
POV. Khadijah
Satu tahun yang lalu sebelum aku menderita penyakit kusta, aku dikenalkan oleh temanku sewaktu SMA dengan sepupunya. Kami berhubungan jarak jauh melalui handphone. Kami hanya bertemu sekali, sewaktu dia datang mengunjungi temanku di kota kami, Binjai.
Setelah itu, kami berhubungan pacaran jarak jauh, dan kami sama-sama serius menjalaninya. Tapi, enam bulan kemudian, aku menderita penyakit kusta. Dia terkejut mendengar kabar itu dariku. Akupun tidak bisa berbuat apa-apa, kalau kami memang jodoh, dia pasti akan kembali padaku.
Tiga bulan berlalu, dia kembali menghubungi aku, dan minta maaf padaku, karena sudah meninggalkanku disaat aku membutuhkan dukungannya.
Aku memaafkannya, karena aku memang mencintainya dengan tulus. Akhirnya dia melamarku untuk menikah denganku dan dia mau menerima aku apa adanya.
Pria itu adalah Raka, suamiku yang kucintai sepenuh hatiku dan segenap jiwa dan ragaju. Tapi, setelah kami menikah, keluarganya tidak mau menerima aku apa adanya, karena aku adalah wanita cacat sekarang, dan mereka malu mengakui aku sebagai anggota keluarga mereka.
Apalah dayaku, aku hanya bisa pasrah dan bersabar, karena ini adalah ujian hidup yang harus kuterima. Ba bag Raka memang selalu membelaku, karena dia juga mencintaiku. Tapi aku takut, lambat laun dia bisa terpengaruh dengan hasutan keluarganya.
Aku tahu bahwa bibiku merasa khawatir padaku, tapi aku tidak akan pernah mau menceritakan tentang semua yang ku alami di rumah mertuaku.
Soal malam pertama, kami belum melakukan hubungan intim sebagaimana biasanya suami istri lakukan, karena aku masih datang bulan. Jadi, bang Raka harus bersabar sampai haid ku selesai.
Di saat Bang Raka bertemu dengan Ani, aku kerap kali mendapatinya memandang wajahnya cukup lama. Aku jadi penasaran apa isi hati dan pikiran suamiku itu. Belum genap satu minggu kami menikah, dia sudah mulai melirik wanita lain.
Hatiku merasa sakit dan kecewa, mengapa ini harus terjadi padaku, padahal aku hanya ingin hidup bahagia bersama dengan suamiku, apa dia mencintaiku hanya separuh hati. Walau begitu, aku harus tetap bersabar dan tabah.
Mungkin suatu saat nanti, bang Raka akan mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Hanya doaku pada Allah SWT yang Maha Kuasa.
Aku bingung harus jawab apa , di saat Ani bertanya kami bulan madu kemana, yang tahu jawabannya adalah suamiku. Sehingga aku hanya bisa diam, karena tidak tahu mau jawab apa.
Kembali ke topik utama y guys..
" Kok Kakak diam saja Adek tanya ?, tenang saja, aku gak akan minta ikut kok", candaku pada kak Khadijah.
" Kakak juga ga tau dek, yang tau jawabannya adalah bang Raka, kalau kakak sih dirumah aja gak apa - apa, tapi semua terserah bang Raka.
" Abang juga belum tau mau kemana, dulu Izal sama Ani kemana bulan madunya", ujar bang Raka.
__ADS_1
" Dulu kami bulan madunya ke Brastagi", jawab bang Izal.
" Pasti seru ya,!", ujar kak Khadijah sambil tersenyum.
" Yah lumayan seru kak, pemandangannya indah dan ada pemandian air panas juga. Kakak tau apa yang paling seru lagi?", tanyaku pada kak Khadijah.
" Apa dek?", tanyanya penasaran.
" Permainan kami diatas ranjang kak, begadang sampai pagi, akhirnya aku susah untuk berdiri ", jawabku cekikikan.
" Emang ada-ada saja sih ni adekku, kok makin genit?", ujar kak Khadijah sambil melirik bang Raka.
Suamiku mencubit hidungku karena gemes melihatku menggoda kak Khadijah.
" Kak, makan bakso yuk, perutku meràsa lapar lagi", ucapku manja
" Bang, ke warung bakso wa gendut aja kita makan baksonya, biar lebih mantap", ucap kak Khadijah pada suaminya.
Kemudian bang Raka melajukan mobilnya menuju warung bakso wa gendut. Setelah memarkirkan mobilnya, bang Raka menyusul kami yang sudah masuk duluan ke dalam warung.
" Aku mau bakso rudal pake pangsit", ucapku.
" Samain aja semuanya", ucap kak Khadijah dengan tersenyum.
" Aku mau mie ayam bakso aja ya dek", ucap bang Raka, meralat pesanan kami.
Beberapa menit kemudian, pesanan kami dihidangkan. Kami segera menyantap makanan yang sudah terhidang di depan kami sampai perut kami merasa kenyang dan puas.
Setelah bang Raka membayar tagihan bakso kami, kami bergegas masuk ke dalam mobil. Bang Raka terlebih dahulu mengantarkan kami ke rumah Kontrakan kami. Setibanya di depan rumah kontrakan kami, kami pamit duluan pada pengantin baru tersebut.
" Duluan ya kak, dan makasih banyak ya bang Raka traktirannya", ucapku sambil tersenyum pada mereka.
" Sama-sama dek, ga usah sungkan sama kakak ya dek ", ujar kak Khadijah sambil tersenyum padaku.
__ADS_1
Setelah kami masuk ke dalam rumah, mereka pun melajukan mobilnya menuju rumah mereka, yang tidak jauh dari rumah kami.
" Adek usil juga ya sama orangnya, kak Khadijah jadi malu sendiri ngeliat Keita", ujar bang Izal sambil memeluk tubuhku di atas tempat tidur.
" Adek kan cuma mau bercanda, karena menurut Adek, kak Khadijah dan suaminya Raka, belum melakukan hubungan intim. Makanya Adek sengaja untuk memancing kak Khadijah ", ucapku sambil membalas pelukannya.
" Mendingan kita ulangi lagi adegan romantis kita yang tadi siang ya sayang ", ucap suamiku sambil menciumi wajahku.
" Emang abang ga capek ngelakuinnya sering - sering, ntar abang cepat bosan sama adek, gawat donk,!", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Sampai kapan pun, Abang ga akan pernah bosan sama Adek", ucapnya sambil mencumbuiku.
Akhirnya kami melakukan hubungan intim lagi dan lagi, sampai kami merasa puas dan kelelahan, dan tertidur lelap sambil berpelukan sampai pagi.
Pagi yang cerah..
Selesai melakukan aktivitas yang sudah biasa aku lakukan, aku bergegas ke kamar tidur untuk membangunkan suamiku.., karena dia harus bekerja hari ini.
" Sayang, bangun donk, udah pagi, abang kan mau berangkat bekerja", ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya.
Dia menggeliat berkali-kali, dan menarik tanganku untuk mendekat padanya.
Aku sudah tau maksudnya apa." Adek udah mandi sayang, kalau kita bercinta lagi, nanti kamu bisa terlambat ke kantor", ucapku menolaknya secara halus.
" Ayolah sayang, sebentar saja, ga akan lama, sekalian temani abang mandi ya, abru adek abang mandiin, biar segar kembali ", ucapanya sambil menggendongku ke kamar mandi.
Akhirnya kami melakukannya lagi pagi ini, dengan berbagai adegan yang hot tentunya. Selesai menyalurkan hasrat satu sama lain, kamipun mandi bersama, dan suamiku memandikan aku dengan perlahan sambil menikmati tentunya.
Selesai berpakaian, kami bergegas ke dapur untuk sarapan pagi yang agak terlambat. Aku menyendokkan nasi goreng dan telur mata sapi ke piring suamiku dan untukku juga. Kami sangat lapar, karena ulah kami sendiri dari semalam.
Selesai sarapan, aku mengantarkan suamiku ke teras dan mencium tangannya sebelum dia berangkat bekerja.
Aku masuk ke dalam rumah dan beristirahat di kamar, karena aku merasa sangat lelah. Rencananya, aku akan membersihkan rumah setelah bangun tidur.
__ADS_1
Bersambung...