Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Masa Lalu...


__ADS_3

Waktu berlalu!


Setelah sarapan, aku dan suamiku berangkat menuju rumah kami yang di Sadabuan.


" Jagain adek-adekmu ya nak!", ucapku sambil tersenyum pada Putriku Syakira.


" Iya ma!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku pun bergegas masuk ke dalam mobil yang mesinnya sudah dihidupkan oleh pak Darma, supir pribadi suamiku.


Setelah aku duduk dengan tenang bersama suamiku di belakang, pak Darma langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami.


" Pak, ntar bapak duluan pulang aja ke rumah, sambil mengendarai motor matic istriku ya!", ucap suamiku kepada pak Darma.


" Iya pak", ucapnya sambil tersenyum.


Kamipun bergegas menuju pintu rumah.


Setelah mebuka kunci pintu rumah, aku memberikan kunci motor matic milikku kepada pak Darma.


Setelah mengeluarkan motor matic milikku ke teras dan memanaskan mesin motorku, pak Darma langsung pamit kepada kami untuk kembali ke rumah duluan.


" Saya permisi ya pak!", ucapnya.


" Iya hati -hati ya pak!", ucap suamiku.


Setelah kepergian pak Darma, suamiku menemuiku yang sedang sibuk membersihkan rumah.


" Lagi ngapain dek?", tanyanya basa-basi.


" Ini lagi bersih-bersih bang!, padahal baru beberapa hari ditinggalkan, udah kotor kayak gini!", ucapku.


" Ya udah,. adek kontrakin aja, biar ada yang jaga rumah sekaligus membersihkannya!", ucapnya.


" Apa Abang tahu siapa yang lagi nyari kontrakan?", tanyaku.


" Nanti Abang tanyain pak Darma dulu ya sayang, mana tau ada familinya yang lagi nyari rumah kontrakan!", ucapnya.


" Iya sayang, Abang di teras aja dulu, banyak debu nih!, kalau udah selesai, nanti adek panggil Abang ya!", ucapku sambil tersenyum padanya.


"Iya sayang, sekalian Abang ngerokok dulu ya dek!", ucapnya sambil berlalu pergi menuju teras.


Satu jam kemudian, aku selesai membersihkan seluruh ruangan. Setelah membersihkan rumah, aku membuka pintu warungku untuk mengemasi barang jualanku dan memasukkan semuanya ke dalam kardus.


" Abang aja yang angkatin kardusnya ke mobil ya dek!, adek ngerapiinnya aja, adek ga boleh angkat barang yang berat-berat ya!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Iya bang, makasih banget ya sayang udah mau bantuin adek!", ucapku sambil tersenyum padanya.


Selesai mengemasi barang-barang jualanku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil, kamipun masuk ke dalam rumah.


"Adek mandi dulu ya sayang, badan adek terasa lengket", ucapku sambil berlalu menuju kamar mandi.


" Tunggu sayang, Abang temanin ya mandinya!", ucapnya.


" Ga usah bang, kita gantian aja mandinya ya!", ucapku sambil berlalu pergi.


Di saat aku melepaskan pakaianku, suamiku tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang dan mulai meraba-raba tubuhku dengan perlahan.


" Adek mandi dulu sayang, badan adek bau keringat lho sayang!", ucapku sambil berusaha melepaskan diri.


" Ga apa-apa sayang, tubuh adek ga bau kok, malahan makin wangi menurut Abang", ucapnya sambil menciumi leherku bagian belakang, sehingga membuat aku merasa bergairah.

__ADS_1


Kemudian, suamiku mengangkat tubuhku ke atas ranjang sambil memeluk tubuhku dengan erat dan mulai mencumbuiku.


Akhirnya, kamipun bercinta selama beberapa jam, sampai kami merasa mengantuk karena kelelahan. Kamipun tertidur lelap sambil berpelukan di atas ranjang.


Dua jam kemudian, kami terbangun karena suara ponsel yang berdering.


Aku memeriksa nama panggilan yang ada di layar ponselku.


" Assalamualaikum kak", ucapku.


" Kalian dimana sekarang?", tanya kak Dewi.


" Kami lagi dirumah yang di Sadabuan nih kak!", jawabku.


" Kakak mau ngasih tau kamu, Bibinya Boy mau nginap di rumah ini dengan idzin dari Boy, katanya ga perlu minta idzin dari Om Zain, jadi kamu harus hati-hati kalau dia berada di rumah ini, aku takut dia berbuat semena-mena padamu!", ucapnya menjelaskan.


" Iya kak, terima kasih infonya", ucapku sambil tersenyum.


" Iya Ni, sebaiknya kamu cepat-cepat dapat momongan ya!, biar Om Zain tidak berpaling ke lain hati!", ucapnya sambil mengakhiri sambungan telepon seluler kami.


Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya.


Apa benar yang dikatakan oleh kak Dewi, apa bang Zain akan berpaling ke lain hati, jika aku tidak memberikannya keturunan, tanyaku dalam hati.


" Siapa yang nelpon adek?", tanya suamiku sambil memeluk tubuhku.


" Ooh itu Dewi, katanya Bibinya Boy datang ke rumah kita dan menginap di rumah selama beberapa hari", ucapku.


" Ngapain wanita itu harus nginap di rumah!, kurang kerjaan aja!", ucapnya sambil terus menciumiku.


Aku hanya pasrah dengan semua perbuatannya padaku. Tak ada gunanya aku menolak, karena aku juga menginginkannya.


Akhirnya, kami melakukan percintaan kami kembali dengan penuh gairah, dan melanjutkan permainan kami di dalam kamar mandi.


" Adek ga perlu takut dengan Bibinya si Boy, karena dia tidak akan berani berbuat jahat kepada adek selama dirumah, karena nanti malam kita akan berangkat ke Medan untuk mengantarkan Syakira ke pesantren, jadi adek ga usah kepikiran ya!", ucapnya sambil membelai rambutku yang masih tergerai, karena masih setengah kering.


" Iya sayang, adek ga kepikiran dan ga takut kok sama dia, aku hanya penasaran dengan tujuannya untuk menginap dirumah kita", ucapku.


" Ooh, mungkin Boy yang memintanya untuk datang berkunjung dan menginap di rumah kita", ucapnya.


" Ya udah bang, kita pulang yuk!, adek udah lapar nih!, abis Abang nguras semua tenaga adek!", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya sayang, ntar kita makan di restoran aja dulu, baru kita pulang ke rumah ya!", ucapnya.


" Terserah Abang aja deh!", ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku dan memakai kerudungku, kamipun berjalan beriringan menuju teras rumah.


Setelah mengunci pintu rumah, aku menyusul suamiku yang sudah berada di dalam mobilnya.


Setelah aku duduk dengan tenang di sampingnya, suamiku pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restoran sederhana untuk makan siang.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan restoran sederhana yang ada di daerah Jalan Merdeka.


Setelah memarkirkan mobil, kami keluar dari mobil dan berjalan beriringan ke dalam restoran sederhana.


Kami duduk di kursi yang disediakan.


Setelah memesan makanan kepada pelayan, kami menunggu pesanan kami selama dua puluh menit.


Karena sudah sama-sama lapar, kami menyantap makanan kami tanpa pembicaraan.


" Bang, kita berangkat ke Medan jam berapa?", tanyaku.


" Nanti soe aja ya dek, setelah sholat ashar, kit berangkat, biar kita bisa nyantai bawa mobilnya, ga memburu waktu, gimana menurut adek?", tanyanya.

__ADS_1


" Ya udah, ntar singgah dulu di mini market ya bang, untuk beli cemilan diperjalanan nanti!", ucapku.


" Iya dek, nanti kita singgah sebentar di mini market yang ada di dekat rumah kita ya!", ucapnya.


Setelah membayar tagihan makanan, kamipun bergegas menuju mobil.


Setelah menghitung mesin mobilnya, suamiku melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah kami.


Sebelum tiba ke rumah kami, kami singgah sebentar di sebuah mini market. Suamiku menunggu di dalam mobil, karena aku tidak akan lama di dalam mini market.


Setelah membayar tagihan makanan yang kubeli, aku bergegas masuk ke dalam mobil dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju rumah kami.


Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah, kami keluar dari dalam mobil dan berjalan beriringan ke dalam rumah.


Makanan yang kubeli tadi, kami tinggalkan di dalam bagasi mobil.


" Assalamualaikum", ucapku sambil masuk ke dalam rumah, karena pintunya terbuka.


" Wa alaikum salam", jawab seorang wanita yang menurutku lebih tua dariku.


" Darimana saja kalian, baru pulang jam segini?, anaknya ditinggal di rumah sendirian, kalian senang-senang diluar sana!", ucapnya dengan suara keras padaku


Aku hanya diam dan berjalan menuju kamar tidur kami. Sedangkan suamiku duduk di sofa ruang tamu.


.Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, karena saat ini, aku ingin beristirahat, sebentar lagi kami akan berangkat ke Medan.


Sebelum ke kamar tidur kami, aku berjalan menuju kamar tidur Syakira untuk memeriksa keadaan mereka.


" Kira!", panggilku sambil membuka pintu kamar mereka.


" Iya ma!", ucapnya.


" Kalian sedang ngerjain apa?", tanyaku.


" Kira lagi meriksa barang bawaan Kira ke pesantren ma, dan memasukkannya ke dalam koper yang satu lagi, jadi kita bwa dua koper, satu berisi pakaian, dan satu lagi, perlengkapan Kira di pesantren, tadi bibi Dewi yang ngasih satu koper kosong untuk Kira pakai", ucapnya menjelaskan.


" Maaf ya sayang, mama ga bantuin Kira buat beres-beres", ucapku merasa bersalah.


" Ga apa-apa kok ma, mama kan lagi sibuk sama papa, lagian ada Bibi Dewi yang bantuin dan jagain kami disini ", ucapnya.


" Kalian udah makan siang nak?", tanyaku.


" Udah ma, tadi sama bibi Dewi!", jawab Syifa sambil memeluk tubuhku.


" Ma, Syifa ikut kan ngantar kakak ke Medan?", tanyanya.


" Pasti donkz, princess mama ikut ke Medan, nanti di Medan, kita ajak papa jalan -jalan ke Kuala namu untuk melihat pesawat terbang yang besar, sama Kebun Binatang, dan lain-lain, Syifa mau kan sayang?", tanyaku balik.


" Mau banget donk ma!, Syifa senang kalau bisa jalan-jalan sama mama dan papa!", ucapnya.


" Jadi Kira gimana donk ma?, Kira ga ikut jalan-jalan donkz?", tanyanya.


" Ya udah, setelah jalan-jalan, di baru Kira di daftarkan ke pesantren, gimana?", tanyaku.


" Ok banget ma!, makasih ya ma!", ucap mereka sambil memeluk tubuhku dengan erat.


Kamipun saling berpelukan dan tertawa bahagia bersama.


Tiba-tiba, ada seorang wanita yang datang membuka pintu kamar putriku dan masuk ke dalam kamar tanpa basa-basi.


" Enak banget ya kalian!...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2