
POV. Ani
Pagi hari pun tiba...
Saat adzan shubuh berkumandang, aku terbangun dari tidurku. Aku melihat tangan bang Izal masih melingkar di pinggangku.
Perlahan ku angkat tangannya dari pinggangku, saat meletakkan tangannya, dia terbangun dan berkata " Selamat pagi sayang", aku tidak membalas ucapannya, karena hari ini aku memperhatikan misi untuk memberi bang Izal pelajaran berharga, agar dia lebih mengutamakan menjaga dan menghargai perasaanku daripada orang lain, kayak wanita ganjen Najwa.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk sholat shubuh.
Setelah berpakaian, aku mengambil mukenah untuk sholat subuh, dan aku tidak menunggu bang Izal.
Selesai sholat, aku melihat bang Izal tersenyum padaku, dan aku hanya diam saja, tidak membalas senyumannya, dan dia segera menghampiriku, sebelum dia mendekatiku, aku langsung berdiri dan melipat mukenahku, dan memakai jilbabku.
" Aku ke dapur dulu bang, bantuin bibi masak, lagian sebentar lagi mempelai prianya akan tiba", ucapku sambil meninggalkannya di kamar.
Dia terpaku dan terus menatapku, kemudian dia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk sholat shubuh.
Aku keluar dari kamar, dan segera menuju dapur, pastinya bibi dan neneku sudah ada di dapur setelah sholat shubuh.
" Pagi nek..bi", sapaku sambil tersenyum padanya,
" pagi Ni..!", jawab mereka bersamaan.
" Gimana Izal, udah bangun?", tanya bibiku,
" Iya bi, sudah, sejak dari tadi dia selalu mencoba membujukku, aku ingin ngasih pelajaran sama bang Izal bi, biar dia tau rasanya dicuekin tu gimana", ucapku penuh semangat.
" Yah, tapi jangan keterlaluan ya nak, kalau tugasmu sebagai istr, harus tetap kamu lakukan sebaik-baiknya", ujar bibiku.
" Apa paman dan bibi pernah berantem kayak kami seperti ini?", tanyaku penasaran.
__ADS_1
" Setiap rumah tangga, tidak akan pernah luput dari masalah, baik ekonomi, wanita, atau anak, yang penting kami selau mengingatkan dan saling percaya,dan saling menghargai, bibi juga sering melakukan hal yang serupa seperti yang Ani lakukan ini, pastinya pamanmu tidak akan bisa tenang, kalau hubungan kami tidak kembali seperti biasanya, dan pamanmu yang akan sellau mengalah pada bibi", ujarnya sambil tersenyum padaku.
" Mempelai pria nya jam berapa nyampe ke rumah ini nek?", tanyaku pada nenekku.
" Katanya paling lambat jam 8 pagi, karena, kata penghulu jam 9 pagi adalah waktu yang baik untuk akad nikah", ucap nenek.
" Menu masakan untuk acara hari ini, apa aja bi?, kue-kue nya gimana?", tanyaku lagi,
" Menu untuk acara hari ini yah seperti biasa, rendang daging, ayam goreng Kalasan, buncis tumis tauco, sambal terasi,dan ikan teri kacang, kuenya nanti jam 7 akan diantar oleh tetangga tempat bibi mesan dua hari yang lalu", ucap bibi menjelaskan.
" Wow, enak donk, semua menu nya kesukaanku, pasti enak, karena bibi dan nenek yang masak", ucapku sambil tersenyum.
" Jadi, aku ngerjain apa bi?", tanyaku lagi,
" Ani tugasnya ngelap piring-piring yang baru di cuci itu ,agar cepat kering, dan menyusunnya di atas meja yang ada di teras, untuk acara makan siang nanti, tapi jangan angkat banyak-banyak, Ani kan lagi hamil, atau minta bantuan suamimu aja nanti untuk mengangkatnya", ucap bibi sambil tersenyum.
" Ga usah lah bi, aku angkat sedikit demi sedikit aja nanti piring-piringnya" , ucapku sambil tersenyum, karena aku tau makasih bibi untuk apa.
" Dek, bikinin teh manis buat abang, sekalian antar ke teras ya dek", ucap bang Izal tersenyum padaku.
Aku letakkan gelas teh maninya di atas meja,
" Makasih ya sayang", ucap bang Izal sambil tersenyum, aku diam saja dan berlalu menuju dapur kembali.
Selesai melap piring, aku mulai mengangu piringnya sedikit demi sedikit ke teras dan menyusunnya di atas meja sesuai perintah bibiku.
Karena melihatku bolak -balik, bang Izal langsung membantuku mengangkat piring-piringnya, karena dia tidak mau aku capek dan mengangkat barang-barang yang berat.
Di saat aku sedang menyusun piring di atas meja, bang Izal bertanya" Apa Adek masih marah sama abang?",
" Ga bang", jawabku dengan singkat.
__ADS_1
Tiba-tiba, si Najwa udah duduk di samping suamiku, mungkin dia memang sengaja mau manas-manasin aku,
" Bang Izal udah lama bangun ya?", tanyanya pada suamiku,
" Dek, abang masuk dulu ke dalam, ada yang mau abang kerjain sama om di belakang", ucap bang Izal padaku sambil bergegas masuk ke dalam rumah, tanpa menjawab pertanyaan si Najwa, ganjen.
Kulihat dia mau mengejar dan menghampiri suamiku, aku langsung berteriak padanya" Hey wanita ganjen, apa kamu ga punya harga diri, ngejar-ngejar suami orang pagi-pagi, didepan istrnya sendiri, emang ya kamu itu ga punya hati, masih banyak laki-laki lajang di dunia ini, kenapa kamu harus mengejar suamiku", ucapku dengan lantang padanya, karena kesabaran itu ada batasnya, dan dia di diamin, semakin melonjak, dasar wanita ganjen.
Dia tersentak dan menghampiriku dan berkata" Bang Izal itu lebih pantas untukku, karena dia terlalu sempurna untuk kamu miliki, wajahku jauh lebih cantik daripada wajahmu, aku lebih dari segalanya dibandingkan dirimu, kamu beruntung lebih dulu bertemu dengan bang Izal, tapi aku akan berusaha untuk menjadikan dia milikku, buktinya tadi malam kami mengobrol lumayan lama, dan kulihat bang Izal nyaman dan suka padaku", ucapnya sambil tersenyum bangga padaku.
plaak..
pluuk..
Kulihat kak Khadijah menampar wajah si Najwa, ternyata dari tadi kak Khadijah sudah berdiri di belakang Najwa, karena tubuh Najwa lebih tinggi dari tubuhku, aku jadi tidak tau kalau kak Khadijah sudah dibelakangnya.
" Kenapa kamu menamparku Khadijah?, adikmu yang duluan menghinaku", ucapnya sambil memegangi pipinya yang di tampar kak Khadijah.
" Kamu memang pantas untuk di hina dan direndahkan Najwa, karena sesama manusia aja kamu tidak punya hati, apalagi sesa perempuan, berani sekali kamu mau menyakiti adikku sedangkan aku masih ada disini, walau Ani bukan adik kandungku, tapi aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, aku tidak menyangka kalau kamu adalah wanita berhati iblis, pergi kamu dari rumah kami ini, aku menyesal berteman dengan manusia seperti kamu", ucap kak Khadijah dengan lantang padanya.
Seketika itu, Najwa pergi dari rumah ini tanpa sepatah katapun.
" Maafkan kakak ya Ani, ini semua salah kakak, kakak pikir dia hanya ingin berteman dengan Izal, makanya kakak biarkan dia menginap disini", ucap kak Khadijah dengan rasa bersalah padaku,
" Ga kak, kakak ga salah dalam hal ini, ini semua salah Najwa yang keganjengan mau menggoda bang Izal, dan terimakasih atas pembelaan kakak padaku tadi, aku tidak menyangka kalau Kakak akan menampar wajahnya demi membelaku", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Kita kan keluarga, kita harus saling melindungi satu sama lain, Ani mau kan nganggap kk Khadijah sebagai kk kandungnya Ani sendiri?", tanya kak Khadijah,
" Iya, mau lah kk, siapa yang tidak mau punya kk sebaik kak Khadijah", ucapku sambil tersenyum padanya.
Ini semua gara- gara bang Izal, kalau dia tidak merespon si Najwa, dia tidak mungkin berani berkata kasar padaku, sungutku di dalam hati.
__ADS_1
Misi dilanjutkan, tunggu ya bang Izal...
Bersambung...