Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Buah hatiku...


__ADS_3

Waktu berlalu, tidak terasa kandunganku sudah berumur sembilan bulan. Kehamilan keduaku ini tidak begitu mérepotkan, karena aku tidak mengalami yang namanya ngidam. Mungkin anakku tahu kalau mamanya lagi sibuk kerja.


Pagi yang cerah...


" Dek, uang Abang kurang lima puluh juta lagi, agar kita bisa beli rumah yang kita tempati ini, karena si pemilik rumah ini mau menjual rumah ini seharga dua ratus juta rupiah, apa adek bisa meminjamkan uang dari paman atau bibimu ?", tanya suamiku.


" Iya bang, nanti aku tanya dulu ya", ucapku sambil menyuapi putriku sarapan pagi.


" Iya, nanti kabari Abang ya, biar Abang tau, kalau dikasih syukur, ga dikasih juga ga apa-apa ya dek", ucap suamiku sambil tersenyum.


" Iya bang, nanti kutelpon kalau Uda tau kepastiannya gimana, lagian kalau rumah ini kita yang beli, kita ga perlu repot-repot lagi untuk pindah ya bang", ucapku sambil tersenyum.


" Iya dek, Makanya adek bujuk aja paman atau bibimu ya", ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya untuk bersiap-siap berangkat kerja.


" Iya bang, ntar ku usahain biar paman atau bibiku ngasih pinjaman ", ucapku sambil tersenyum.


" Abang berangkat ya dek ", ucapnya sambil mencium keningku dan pipi putriku Syakira yang sedang sibuk mengunyah makanannya.


" Iya, hati-hati ya sayang ", ucapku sambil menyuapi putriku.


Setelah Putriku Syakira selesai makan, barulah aku makan. Sedangkan adik iparku sudah selesai makan dari tadi.


Aku menyantap makananku dengan lahapnya, karena aku memang sudah merasa lapar. Setelah kenyang, aku membersihkan meja makan dan menutupi makanan kami dengan menggunakan tudung saji.


Aku meminta adik iparku untuk mencuci piring dan membersihkan dapur. Sedangkan aku, memandikan putriku Syakira yang akan berangkat sekolah taman kanak-kanak.


Setelah memandikan dan memakaikannya seragam sekolah taman kanak-kanak, mobil jembatannya sudah tiba di depan rumah kami.


Aku mencium pipi Putriku sebelum dia berangkat sekolah, dan menitipkannya kepada guru pengasuhnya di taman kanak-kanak tersebut.


Setelah itu, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, karena aku ingin pergi ke ATM untuk mencek isi tabunganku.


Selesai mandi, aku memakai pakaian dasterku yang berwarna biru muda dan memakai jilbab pashmina berwarna hitam.


Setelah itu, aku bergegas menuju halaman rumah kami untuk memanggil becak motor yang sedang mangkal di depan rumah kami.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan Bank, dan aku segera masuk ke dalam bank dan masuk ke ruang ATM untuk mencek saldo tabunganku, yang sudah lama kutabung, hampir lima tahun lamanya, dari hasil jahitanku dan sia uang belanja bulanan yang diberikan suamiku.


Setelah memasukkan kartu ATM ku ke Mesin ATM, aku melihat saldo tabunganku sebesar lima puluh lima juta rupiah, aku sempat kaget melihatnya, karena aku tidak mengingat berapa banyak uang yang sudah kutabung selama ini.


Setelah mengeluarkan kartu ATM ku dari mesin ATM, aku bergegas menuju pasar untuk belanja kebutuhan dapur selama satu bulan ke depan.


Selesai belanja, aku memanggil becak motor untuk membawa semua barang belanjaanku.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah kontrakan kami. Aku bergegas turun dari becak motor dan membawa belanjaanku dengan bantuan supir becak motor. Setelah membayar ongkos dan mengucapkan terima kasih pada supir becak, aku beristirahat sejenak di teras rumah, karena merasa cape.


Adik iparku mengangkat belanjaanku sedikit demi sedikit ke dalam rumah, dan aku segera masuk juga ke dalam rumah dengan membawa barang belanjaanku yang belum BB Isa dibawa adik iparku.


Aku meminta adik iparku untuk menyusun belanjaanku ke dalam kulkas seperti biasanya.


Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk merebahkan tubuhku sejenak.


Aku mengambil ponselku dan menelpon pamanku.


" Assalamualaikum paman", ucapku setelah telepon seluler kami tersambung.


" Wa alaikum salam nak", Jawab pamanku.


Kemudian aku memintanya untuk membantuku meminjamkan uang sebesar lima puluh juta rupiah, tapi uangnya adalah uang tabunganku, karena aku tidak mau uang tabunganku habis tanpa sisa, aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok, jika tidak ada uang pegangan, aku jadi khawatir.

__ADS_1


Setelah sepakat dengan perjanjian kami, aku menelpon suamiku.


. " Assalamualaikum bang", ucapku setelah telepon seluler kami tersambung.


" Bang, kata paman, dia bisa meminjamkan uang yang lima puluh juta rupiah itu selama dua tahun tanpa bunga, bisa juga di cicil, begitu kata paman", ucapku sambil tersenyum.


" Syukurlah dek, kalau begitu, kapan BB Isa ditransfer om, biar rumahnya bisa langsung kita lunasi", tanay suamiku.


" Katanya nanti sore ditransfer ke rekening bank milikku bang", ucapku.


" Baiklah dek, kalau sudah di transfer, besok rumahnya bisa langsung kita lunasi ", ucapnya sambil mengakhiri pembicaraan kami di telepon.


Akupun meletakkan ponselku di atasnya meja rias ku. Aku memperhatikan wajahku yang mulai timbul flek hitam, karena sedang hamil, aku tidak memakai skin care ku, karena aku takut bisa membahayakan kesehatan bayiku.


Semoga saja, suamiku tidak berubah seperti kemarin, karena penampilanku yang seperti ini, ucapku dalam hati.


Di saat aku terlelap dalam mimpiku, aku terkejut mendengar suara klakson mobil jemputan putriku.


Aku melihat jam yang ada di dinding kamarku yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang, jadwal pulang sekolah putriku Syakira.


Aku bergegas beranjak dari tempat tidur untuk menemui putriku. Setelah membuka pintu, aku melihat putriku yang sedang berjalan sambil menangis menuju rumah kami.


Aku segera berjalan menemui guru pengasuhnya dan bertanya kepadanya.


" Dek, kenapa Syakira menangis", tanyaku.


" Aku juga kurang tau bu masalahnya apa, tadi di sekolah, putri ibu bertengkar dengan teman sekelasnya, dan ketika kami tanyakan masalahnya apa, dia tidak mau menjawabnya", ucap gurunya.


Aku menggenggam tangan putriku dan membawanya masuk ke dalam rumah kami


Aku mendudukkannya di atas kursi tamu dan aku duduk di sebelahnya.


" Mama jangan marah ya sama Kira", Ucapnya sambil menatap wajahku.


" Iya, mama janji ga akan marah", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kata temanku itu, dia punya papa baru, dan papanya sangat mirip ayahku, dan aku bilang kalau dia berbohong, dan ayahku tidak mungkin bisa jadi ayahnya, benar kan ma?", ucapnya sambil menangis terisak.


Aku langsung memeluknya, dan mengusap kepalanya.


" Jangan menangis sayang, temanmu hanya bercanda, mungkin dia tidak suka dengan Kira, makanya dia ngomong seperti itu, agar Kira marah dan bertengkar dengannya, ga mungkin ayahmu menjadi ayahnya", ucapku sambil menahan air mataku.


Jujur saja, hatiku jadi gelisah, apa mungkin suamiku memiliki istri simpanan, tanyaku dalam hati.


Aku bergegas memeluk tubuh putriku untuk menenangkan hatinya dan hatiku, jika seandainya itu semua benar, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, ucapku dalam hati.


Aku membawa putriku ke dalam kamar BB untuk mengganti pakaiannya. Di saat, kondisiku seperti ini, Allah SWT memberikan aku ujian hidup yang harus aku jalani dengan sabar.


Setelah mengganti pakaian putriku, aku menyuapinya makan siang.


Selesai makan, aku menemaninya untuk tidur siang.


Setelah putriku tertidur pulas, aku beranjak dari tempat tidur untuk mengambil wudhu. Setelah adzan Dzuhur berkumandang, aku menunaikannya kewajibanku kepala Sang Maha Pencipta, dan mengadikan semua kegelisahan dan kegundahanku yang sedang berkecamuk dalam hatiku.


Hatiku merasa lebih tenang, setelah mengadu kepada -Nya. Aku makan siang bersama adik iparku sambil menonton televisi.


Selesai makan, aku bersantai sambil menonton televisi, karena aku ingin mengalihkan perhatian dan pikiranku, agar tidak terpengaruh dan tidak mempengaruhi kandunganku yang sudah waktunya.


Aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul empat sore, waktunya dia pulang kerja.

__ADS_1


Aku bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhku, sekaligus mengambil wudhu untuk sholat ashar.


Setelah itu, aku memakai daster batik berwarna putih, dan aku memakai bedak tabur, agar tidak terlalu kusam.


" Assalamualaikum", ucap suamiku setelah membuka pintu rumah kami.


" Wa alaikum salam", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Baru selesai mandi ya dek", ucapnya.


" Iya bang, baru aja selesai sholat ashar juga", ucapku sambil berlalu mengambil Air mineral untuknya.


Aku memberikan gelas berisi air mineral kepadanya dan duduk di sampingnya.


Sebenarnya, aku merasa tidak tenang, dan masih penasaran, tapi aku tidak tahu memulainya dari mana, alhasil aku hanya diam saja melihatnya.


" Kamu kenapa dek, kok termenung gitu?", tanyanya padaku.


" Ooh..ga apa-apa kok bang", ucapku sambil tersenyum.


" Udah ada kabar dari om?", tanyanya lagi padaku.


" Tunggu ya, kucek dulu ponselku, soalnya aku tadi nonton tv, dan ponselku ada di kamar", ucapku sambil berlalu menuju kamar tidur kami.


Aku mengambil ponselku dan melihat SMS Pamanku, yang mengatakan kalau dia sudah mentransfer uang ke rekening milikku.


Aku bergegas menuju ruang tamu dan menemui suamiku dan memperlihatkan SMS itu kepadanya.


" Alhamdulillah, nanti malam, kita ke rumah pemilik rumah ini ya dek, agar rumah ini menjadi milik kita sepenuhnya, nanti balik nama sertifikatnya, by atas nama adek aja ya", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Iya bang, terserah Abang aja ", ucapku sambil tersenyum padanya.


Suamiku berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan mengambil wudhu untuk sholat ashar.


Ketika suamiku sedang mandi, aku mencari ponselnya yang selama ini tidak pernah kupegang atau kuperiksa, karena jujur saja, aku memang percaya padanya.


Aku tidak tahu dimana dia meletakkan ponselnya atau ponselnya itu dia bawa ke kamar mandi.


Aku pasrah dengan keadaan ini. Karena itu, aku harus mempersiapkan bathinku, dan aku akan mengikuti kesehariannya saja, agar aku tahu kebenarannya, ucapku dalam hati sambil merebahkan tubuhku yang terasa lelah.


Setelah Suamiku selesai mandi, dia memakai pakaiannya di dalam kamar mandi, mungkin dia sedang buru-buru, pikirku.


Aku tidak terlalu mempedulikan apa yang dia lakukan.


" Tumben Abang pakai baju di dalam kamar mandi, emang abang mau kemana?", tanyaku penasaran.


" Ooh.. ga mau kemana-mana kok dek, Abang mau cepat sholat ashar, takut kehabisan waktunya", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku diam saja melihat reaksinya yang menurutku masih wajar dan biasa saja.


. Setelah sholat, suamiku merebahkan tubuhnya di sampingku.


" Kamu kenapa sih dek, uring-uringan terus smaa Abang, apa ada masalah?", tanyanya padaku sambil memeluk tubuhku.


" Ga ada apa-apa kok bang", ucapku singkat.


Aku hanya bisa pasrah di dalam pelukannya dengan rasa penasaranku yang cukup tinggi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2