
Pengantin baru sedang sibuk melayani para orang tua yang menikmati makanan yang sudah disediakan oleh keluarga kami.
Selesai menikmati hidangan, para undangan dan tetangga pulang kerumah masing-masing, dengan membawa bingkisan.
Saat ini, aku sedang mengobrol dengan kak Khadijah dan suaminya Raka, dan Raka memperkenalkan sepupunya yang bernama Azriel padaku.
Suamiku sedang sibuk membantu pamanku membuka tenda biru yang sudah dipasang sejak kemaren di belakang rumah.
Aku melihat suamiku memperhatikan kami dari kejauhan. Temannya Raka sangat pandai membuat lelucon, sehingga kami selalu tertawa karena leluconnya.
Aku mendapatkan sebuah SMS di handphoneku, dan aku segera membacanya,
" abang tunggu di kamar", isinya sangat singkat dan padat. Aku langsung pamit kepada kak Khadijah dan suaminya, Raka serta Azriel juga.
Aku bergegas menuju ke kamar tamu.
Ketika aku sudah di dalam kamar, bang Izal langsung memelukku dari belakang, dan mulai menciumiku. Aku heran melihat sikapnya, aku membalikkan tubuhku untuk menatap wajahnya, " kamu kenapa bang?", tanyaku penasaran.
" Adek sengaja kan menghindari dan cuekin abang dan bergabung dengan kak Khadijah agar bisa bercanda dengan temannya itu, agar abang cemburu sama Adek, iya kan?", tanyanya lagi sambil memeluk tubuhku erat.
" Iya bang, itu memang sengaja Adek lakuin supaya Abang tau rasa sakitnya dicuekin dan tidak dihargai, dan kalau tadi Abang dengar dan lihat langsung wajah asli si Najwa, yang memang sengaja mendekati Abang, agar aku sakit hati dan membenci Abang, untunglah kak Khadijah datang tepat waktu dan mendengar ucapannya si Najwa padaku, dan langsung menampar wajah si Najwa, itu semua karena Abang meresponnya, sehingga dia berpikir kalau abang menyukainya, dan lebih pantas bersamanya daripada bersamaku", ucapku sambil menatap wajahnya.
__ADS_1
" Astaghfirullah, abang ga tau kalau dia bisa bertindak seperti itu, Abang ga punya perasaan apa-apa padanya, Abang minta maaf sama adek, gara-gara perbuatan yang tidak sengaja Abang perbuat bikin Adek sakit hati", ucapnya sambil memeluk tubuhku.
" Tidak ada yang perlu dimaafkan bang, karena Abang tidak sengaja melakukannya, dan aku sangat mencintai Abang, dan aku ingin Abang hanya milikku seorang", ucapku membalas pelukannya.
Suamiku mulai menciumi wajahku dan perlahan melepaskan jilbabku. Dia melepaskan ikatan rambutku, sehingga rambutku yang panjang tergerai sampai ke perut ku. Akhirnya, suamiku melepaskan pakaian kami sau per satu, dan menggendongku ke tempat tidur.
Kami berciuman kembali di atas tempat tidur, dan dia mengelus perutku dan menciumnya dengan penuh gairah. Akhirnya kami bersatu dalam gairah yang membara untuk saling memuaskan dan menghangatkan hati kami, yang baru perang dingin. Dalam rumah tangga, berhubungan intim adalah solusi yang mujarab untuk mengatasi semua kesalah pahaman.
Selesai bercinta, kami mandi bersama di dalam kamar mandi, tentunya dengan berbagai adegan romantis yang lebih seru dan sudah biasa kami lakukan.
Selesai mandi, kami berpakaian di kamar tidur.
" Jam berapa kita pulang bang ke Medan", tanyaku sambil memeluknya di atas tempat tidur, karena masih lelah dengan pergumulan kami barusan.
" Adek sekarang masih capek, tapi istirahat sebentar udah mendingan sayang, lagian besok kan Abang kerja, jadi kita pulang aja nanti sore, jam 5 gitu", ucapaku meyakinkannya.
" Ok lah kalau begitu adindaku, sesuai perintah sang Ratu", ucapnya menggodaku.
Aku langsung mencubit hidungnya pelan karena suka sekali menggodaku.
Setelah istirahat sebentar dan mengemasi barang-barang kami, aku keluar dari kamar, sekalian membawa kado yang sudah kami siapkan untuk kak Khadijah.
__ADS_1
Aku mencarinya di dalam rumah, ternyata kak Khadijah sedang di kamarnya untuk mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke rumah mertuanya.
" Kak, ini kado pernikahan dari kami untuk kakak, jangan dinilai dari harganya ya kak, tapi dari ketulusan hati kami ya kak", ucapnya sambil tersenyum dan menyerahkan kado kami yang berupa penanak nasi model terbaru.
" Terimakasih atas kadonya ya dek, setelah kakak tinggal di rumah bang Raka, kita harus saling komunikasi dan saling mengunjungi ya dek", ucapnya padaku sambil tersenyum.
Akupun menganggap mengiyakan perkataannya.
" Kayaknya kami pamit pulang duluan ke Medan ya kak, karena suamiku besok mulai bekerja lagi, takut kemalaman di jalan, karena kami naik sepeda motor kak" ucapku menjelaskannya.
" Baiklah dek, hati - hati ya di jalan", ucapnya sambil tersenyum.
Aku bergegas ke dapur untuk menemui nenekku dan bibiku, ternyata bang Izal sedang mengobrol dengan mereka.
" Nek, kami mau pamit pulang ke Medan, nenek dan bibi jangan lupa kalau sudah di Medan nginap di rumah kami dan harus menghadiri wisudaku Minggu depan", ucapku mengingatkan.
" Iya Ni, kami ingat kok, dan kami aka nginap di rumah kalian, apalagi sekarang Khadijah juga tinggal di kompleks yang tempat tinggal kalian kan, setelah menyelesaikannya beberapa urusan disini, kami akan datang kesana", ucap bibiku menjelaskan.
" Baiklah bi, nek, kami tunggu kedatangan kalian di kota Medan", ucapku sambil memeluk mereka satu-persatu, dan tidak lupa kami berpamitan kepada paman, dan semua rombongan pengantin pria yang datang dari Medan.
" Sampai jumpa di Medan ya semuanya" , ucapku dengan penuh semangat sambil melambaikan tanganku.
__ADS_1
" Bang Izal langsung menghidupkan mesin sepeda motornya, dan melajukannya dengan kecepatan sedang...
Bersambung...