Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Rencana rahasia...


__ADS_3

Sebenarnya aku ingin memberikan pelajaran kepada Mira, tapi aku ingin suamiku selalu merasa bersalah, jika aku pura-pura tidak mengetahui penghianatan yang dia lakukan.


Aku mempunyai rencana rahasia yang sedang aku jalankan saat ini. Aku tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan, nanti aku juga yang akan merugi.


Kami bergegas masuk ke dalam mobil, aku meminta putriku Syakira untuk duduk tenang bersama adik iparku, sedangkan aku menggendong putraku yang sedang menangis, mungkin dia juga merasakan rasa sakit yang kurasakan saat ini.


Aku mencoba bersikap tenang dan menyembunyikan rasa kecewaku pada suamiku, agar rencanaku berhasil kulakukan.


Beberapa menit kemudian, kamu tiba di depan rumah kami. Aku bergegas turun dari mobil sambil menggendong putraku, sedangkan putriku berjalan bersama adik iparku menuju kamar tidur mereka, karena sejak kemarin, putriku sudah sekamar dengan adik iparku.


Aku merebahkan tubuh putraku ke dalam box bayi yang ada di dekat tempat tidur kami.


Setelah itu, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku dengan piyama warna peach kesukaanku.


Aku keluar dari kamar mandi, dan memakai skin care yang baru kubeli secara online, dan baru diantar tadi pagi oleh kurir.


Selesai melakukan ritual perawatan wajahku, aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan dari mulutku, agar pikiran dan hatiku sedikit tenang.


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhku, aku tidak mempedulikan lagi apa yang dilakukan oleh suamiku, mungkin dia sedang membujuk simpannya, atau apalah itu, terserah saja, karena hatiku sudah mati rasa untuknya, tidak ada lagi tempat di hatiku, aku hanya menunggu waktu yang tepat.


Di saat aku mulai terlelap, sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki suamiku yang sedang berjalan perlahan di dalam kamar kami. Malam ini, aku hanya ingin tidur dan tidur tanpa beban.


Waktu berlalu, pagi menjelang. Seperti biasa, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya, memasak, membersihkan rumah dan mencuci pakaian dengan bantuan adik iparku.


Pekerjaan yang berat terasa ringan, jika dikerjakan bersama.


Tepat pukul tujuh pagi, semua pekerjaan rumah, sudah selesai kami kerjakan.


" Sayang, ayo bangun, hari ini Kira sekolah lho!", ucapku sambil menggoyangkan tubuh putriku.


" Iya ma, bentar lagi ya ma, Kira masih ngantuk", ucapnya manja.


" Ntar, mama gelitikin mau ya, kalau ga bangun sekarang, bisa telat nanti ke sekolahnya sayang ", ucapku sambil menggelitiki telapak kakinya, alhasil, putriku bangun juga.


Aku memandikannya di dalam kamar mandi, setelah itu, aku membantunya memakaikan seragam sekolahnya.


" Ma, rambut Kira dikepang aja ya ma biar ga keluar terus dari dalam jilbab", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Iya sayang", ucapku sambil mengambil sisir untuk mengepang rambutnya.


Selesai mengurus keperluan putriku, aku bergegas ke kamar tidur kami untuk melihat putraku. Ternyata dia sudah bangun dan sedang bermain dengan ayahnya.


" Anak mama udah bangun ya sayang", ucapku sambil menggendong putraku dan membawanya keluar dari kamar tidur kami menuju dapur.


Aku memberikan air putih kepada putraku dan menyuapinya nasi pake kuah sayur dan tahu goreng yang sudah kudinginkan di dalam tudung saji.


" Mama, Kira mau makan pake telor dadar pake cabe sedikit", ucap Putriku sambil duduk di kursi yang ada di depanku.


" Covmba Kira tengok dulu di dalam tudung saji, ada ga yang Kira minta", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Adek masak apa pagi ini?", tanya suamiku sambil duduk di kursi sebelahku.


" Seperti biasa ", ucapku singkat sambil sibuk menyuapi putraku yang makan dengan lahapnya.


" Enak juga ya masakan adek, jadi nambah terus Abang makannya", ucapnya sambil tersenyum.


" Berarti selama ini, masakanku ga enak, baru hari ini terasa enak ya!", ucapku dengan nada tinggi sambil menahan emosiku.


" Selama ini juga enak kok", ucapnya menambah.

__ADS_1


" Iya ma, masakan mama memang selalu top - markotop kok ma", ucap putriku sambil tersenyum padaku.


Aku tersenyum mendengar pujian dari putriku Syakira yang sudah bisa menghargai kerja kerasku.


Setelah sarapan pagi, suamiku berangkat kerja, dan putriku sudah berangkat ke sekolah dengan mobil jemputannya.


Aku menidurkan putraku di dalam buaian yang ada di ruang tv, karena di kamar kami terlalu sempit.


Aku meminta adik iparku untuk membersihkan meja makan dan mencuci peralatan masak dan peralatan makan kami yang sudah kotor.


Dia pun mulai mengerjakan pekerjaan yang aku pinta padanya.


Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk merebahkan tubuhku yang tidak lelah, tapi hati dan pikiranku yang sangat lelah.


Aku menyelimuti seluruh tubuhku dan menangis sepuasnya di bawah selimut, sampai bantal yang kupakai basah karena air mataku yang bercucuran.


Setelah menangis dengan sepuasnya, aku akhirnya tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingku.


Aku terbangun karena mendengar suara tangis putraku, padahal aku baru tertidur setengah jam yang lalu, tapi aku harus mengutamakan kepentingan anak-anakku terlebih dahulu daripada diriku sendiri, memang sudah taqdir dari Allah SWT, dan aku harus tabah dan kuat dalam menghadapi ujian hidup ini, ucapku dalam hati sambil berjalan perlahan menuju ruang tv.


Aku mengambil putraku dari buaian, dan menyusui putraku agar tidak menangis lagi.


Di saat sibuk mengurus putraku, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah kami.


" Assalamualaikum", ucapnya sambil mengerutkan pintu rumah kami.


" Wa alaikum salam", ucapku sambil membuka pintu rumah kami.


" Kak Khadijah", ucapku sambil memeluknya erat dan mulai menangis.


" Kamu kenapa dek, saking rindunya sama kakak ya, sampe nangis gini", ucapnya sambil membalas pelukanku.


" Kakak kesini sama siapa?", tanyaku sambil menggenggam tangannya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah kami.


" Kakak diantar sama bang Raka kesini, karena dia ada urusan di kantor walikota", ucapnya sambil duduk di kursi tamu.


" Tunggu ya kak", ucapku sambil berlalu menuju dapur untuk membuatkan minuman teh manis untuknya.


Aku membawa teh tersebut sambil menuntun putraku yang berjalan dengan perlahan ke ruang tamu.


" Habib udah besar ya", ucap kak Khadijah sambil menggendong putraku.


" Anak kakak dimana?", tanyaku.


" Dia lagi main tadi dirumah kakek neneknya, syukurlah semenjak putra kakak lahir, mereka perlahan menerima kakak dan sangat menyayangi cucunya", ucap kak Khadijah menjelaskan.


" Alhamdulillah ya kak, akhirnya mereka menyadari kebaikan hati Kakak ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kalian baik-baik saja kan dek?, soalnya kakak lihat dari raut wajahmu, kamu seperti tertekan dan banyak masalah?", tanya kak Khadijah sambil mengamati gerak-gerikku.


" Alhamdulillah kami baik-baik saja kok kak, wajahku seperti ini mungkin karena terlalu lelah, mengurus anak, suami dan rumah ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ooh.. syukurlah dek, kalau kalian baik-baik saja disini, kalau ada masalah, jangan sungkan untuk menghubungi kakak ya dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Terima kasih banyak ya kak atas kebaikan hati Kakak ", ucapku terharu.


" Ya udah, ga usah nangis gitu, ntar Izal pikir, kakak nyakitin kamu lagi", ucapnya sambil tertawa.


Izal yang nyakitin hatiku kak, bahkan sangat sakit dan sangat dalam, ucapku dalam hati sambil tersenyum padanya.

__ADS_1


" Ayi kak, kita makan dulu", ajakku.


" Nanti aja ya dek, soalnya kakak masih kenyang, adek masih menjahit?", tanyanya.


" Saat ini, ga kak, karena Habib masih kecil, ntar kalau udah umur dua tahun, mungkin aku udah bisa mulai menjahit pakaian lagi kak", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Baguslah dek, ntar Kakak jahitkan baju sama adek ja deh, kalau Uda mulai ngejahit lagi", ucapnya.


" Kakak ga nambah momongan lagi ?, anak kakak kan udah Gede, apa bang Raka ga mau punya anak lagi?", tanyaku.


" Ya maulah dek, ini kami memang lagi program anak kedua, lagi usaha nih tiap malam, hehehehe " ucap Kak Khadijah sambil cengengesan.


" Mantap donk kak, mpe keringatan gitu ya", ucapku sambil tertawa lepas.


" Adek ini bisa aja ya ngegodain kakak, malu donk di denger orang ", ucap kak Khadijah sambil tersenyum.


" Biarin aja kak, itu kan udah rahasia umum, hehehe ", ucapku sambil cekikikan.


Waktu berlalu, putriku Syakira sudah pulang dari sekolah diantar mobil jemputan sekolahbya.


" Assalamualaikum ma", ucap putriku sambil menyalami kami secara bergantian.


" Wa alaikum salam ", ucap kami bersamaan.


" Gimana sekolahnya sayang?", tanyaku.


" Biasa aja kok ma", ucap putriku sambil berlalu pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


" Kenapa tuh si Syakira?", tanay kak Khadijah.


" Ga tau tuh kak, mungkin dia lagi capek aja", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kak, aku ngambilin nasi Habib dulu ya, mungkin dia sudah lapar, pecicilan terus narek bajuku terus", ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan untuk putraku.


Aku membawa makanan putraku ke ruang tv agar putraku bisa makan dengan tenang sambil menonton TV film upan dan opon kesukaan mereka.


" Kak, kita mengobrol disini aja yuk ", panggilku.


" Iya", jawab kak Khadijah sambil berjalan perlahan menuju ruang tv.


" Makan yang banyak ya dek", ucap putriku yang sedang lewat menuju dapur untuk mengambil makanannya.


Adik iparku sudah makan terlebih dahulu dan sekarang sedang tidur siang di dalam kamar mereka.


Setelah makan siang, kami melanjutkan obrolan kami di ruang tamu.


" Assalamualaikum ", ucap bang Raka sambil menghampiri kami.


" Wa alaikum salam ", ucap kami bersamaan.


" Udah selesai urusannya bang?", tanya kak Khadijah.


" Alhamdulillah udah beres ", ucap bang Raka sambil tersenyum padanya.


" Makan dulu kak, bang, baru pulang ", ucapku sambil tersenyum.


" Nantilah dek, kalau kami datang lagi kesini, kita makan-makan ya rame-rame ", ucap Kak Khadijah menghiburku.


" Okelah kalau begitu " ucapku sambil tersenyum.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2