Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Berakhir... part 3


__ADS_3

Setibanya di depan pintu rumah pamanku.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamanku.


" Wa alaikum salam", ucap bibiku sambil membuka pintu rumahnya.


Aku bergegas masuk ke dalam rumah dan melihat bang Izal sedang mengobrol dengan pamanku di ruang tamu.


" Apa tujuanmu datang ke rumah pamanku ini?", tanyaku sambil duduk di kursi yang ada di depannya.


" Tujuanku kesini àda untuk meminta maaf kepadamua dek, dan aku harap kamu mau memaafkan aku dan kita kembali bersama seperti dulu lagi", ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan duduk di kursi sebelah kananku.


" Kalau itu memang tujuanmu untuk memaafkan semua perbuatanmu padaku, aku akan berusaha untuk memaafkanmy, tapi aku tidak bisa hidup bersamamu lagi, karena hatiku yang sudah kamu hancurkan sampai berkeping-keping, tidak bisa kembali seperti dulu lagi, ibarat kaca yang retak, tidak akan bisa diperbaiki seperti semula lagi", ucapku sambil menatap wajahnya.


" Mama... mana oleh-olehnya ma?", tanya putriku sambil tersenyum padaku.


" Mama ga ingat tadi sayang, soalnya mama buru-buru untuk pulang ke rumah, maaf ya sayang", ucapku sambil mencium pipinya.


" Ga apa-apa ma, pasti mama capek ya sambil menggendong adek kesana - kemari", ucapnya sambil memeluk tubuhku.


" Ga sayang, Mama ga capek kok", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kira..sini duduk sama ayah", ucap bang Izal.


" Kira ga mau, ayah kan jahat sama mama, sering bikin Mama nangis", ucapnya sambil beranjak pergi menuju ruang televisi.


Bang Izal terdiam mendengar perkataan putrinya sendiri.


" Aku tidak pernah mengajarkan Kira untuk membencimu, tapi semua hal yang terjadi di depan matanya sendiri, tentu dia sering melihatku meneteskan air mata tanpa kusadari ", ucapku sambil menatapnya.


" Iya nak Izal, lebih nak Izal pulang dulu, biarkan Ani untuk berfikir jernih dulu, mungkin Ani mau berubah pikiran", ucap Pamanku menasehatinya.


" Pulanglah ke rumah istri simpananmu yang paling kamu cintai itu, dan aku tidak akan pernah mengubah keputusanku untuk bercerai darimu sampai kapanpun, karena semua penderitaan yang kualami, sudah sangat cukup, dan semuanya sudah berakhir ", ucapku sambil menatap matanya dengan penuh kebencian.


" Jangan seperti itu dek, pikirkanlah baik-baik, kita sudah memiliki dua orang anak, dan aku tidak mau anak kita merasakan penderitaan karena perpisahan kita", ucapnya membujukku.

__ADS_1


Sebelum kamu menghianatiku dan membuat ku menderita, apa kamu tidak mengingat anak-anakmu?", tanyaku dengan nada tinggi.


" Sebenarnya ada satu rahasia yang tidak kuceritakan padamu, hal itu yang menyebabkan aku menikahi Mira", ucapnya mulai mencari alasan.


" Tidak usah banyak alasan kamu, aku tidak ajan pernah percaya lagi dengan apapun yang kamu katakan ", ucapku sambil tersenyum sinis padanya.


" Aku tidak mencari alasan ataupu berbohong, saat kamu mengandung Habib, dan usia kandunganmu sudah genap sembilan bulan, secara tidak sengaja, aku menabrak Fauzi, suaminya Mira, dan mengakibatkan kematian suaminya Fauzi. Saat itu, aku hanya mengingat dirimu dan Syakira, aku takut, jika aku dipenjara, kalian akan menderita, jadi Mira mengajukan persyaratan padaku untuk menikahinya walau secara siri, agar aku tidak dipenjara, karena bingung dan tertekan, aku mengiyakan semua syarat yang diajukan oleh Mira", ucapnya dengan penuh keyakinan.


" Itu memang sudah taqdir dari Allah SWT, da Wala kamu menikahinya secara siri, kamu sangat bahagia bersamanya, karena aku tahu, kamu sangat mencintainya, aku hanyalah istri yang tidak dianggap bagimu selama ini, hanya sebagai pelengkap hidupmu saja, bukanlah pendamping hidupmu", ucapku sambil menatap matanyam.


" Itu tidak benar dek, kalian sangat berharga bagiku, ku akui belakangan ini, aku memang tidak memperhatikan kalian, tidak memenuhi kebutuhan kalian, aku memang salah, tolong berikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki diri dan semua kesalahanku, aku akan membahagiakan kalian sepenuh hatiku", ucapnya dengan penuh keyakinan.


" Nasi sudah menjadi bubur, dulu kamu kuberikan kesempatan kedua, dan tidak ada lagi yang ketiga, seandainya aku yang berbuat hal seperti itu,menghianatimu di belakangmu,


aku yakin kamu tidak akan pernah mau memaafkan aku, kembalilah ke rumah istri simpananmu itu", ucapku dengan tegas.


" Bagaimana dengan rumah kita yang di Medan, apa benar kamu sudah menjualnya?", tanyanya denga nada tinggi.


" Iya, aku menjualnya untuk melunasi hutang piutangku dan biaya hidupku dan anak-anakku, aku memang sudah yakin kamu akan menanyakan tentang rumah itu, dan tujuan utamamu memang untuk rumah itu bukanlah untuk kami", ucapku sambil tersenyum sinis padanya.


" Minggu depan, silahkan kamu tunggu surat panggilan dari pengadilan agama negeri yang ada di Sipirok, dan aku harap kamu tidak usah datang, agar urusan perceraian kita cepat selesai, dan selamat menderita tanpa harta dengan istri simpananmu yang tercinta itu", ucapku sambil beranjak pergi menuju kamar tidurku dengan membawa anak-anakku.


" Tunggu dulu dek, aku tidak mau menerima keputusanmu, anak-anak akan tinggal bersamaku, aku tidak rela kamu mengambil semua hartaku, yaitu: anak-anakku", ucapnya dengan nada tinggi sambil beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari rumah pamanku.


Setelah kepergiannya, tiba-tiba suasana di rumah pamanku menjadi hening sesaat, hanya ada suara televisi yang hidup di ruang televisi.


" Ma, sepertinya ayah sudah pergi", ucap Putriku.


" Iya, biarkan saja sayang, apa Syakira mau tinggal bersama ayah dengan ibu tiri?", tanyaku padanya.


" Ga mau ma, Kira maunya tinggal sama mama, kata orang, mama tiri itu jahat ma", ucap putriku sambil memeluk tubuhku.


" Ga sayang, tidak semua mama tiri itu jahat, menurut mama ada juga mama tiri yang baik, bahkan kasih sayangnya terhadap anak tirinya melebihi ibu kandung ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Pokoknya Kira maunya tinggal sama mama ", ucapnya sambil memelukku dengan erat.

__ADS_1


" Iya sayang, Kira tinggal sama mama aja ya, adek juga, karena mama tidak bisa hidup tanpa kalian", ucapku sambil memeluknya dan mencium pipi mereka satu persatu.


Seperti ibu kandungku, yang lebih menyayangi anak tirinya melebihi anak kandungnya sendiri, ucapku dalam hati.


" Ani", panggil Bibiku.


" Iya Bi", jawabku sambil membuka pintu kamar.


" Kalian udah makan siang?", tanya Bibiku.


" Udah tadi siang Bi, di rumah makan Sadabuan tadi Bi, karena Habib udah nangis-nangis tadi karena kelaparan, jadinya kami makan di rumah makan", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Apa Habib dan Syakira udah tidur?", tanya Bibi.


" Udah Bi, baru saja, mungkin mereka kecapean ", jawabku seadanya.


" Pamanmu ingin berbicara denganmu di ruang tamu untuk membicarakan tentang rencana perceraianmu dengan suamimu", ucap Bibiku.


" Baiklah Bi, ayo kita ke ruang tamu bersama", ucapku sambil menutup pintu kamar perlahan, karena aku takut anak-anakku terbangun.


" Ada apa paman?", ucapku sambil duduk di kursi yang ada di depannya.


" Apa sebaiknya kamu pikirkan dulu matang-matang tentang rencanamu untuk bercerai dari suamimu nak?", tanya pamanku.


" Tidak ada lagi yang harus aku pikirkan paman, aku sudah memutuskan untuk bercerai dengan bang Izal, dan itu keputusan akhir dariku", ucapku mantap.


" Paman, tahu kamu sangat menderita dan sakit hati, tapi bagaimana dengan anak-anakmu, single mother itu sangat berat nak!", ucapnya.


" Insha Allah, aku akan berusaha untuk tetap kuat dan tabah paman dalam menghadapi ujian hidup ini, karena sumber kekuatanku adalah anak-anakku, dan aku ingin paman membantuku untuk mendapatkan hak asuh penuh atas anak-anakku", ucapku dengan penuh keyakinan.


" Baiklah nak, paman akan membantumu sampai akhir, semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan pertolongan-Nya kepada kita", ucap Pamanku akhirnya.


" Aamiin paman, dan terima kasih banyak atas perhatian dan dukungan dari paman dan bibi ", ucapku sambil tersenyum padanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2