucap bang Raka sungkan.


" Ga apa-apa bang, ga usah sungkan bang, pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian bang" ucap suamiku sambil tersenyum.


" Sebentar ya bang, kak, aku buatin minum dulu", ucapku sambil bergegas berdiri dan melangkahkan kakiku menuju dapur.


" Kakak ikut bantu kamu ya dek", ucap Kak Khadijah menyusulku.


Kami bergandengan tangan menuju dapur. Kak Khadijah sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri, dan kak Khadijah pun seperti itu, walau kami bukan saudara kandung, tapi hati kami terhubung satu sama lain.


Terkadang hubungan hati, perasaan lebih dekat dan lebih berharga dibandingkan dengan hubungan saudara.

__ADS_1


Terkadang hubungan persaudaraan yang hanya dilandaskan materi sangat rendah dan menyakitkan, tapi jika hubungan hati yang berdasarkan ketulusan, dan kasih sayang, lebih penting dan sangat berharga.


Kami membuat minuman teh manis hangat dan makanan ringan seperti kue bolu dan keripik sambal taruma yang kuasingkan tiga bungkus untuk kak Khadijah.


Kami membawa minuman dan cemilannya bersama- sama.


Setibanya di ruang tamu, kami menaruh minuman dan makanan yang kami bawa ke atas meja.


" Silahkan di minum teh manisnya, mumpung masih hangat bang", ucapku sambil tersenyum.


Aku dan kak Khadijah, duduk bersebelahan sambil mengobrol.


" Ini keripik sambalnya, rasanya lebih enak dari yang biasa kita beli di warung ya dek", tanyanya pada kak Khadijah.


" Iya ya bang, beda rasanya ", ucap kak Khadijah sambil memakan keripik sambalnya.


" Emangnya Adek beli dimana, kayaknya ga beli di Medan ini?", tanya kak Khadijah padaku dengan raut wajah penasaran.


" Ooh, ini keripik sambal Taruma namanya kak, oleh-oleh khas kota Sipirok, dan ada lagi yang lain makanan khasnya, ikan mas Sinyar-nyar, pokoknya eenaak banget kak", ucapku dengan penuh semangat.


" Emangnya kalian ngapain sampai ke Sipirok?", tanya kak Khadijah.


" Kami berkunjung ke rumah paman, dan sekalian menjenguk nenek yang sedang sakit ", ucapku sambil tersenyum.


" Jadi keadaan nenek udah Giman sekarang dek?", tanya kak Khadijah.


" Syukurlah kalau begitu dek, semog nenek lekas sehat seperti sedia kala" Ucap kak Khadijah.


" Aamiin..", ucap kami bersamaan.


" Kapan -kapan, kita berkumpul ke kota Sipirok ya dek, berkunjung ke rumah Paman kita juga", ucap kak Khadijah dengan penuh semangat.


" Inshaa Allah kak, kalau ada waktu, kesehatan dan kesempatan, kota ke BB Sipirok berkunjung dan liburan dengan mobil kakak ya", ucapku dengan tersenyum.


" Iya, kayaknua seru nih liburan bareng sama kalian", ucap bang Raka menimpali.


" Kalian ngobrolnya aja ya disini, kami mau masak makana untuk makan malam nanti, kalau sudah makan malam, barulah kalian boleh pulang ya kk!, atau nginap aja kak, ntar bang Raka sam bang Izal tidur di ruang tv aja, aku sama kak Khadijah tidur di kamar", ucapku dengan bahagia.


"Boleh juga tuh idenya, gimana bang Raka, setuju kan?", tanya kak Khadijah kepada suaminya.


" Jika itu membuat kalian bahagia, Abang oke aja, gimana bro?", tanya bang Raka pada suamiku.


" Okelah kalau begitu ", Ucapnya sambil tersenyum.


Kami bergegas ke dapur untuk memasak makanan untuk kami makan malam bersama.


Rencananya kami akan memasak ayam pop, perkedel kentang dan sayur bening, yang terdiri dari: Buncis, wortel dan kentang.

__ADS_1


" Tadi yang buka pintu rumah, siapa dek ?", tanya kak Khadijah.


" Ooh..itu adik iparku kak, kami bawa dari gunung tua untuk tinggal bersama kami disini, karena di rumah kami hanya ada ayah mertuaku, ga mungkinlah kalau mereka tinggal satu rumah, sedangkan ibu mertuaku sudah lama meninggal dunia, saat adek kakak masih di bangku sekolah ", ucapku menjelaskannya pada kak Khadijah.


" Ooh, iya baguslah dek, bisa bantu - bantu adek ngerjain tugas rumah tangga, dan adek ga sendirian di rumah, kalau Izal Bekerja di kantor ", ucapnya sambil tersenyum.


" Iya kak, walau Marni, adik iparku tuna rungu, tapi dia sangat rajin dan bersih, aku merasa terbantu dan tidak kesepian semenjak kehadirannya disini ", ucapku sambil tersenyum bahagia.


" Syukurlah dek, semoga kalian selalu bahagia dan sehat selalu ", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Kakak pun semoga selalu bahagia dan sehat selalu ", ucapku sambil tersenyum padanya.


Selama dua jam, kami berkutat di dapur sambil mengobrol dan mencicipi makanan yang kami masak.


Akhirnya selesai juga, kami menghidangkan di atas meja, dan menutupnya dengan tudung saji.


Sebagian perkedel kentangnya, kami taruh di atas dua piring, satu piring untuk kami makan bersama di ruang tamu. Satu piring untuk adik iparku yang sedang menonton TV di ruang tv.


Kami bergegas menuju ruang tamu untuk menemui para pria yang sedang ngerumpi. Ntah apa yang mereka bahas dengan penuh semangat seperti itu, sampe lupa waktu dan tidak menyadari kalau kami sudah duduk di dekat mereka.


" Kalian bahas apa sih, asyik banget jadi penasaran kita?", tanyaku penasaran.


" Ga bahas yang lain kok dek, cuma masalah kerjaan", ucap suamiku kikuk, takut ketahuan.


" Jujur sajalah padaku!!", ucap kak Khadijah kepada suaminya.


" Beneran dek, cuma masalah kerjaan", ucap suaminya dengan ragu.


Kami hanya tersenyum melihat reaksi mereka. Aku main mata pada kak Khadijah, ingin merencanakan sesuatu.


" Kita makan malam setelah sholat Maghrib atau isya bang?", tanyaku pada suamiku.


" Habis sholat Maghrib aja, kita kan mau jalan - jalan keliling kota Medan dan menikmati malam yang panjang", ucap suamiku sambil tersenyum.


Aku jadi semakin penasaran dengan perkataan bang Izal tersebut, tapi aku tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan.


Yang penting, rencana kami, bisa berjalan lancar.


Waktu berlalu, adzan magrib sedang berkumandang. Kami bersiap -siap untuk melaksanakan sholat Maghrib, sedangkan bang Izal dan bang Raka, sholat ke masjid untuk shalat berjamaah di masjid yang ada di dekat perumahan ini.


Setelah sholat, kami makan malam bersama di dapur, dan duduk di kursi masing-masing.


Kami makan malam dengan lahapnya dan penuh syukur kepada Allah SWT, karena berkat dan rahmat-Nya, kami bisa berkumpul seperti ini, dan atas rezeki yang diberikan Allah, kami bisa makan malam bersama dan saling berbagi kebahagiaan.


Selama acara makan malam bersama, aku sempat melihat bang Izal memberikan kode kepada bang Raka, membuatku semakin penasaran.


Apakah yang sedang mereka rencanakan untuk kami.,..?, tanyaku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2