Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Perpisahan yang tidak terduga... part. 2


__ADS_3

Terima kasih banyak ya guys atas like dan komentar positif nya, bikin Thor makin semangat nulisnya...


Love you all....


POV. Izal


Saat ini aku sedang di sekolah putriku Syakira. Aku sengaja turun dari mobil sambil menggenggam tangannya sampai ke dalam ruang kelasnya, dan kebetulan teman-teman sekelasnya sedang berkunjung di dalam ruang kelasnya.


" Syakira, itu siapa?", tanya salah satu temannya.


" Kenalin teman-teman, inilah ayahku yang paling ganteng sedunia", ucap Syakira dengan bahagia.


" Iya, kenalin semuanya, saya ayahnya Syakira, dan Syakira adalah putriku yang paling cantik sedunia", ucapku sambil tersenyum bahagia.


Teman-temannya langsung menyalami aku secara bergantian. Kalian harus berteman baik dengan Syakira ya anak-anak, jangan bertengkar dan saling mengejek, semuanya harus saling menyayangi ya", ucapku sambil tersenyum kepada mereka.


" Iya om", jawab mereka serentak.


" Ayah pulang ya nak, nanti Ayah jemput, pulang sekolahnya jam berapa?", tanyaku.


" Jam sebelas om", jawab mereka serentak.


Aku tersenyum mendengar ucapan mereka yang penuh semangat.


Sehabis dari sekolah putriku, aku bergegas menuju sebuah penginapan yang ada di jalan Sitataring. Penginapannya lumayan nyaman terlibat dari luar.


Aku ingin beristirahat sebentar, karena aku merasa lelah, melakukan perjalanan dari Medan ke Sidempuan.


Aku memarkirkan mobilku di tempat yang disediakan oleh pemilik penginapan.


Setelah membooking satu kamar, aku bergegas menuju kamar yang sesuai dengan nomor kamar yang dikatakan oleh resepsionis.


Aku bergegas membuka pintu kamar, dan merebahkan tubuhku di atas ranjang.


Aku mengatur alarm ponselku jam sepuluh, agar aku tidak terlambat menjemput putriku Syakira yang tersayang.


Sebenarnya aku ingin membawanya bersamaku ke Medan, tapi aku sudah berjanji kepada Ani, tidak merebut mereka dari hidupnya, karena aku tahu, sumber kekuatannya adalah anak-anak kami, dan aku sudah banyak berbuat salah padanya.


Aku juga tidak bisa percaya dengan Mira, aku tidak mau kalau sewaktu-waktu Mira bisa menyakiti putriku Syakira di saat aku tidak ada, yah.. memang lebih baik, anak-anak kami tinggal bersama ibu kandungnya.


Maafkan aku Ani, seandainya kamu bisa memberikan aku kesempatan satu kali lagi, aku berjanji akan membuatmu bahagia, ucapku sambil menatap fotonya yang masih kusimpan di dompetku.


Akupun tertidur lelap sambil memeluk fotonya.


Dua jam berlalu, alarm ponselku berdering keras, membuat aku terbangun dari tidurku.


Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


Setelah mandi, aku merasa tubuhku terasa segar dan bugar, dalam sekejap lelahku menghilang.


Dengan penuh semangat, selesai mengunci pintu kamar ku, aku berjalan menuju parkiran mobil. Aku bergegas masuk ke dalam mobil, dan menghidupkan mesinnya.


Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan sekolah putriku.

__ADS_1


Di saat menunggu jam pelajaran selesai, aku mengirimkan SMS kepada Ani. Aku mengatakan kepadanya, bahwa aku yang akan menjemput putriku Syakira ke sekolahnya.


Tiga puluh menit kemudian, jam pelajaran selesai. Aku melihat anak-anak sekolah berhamburan keluar dari ruang kelas masing-masing.


Aku melihat putriku Syakira berlari menuju tempatku berdiri.


" Aayah...!", teriaknya sambil terus berlari.


" Hati-hati ya sayang, ga usah berlari", ucapku dengan suara keras.


" Aku pikir ayah tidak jadi menjemputku", ucapnya sambil memelukku.


" Ayah kan sudah berjanji sama putri cantik ayah, ayah pasti menepatinya", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ayo masuk ke dalam mobil", ucapku sambil menggenggam tangannya.


Setelah masuk ke dalam mobil, aku menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah pamannya Ani.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah pamannya Ani.


" Assalamualaikum", ucap Syakira dengan penuh semangat .


" Wa alaikum salam", ucapku sambil membuka pintu rumah pamanku.


Syakira pun menyalamiku serta kakek neneknya.


" Masuk saja, di dalam ada paman kok baru pulang dari sekolah tempatnya mengajar", ucapku menawarkan.


" Assalamualaikum om", ucap bang Izal basa-basi kepada Pamanku.


"Wa alaikum salam, silahkan duduk Izal", ucap pamanku tanpa melihatnya.


Aku bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk mereka beserta cemilannya, karena waktu makan siang masih cukup lama.


" Silahkan di minum ", ucapku sambil meletakkan nampan yang berisi gelas minuman ke atas meja yang ada di depan mereka.


Setelah meletakkannya, aku segera ke kamar tidur kami untuk melihat putraku Habib yang sedang tidur siang dan membantu putriku mengganti pakaiannya.


" Ma, kata ayah besok kita pergi berwisata ke Aek Sijornih, mama mau kan?", tanyanya.


" Mama ga bisa sayang, besok mama mau jualan, karena hari ini mama udah libur jualan, kelamaan libur, ntar langganan mama pada kabur semua ", ucapku menolaknya secara halus.


" Mama ga asyik nih, ayah kan jarang ngajakin kita main atau wisata ma, ga apa-apa kalau mama libur jualan lagi, kalau mama ga punya uang, ntar Kira minta sama Ayah ", ucapnya dengan penuh keyakinan.


" Jangan minta uang sama ayahmu ya nak, inshaa Allah, mama masih sanggup untuk membiayai kalian sampai dewasa ", ucap membujuknya.


Kamu belum mengerti apa maksud dan tujuan ayahmu mengajak kita liburan ke wisata Aek Sijornih, kamu masih anak -anak, jadi kamu belum bisa memahami hubungan mama dan ayahmu sudah berakhir, ucapku dalam hati sambil tersenyum padanya.


" Baiklah ma, kalau mama tidak mau pergi ke wisata Aek Sijornih, kita main ke plaza yang ada di pasar aja ma, sekalian aku mau minta dibeliin boneka sama baju cantik sama ayah, dan untuk adek Habib juga", ucapnya dengan penuh semangat.


" Baiklah sayang, kalau ke plaza, mama mau menemani kalian", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Hooree", ucapnya sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


" Kira bobo siang dulu ya, nanti mama bangunin saat waktu makan siang", ucapku sambil memeluknya.


" Iya ma", ucapnya sambil membalas pelukanku.


Akupun bergegas keluar dari kamar, dan berjalan menuju dapur untuk membantu bibiku memasak makanan untuk makan siang.


Aku jarang berinteraksi dengan anak pamanku, karena anak pamanku anak spesial atau berkebutuhan khusus. Tapi, paman dan bibi sangat menyayanginya, karena bagaimanapun juga, dia adalah anak kandung mereka sendiri, anugerah dari Allah SWT, yang harus mereka syukuri.


Setiap hanba- Nya diberikan ujian hidup masing-masing sesuai kemampuannya masing-masing.


Selesai memasak, kami menunggu ruang tamu untuk menemui paman dan bang Izal.


Aku melihat mereka hanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, ada yang membaca buku, ada yang membaca koran, tidak ada obrolan seperti dulu.


" Setelah sholat Dzuhur, baru kita makan siang bersama ya nak Izal", ucap Bibiku.


" Iya Tante, terima kasih atas tawaran Tante", ucap bang Izal sambil tersenyum.


Setelah adzan Dzuhur berkumandang, kami sholat secara bergantian.


Setelah itu, kami makan siang bersama, tidak ada obrolan sama sekali.


Selesai makan, aku membersihkan meja makan dan mencuci peralatan masak dan makan.


Setelah itu, aku bergegas menuju kamar tidur untuk membangunkan Syakira dan Habib untuk makan siang.


" Kira, bangun sayang, udah waktunya sholat Dzuhur dan makan siang ", ucapku sambil menggelitikinya.


" Iya ma", ucapnya sambil tersenyum padaku dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan mengambil wudhu untuk sholat Dzuhur.


Aku menggendong Habib menuju dapur untuk menyuapinya makan siang.


Selesai sholat Dzuhur, Syakira menyusulku ke dapur untuk makan siang bersama adeknya.


" Ma, Ayah dimana!", tanyanya sambil menyantap makanannya.


" Ada di ruang tamu menemani kakekmu", ucapku sambil terus menyuapi Habib.


Selesai makan, kami bergegas menuju ruang tamu untuk menemui bang Izal.


" Ayah malam ini tidur disini kan?", tanya Syakira.


" Ayah ga bisa nak, ayah masih ada urusan penting sama temen ayah", ucapnya mencari alasan.


" Ooh,,tapi Ayah ga pulang ke Medan kan?", tanyanya lagi.


" Ga sayang, kita besok masih jalan -jalan, mana mungkin ayah pulang ", ucapnya sambil memeluk dan mencium pipinya Syakira.


" Iya, ayah sudah janji, aku yang pernah nonton film sinetron sama mama, katanya jika laki-laki dewasa sudah berjanji, dia harus menepatinya, barulah dia pantas untuk disebut " Pria sejati", ucap Syakira dengan penuh keyakinan.


Kami tertawa mendengar perkataannya yang terkesan dewasa itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2