
Pagi pun tiba...
Aku terbangun dengan badan yang tersisa pegal -pegal.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, agar tubuhku terasa lebih segar dan bugar.
Beberapa menit kemudian, setelah mandi, aku memakai pakaian gamis berwarna merah maroon yang kubawa dari rumah kemaren.
Selesai menggulung rambutku yang panjang dengan menggunakan handuk kecil, aku memakai peralatan kosmetikku.
Selesai bersolek, aku berjalan menuju ranjang untuk membangunkan suamiku.
" Sayang, bangun donkz, udah jam delapan pagi nih!", ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya.
"Iya sayang!", ucapnya sambil menggeliat di atas ranjang.
" Pagi gini, arek udah cantik, mau kemana sayang?", tanyanya.
" Mau pulang ke rumah kita lah sayang, emang mau kemana lagi", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ooh iya sayang, Abang mandi dulu ya, biar kita sarapan, soalnya ada hal penting juga yang mau Abang ngomongin sama adek!", ucapnya sambil beranjak dari pembaringannya dan berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, setelah mandi dan berpakaian, kami segera keluar dari kamar untuk sarapan pagi di warung makan yang ada di dekat penginapan ini.
" Biasa, breakfast nya kan penginapan yang nyediain, ini kok kita sarapan paginya di luar penginapan", tanyaku.
" Abang kurang suka dengan sarapan pagi di pesnginapan!", jawabnya.
" Ooh gitu ya, pikir adek karena breakfast nya ga disediain", ucapku sambil tersenyum dan menggenggam tangannya.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah makan dan duduk di Gazebo yang ada di depan rumah makan tersebut.
" Selamat pagi pak, mau mesan makanan apa?", tanya pelayan.
" Bawain aja semua menu sarapan paginya kesini", ucapnya.
" Baik pak!", ucapnya sambil berlalu pergi.
" Emangnya Abang bisa ngabisin semua makanannya?", tanyaku.
" Kalau ga habis, dibungkus aja dek", ucapnya sambil tersenyum.
Jarang-jarang ada pria yang mau bungkusin makanan kayak gitu, ajaib juga nih suamiku, ucapku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, pelayan mengantarkan semua menu sarapan pagi ini ke gazebo kami.
Ada cumi goreng tepung, ayam Kalasan, ikan nila manis pedas, mi goreng, tumis kangkung, capcay kuah, tumis tauco kacang panjang pake tempe, dan nasi putih di dalam sebuah mangkuk berukuran sedang.
Aku kaget melihat semua makanan tersebut.
" Dek, ambilin nasinya sayang", ucapnya.
Akupun segera mengambilkan nasi putih dengan porsi sedang ka atas piring kosong yang ada di depanku.
" Ini bang!", ucapku sambil menyodorkan sepiring nasi putih padanya.
" Makassar ya sayang!", ucapnya.
__ADS_1
" Abang mau lauknya apa?", tanyaku.
" Ayam Kalasan aja sayang, sayurnya capcay kuah itu aja", ucapnya sambil menunjuk makanan yang dia inginkan.
Setelah memberikan sayur dan ayam Kalasannya, aku pun mengambil nasi putih dan lauk pauk yang aku inginkan.
Beberapa menit kemudian, kami selesai menyantap makanan kami.
" Gimana dengan lauk pauk yang belum kita makan itu bang?", tanyaku.
" Dibungkus aja, ntar siang adek ga repot lagi untuk memasak makanan", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Ooh, terserah Abang aja deh!", ucapku.
" Dek!", panggilnya kepada pelayan rumah makan tersebut.
" Iya pak ", ucapnya sambil mendatangi kami.
" Bungkusin semuanya ya dek, sama sakalian dibawa bon tagihannya ", ucapnya.
" Baik pak!", ucapnya sambil berlalu dengan membawa makanan kami yang akan dibungkus dengan menggunakan nampan yang sudah ada.
Beberapa menit kemudian, pelayan tersebut datang dengan membawa satu kantong plastik hitam berukuran sedang dan bin tagihan makanan kami.
" Ini Bu makanan yang sudah kami bungkuskan, dan ini bin tagihannya", ucapnya sambil memberikannya padaku.
Aku menerima kantong plastik hitam tersebut dan bin tagihannya.
Aku melihat angka nominal yang tertera di bin tersebut dengan mulut yang sedikit terbuka, karena aku kaget melihat angka nominalnya.
Masa cuma segitu, tagihannya sampe satu juta, ucapku dalam hati.
Setelah menerima bon dan memeriksa angka nominalnya, bang Zain langsung mengambil dompetnya dan menyerahkan sepuluh lembar uang seratus ribuan kepada pelayan tersebut.
Setelah menerima pembayaran, pelayan tersebut meninggalkan gazebo kami.
" Mahal juga makan disini ya bang!", ucapku.
Suamiku hanya tersenyum mendengar ucapanku.
" Ga apa-apa sayang, yang penting kita puas makan disini", ucapnya.
" Abang mau ngomongin apa, tadi katanya mau ngomongin soal penting, bikin adek penasaran nih!", ucapku sambil mendekat padanya.
" Ooh, itu soal anak-anakku dek, sebenarnya mereka kurang setuju kalau aku menikah dengan Adel, karena sebelum kita menikah, mereka sempat menyarankan agar aku menikah dengan bibi mereka yang memang sudah janda tak beranak, adil dari almarhumah istriku. Tapi aku tidak menyetujuinya, karena aku mencintai adek dan hanya ingin menikah dengan adek", ucapnya menjelaskan.
" Baru apa kata mereka setelah kita menikah?", tanyaku.
" Setelah Dewi kemaren datang ke rumahku, katanya dia ingin mengunjungi teman lamanya yang tinggal di Sidempuan ini di sore hari. Tapi, saat dia masuk ke kamarku dan melihat foto adek yang kupajang di dinding, Dewai mengatakan kalau teman lama yang dia maksud adalah adek", ucapnya.
" Ooh, iya kami memang berteman saat kami masih tinggal di Medan waktu itu, kami bertetangga juga", ucapku sambil tersenyum.
" Dewi menceritakan semua tentang adek, dan mengatakan kalau aku akan sangat beruntung jika menikahi adek", ucapnya.
" Kak Dewi hanya melebihkan saja bang, malahan aku yang beruntung bisa dinikahi pria baik seperti Abang", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Setelah itu, aku mengatakan tentang rencanaku yang memang ingin menikahi adek, dan mengatakan tentang ketidak setujuan ketiga anakku tentang rencana itu, akhirnya dia menasehati ketiga anakku, dan mereka akhirnya setuju aku menikah denganmu, kecuali anak bungsuku", ucapnya.
__ADS_1
" Kenapa dia ga setuju bang?", tanyaku penasaran.
" Karena menurutnya semua ibu tiri itu jahat, dan akan merebut perhatian dan kasih sayang ayahnya, kecuali jika itu adalah bibinya, pasti bibi akan tetap menyayangi kami, begitu katanya ", ucapnya menjelaskan.
" Ooh gitu, mungkin dia salah paham saja tentang ibu tiri itu bang, mungkin karena dia banyak mendengar atau melihat orang yang memiliki ibu tiri yang jahat, sehingga pemahamannya tentang ibu tiri seperti itu", ucapku menjelaskan.
" Mungkin juga seperti itu dek, kedua anakku memang sudah menikah, hanya tinggal anak bungsuku saja yang belum menikah dan tinggal bersamaku, apakah adek mau tinggal bersama dengannya?", tanyanya.
" Dimana ada Abang, pastinya adek harus bersama ahang, karena qbang kan sudah menjadi suami dan imamnya adek, yang penting Abang harus percaya sama adek", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya sayang, itu sudah pasti", ucapnya sambil memeluk tubuhku dengan erat.
" Malu donk bang dilihat orang", ucapku sambil mencoba melepaskan pelukannya.
Diapun hanya tersenyum mendengar ucapanku sambil melepas pelukannya.
" Ayo kita ke kamar lagi sayang", ajaknya.
" Mau ngambil tas berisi pakaian kita aja kan sayang", ucapku.
"Iya dek, emang mau ngapain lagi", ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar penginapan kami sambil bergandengan tangan.
Setibanya di dalam kamar, bang Zain mengunci pintu kamar dan menggendongku menuju sofa.
Dia mendudukkan tubuhku di atas pahanya sambil memeluk tubuhku dengan erat dan menciumi wajahku.
" Buka kerudungnya dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.
Aku tersenyum melihat matanya yang penuh dengan nafsu itu, dan melaksanakan apa yang dia minta.
Setelah melepas kerudungku, suamiku langsung melepaskan ikatan rambutku dan menciumnya.
" Abang suka banget kalau adek tetap berambut panjang, jangan pernah dipotong ya sayang", ucapnya sambil mencium leherku.
" Iya sayang", ucapku sambil tersenyum dan memeluk tubuhnya dengan erat.
Kamipun berciuman sampai puas. Akhirnya kami melepaskan pakaian kami masing-masing, dan bercinta sepuas di atas sofa.
Setelah puas bercinta di atas sofa, kami melanjutkannya di dalam kamar mandi.
Setelah puas bercinta, kami pun bergegas membersihkan tubuh kami secara bergantian.
Selesai mandi dan berpakaian, kami pun beristirahat sejenak di atas ranjang sambil berpelukan.
" Makasih ya sayang, udah mau menjadi istrik? janganu dan melayani kebutuhan Abang", ucapnya sambil mencium bibirku.
" Iya sayang, makasih juga, karena Abang sudah mau menerima adek dan anak-anakku dengan tulus", ucapku sambil mencium bibirnya.
Setelah puas berciuman, kami pun beranjak dari tempat tidur.
Bang Zain mengambil tas kami yang ada di lemari.
Setelah memeriksa kelengkapan barang kami, agar tidak ada yang tertinggal di kamar penginapan ini.
Selesai Check out, kami berjalan menuju parkiran mobil untuk kembali ke rumah kami.
Setelah menghidupkan mesin mobil, bang Zain melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah pamanku untuk menjemput anak -anak kami, walau bang Zain bukan ayah kandung mereka, tapi sekarang dia adalah ayah mereka.
__ADS_1
Bersambung...