Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Istikharah...


__ADS_3

" Pamanmu sedang ada urusan penting ke kantor Dinas Pendidikan, sebentar lagi dia akan pulang ke rumah", ucap bibiku.


" Nek, pisang gorengnya eenaak banget nek", ucap Syakira sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


" Kalau lagi ngunyah, ga usah ngomonglah nak, ntar keselek gimana!", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya ma", ucapnya sambil menyantap makanannya.


" Bi, kita ngobrol di kamar bibi aja yuk!, ada yang mau aku omongin sama Bibi", ajakku.


" Ya udah, ayo!", ucap bibiku sambil berlalu menuju kamarnya.


Akupun mengikutinya dari belakang.


Setibanya kami dikamarnya dan duduk di tepi ranjangnya, aku memulai pembicaraan kami.


" Bi, bang Zainal memintaku untuk menikah dengannya, bagaimana menurut Bibi?", tanyaku.


" Kalau menurut bibi, Zainal itu orangnya baik, walau jarak dari umur kalian sangat jauh, tapi bibi yakin, kalau dia akan menjadi imam yang baik untukmu, apalagi dia sangat respect terhadap anak -anakmu", ucapnya.


" Iya Bi, kuakui memang bang Zain orangnya baik dan respect terhadap anak -anakku, dan aku nyaman setiap kali kami bersama, tapi rasa suka dengan rasa cinta, sangatlah berbeda!", ucapku.


" Maksudnya apa nak?", tanyanya.


" Aku mencintai orang lain Bi, cinta kami dulu, mungkin bibi masih ingat dengannya!", ucapku.


" Siapa namanya?", tanyanya.


" Namanya Azam, Bi!", ucapku.


" Pacarmu waktu di SMA dulu ya, yang orangnya ramah dan baik, dan sering ngantar kamu kesini dulu?", tanyanya.


" Iya Bi, Bibi masih ingat kan sama Azam!", tanyaku.


" Iya, Bibi masih ingat donk, tiap kali kamu diantar sama dia, wajahmu selalu terlihat bahagia, sejak itu, bibi udah tahu kalau kalian pacaran, walau kamu ga pernah mau cerita sama bibi", ucapnya.


" Malulah Bi!", ucapku.


" Sekarang dia ada dimana ?, dan gimana kabarnya?", tanyanya.


" Itulah Bi, sebulan yang lalu, sewaktu kami sempat komunikasi melalui WhatsApp, kapal tengker tempat dia bekerja sedang berlabuh di pelabuhan yang ada di Inggris, dan setelah itu, aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, nomor handphone ataupun email-nya ga bisa kuhubungi, sepupunya yang bernam Putri, teman satu kampusku dulu, ga bisa dihubungi, aku jadi bingung Bi", ucapku dengan nada khawatir.


" Emangnya kamu jawab apa sama si Zainal?", tanyanya.


" Aku minta waktu tiga hari bi, untuk mengambil keputusan apakah aku mau menikah dengannya atau tidak ", ucapku.


" Cepat juga nak waktunya, kamu kok buru-buru gitu nak!, bibi juga bingung mau bantu kamu apa, kalau kamu memang suka dan nyaman sama dia, yah!, kalian nikah aja!, ngapain nungguin hal yang tidak pasti seperti Azam, kabarnya pun tidak ada, apa kamu mau bimbang terus kayak gitu!", ucap bibiku.


" Iya juga sih Bi, tapi aku tanya paman dulu ya!", ucapku.


" Ngapain kamu tanyain Pamanmu, yang mau menikah dan menjalani pernikahan itu kan kamu nak!, jadi kamu pikirkan matang-matang dulu, kalau soal Cinta, bisa muncul di saat sudah menikah nanti!", ucap bibiku.

__ADS_1


Aku terdiam mendengar perkataannya. Apa benar, rasa Cinta bisa muncul setelah kami menikah nanti?, bagaimana dengan janjiku kepada Azam?, tanyaku dalam hati.


" Nek!, kakek udah pulang!", ucap Habib sambil mengetuk pintu kamar Bibiku.


" Iya Bib, ntar lagi kami datang", ucapku.


Beberapa menit kemudian, kami menemui Paman di ruang tamu sedang beristirahat.


" Udah lama pulangnya paman?", tanyaku.


" Baru aja nak, paman tadi ada urusan penting di kantor Dinas Pendidikan", ucapnya.


" Urusan penting apa paman?", tanyaku.


" Paman, mau ngurus berkas persyaratan untuk menjadi kepala sekolah", ucapnya.


" Apa urusannya sudah selesai paman?", tanyaku lagi.


" Alhamdulillah, urusannya cepat selesai, karena ada bantuan dari temannya Paman yang ada di kantor itu", ucapnya.


" Syukurlah, kalau begitu paman", ucapku.


" Ani mau bicarain hal penting sama paman, bisa kan?", tanyaku.


" Ngomong aja nak!", ucapnya.


" Paman sudah kenal sama bang Zainal kan?", tanyaku memastikan.


" Iya paman", ucapku.


" Emangnya ada apa dengan si Zainal itu?", tanyanya penasaran.


" Bang Zainal melamar aku untuk menikah dengannya, bagaimana menurut paman?", tanyaku.


" Kok malah nanya paman, kamunya gimana nak, kalau kamu memang suka dan yakin dia bisa menjadi imam yang baik untuk kamu dan anak -anakmu, kamu terima aja lamarannya, tapi kalau kamu masih ragu, sholat istikharah aja, biar hatimu lebih yakin, minta petunjuk dari Allah, karena hanya Allah yang bisa membantumu dalam mengambil keputusan yang tepat untuk hidupmu dan anak -anakmu!", ucapnya.


" Maksudku, bagaimana penilaian paman tentang karakternya bang Zainal?", tanyaku.


" Menurut Paman, dia orangnya baik dan bertanggung jawab, Paman yakin dia bisa menjadi imam yang baik untuk kamu dan anak-anakmu", ucapnya.


" Baiklah Paman, aku hanya ingin mendengar hal itu dari paman dan bibi, soal keputusan akhirnya, nanti aku beritahukan kepada Paman!", ucapku.


" Iya nak, semoga Allah SWT senantiasa meridhoi pernikahan kamu nantinya!", ucap Pamanku.


" Amin paman", ucapku.


Sore ini, setelah sholat ashar di rumah pamanku, kamipun bersiap -siap untuk pulang ke rumah kami.


" Apa cucu nenek ga menginap malam ini?", tanya Bibiku.


" Ga nek, lain kali aja ya nek kami nginapnya!", jawab Syakira.

__ADS_1


" Iya nek, Habib kan masih ujian semester akhir, jadi takut ngerepotin mama, kalau bolak-balik jemput kesini, ntar kalau udah libur sekolah, kami akan nginap di rumah nenek ", ucapnya.


" Okelah kalau begitu!", ucap bibiku sambil mengacungkan jempolnya kepada Habib sambil tersenyum.


Setelah berpamitan, kami pun kembali ke rumah kami dengan menaiki motor matic kami.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami. Setelah memarkirkan motor matic kami, aku bergegas turun dari motor dan berjalan menuju pintu rumah untuk membukakannya.


Kamipun bergegas masuk ke dalam rumah. Kami beristirahat sejenak di ruang tamu.


" Ma, kita masak apa untuk makan malam?", tanya Syakira.


" Apa Kira mau bantu mama masakin mie goreng dan telur dadar?", tanyaku.


" Oke ma, Kira aja yang masakinnya!", ucapnya.


" Syifa bantu ya kak!", ucapnya.


" Ga usah dek, Syifa nonton tv aja sama Abang Habib ya!", ucapnya sambil berlalu menuju dapur.


Aku bergegas menuju kamar tidurku untuk merebahkan tubuhku.


Aku mengambil ponselku dan menghubungi nomor handphone Azam dan Putri secara bergantian.


Hasilnya tetap sama, tidak bisa dihubungi.


Akupun tertidur lelap, karena mengantuk dan lelah memikirkan Azam.


Aku terbangun, karena suara Syakira yang memanggilku.


" Ma!, makan malamnya udah Kira masak, kita tinggal menikmatinya saja ma!", ucapnya dengan suara keras.


" Iya sayang", ucapku dengan suara keras pula sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurku.


Setelah mencuci wajahku, aku keluar dari kamarku , dan menemui anak-anakku di ruang tv.


Mereka sedang sibuk menonton film upan dan opon kesukaan mereka sambil makan keripik singkong yang ada di toples.


" Mama ketiduran ya?", tanya Syakira.


" Iya sayang, padahal udah mau Maghrib, untunglah Kira manggil mama tadi!", ucapku.


Setelah adzan magrib berkumandang, kami bergegas melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.


Selesai sholat, kamipun makan malam bersama.


Setelah makan, kamipun melanjutkan acara nonton film sinetron sambil menikmati minuman teh hijau yang kubuatkan untukku dan anak-anakku.


Waktu pun berlalu, kami melewati hari -hari dengan bahagia.


Semoga kami selalu bersama selamanya, doaku dalam hati sambil tersenyum melihat anak-anakku yang sudah tertidur lelap di kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2