
Aku tersenyum mengingat wajah suamiku yang kukerjai setiap malam, karena aku ingin melihatnya pakai make up. Suamiku tidak pernah marah, walau setiap dia bangun tidur, atau dia memang tidak tahu kalau aku mengerjainya.vAku tidak pernah menceritakannya pada orang lain.
" Seperti bibi ingat sewaktu di Medan, bang Izal, tidak bisa mencium bau bawang putih, tiap kali dia tercium bau bawang putih, dia akan terus muntah sampai mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam perutny, bahkan terkadang sampai wajahnya menjadi pucat", ucap sambil tersenyum padanya.
" Iya ya Ni, memang lucu juga, tapi kalau bibi ngidamnya pengen makan sayur asem terus, atau makanan yang àda rasa asemnya", ucap bibiku.
" OOO.. syukurlah bibi ngidamnya hal-hal yang lumrah, coba yang luar biasa ngidamnya, kan kasian pamanku bi", ucapku sambil tersenyum.
" Jadi kalian kapan pulang ke Medan nak?", tanya bibi.
" Inshaa Allah dua hari lagi Bi, karena sisa liburan kami tinggal dua hari lagi", jawabku.
" Besok pagi kami mau jalan-jalan ke wisata Aek Sijornih, apa paman dan bibi mau ikut?", tanyaku.
" Ga lah nak, Bibi belum bisa kemana-mana, karena kondisi Bibi belum mengizinkan, nanti kalau adekmu sudah lahir dan sudah besar, baru kita pergi bersama ke tempat wisata itu", ucap bibiku sambil tersenyum.
__ADS_1
" Baiklah bi, besok kami pakai motor matic milik bibi ya, karena karena motor geede paman kan untuk paman bekerja ", tanyaku lagi.
"Iya Ni, pake aja, kunci motornya di dekat kulkas bibi gantungkan", ucap bibiku.
Sekarang pukul lima sore, selesai mandi, kami berjalan-jalan Sore dengan menaiki motor matic milik bibiku. Kami berkeliling kota Sidempuan dan singgah di Jalan Baru. Kami melihat banyak anak muda yang nongkrong di pinggir jalan baru yang kami lewati ini.
Kami singgah di sebuah kafe, yang ada di pinggir jalan. Suamiku mendatangi pemilik kafe, dan memesankan minuman dan makanan untuk kami.
Beberapa menit kemudian, pesanan kami diantar oleh pelayan kafe. Aku sangat tertarik dengan makanan yang dihidangkan, yaitu: Keripik sambal, jagung bakar pake saus, dan Pisang coklat Krispy, dan minumannya jus alpukat tidak pakai es.
Aku memeluk tubuh suamiku, karena merasa kedinginan, karena udara di Sidempuan ini lumayan dingin, apalagi kalau Sore hari.
Beberapa menit kemudian kami tiba di depan rumah pamanku.
" Assalamualaikum", ucapku sambil membuka pintu rumah pamanku, karena pintunya tidak dikunci.
__ADS_1
" Wa alaikum salam, kalian udah pulang nak, padahal udah mau bibi telpon, takut kalian nyasar", ucap bibiku.
" Ya ampun Bi, mana mungkinlah kami nyasar bi, Ani kan masih ingat jalan di kota ini, ntar kalau kami nyasar, kami tinggal nelpon bibi atau paman, iya kan bi?", ucapku sambil tersenyum.
" Iya ya nak, ga mungkin kalian bisa nyasar, kalian kan udah gede, udah mau punya anak lagi, paling nanti kalau kalian nyasarnya ke hotel ", ucap bibi menggodaku.
" Bibi bisa aj nih!", ucapku sambil tersenyum.
" Ini rujak buah untuk bibi, kami beli tadi pulang jalan-jalan", ucapku sambil membuka bungkusan plastik dan menaruhnya ke atas permukaan piring.
" Makasih ya nak, Ani tau aja kalau bibi pengen makan rujak", ucapnya bahagia.
Ketika adzan magrib berkumandang, kami bergegas mencuci tangan, sekalian mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Yang menjadi Imam kami, adalah pamanku.
Selesai sholat, kami makan malam bersama, dengan menu seadanya, yaitu: Sambal ikan teri kacang, dan sayur asem. Kami makan dengan lahapnya.
__ADS_1
Bersambung...