
Aku merasa lelah saat ini. Di saat aku memandang jendela kaca rumah sakit, aku teringat masa sekolah SMA dulu. Aku teringat saat kami diminta untuk tes darah di PMR yang saat itu berkunjung ke sekolah kami. Aku ingat saat itu, untuk kelas XI, hanya aku dan Azam yang memiliki golongan darah AB, yang lainnya lebih banyak golongan darah O.
Saat itu, semua teman kami yang mengenal kami, selalu menggoda kami dan menjodoh- jodohkan kami. Aku tersenyum melihat wajah memerah Azam dan wajahku saat mendengar perkataan teman kami. Apa kabarmu Azam, Semoga kamu selalu bahagia dimanapun kamu berada, doa ku dalam hati sambil memejamkan mataku.
Walau aku sudah menikah dan aku memang mencintai suamiku, tapi, Aku tak akan bisa melupakannya, Cinta Pertamaku, Azam.
POV. Azam
Saat ini, aku sedang cuti selama dua minggu dari pekerjaanku sebagai kapten kapal tengker. Sudah seminggu ini, aku ingat terus dengan Ani, dan merindukannya.
Aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah tanteku ku yang ada di Medan. Saat tiba di rumahnya, aku melihat taku sedang berjalan kaki menuju ke tepi jalan raya untuk menaiki angkutan umum.
" Bi, mau kemana?", tanyaku buru-buru menghampirinya dengan sepeda motorku.
" Ooh..kamu zam, bibi sampe takut, kapan kamu pulang?", tanya bibiku.
" Udah satu minggu aku di kampung Bi, karena kangen dengan Bibi, makanya aku segera kesini dengan sepeda motorku ini, Bibi mau kemana", tanyaku lagi.
" Bibi mau ke rumah sakit zam, adikmu si Putri masuk rumah sakit karena penyakit tipus ", ucap Bibi sambil menaiki sepeda motorku.
" Ayo buruan antar Bibi ke rumah sakit umum", ucap bibiku dengan singkat.
Akupun langsung melajukan sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah sakit umum.
" Bi, kamar putri nomor berapa dan lantai berapa?", tanyaku sebelum memarkirkan sepeda motorku.
" Lantai lima, nomor tiga puluh lima zam", ucapnya sambil meninggalkanku dan masuk ke dalam rumah sakit umum.
Aku bergegas menuju parkiran sepeda motor yang ada di belakang rumah sakit umum ini.
Selesai memarkirkan sepeda motorku, dan menerima kartu parkirku, aku bergegas menuju pintu masuk rumah sakit umum.
__ADS_1
Di saat aku di lobi rumah sakit, aku melihat seorang pria sedang mondar-mandir ke meja receptionist untuk menanyakan jual penting.
Aku melihat raut wajahnya yang sangat khawatir dan ketakutan.
Aku menjadi penasaran ingin tahu apa masalah yang dihadapi oleh pria itu. Aku melangkahkan kakiku menuju meja resepsionis, dan bertanya " Suster, pria itu kenapa terus bolak-balik bertanya kepada suster?", tanyaku penasaran.
" Ooh.. bapak itu, istrinya baru operasi Caesar, karena melahirkan dini, dan golongan darah istrinya AB, sedangjan dia bergolongan darah O, jadi dia harus mencari pendonor darah, karena stok darah di rumah sakit ini kebetulan kosong", ucap suster menjelaskan.
" Ooh gitu, kebetulan suster, golongan darahku AB, aku mau membantu pria itu, dan kalau bisa, mereka tidak usah tahu, kalau aku yang mendonorkan darahku untuk istrinya, karena aku tulus membantu mereka", ucapku sambil tersenyum.
" Sungguh mulia hati bapak, kalau begitu, mari saya bawa ke ruangan dokter, agar bapak terlebih dahulu di periksa", ucap sang suster sambil berjalan menuju ruang dokter yang bersangkutan.
Akupun mengikuti Suster tersebut dan masuk ke dalam ruangan dokter yang bersangkutan.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan dokter, hasilnya sangat bagus. Akhirnya, aku bisa mendonorkan darahku kepada pasien yang sedang membutuhkan itu.
Setelah mendonorkan darahku sebanyak tiga kantong darah,aku diberikan oleh suster makanan yang bergizi dan seimbang serta beberapa multivitamin untuk memulihkan staminaku.
Aku mengirimkan sebuah SMS singkat kepada Bibiku, agar dia tidak khawatir padaku, karena tak kunjung datang ke kamar Putri.
Selama dua jam aku beristirahat di kamar pasien ini. Setelah merasa staminaku pulih kembali, aku pamit kepada Suster yang mengantarkanku ke ruangan dokter tadi, di saat itu aku mendengar mereka membicarakan tentang pasien yang menerima donor darahku.
" Syukurlah, Bu Ani mendapatkan donor darah yang baik dengan cepat, sehingga nyawanya bisa tertolong dan suaminya tidak bingung lagi minta bantuan pada siapa", ucap salah satu suster.
Karena mendengar mereka menyebut nama Ani, aku Jada semakin penasaran.
" Memangnya Bu Ani yang kalian ceritakan dirawat di ruangan berapa dan lantai berapa?", tanyaku penasaran.
" Bu Ani dirawat di ruang ICU, dan berada di lantai dua pak, apa bapak yang mendonorkan darah untuk Bu Ani itu?", tanya sang suster.
Aku bergegas menuju lift tanpa menjawab pertanyaan sang suster. Setelah di depan lift, aku memencet tombol liftnya, agar pintunya terbuka, untunglah pintunya langsung terbuka dan akupun langsung masuk ke dalam lift dan memencet tombol liftnya angka dua.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, aku tiba di lantai dua, dan aku bergegas berjalan menuju ruang ICU. Di saat aku berdiri di depan ruang ICU yang tertutup, aku melihat wajah Ani, cinta pertamaku dulu, sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien dengan beberapa alat bantu pasien, seperti monitor alat pendeteksi detak jantung, alat bantu pernapasan, dan selang infus yang tertancap di tangannya.
Seketika aku kaget dan bingung, kenapa hal buruk ini terjadi padanya, apa suaminya tidak menjaganya dengan baik atau ada sesuatu hal yang Ani sembunyikan padaku dulu, di saat kami bertemu, aku tidak tahu jawabannya apa, dan semua pertanyaanku itu hanya suaminya yang mampu menjawabnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, tanpa aku harus mencari suaminya Ani, dia datang sendiri ke hadapanku.
" Kamu siapa, dan apa kepentinganmu di depan kamar istriku", tanyanya dengan tegas padaku.
Aku langsung menarik kerah bajunya, dan berkata" Kenapa kondisi Ani bisa seperti itu?", tanyaku dengan lantang.
" Apa urusannya denganmu", jawabnya dengan lantang.
" Ani adalah cinta pertamaku dulu sampai sekarang, aku dulu melepaskan dia menikah dan hidup denganmu, karena dia bilang dia bahagia bersamamu, tapi nyatanya, kondisinya menjadi seperti ini ", tanyaku sambil menatap matanya dengan tajam.
" Dia adalah istriju, dia sudah menjadi tanggung jawabku, dan kamu tidak usah ikut campur urusan pribadi kami, dan kamu hanyalah masa lalunya, jangan pernah muncul dihadapan istriku", ucapnya dengan tegas.
" Jika seandainya aku tidak mendonorkan darahku tadi, apa yang akan kamu lakukan untuk menolong Ani, tanpa kamu ketahui, darahku sudah menyatu dan mengalir di pembuluh darah Ani, dan aku berhak untuk mengetahui perasaannya, dia menderita atau bahagia denganmu", ucapku dengan tegas.
Seketika suaminya Ani terduduk di depan kakiku sambil menundukkan kepalanya, dan berkata " Aku memang sudah gagal membahagiakan Ani, dan aku sudah meminta maaf padanya atas kesalahan yang kuperbuat tanpa sengaja, dan dia juga sudah memaafkanku, tapi, mungkin bathinnya belum bisa sepenuhnya memaafkanku, sehingga mempengaruhi kandungannya, akhirnya dia menjadi seperti ini", ucapnya dengan raut wajah sedih.
" Apa kesalahan yang sudah kamu lakukan, sehingga membuat kondisinya seperti itu", tanyaku dengan lantang.
" Apa kamu menyakiti perasaannya denga. menghianatinya tanpa sepengetahuannya, dan tiba-tiba kebusukanmu terbongkar, sehingga membuat Ani syok dan berpengaruh terhadap kandungannya?", tanyaku lagi dengan tegas
Disaat dia menatapku tajam, ada seorang suster yang menegur kami agar tidak membuat keributan di depan kamar pasien.
Dia pun berdiri dan berjalan gontai menuju tangga darurat.
Aku mengikutinya dan berkata padanya", Dari diammu sudah bisa aku simpulkan, jika kamu memang sudah menyakiti perasaannya, dan aku harap kamu tidak akan mengulangi kesalahanmu itu lagi, karena jika itu terjadi, aku akan merebut dia dari hidupmu, dan kmai akan menyesal melepaskan wanita berharga seperti Ani", ucapku sambil berlalu meninggalkannya yang terduduk di tangga darurat.
Bersambung...
__ADS_1