
Beberapa jam di dalam perjalanan, kamipun tiba di kota Gunung Tua. Setelah turun di loket minibus, kamipun menaiki becak motor untuk membawa kami ke rumah kami.
Setelah tiba di depan rumah, kami turun dari becak motor dan membayar ongkos kirim kepada sopir becak motor yang kami naiki.
" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah kami.
" Wa alaikum salam", jawab ayah mertuaku sambil membuka pintu rumah kami.
Kami segera masuk ke dalam rumah sambil menyalami ayah mertuaku.
Aku bergegas menuju ke kamar tidur kami, sedangkan suamiku di ruang tamu dengan ayah mertuaku.
Aku melepaskan jilbabku, dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, karena aku merasa kelelahan. Akhirnya, aku tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingku.
Dua jam berlalu, aku dibangunkan oleh suamiku untuk sholat ashar. Aku menggeliatkan tubuhku yang masih terasa capek. Aku duduk dan bersandar ke dinding kamar tidur.
" Sayang udah selesai sholat?", tanyaku.
" udah sayang, tadi selesai adzan, Abang langsung sholat, baru Abang bangunin Adek untuk sholat ", jawabnya sambil tersenyum padaku.
Aku beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat ashar.
__ADS_1
Setelah sholat, aku kembali ke dapur untuk memasak makan malam. Aku melihat masih ada sambal ikan teri nasi di dalam lemari, dana ada sayur rebusan bayam, mulai asyik iparku yang memasaknya tadi, ucapku dalam hati.
Sejak kami tiba, dari tadi aku tidak melihat adik iparku, apa dia sedang bermain ke rumah tetangga kami?, tanyaku dalam hati.
Aku bergegas menuju ke kamar tidur kami untuk menemui suamiku.
" Marni kemana sayang?"tanyaku.
" OOO, dia lagi kusuruh belanja kebutuhan dapur, karena dia bilang, bahan-bahan makanan sudah hampir habis", jawabnya.
" Kapan Abang ngambil tiket bus untuk balik ke Medan?", tanyaku.
" Nanti malam aja dek, kita kan berangkatnya besok malam", ujarnya.
" Iya sayang, karena gak mungkinlah Marni tinggal disini sama ayah, kata ayah, dia capek jalan bolak balik ke pemondokan kalau malam, apalagi dia harus mengawasi hukuman yang sedang dijalani oleh si Mawar, putri kepala desa ini", ujarnya lagi.
" OOO, iya, udah Giman si Mawar itu", tanyaku.
" Menurut Ayah, dia melakukan hukumannya dengan baik, karena sudah mendapat peringatan dari ayahnya sendiri ", ujarnya lagi.
" Baguslah kalau begitu, semoga Mawar bisa berubah menjadi orang yang lebih baik lagi, dan tidak menyusahkan atau mempermalukan orang tuanya lagi", ucapku sambil tersenyum padanya.
__ADS_1
" Semoga saja dek, karena aku kasihan melihat wajah sedih ayahnya dulu, karena perilaku buruknya", Ucapnya.
" Iya, padahal Pak Putin, orangnya baik dan bijaksana, ternyata dia memiliki anak perempuan liar dan bandel seperti itu ", ucapku geram mengingat perlakuannya pada adik iparku.
" Iya dek, terkadang ujian hidup kita itu berbeda, ada yang di uji ekonomi, keluarga, bahkan anak, yang penting kita harus optimis dan Sabar dalam menghadapi ujian hidup yang dialami ", ucap suamiku sambil tersenyum.
" Semoga anak kita kelak, menjadi anak yang Sholeh dan berbakti kepada orang tuanya, agama, Nusa dan bangsa ", ucapku sambil mengelus perutku.
" Aamiin ", ujar suamiku menimpalinya sambil mengelus perutku.
Beberapa menit kemudian, Marni sudah kembali dari warung. Aku bergegas menuju dapur untuk melihat apa saja yang dibelanjakannya.
Aku membantunya memasukkan bahan makanan ke dalam lemari yang sudah kosong.
Setelah itu, aku memasang telur dadar kesukaan suamiku, sebagai menu tambahan untuk makan malam kami nantinya.
Selesai memasak, aku membersihkan dapur dan mencuci peralatan masak. Setelah itu, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang lengket karena berkeringat.
Aku merasa tubuhku menjadi segar dan bugar, setelah mandi. Setelah memakai pakaianku, aku menemui suamiku yang sedang duduk di teras rumah sambil mengobrol dengan seorang temannya yang tidak kuketahui namanya.
Aku....
__ADS_1
Bersambung...