Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Akhirnya...


__ADS_3

Beberapa jam kemudian kami tiba di loket bus Gunung Tua. Suamiku memberikan ongkos kami ke pak sopir. Setelah memeriksa kelengkapan barang bawaan kami, suamiku memanggil becak motor untuk membawa kami ke rumah.


Beberapa menit dalam perjalanan, kami tiba di depan rumah. Setelah membayar ongkos becak, kami bergegas masuk ke dalam rumah, yang kebetulan pintunya tidak dikunci. Suamiku membawa koper kami ke dalam kamar kami. Aku segera melepaskan jilbabku dan mengganti pakaianku dengan piyama.


Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Selesai sholat, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, karena aku merasa lelah. Ketika aku terlelap dalam tidur, aku tidak tahu suamiku pergi kemana.


Aku tertidur selama tiga jam, dan aku terbangun, karena ada suara ribut-ribut dari luar rumah. Dengan mata mengantuk, aku mengambil jilbabku dan bergegas menuju pintu rumah untuk memastikan siapa yang ribut di luar rumah kami.


Aku melihat adik iparku sedang bertengkar dengan seorang gadis remaja saling menjambak rambut. Aku kasihan melihat adik iparku yang tidak berdaya, karena kondisinya yang cacat, sungguh tidak wajar, orang cacat fisik seperti dia diperlakukan semena-mena.


" Hey, hentikan perbuatanmu itu", teriakku berusaha melerai pertikaian mereka. Seketika itu, adik iparku berhenti, sedangkan lawannya mengambil kesempatan untuk menyakitinys dengan menggunakan batu yang ada di dekatnya, mungkin dia sudah kerasukan setan, sehingga sanggup berbuat seperti itu.


Aku berusaha untuk menolong adik iparku agar dia tidak terluka, tapi aku kalah cepat dengan gerakan si gadis yang tidak punya akal sehat itu, sehingga menyebabkan kepala adik iparku. Aku menjerit melihat darah yang keluar dari kepalanya.


" Tooloong... Tooloong", teriakku meminta perlindungan kepada para tetangga, karena saat itu terjadi, para tetangga sedang sibuk di rumah masing-masing.


Para tetangga segera keluar dari rumah mereka dan menolong kami, mereka segera mengamankan si gadis pelaku penganiayaan, sedangkan yang lainnya membantuku untuk membawa adik iparku menuju puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama dari Tenaga Medis.


Aku tidak mengingat suamiku saat itu, karena panik melihat adik iparku. Saat tiba di puskesmas barulah aku ingat suamiku, tapi hp ku ketinggalan di kamar, akhirnya aku menitip pesan pada tetangga yang menolongku untuk menyuruh suamiku datang ke puskesmas.


Si penganiaya, sudah diinterogasi di kantor kepala desa, karena kami belum bisa memberikan keterangan kepada pak kepala desa.

__ADS_1


Adik iparku mendapatkan penanganan yang tepat, sehingga lukanya tidak bertambah parah. Kulit kepalanya mendapatkan lima jahitan, akibat perbuatan si penganiaya.


Aku mencoba menghiburnta, agar dia tidak sedih dan menangis lagi, tapi sepertinya karena aku kurang mengerti bahasanya, dia susah untuk dihibur. Aku miris melihat penderitaan yang dialaminya, seharusnya dia dikasihi bukan dianiaya seperti itu.


Beberapa jam kemudian, suamiku dan Ayah mertuaku, datang ke puskesmas untuk melihat keadaan adik iparku. Karena lukanya tidak terlalu parah, sehingga sebelum Maghrib tiba, adik iparku sudah dibolehkan pulang oleh dokter yang bersangkutan.


Setelah kami tiba di rumah, kami melihat pak kepala desa sudah menunggu kami di teras rumah. Dia datang untuk membicarakan tentang masalah penganiayaan yang menimpa adik iparku.


" Si pelaku sudah kami amankan di kantor kepala desa nak", ucap pak kepala desa.


" Sebaiknya Adik kalian harus ikut memberikan keterangan di kantor kepala desa, dan kita akan mencari solusi yang tepat dan yang terbaik untuk kita semua", ucapnya menambahi.


"Baiklah pak kepala desa, kami akan segera datang ke kantor kepala desa untuk membicarakan masalah ini, jujur saja, aku ingin si pelaku dihukum sepantasnya, karena sudah menganiaya adikku ", ucap suamiku emosi.


Kami masuk ke dalam rumah, karena waktu Maghrib, untuk melaksanakan sholat Maghrib. Selesai sholat Maghrib, kami makan malam bersama di ruang tengah, sambil membicarakan tentang rencana kami untuk mencari solusi yang tepat.


Karena pikiran kami sedang terbebani, kami kurang menikmati makanan yang kami makan.


Selesai makan, kami bergegas bersiap untuk pergi ke kantor kepala desa.


Jarak Kantor kepala desa tidak terlalu jauh dari rumah kami, kami berjalan kaki menuju kesana, sedangkan ayah mertuaku tinggal di rumah, karena kami takut penyakit darah tingginya bisa kambuh, akibat masalah ini.

__ADS_1


Selama lima belas menit berjalan, kami tiba di depan kantor kepala desa, dan sudah banyak penduduk yang hadir di dalam ruangan musyawarah yang ada di kantor kepala desa ini.


" Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh, berhubung nak Izak dan korban penganiayaan sudah hadir di dalam ruangan ini. Mari kita mulai musyawarah ini" ucap sekretaris desa mewakili pak kepala desa.


" Menurut penuturan si pelaku, si korban yang terlebih dahulu mengajaknya bertengkar, sehingga untuk membela dirinya, dia harus memukul korban dengan batu, sehingga menyebabkan kepala korban terluka", ucap pak kepala desa.


" Bohong, dia bohong pak kepala desa, yang sebenarnya terjadi, tidak seperti itu", ucapku sambil emosi mendengar pengakuan si pelaku.


" Jadi, kami belum mendengar pengakuan dari si korban, karena berhubungan dia tuna rungu, kami sudah menyiapkan seseorang yang mengerti dengan bahasanya dan bisa menjelaskannya pada kita semua", ucap pak kepala desa.


" Bagaimana kejadian yang sebenarnya", tanya pak kepala desa kepada adik iparku.


Aku melihat dia menggerakkan tangannya untuk memperagakannya, aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.


" Katanya, si pelaku melihat Izal memberikan uang seratus ribuan kepadanya, dan si pelaku mencoba merebut uang itu dari si korban, karena ingin mempertahankan uangnya, hak miliknya, dia menjambak rambut si pelaku, karena tenaga si pelaku lebih kuat dari tenaganya, dia dikalahkan oleh si pelaku, tapi saat dia hampir kalah, uangnya hampir didapatkan si pelaku, kakak iparnya berteriak menengahi pertengkaran mereka, saat dia berhenti ingin melihat kakaknya, si pelaku menyakitinya dengan sebuah batu, dan mengenai kepala sampai terluka dan berdarah", ucap si penerjemah.


" Jadi menurut nak Izal, bagaimana solusi yang terbaik, si pelaku masih muda, jika kita melaporkannya ke polisi, dan memenjarakannya, kemungkinan dia akan memiliki masa depan yang makin suram, tapi jika kita memberikannya kesempatan untuk berubah, mungkin dia bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi ", ucap pak kepala desa dengan bijaksana.


Kami terdiam mendengar perkataan pak kepala desa, padahal saat di rumah, kami memutuskan untuk memenjarakannya, tapi saat mendengar perkataan pak kepala desa, kami jadi berubah pikiran.


Menurut kalian, apa solusinya yang terbaik ya, agar memberikan efek jera kepada si pelaku, tanpa membuat masa depannya semakin suram dan tidak menyakiti hati orang tuannya dan sanak saudaranya...?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2