Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Selalu bahagia...


__ADS_3

" Ooh, suamimu suka makanan yang pedas dan tidak banyak lemak, terkadang juga suka dengan makanan instan", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Ok Bu, terima kasih infonya, seterusnya aku akan ikut memasak makanan untuk sarapan, makan siang ataupun makan malam, kecuali jika suamiku tidak mengizinkannya", ucapku.


" Iya nak!, semoga kalian selalu bahagia dan harmonis ya nak!, walau Tuan Boy tidak menerima kamu sebagai ibu sambungnya, yang Saba ya nak!, karena sebenarnya tuan Boy orangnya baik dan sopan kok, tap entah kenapa dia bisa berubah menjadi kasar seperti itu!", ucapnya.


" Ga apa-apa Bu, mungkin dia tidak mau kalau kasih sayang dan perhatiannya terbagi kepada kami ", ucapku sambil tersenyum padanya.


Satu jam kemudian, kami selesai memasak makanan untuk makan malam.


Setelah itu, aku mencuci tangaku di westafel dan melap tanganku dengan kain bersih.


Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk melihat suamiku.


Aku membuka pintu perlahan, karena takut membangunkannya, tapi ternyata suamiku sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.


" Abang sudah lama bangunnya?", tanyaku sambil duduk di sampingnya.


" Iya sayang, kenapa adek ninggalin Abang sendiri di kamar?", tanyanya.


." Ooh, tadi aku nemanin Syifa melihat Habib main sepeda, sekalian tadi ngobrol sama Dewi", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ooh, apa Boy sudah pulang?", tanyanya.


" Iya bang, kami tadi sudah ketemu di ruang tamu", ucapku.


" Aku yang menyuruh mereka untuk cepat pulang ke rumah, Boy ngomong apa tadi sama adek?", tanyanya.


" Ga ada ngomong apa-apa bang, hanya sekedar menyapa adek aja!", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Aku mencintaimu sayang", ucapnya sambil mencium keningku.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya, karena aku tidak ingin berbohong pada hati dan pikiranku.


Bang Zain langsung memeluk tubuhku dengan erat sambil mencium bibirku dengan penuh gairah.


Kami pun saling berpelukan sambil berciuman sampai kehabisan nafas masing-masing.


" Adek bahagia menikah dengan Abang?", tanyanya padaku.


" Iya bang, aku bahagia menjadi istri Abang, dan aku akan berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kita ini", ucapku sambil tersenyum padanya.


Kamipun kembali memadu kasih di atas sofa ini dengan penuh gairah.


Di saat suamiku mulai mencumbuiku dan melepaskan pakaian kami satu persatu, aku memintanya untuk mengunci pintu kamar terlebih dahulu, karena aku takut anak -anakku akan masuk secara tiba-tiba.


Setelah mengunci pintu rumah, kami melanjutkan adegan percintaan kami di atas sofa, kemudian ke atas ranjang sambil berpelukan.


Setelah puas bercinta di atas ranjang, kami melakukannya lagi di dalam kamar mandi, tentunya dengan penuh gairah untuk saling memuaskan satu sama lain.


Setelah kami mencapai kepuasan maksimal, kamipun mandi bersama.


Setelah mandi dan berpakaian, kami beristirahat sejenak di atas ranjang sambil berpelukan.


" Terima kasih ya sayang, sudah mau menjadi istriku dan ibu dari anakku, aku berjanji akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia", ucapnya sambil memeluk tubuhku dengan erat dan mencium bibirku.


" Iya sayang, terima kasih sudah mau menerima aku dan anak -anakku apa adanya", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ma!", panggil Syifa.


" Iya sayang", ucapku sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar untuk membukanya.


" Ayo masuk sayang, papa udah bangun kok!", ucapku sambil tersenyum padanya.

__ADS_1


" Iya ma", ucapnya sambil tersenyum padaku sambil menggenggam tanganku dan masuk ke dalam kamar tidur kami.


" Putri bungsu Papa datang ", ucap suamiku sambil tersenyum pada Syifa.


"/Ga apa-apa kan pa, kalau Syifa main di kamar papa sama Mama?", tanyanya.


" Ga apa-apa kok sayang, selagi mama atau ayah ada di kamar, Syifa boleh main kok dikamar ini!", ucapnya sambil tersenyum padanya.


" Makasih ya pa", ucapnya sambil memeluk papanya.


" Gimana kamarnya, princess papa suka ga dekorasi kamarnya?", tanyanya.


" Suka banget pa, dekorasi kamarnya cantik banget, tokoh kartunnya kesukaanku juga, dan warnanya juga cerah ", jawabnya sambil tersenyum bahagia.


" Syukurlah kalau princess papa suka dengan kamarnya", ucapnya sambil mencium pipinya.


" Iya pa, makasih ya pa udah sayang sama kami, dan mau jadi papa kami", ucapnya.


" Iya sayang, papa juga sangat bersyukur dan bahagia memiliki kalian sebagai keluarga papa", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Papa adalah anak tunggal, dan orang tua papa udah lama meninggal dunia, dan papa sekarang punya enam anak, jadi papa sangat bahagia bisa memiliki kalian di hidup papa, jadi papa tidak merasa kesepian lagi dirumah ini ", ucapnya sambil tersenyum.


" Iya pa, papa ga akan kesepian lagi dirumah ini, karena kami akan selalu bersama papa", ucapnya sambil memeluk papanya.


" Kakak dan Abangmu dimana sayang?", tanyaku.


" Kakak sama Abang lagi nonton film kartun di lantai bawah ma, padahal aku ajak kesini, mereka ga mau ma", jawabnya.


"Mungkin Kakak dan Abangmu lagi seru nonton filmnya", ucapku.


" Iya ma, padahal Syifa mau makan eskrim yang ada di kulkas, kakak ga berani katanya ngambilnya untuk Syifa ", ucapnya.


" Diambil aja nak!, semua makanan yang ada di kulkas bisa kalian ambil dan kalian makan sepuasnya ", ucap bang Zain.


" Iya sayang, kalau habis, kita beli lagi ya!", ucapnya sambil tersenyum.


" Hooree ", ucapnya sambil melompat kegirangan.


"Ma, Syifa boleh kan makan eskrim nya?", tanyanya padaku.


" Iya sayang, tapi jangan banyak - banyak ya!, agar tidak kekenyangan, karena setelah Maghrib nanti, kita akan makan malam bersama", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya ma, Syifa pergi dulu ya ma, mau makan eskrim ", ucapnya sambil berlalu pergi menuju lantai bawah untuk makan eskrim.


Kamipun melanjutkan obrolan kami di atas ranjang, sampai waktunya Maghrib pun tiba.


Setelah sholat Maghrib berjamaah di ruang sholat. Kami bergegas menuju ruang makan untuk makan malam.


Setelah makan malam, kami beristirahat sejenak di ruang tamu.


" Boy, sudah makan bi?", tanya bang Zain kepada salah satu pelayannya.


" Belum tuan, katanya mau makan diluar sama teman-temannya", ucapnya.


" Ooh, baiklah, kamu boleh pergi bi!", ucapnya.


Setelah pelayan rumah pergi menuju dapur, kak Dewi datang menghampiri kami di ruang tamu.


" Om, kata Tante kalian mau ke Medan besok malam?", tanyanya.


" Iya Wi, emang kenapa?", tanyanya balik.


" Aku ikut sama kalian aja ya om besok malam ke Medan, soalnya cutiku sudah habis, jadi aku akan kembali ke Medan, boleh ya om?", tanyanya.

__ADS_1


" Iya, apa Reno suamimu sudah menyelesaikan kuliah Magisternya yang di Universitas Indonesia?", tanyanya.


" Iya om, katanya sebentar lagi dia akan wisuda program magisternya, dan seminggu lagi kami akan berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara wisudanya, kalau Om ada waktu untuk menghadiri, kami akan merasa senang ", ucapnya.


" Maaf ya Wi, Om ga bisa menghadirinya, karena Minggu depan om akan sangat sibuk untuk menghandle tender proyek pembangunan, karena Om sudah cuti bekerja selama lima hari", ucapnya sambil tersenyum.


" Ooh, ga apa-apa Om, mohon doanya aja Om, semoga acara wisudanya berjalan lancar", ucapnya sambil tersenyum.


" Iya, Om ke kamar dulu ya sama Tantemu", ucapnya sambil menatapku.


" Abang duluan aja, sebentar lagi aku nyusul Abang ke kamar ya !", ucapku sambil tersenyum padanya.


Dia pun berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamar tidur kami.


" Kira, udah beresin keperluan untuk ke Pesantren?", tanyaku.


" Udah ma, tadi siang aku udah dibeliin pelengkap untuk sekolah Pesantren oleh Bibi Dewi", ucapnya.


" Makasih ya kak Dewi, udah bantu Kira", ucapku.


" Ga apa-apa Ni, kita kan udah jadi keluarga, ga apa-apalah kalau aku bantuin ponakanku", ucapnya.


" Kira ke kamar dulu ya ma, mau tidur", ucapnya.


"Iya sayang, jangan lupa gosok Gigi dan cuci tangan pakai sabun ya nak!", ucapku.


" Tunggu kak, Syifa juga mau bobo!", ucapnya sambil berlalu mengingat kakaknya.


" Habib belum mau Bobo sayang?", tanyaku.


" Ma, bentar lagi liburan naik kelas aja berakhir, Habib ke sekolah naik sepeda ya ma?", tanyanya.


" Ga bisa sayang, jarak rumah ke sekolah Habib udah makin jauh sekarang, bahaya' untuk Habib kalau naik sepeda ke sekolah. Habib diantar sama supir atau papa aja ya ke sekolahnya ya!", ucapku.


" Iya ma, Habib ke kamar ya ma, mau bobo juga!", ucapnya sambil berlalu pergi menuju kamarnya.


" Iya sayang, hati-hati naik tangganya, dan jangan lupa gosok Gigi sama cuci tangan pakai sabun ya nak!", ucapku.


" Iya Ma ", ucapnya.


" Jadi, rumahmu gimana Ni?", tanya kak Dewi.


" Rencananya mau ku kontrakan kak, dan besok pagi aku mau minta izin sama Bang Zain untuk mengambil motor matic milikku yang masih di rumah", ucapku.


" Untuk apa motor maticnya Ni, mending dijual aja, biar makin nambah uang tabungan kamu", ucapnya.


" Ga kak, terkadang aku juga pengen jalan-jalan sendiri ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur atau rumah ini, kadang lebih enak naik motor lah kak", ucapku.


" Jadi barang jualanmu masih ada di warungmu yang ada di rumahmu?", tanyanya.


" Iya kak, sekalian besok mau kubawa semula kesini, biar ga perlu belanja lagi ke pasar, biar bisa dipergunakan untuk kebutuhan kita disini ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ooh, bagus donk dek, ya udah, kamu nyusul Om Zain sana, ntar dia merajuk, karena kamu terlalu lama datang ke kamar kalian!", ucapnya sambil tersenyum menggodaku.


" Bisa aja kak Dewi, ya udah, aku ke kamar kami ya!", ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku.


" Yang Hot ya dek!", ucapnya sambil tertawa.


Akupun tertawa mendengar perkataannya itu.


Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk menemui suamiku dan melayaninya sepenuh hati dan jiwaku, karena itu adalah kewajibanku sebagai istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2