
Sebelumnya terimakasih banyak atas dukungannya dan komentar positif nya ya say,, maaf jika ada kata-kata yang menyinggung, karena Thor Masih tahap belajar,
kita lanjut ya guys ...
POV. Izal
Lagi dan lagi, aku berbohong pada istriku tentang siapa yang mendonorkan darah padanya. Aku tidak mau dia mengetahui siapa yang sudah menyelamatkan nyawanya, sedangkan aku sudah membahayakan nyawanya. Suami macam apa aku ini, jika aku membiarkan istriku meninggalkan aku demi pria lain.
Sebenarnya aku merasa cemburu dengan pria itu. Dia jauh lebih dari segalanya dibandingkan denganku, tubuhnya lebih berotot daripada tubuhku, wajahnya jauh lebih tampan dari wajahku, dan dilihat dari gayanya, sudah pasti uangnya lebih banyak daripada uangku. Sampai sekarang, dia masih mencintai istriku, Ani. Dimana dia bisa mengenal istriku..?, kenapa dia bisa begitu mencintai istriku...?, bermacam-macam pertanyaan yang berkecamuk di bathinku, tapi tidak bisa kukatakan kepada siapapun, termasuk istriku.
Kembali ke topik utama.ya guys..
Saat ini, kami sedang di lobi rumah sakit untuk mengambil obat resep dokter spesialis kandungan untuk seminggu ke depan. Bayiku sedang digendong kak Khadijah dan tas bawaan kami sudah dibawa suaminya Raka, dan suamiku sedang melunasi pembayaran perawatanku selama di rumah sakit ini.
" Suster, apa kamu tahu siapa yang mendonorkan darahnya padaku, karena aku ingin berterima kasih padanya", tanyaku pada Suster yang mendorong kursi rodaku. Karena aku menggunakan kursi roda sampai ke mobil bang Raka, sekarang kami harus menunggu suamiku datang kedekat kami dan bersama - sama menuju parkiran mobil bang Raka.
" Aku tidak tahu identitas sebenarnya pria itu Bu, tapi menurut cerita salah satu suster yang melihat pria itu, pria itu bertubuh tegap, wajahnya tampan dan gagah, rambutnya gondrong dan dia seorang kapten kapal di tempat dia bekerja yang terletak di luar negeri", jawab suster menjelaskan.
Mendengar perkataannya, seketika itu, aku mengingat Azam, cinta pertamaku dulu, tidak mungkin pria itu adalah Azam, ucapku dalam hati.
" Kamu kenapa dek?", tanya suamiku sambil mengulurkan tangannya membelai wajahku.
" Tidak ada apa - apa sayang ", ucapku sambil tersenyum padanya.
Kami bergegas menuju parkiran mobil bang Raka, karena takut, bayiku menangis kelaparan.
Setibanya di parkiran mobil bang Raka, suamiku memapah tubuhku masuk ke dalam mobil bang Raka dan merebahkan tubuhku di atas kursi mobil yang memanjang. Setelah posisiku stabil, suster pamit meninggalkan kami.
" Terima kasih banyak ya suster", ucapku sambil tersenyum.
" Sama-sama ya Bu", ucapnya sambil berlalu pergi.
Setelah suamiku duduk di sampingku dan menaruh kepalaju di pangkuannya, bang Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah kontrakan kami.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kontrakan kami. Kak Khadijah terlebih dahulu dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan suamiku memapah tubuhku dengan berjalan perlahan menuju pintu rumah dan mendudukkanku di kursi tamu.
Suamiku mengangkati barang bawaan kami dari rumah sakit ke dalam rumah dengan bantuan bang Raka.
Di saat aku memejamkan mataku, ada suara seorang wanita yang kukenal sedang memanggil namaku, aku bergegas membuka mataku dan kulihat wajah yang sangat kurindukan.
" Nenekku tersayang, kapan kalian datang", ucapku sambil tersenyum padanya dan memeluk tubuhnya erat.
__ADS_1
Kemudian, nenekku mencium keningku, dan menjawab pertanyaanku.
" Kami tiba di rumah mu tadi pagi, kira-kira pukul enam pagi", ucap nenekku sambil tersenyum.
" Nenek kesini dengan siapa?", tanyaku lagi.
" Nenek kesini sama paman dan bibi dari Sipirok", ucap nenekku.
" Dimana paman dan bibi?", tanyaku lagi.
" Mereka lagi keluar untuk ke apotek membeli obat dan popok adekmu, mungkin bentar lagi mereka akan kembali", ucap nenekku menjelaskan.
" Gimana kondisimu sayang, apa bekas jahitannya masih sakit?", tanya nenek khawatir.
" Iya nek masih sakit, terkadang masih nyeri, makanya aku harus rutin minum obat biar cepat sembuh, dan bisa beraktivitas seperti biasa ", ucapku sambil tersenyum.
" Iya sayang, yang penting, jangan angkat barang - barang yang berat, biar bekas jahitanmu tidak nyeri ya nek ", ucap nenekku menasehatiku.
" Iya nek, gimana kondisi nenek, pengobatan refleksinya mempan ga?", tanyaku.
" Alhamdulillah, nenek sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tongkat, walau dengan perlahan ", ucap nenekku.
" Iya dek, tapi katanya ini kejutan untuk kepulanganmu dan bayi kita ke rumah ini", Ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Itu adalah rencana kakak untuk membuatmu bahagia ", ucap kak Khadijah sambil tersenyum dan duduk di samping bang Raka.
" Mana baby Syakira kak?", tanyaku.
" Baby Syakira sedang tidur nyenyak di box bayi kamar kalian, bayi cantik dan baik hati, ga rewel, bikin kak pengen nyium terus, tapi takut bangun ", ucap Kak Khadijah gemes.
" Ntar, bayi kakak aja yang dicium terus sampe molor tuh pipinya ", ucapku sambil tertawa.
" Iya juga ya dek, kalau nengok bayi imut dan cantik kayak baby Syakira, bisa molor juga tuh pipinya ", ucap Kak Khadijah sambil tersenyum.
" Ntar, kalau bayi kita lahir, pasti ganteng kayak aku, ayahnya, adek bebas cium sampe puiaas, apalagi ayahnya", ucap bang Raka sambil tertawa.
Akhirnya, bang Raka mendapatkan cubitan sayang di perutnya dari kak Khadijah.
" Ayo dek, Abang antar ke kamar tidur agar adek bisa rebahan dan istirahat, biar cepat sehat kembali ", ucap suamiku sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku menggenggam tangannya erat, dan kami berjalan berdampingan menuju kamar tidur kami. Setibanya di dalam kamar, Bang Izal berkata "terimakasih banyak ya dek, sudah mau memaafkan kesalaha yang Abang lakukan dan sudah melahirkan putri cantik untuk melengkapi kehidupan rumah tangga kita ", ucapnya sambil tersenyum dan mencium keningku.
__ADS_1
" Tapi, ingat bang, jangan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, karena kesempatan kedua hanya datang satu kali ", ucapku tegas.
Aku pun memejamkan mataku yang terasa berat dan akhirnya aku tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingku.
Oooeeewek .ooweek...
Suara tangis bayiku yang kehausan. Aku bergegas mengambil bayiku dari box bayi yang ada di dekat tempat tidurku, dan menyusuinya, agar dia tidak menangis, tapi dia tidak juga mau diam. Aku meletakkan di atas tempat tidur, dan membuka bedongannya, ternyata dia sedang pup.
Aku bergegas membersihkan pup nya dengan menggunakan tissue basah yang mengandung bahan anti septik, agar tidak berkuman. Setelah membersihkan pup nya, aku mengganti bedongannya.
Barulah si putri cantikku ini tidur kembali. Setelah mencium kedua pipinya, kemudian aku meletakkannya kembali ke box bayi.
Akupun merebahkan tubuhku kembali.
Waktu berlalu dengan cepat, sekarang sudah jam tujuh malam. Suamiku menggenggam tanganku untuk berjalan kaki menuju dapur, karena aku ingin buang hajat.
Kakiku agak lemah, karena sempat dirawat di ICU kemaren, menurut dokter, aku harus melatih kakiku untuk berjalan agar terbiasa dan lebih kuat.
. Saat tiba di kamar tidur kami, aku mendengar suara langkah kaki seseorang menuju kamar tidur kami.
" Kamu sudah selesai makan nak?", tanya bibiku yang dari sipirok.
" Alhamdulillah udah bi", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Kamu harus kuat makan sayur dan buah-buahan, agar air ASI mu banyak, karena bibi tengok baby Syakira, kuat minum susu kan, jadi, harus kamu imbangi dengan banyak makan sayur dan buah, agar air ASI mu cukup untuk bayimu ya nak", ucap bibi menasehatiku.
" Terima kasih banyak ya Bi, atas nasehat bibi, mana adekku yang tampan itu?", tanyaku.
" Adekmu lagi bermain sama pamanmu di ruang tv, karena dia cepat kali merasa bosan kalau tidak ada aktivitas", ucap bibi.
" Nak, mungkin besok malam kami harus pulang ke Sipirok, karena Pamanmu harus bekerja, jadi tinggal Nenekmu yang akan menemani kalian disini, ga apa-apa ya nak?", ucap bibi sambil tersenyum.
" Iya bi, ga apa-apa, lagian paman juga punya kewajiban yang lebih penting disana, jadi paman dan bibi diantar sama kak Khadijah aja ya ke loket busnya?", tanyaku.
" Kalau tidak merepotkan nak Khadijah, ga apa-apa Ni, tapi kalau Khadijah ga sempat, kami naek becak motor aja ke loketnya, ga apa-apa kok ", jawab bibiku.
" Ga mérepotkan kok bi, besok kami antar ke loket busnya ", ucap kak Khadijah sambil tersenyum dan duduk disampingku.
" Terima kasih ya nak ", ucap bibiku sambil tersenyum pada kak Khadijah.
Bersambung...
__ADS_1