Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Move on... part. 2


__ADS_3

Akhirnya beberapa menit kemudian, kami tiba di perjalanan, dan aku segera membawa Siti ke kapal temanku Bima, dan memberikan sejumlah uang untuk membayar biaya pengiriman Siti untuk pulang ke rumahnya di Indonesia.


Aku juga memberikan sejumlah uang untuk bekal Siti di perjalanannya, dan aku berpesan," Hati -hati, dan jagalah dirimu, dan jangan mau jadi TKW lagi, lebih baik kamu mencari pekerjaan di Indonesia saja, biar gajinya sedikit, tapi hidup kita aman bersama keluarga kita, apalagi kamu perempuan ", ucapku sambil tersenyum.


" Iya bang, terimakasih atas bantuan dan nasehat Abang, dan akau akan mengingat kebaikan Abang selamanya, dan suatu hari, semoga aku bisa membalas kebaikan hati abang ini, dan temuilah aku, jika Abang pulang ke Indonesia", ucapnya sambil mengatakan alamatnya. Aku mengetahui dimana letaknya.


Kapal mereka pun berangkat menuju perairan Indonesia.


Aku melihat kapal mereka yang mulai menjauh dari pelabuhan tempat aku berdiri.


Aku memutuskan untuk tidak jadi pergi ke kota, karena menurut pengalamanku, majikannya si Siti, akan terus menyelidiki siapa yang membantunya keluar dari negara ini. Jujur saja, bukannya memuji diriku sendiri, sudah lebih 10 orang yang aku bantu dengan masalah yang sama, tapi aku ikhlas membantu sesama, apalagi seperti mereka yang tidak kenal siapapun di negara ini.


Aku bergegas menuju kapal tengker tempat aku bekerja, dan aku segera masuk ke dalam ka bin khusus Kapten kapal ini.


Saat merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, aku teringat sekilas wajah Siti,agak mirip dengan Ani, tapi Ani jauh lebih cantik dibandingkan Siti, mungkin karena Siti mengalami penderitaan, membuat aura kecantikannya tertutupi, sedangkan Ani, selalu menarik untuk dipandang.


Seandainya, kamu jadi milikku Ani, betapa bahagianya hidupku bersamamu, tapi apalah daya, kii tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Semoga aku bisa bertemu dengan gadis yang sama sepertimu di dunia ini, ucapku dalam hati, akhirnya aku tidur terlelap sambil menggenggam foto Ani yang aku simpan di dompetku.


Kembali ke Ani ya guys...


Pagi yang cerah, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya. Sekarang umur kandunganku memasuki bulan ke empat, dan Alhamdulillah, setelah kami periksa kandungan ke dokter Spesialis kandungan, kata dokter janinku sehat,dan pembentukan otot, anggota tubuh dan organ serta otaknya normal.


Kami tidak menanyakan jenis kelaminnya, agar menjadi kejutan tersendiri untuk kami nantinya.


Berhubungan hari ini adalah Minggu. Aku dan suamiku berencana untuk berkunjung ke rumah kak Khadijah dan suaminya Raka. Bang Izal membangunkan mencuci pakaian dan menjemukannya di jemuran belakang rumah kami. Aku membersihkan dapur yang berantakan, karena baru selesai sarapan pagi. Aku mencuci peralatan masak dan makan yang sudah kotor.


Selesai melakukan tugas masing-masing, kami bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah kakakku tersayang, Khadijah. Setelah mengunci pintu rumah, kami menaiki kuda besi putih kami, dan suamiku segera menghidupkan mesinnya dan melajukannya dengan perlahan.

__ADS_1


" Sayang, nanti singgah dulu di mini market, di pinggir jalan raya menuju rumah kak Khadijah, adek mau beli buah tangan untuk mereka sekeluarga", ucapku sambil memeluk tubuhnya dengan erat.


" Ok sayang, nanti abang singgahi", jawabnya sambil melajukan kuda besi kami.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan mini market, dan suamiku menemaniku ke dalam mini market untuk membelikan buah tangan kami. Selesai membayar tagihan belanja kami, kami bergegas keluar dan menaiki Kuda besi kami dan melanjutkan perjalanan ke rumah kak Khadijah.


Setibanya di depan rumah mertua kak Khadijah, kami turun dari sepeda motor, dan mengetuk pintu rumah kak Khadijah. Sekilas in kudengar ada suara orang yang sedang bertengkar yang sedang adu mulut.


Karena pintu rumahnya tidak dikunci aku langsung masuk ke dalam rumah dan kulihat kejadian yang tidak mengenakkan yang sedang dialami oleh kakakku, Khadijah.


Aku bergegas membantu kak Khadijah yang jatuh tersungkur ke lantai, karena di dorong oleh kakak iparnya.


" Tega sekali kalian menyakiti kakakku, kalian manusia atau bukan, berani sekali kalian mengeroyok kakakku", ucapku sambil berteriak menunjuk-menunjuk wajah mereka dengan jari telunjuk ku.


Suamiku datang dengan terburu-buru, karena dia takut aku menjadi sasaran amukan manusia tidak punya hati yang ada di depan ku ini, dan dia langsung berdiri didepan ku, untuk mengantisipasi aksi lanjutan mereka.


Aku membawa kak Khadijah untuk duduk di kursi tamu yang ada di ruang tamu rumah ini.


" kakak jangan menangis lagi, ayo kita kerumah adek aja, ga usah tinggal di rumah neraka ini lagi kak, nanti aku telpon bang Raka untuk datang ke rumah kami", ucapku sambil memapah kak Khadijah menuju teras. Sedangkan suamiku, siap siaga menghadang mereka, jika mereka ingin menyerang kak Khadijah lagi.


" Bang, kami naik becak aja ke rumah, nanti Abang nyusul kami, setelah abang nelpon bang Raka biar datang ke rumah kita", ucapku setengah berteriak.


" Iya sayang" ,ucap suamiku.


Aku menyetop becak yang kebetulan lewat, dan aku memapah tubuh kak Khadijah untuk masuk ke dalam becak, sambil menenteng buah tangan yang kami bawa tadi, untunglah masih di tanganku, aku tidak Sudi mereka memakan buah tangan kami ini, manusia tidak punya hati", ucapku dalam hati.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kontrakan kami, dan aku membayar ongkos kami, dan aku kembali memapah kak Khadijah untuk masuk ke dalam rumah. Setelah membuka pintu, aku mendudukkan kak Khadijah di kursi tamu, dan segera ke belakang untuk membuatkan minuman teh hijau untuknya, agar dia tidak syok lagi.

__ADS_1


Setelah menghidangkannya di atas meja, aku meminta kak Khadijah untuk meminumnya, agar pikirannya bisa lebih tenang.


Di saat aku ingin memulai pembicaraan, aku mendengar suara klakson sepeda motor suamiku, dan aku bergegas keluar rumah untuk melihatnya. Setibanya di teras, aku melihat bang Izal berjalan bersama bang Raka mendekat ke teras. Kami segera masuk ke dalam rumah.


Saat kak Khadijah melihat suaminya Raka, dia langsung berdiri dan berjalan menuju suaminya, dan langsung memeluknya sambil menangis histeris. Kami hanya diam menyaksikan adegan yang mengharukan ini.


Ku lihat bang Raka membalas pelukannya, dan mengelus-elus punggung kak Khadijah, untuk menghiburnya dan menguatkan hatinya.


" Aku tidak kuat lagi tinggal bersama orang tuamu bang, jika kamu lebih memilih mereka, aku ikhlas untuk kamu ceraikan, dan aku akan kembali menempati rumah kami yang di Binjai, tapi jika Abang memilih bersamaku, Abang harus mau tinggal di rumah kami yang ada di Binjai" ,ucap kak Khadijah sambil menangis terisak.


Aku melihat bang Raka hanya diam saja, mungkin dia bingung harus menjawab apa dan memilih siapa. Semua serba salah, bagaikan buah simalakama.


Beberapa menit kemudian, bang Raka berkata" Baiklah dek, kita akan tinggal di rumah kalian yang ada di Binjai, tapi aku harus menyelesaikan beberapa urusanku di kantor dan di rumah, sementara adek disini dulu bersama Ani, setelah semua urusanku selesai, aku akan menjemput adek kesini dan kita akan berangkat bersama ke Binjai, nanti malam pakaianmu akan aku antarkan kesini, sabarlah sayang, ini ujian hidup rumah tangga kita, kita harus saling menguatkan satu sama lain" , ucap bang Raka sambil menghapu air mata kak Khadijah.


Kak Khadijah hanya mengangguk mengiyakan perkataan suaminya sambil tersenyum bahagia.


" Izal, bisakah Khadijah untuk sementara tinggal bersama kalian, sampai urusanku selesai di kantor dan di rumah", ujarnya.


" Tidak àpa-apa Raka, kita kan keluarga, kita harus saling tolong-menolong di saat ada keluarga kita yang butuh bantuan", ucap suamiku sambil tersenyum.


Aku mengantarkan kak Khadijah untuk beristirahat di kamar tamu, sedangkan suamiku sedang mengobrol serius deng bang Raka.


Setibanya di kamar tamu, kak Khadijah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aku duduk di tepi ranjang, dan menggenggam tangannya untuk memberikan dukunganku padanya, agar dia kuat menjalani taqdir hidup didunia ini. Apalagi masalah rumah tangga kak Khadijah lumayan pelik. Jadi butuh kekuatan dan kesabaran untuk menjalaninya.


" Apa kakak mau menceritakan apa yang terjadi di rumah mertua kakak tadi", tanyaku hati- hati, karena takut kak Khadijah tersinggung dengan ucapanku.


Dia menatapku cukup lama, seperti menimbang- nimbang konsekuensinya jika dia bercerita padaku...

__ADS_1


Dengan berat hati, kak Khadijah....


Bersambung...


__ADS_2