Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Perpisahan yang tidak terduga... part.3


__ADS_3

POV. Izal


Saat ini, aku sedang merebahkan tubuhku di atas ranjang kamar penginapan yang sudah ku booking.


Aku tersenyum mengingat perkataan putriku Syakira tadi siang, menurutku dia terlalu banyak menonton film sinetron, sehingga dia menjadi dewasa sebelum waktunya.


Tapi, hatiku tersentil dengan perkataannya tentang " Pria Sejati", kuakui, aku bukanlah pria sejati seperti yang diinginkan oleh Ani, karena aku tidak pernah menepati janjiku untuk membahagiakannya selama kami berumah tangga.


Seberapa keras pun aku berusaha untuk memperbaiki segala yang sudah kuhancurkan, tidak ada hasilnya, karena tidak mudah untuk memperbaiki hati yang sudah hancur lebur, seperti hati Ani saat ini.


Kenapa semua rasa cinta yang kurasakan saat ini, tidak kusadari sejak dulu, apa aku terlalu buta dengan kenikmatan duniawi yang diberikan oleh Mira padaku. Jujur saja, jika menyangkut soal nafsu, aku merasa puas dengan Mira, tapi Sola kenyamanan, ketenangan jiwa, aku sangat memerlukan Ani, apakah aku terlalu rakus dan egois, jika aku menginginkan keduanya menjadi milikku?, ucapku dalam hati.


Akupun tertidur lelap dalam suasana hati yang penuh tanda tanya.


Kembali ke topik utama ya guys...


Hari ini, rencananya kami akan bermain ke plaza yang ada di Kota Sidempuan ini. Namanya plaza TCA, aku tidak tahu kepanjangan apa, yang penting aku tahu nama plazanya.


Pagi ini, rumah pamanku dibuat heboh oleh Putriku Syakira, saking bahagianya, semua orang terbangun pagi ini karena ulahnya yang melompat kegirangan, karena pagi telah tiba.


" Aasyyiik.. udah pagi...", ucapnya sambil berteriak-teriak.


Setelah puas, dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi, dia sibuk memilih pakaian yang akan dia pakai untuk hari ini.


" Maa..aku pakai baju apa ya?", tanyanya padaku dengan suara keras, karena aku sedang di dapur memasak sarapan pagi, nasi goreng kampung, dan mie goreng pakai telur .


" Terserah kakak aja mau pakai baju apa sayang, liat aja di tas", ucapku dengan suara keras pula.


Alhasil, rumah pamanku pagi ini seperti di pasar aja, hehehe...


Selesai memasak, aku menata makanannya di atas meja makan.


" Udah selesai nak?", tanya Bibiku.


" Alhamdulillah, sudah Bi, kalau soal masak nasi goreng dan mie goreng, itu ga repot kok Bi, Bibi fokus aja sama adekku", ucapku sambil tersenyum padanya.


Selesai menata makanan di atas meja, aku menutupnya dengan tudung saji, agar tetap bersih.


Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk melihat putriku Syakira dan Habib putraku.


" Udah selesai pake bajunya sayang? ", tanyaku.


" Iya Ma, Kira cantik kan?", tanyanya dengan wajah penasaran ingin mendengar komentarku.


" Iya donkz, putriku yang paling cantik sedunia ", ucapku sambil mencium pipinya.


" Sini mama sisirin rambutbya mau dikepang ga?", tanyaku.


" Iya ma, dikepang dua aja ya Ma, biar lebih rapi dan syaantiik..", ucapnya dengan gaya yang menggemaskan.


Aku mencubit hidungnya dengan spontan, karena gemas melihat tingkahnya.


Selesai mengepang rambutnya, aku merias wajahnya dengan menggunakan bedak bayi, dan memakaikan lipgloss ke bibirnya.


" Subhanallah.. syaantiik banget putriku ini", ucapku sambil memeluknya.


" Makasih ya ma", ucapnya sambil mencium pipiku.


" Sama-sama sayang ", ucapku.


" Adek sama mama pake baju apa?", tanyanya.


" Tenang saja sayang, pastinya apapun yang akan adek pakai, pasti adek kelihatan ganteng, kalau mama pakai gamis aja seperti biasanya ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya ma, apapun yang mama pakai, mama tetap cantik kok", ucapnya sambil memelukku.


" Kakak nonton tv aja dulu, mama mau mandiin adek dulu", ucapku sambil berlalu menuju kamar mandi sambil menggendong putraku Habib.


Selesai mandi, aku memakaikan kemeja berwarna biru dan celana jeans hitam untuk putraku, sedangkan aku memakai gamis berwarna pink dan jilbab pashmina warna peach.


Selesai bersiap -siap, kami berjalan perlahan menuju ruang tamu, karena aku mendengar suara Syakira yang sedang bercerita dengan semangatnya kepada ayahnya.


" Ayo sarapan dulu", ajak pamanku kepada bang Izal.


Pagi ini, kami sarapan bersama dengan lahapnya.


Selesai sarapan, kami beristirahat sejenak di ruang tamu.


" Rencananya kalian mau berwisata kemana hari ini?", tanya Bibiku.

__ADS_1


" Aku maunya wisata ke Sibio-bio duluan ya Yah, baru kita ke plaza", ucap Syakira dengan semangat.


" Iya, terserah tuan putri saja.


" Emangnya ada apa aja di Sibio-bio?", tanyaku penasaran, karena aku belum pernah kesana.


" Temanku yang cerita ma, disitu ada taman bermain, penginapan, kolam renang, kolam ikan, dan makanannya enak-enak ma, cuma aku saja di kelasku yang belum pernah main kesana ma", ucapnya dengan nada sedih.


" Ooh.. nanti ga lagi kan, Kita juga akan wisata ke Sibio-bio, biar Kira ga sedih lagi", ucap bang Izal sambil tersenyum.


" Ayo berangkat, nanti kita kesorean pulangnya ", ucapku.


Kami pun keluar dari rumah, setelah berpamitan dengan paman dan bibi, kami masuk ke dalam mobil.


Aku duduk di belakang Syakira, dan Habib duduk bersamajy, sedangkan Syakira di depan bersama ayahnya.


Setelah menghidupkan mesin mobil, bang Izal melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju wisata Sibio-bio.


" Kenapa mama bawa tas, emang isinya apa ma?", tanya Syakira memulai pembicaraan.


" Isinya pakaian ganti kakak sama adek, sekalian cemilan sama minuman, tadi dikasih nenekmu", ucapku sambil tersenyum.


" Ooh, Kira pikir Mama bawa apaan", ucapnya sambil cekikikan.


* Ngomong -ngomong, sarapan pagi ini lezat ya Kira", ucap bang Izal.


" Iya Yah, mama yang masak lho, aku suka banget makan masakan mama, selalu enak siih...!", ucapnya.


Aku tidak menanggapi percakapan mereka, aku pura-pura sibuk mengurus Habib yang sibuk celingak-celinguk melihat pemandangan dari kaca mobil.


Satu jam kemudian, akhirnya kami tiba di tempat wisata Sibio-bio.


Jauh juga ya ternyata tempatnya, ucapku dalam hati.


Kamipun keluar dari mobil. Kami menunggu bang Izal di bawah sebuah pohon, karena dia sedang memarkirkan mobilnya ke tempat parkir yang sudah disediakan.


Setelah bang Izal datang, kami berjalan kaki menuju gazebo yang ada di dekat kolam ikan.


Kami duduk santai sambil menikmati pemandangan dan udara yang sejuk dan segar.


" Mau mesan apa pak?", tanya seorang pelayan pada bang Izal.


Kami pun memesan beberapa menu makanan, mulai dari ikan nila manis pedas, mi goreng, kentang crispy, pisang goreng crispy, dan nasi putih dan beberapa minuman jus buah serta air mineral.


Setelah mereka puas bermain, kami berkeliling di sekitar tempat wisata dengan berjalan kaki.


Aku melihat anak -anakku mulai kecapean, dan aku segera membawa mereka ke gazebo dimana bang Izal menunggu kami.


" Gimana sayang, seru ga mainnya?", tanya Bang Izal pada Syakira.


" Seruu banget Yah, rasanya senang dan


bahagia banget bisa kesini bersama ayah dan mama", ucapnya dengan tersenyum bahagia.


Kami terdiam mendengar perkataannya, karena keadaan kami tak akan bisa mewujudkan kebahagiaan putriku lagi.


Mau gimana lagi, semuanya sudah ditakdirkan untuk menjadi seperti ini, ucapku dalam hati.


Kamipun menyantap makanan yang kami pesan satu persatu. Setelah kenyang, kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan dan musik yang kami dengar dari speaker music yang cukup keras suaranya.


Setelah membayar tagihan makanan kami, bang Izal mengajak kami berjalan menuju parkiran mobil.


Sesampainya di parkiran, kami masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh bang Izal.


Ntah kenapa, sedikitpun hatiku tidak tersentuh dengan sikapnya yang sok perhatian dan peduli itu, bagiku semula hanya palsu, sama seperti dulu sewa kami masih hidup bersama, semua kebaikan dan perhatian yang dia berikan hanyalah untuk menutupi sifatnya yang angkuh dan egois.


Bang Izal pun menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju plaza.


" Yah, nanti aku mau main game di plaza ya Yah, sekalian Ayah beliin aku sama adek boneka dan baju baru", ucap Syakira sambil tersenyum padanya.


" Iya sayang, apapun keinginan tuan putri ayah, akan ayah turuti", ucap bang Izal sambil melirikku.


Aku hanya diam saja pura-pura tidak mendengar obrolan ayah dan anak itu.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan plaza.


Setelah memarkirkan mobil di tempat parkir yang disediakan, kami masuk ke dalam plaza.


Kami menuju lantai tiga dengan menaiki eskalator.

__ADS_1


Setibanya disana, bang Izal membeli koin game nya seharga seratus ribu, dan dia memberikannya kepadaku.


Selama dua jam kami bermain game, akhirnya kami kecapean, padahal koin permainannya masih banyak belum terpakai.


Kusimpan saja di dalam dompetku, mungkin sewaktu -waktu kami akan bermain lagi kesini dan tak perlu lagi membeli koin, ucapku dalam hati.


" Gimana sayang, udah cape", ucap bang Izal pada Syakira, tapi sambil tersenyum padaku.


" Iya Yah , ayo kita beli boneka sama bajunya", ajak Syakira sambil menggenggam tangan ayahnya.


Aku menggenggam tangan Habib sambil berjalan mengikuti mereka dari belakang.


" Ayah, aku mau boneka yang berwarna pink itu, yang ukurannya jumbo, kalau adek yang berwarna biru aja", ucapnya dengan penuh semangat.


Setelah membayar boneka, kami berjalan kaki menuju toko pakaian anak - anak dan dewasa.


" Kak, aku mau beli baju gaun cantik yang berwarna pink muda itu, yang ada pitanya", ucap Syakira.


Si penjual mengambil baju yang ditunjuk putriku Syakira.


" Untuk Habib yang mana dek?", tanya bang Izal.


Aku menunjuk baju yang dipajang di etalase kaca berwarna cream dan celananya berwarna coklat tua.


" Itu aja kak, tolong diambilin", ucapku kepada si penjual.


" Pilihlah satu untukmu dek, anggap aja sebagai hadiah terakhirku", ucap bang Izal sambil tersenyum padaku.


" Tidak usah bang, aku masih punya pakaian yang bisa aku pakai di rumah ", ucapku menolaknya.


" Ayolah Ma, ambil aja baju gamis berwarna merah maroon itu", ucap Syakira sambil menunjuk baju yang dipajang di etalase kaca.


" Iya kak, bungkus juga yang itu", ucap bang Izal.


Si penjual pun membungkus semua pakaian yang kami beli.


Setelah membayar tagihan pakaian kami. Bang Izal mengajak kami ke lantai dasar dengan menggunakan eskalator.


Kami beristirahat sejenak di sebuah warung Bakso yang ada di emperan plaza.


Ba bag Izal membeli tujuh bungkus bakso rudal untuk kami santap di rumah.


Setelah membayar tagihan makanan kami, kami berjalan menuju parkiran mobil.


Setelah membuka pintu mobil, kami masuk ke dalam mobil.


Bang Izal menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah pamanku.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah pamanku.


Kami keluar dari mobil sambil membawa tujuh bungkus bakso rudal yang dibeli oleh bang Izal.


" Assalamualaikum" ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamanku.


" Wa alaikum salam", jawab Bibiku sambil membuka pintu.


" cepat juga pulangnya nak, padahal baru jam empat sore, emang kalian tadi maen kemana aja?", tanya Bibi.


" Ke Sibio-bio sama plaza aja Bi, TU pun udah capek banget", ucapku sambil duduk di kursi tamu.


" Ini oleh-olehnya Bi", ucapku sambil menyerahkan tujuh bungkus bakso rudal tersebut.


" Banyak banget nak, siapa yang beli?", tanya Bibi


" Bang Izal Bi", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Nek, aku pulang", ucap Syakira sambil membawa bungkusan toko yang berisi pakaian dan boneka.


" Wow. Syakira borong isi plazanya ya nek?", ucap bibiku dengan gaya pura-pura terkejut.


" Mana borong nek, ntar uanag Ayahku habis, ga boleh donk, ini cuma sedikit kok nek", ucap Syakira dengan bahagia.


Kami tertawa mendengar perkataannya


Aku bergegas menuju dapur untuk mengambil mangkuk untuk wadah baksonya.


Kami menyantap baksonya dengan penuh semangat.


Akhirnya, baksonya ludes, in perut kamipun kenyang.

__ADS_1


Hari ini sangat membahagiakan untuk kami semua, jika kita melihat anak-anak kita bahagia, kita juga akan ikut bahagia.


Bersambung...


__ADS_2