Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Jalan-jalan...


__ADS_3

Malam pun berlalu, pagi hari pun tiba. Hari berganti malam, malam berganti pagi. Dua hari berlalu, luka jahitan yang ada di kepala adik iparku, sudah kering, dan hari ini kami akan ke puskesmas untuk membuka perban yang menutupi luka jahitannya.


Sepulangnya dari puskesmas, aku menyuruh Adi iparku Marni, untuk beristirahat di kamarnya. Si pelaku masih terus mengerjakan hukumannya sampai waktu yang ditentukan dan diawasi oleh ayah mertuaku.


Siang ini, kami berencana untuk jalan-jalan disekitar kota Gunung Tua ini. Ada tempat wisata yang baru kami ketahui dan lagi viral di dunia maya, namanya danau sagayung. Kami meminjam sepeda motor tetangga untuk beberapa jam kedepan.


Setelah menempuh perjalanan yang berliku-liku, akhirnya kami tiba di tempat yang kami tuju. Kami berjalan kaki menuju tempat duduk yang disediakan oleh pemilik warung kecil yang ada di sekitar danau. Danau ini memiliki lapangan hijau yang luas, sejauh mata memandang, dan sangat menyejukkan mata dan hati kita.


Udara yang segar dan sehat, karena dikelilingi oleh pepohonan dan bukit-bukit barisan, yang menambah kesan yang lebih indah bagi para wisatawan lokal maupun interlokal.


Ketika kami sampai di pondok kecil yang kami tuju, seorang pelayan warung menanyakan pesanan kami.


" Kak , bang, mau pesan makanan dan minuman apa?", tanyanya.


" Emangnya menu minuman dan makanan yang tersedia apa aja?", tanyaku.


" Kalau minuman yang ada, kelapa muda, kopi, dan manis dingin, sedangkan makanan yang ada, nasi goreng, mie goreng, ifu mie goreng, mie rebus, TU aja kk", jawabnya.


" Sayang, mau pesan apa?", tanya suamiku.

__ADS_1


" Adek mau nasi goreng pake telur mata sapi, minumnya air putih, dan ada kelapa muda juga", ucapku sambil tersenyum.


" Ya udah dek, samain aja pesanan kami, ntar tambahi cemilan keripik sambal ya kalau ada", ucap suamiku.


" Iya bang, permisi ya bang, nanti pesanannya kami antar segera ", ucapnya sambil berlalu.


" Suasana disini enak dan segar ya sayang ", ucapku sambil menggenggam tangan suamiku.


" Iya dek, pantas saja, tempat wisata ini cepat viral ", ucap suamiku.


Kami berselfie ria, sebelum pesanan kami diantar. Pemilik warung juga menyediakan berbagai tempat foto Selfie yang unik dan menarik. Setelah puas berfoto Selfie, kami bergegas kembali ke tempat duduk kami semula, karena aku melihat pelayan warung sedang menuju ke tempat kami untuk mengantarkan pesanan kami.


" Terima kasih dek", ucapku.


" Sama-sama ya kak", Ucapnya berlalu pergi menuju warungnya.


Setelah membaca doa makan, kami menyantap makanan yang kami pesan dengan lahapnya, karena kami memang sudah merasa lapar, karena kami belum makan siang.


Selesai menyantap makanan, kami beristirahat sebentar, sambil menikmati air kelapa muda.

__ADS_1


Suasana yang nyaman dan menyenangkan seperti ini, sangat efektif untuk merilekskan tubuh dan pikiran kita, apalagi beberapa hari yang lalu, adik iparku menjadi korban penganiayaan, yang menyebabkan pikiran dan perasaan kami merasa terbebani.


Alhamdulillah, masalah kami bisa selesai dengan baik, karena pak kepala desa kami, memiliki sifat yang adil dan bijaksana, Sehingga kami bisa menyelesaikan masalah dengan mudah.


Saat ini, kami sedang menikmati pemandangan yang indah dan alami, udara yang segar dan menyehatkan paru-paru kami. Tanpa terasa, waktu berlalu dengan cepat, sekarang sudah hampir pukul empat sore.


Suamiku mengajakku untuk pulang, karena cuaca mulai mendung, dan kami takut kehujanan, apalagi aku sedang hamil dan perjalanan dari wisata ini ke rumah kami lumayan jauh.


Selesai membayar tagihan makanan kami, kami bergegas menuju parkiran sepeda motor kami yang ada di dekat warung.


Beberapa jam kemudian, kami tiba di depan rumah, saat itu gerimis mulai turun, dan aku segera masuk ke dalam rumah, sedangkan suamiku mengantarkan sepeda motor tetangga yang kami pinjam, yang sebelum pulang, kami sudah mengisi tangki minyak sepeda motornya full, dan suamiku juga berniat untuk memberikan uang rokok tetangga kami.


Suamiku tiba di rumah, saat hujan deras mulai turun, dan suamiku hanya basah sedikit terkena hujan. Suamiku menemuiku di kamar, ketika aku sedang menyisir rambutku yang agak kusut. Suamiku merebahkan di atas tempat tidur, dan menyuruhku untuk berbaring di sampingnya. Aku hanya menuruti kemauannya.


Suamiku memeluk tubuhku dan mulai menciumiku, sedangkan tangannya mengepal perutku. Aku tersenyum dengan perlakuannya padaku, yang menurutku sangat menggoda imanku saat ini.


Aku hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, yang akan dilakukan oleh suamiku....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2