
Kata dokter spesialis kandungan yang memeriksa kandunganku, aku baik-baik saja dan kandunganku. juga.
Selesai diperiksa, dan membawa resep vitamin yang diresepkan oleh dokter spesialis kandungan, aku ke apotek rumah sakit yang ada di dekat ruang tunggu.
Di saat menunggu obat yang diresepkan dokter spesialis kandungan, aku melihat Mira sedang menunggu antrian juga sambil menggendong anaknya, mungkin anaknya sedang sakit, ucapku dalam hati.
Aku tidak tahu kalau dia mendatangiku dan duduk di sebelah kananku.
" Ani, kamu tahu, anakku sakitsakit gara- gara ulah suamimu Izal", ucapnya lantang.
" Kok gara- gara suamiku, apa hubungannya dengan suamiku, anakmu yang sakit, malah nyalahin orang lain", ucapku dengan tegas.
" Iya, ini semua gara-gara ulah suamimu yang mengajak aku bertemu di sebuah taman dan tiba-tiba menciumku di depan anakju yang tidak berdosa ini", ucapnya dengan lantang.
" Cukup Miiraa .!!, Aku tidak terima kamu memfitnah suamiku sembarangan, yang iyanya, anakmu sakit karena salahmu sendiri, karena dosamu yang banyak, imbasnya ke anakmu, sadar kamu, karma itu selalu berlaku kepada siapapun dan kapanpun", ucapku dengan lantang sambil beranjak berdiri dari tempat dudukku.
" Kalau kamu tidak percaya, aku punya buktinya", ucapnya sambil mengambil hp nya dari tasnya.
Dia memperlihatkan fotonya yang sedang berciuman dengan bang Izal di sebuah taman yang aku tahu dimana tempatnya. Aku memperhatikan kemeja berwarna cream yang dipakainya saat itu. Kemeja yang kuhadiahkan saat kami masih pengantin baru. Sehingga aku yakin, kalau foto yang diperlihatkan Mira adalah nyata, bukan rekayasa.
Aku kaget setelah menyadarinya, saat itu si petugas apotek memanggil namaku dan aku segera meninggalkan Mira menuju loket apotek. Setelah membayar resep obat yang diresepkan dokter spesialis kandungan, aku berjalan perlahan menuju lobi rumah sakit.
Aku bergegas ke kamar mandi yang ada di dekat lobi rymah sakit. Aku menahan tangisku di hadapan Mira, karena aku tidak mau melihat dia bahagia, karena sudah berhasil menghancurkan hubunganku dengan orang yang aku cintai, lagi dan lagi.
Setibanya di dalam kamar mandi, aku menangis sepuasnya sampai hati dan pikiranku bh Isa tenang, walau banyak orang yang heran dan khawatir dengan tingkahku.
Setelah mencuci wajahku dan membersihkan hidungku yang memerah, aku melap wajahky dengan sapu tangan yang selalu kubawa di dalam tasku. Aku memakai bedakku kembali, agar nanti di dalam perjalanan pulang, tidak kelihatan seperti orang yang baru menangis.
Selesai memakai bedakky di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi rumah sakit , aku menarik naafs dalam -dalam, agar aku bisa tenang dan kembali kuat untuk berjalan kaki menuju ke luar rumah sakit.
__ADS_1
Aku keluar dari kamar mandi dan berjalan kaki menuju halaman rumah sakit, dan menyetop becak motor yang sedang lewat untuk pulang ke rumah kami.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah kami, dan aku melihat adik iparku sedang menyapu teras rumah yang berdebu, agar bersih kembali.
" Assalamualaikum", ucapku sambil tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku langsung menuju kamar tidur kami, dan membuka jilbabku serta mengganti pakaianku.
Aku keluar menaruh pakaianku yang kotor menuju kamar mandi, dan meletakkannya ke keranjang baju kotor. Aku sekalian mengambil wudhu untuk sholat Dzuhur, agar hati dan pikiranku bisa tenang.
Ketika berdoa, kucurahkan semua isi hatiku, kegelisahan dan masalah hidupku kepada Allah SWT.
" Ya Allah, ampunilah semua dosaku, yang tiada terkira bagai banyaknya pasir dilautan, banyaknya bintang di langit, sungguh ya Allah, aku hanyalah hamba yang lemah dan tiada berdaya, hanya kepada Mu lah aku memohon dan meminta perlindungan dari godaan syaitan, amarah yang ada di dalam hatiku, tunjukkanlah aku kebenaran tentang suamiku, dan berikanlah dia hidayah Mu, agar dia tidak mengulangi kesalahannya lagi", ucapku sambil berlinang air mata
Selesai mencurahkan isi hatiku, kegundahanku kepada -Nya, sang pembolak-balik hati.
Aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul lima empat Sore, biasanya bang Izal akan pulang ke rumah kami sebentar lagi.
Di saat aku selesai dari kamar mandi untuk mengambil wudhu, bang Izal sudah ada di ruang tamu.
" Gimana tadi hasil periksa kandungannya dek", tanya bang Izal.
" Alhamdulillah sehat, ga ada masalah apa-apa, hanya dikasih vitamin aja sama dokter spesialis kandungannya", ucapku sambil tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakit hatiku.
Aku bergegas menuju kamar tidur kami, untuk melaksanakan sholat ashar. Selesai sholat, aku merebahkan tubuhku kembali ke atas tempat tidur, karena aku merasa kelelahan, mungkin karena pengaruh pikiranku yang terus mengingat foto yang diperlihatkan oleh Mira tadi siang di rumah sakit.
Suamiku pun menyusulku ke dalam kamar tidur, dan mengganti pakaiannya. Dia menaruh hp nya diatas meja riasku, dan pergi ke kamar mandi. Biasanya, aku tidak pernah memeriksa hp nya, tapi setelah melihat foto itu, aku jadi penasaran dan ingin membuktikannya sendiri.
Aku duduk di atas tempat tidur, dan BBM mengambil hp nya, untunglah sandi hp nya masih tetap tanggal pernikahan kami, 28 Oktober. Awalnya, aku memeriksa panggilan dan SMS, tidak ada yang mencurigakan. Kemudian, aku memeriksa foto, akhirnya aku melihat foto yang sama, seperti foto yang diperlihatkan oleh Mira tadi siang di rumah sakit.
__ADS_1
Aku kaget melihat foto itu, dan hp nya terjatuh dari tanganku. Ternyata, semua yang dikatakan oleh Mira, adalah benar adanya. Mereka berdua sudah menghianati dan menipuku secara diam-diam.
Disaat aku bingung dan terpaku, bang Izal masuk ke dalam kamar dan melihatku heran, dan memungut hp nya yang tergeletak di lantai kamar kami.
" Ada apa dek ?", tanahnya heran.
Aku mengambil hp yang ada di tangannya, dan memperlihatkan foto yang ada di hp nya, fotonya dengan Mira ketika sedang berciuman di taman dekat kantornya.
Aku tidak bisa menahan air mataku yang menyeruak keluar dari pelupuk mataku.
" Abang bisa jelasin dek, ini tidak seperti yang kamu lihat dan pikirkab, abang saat itu dijebak oleh Mira, dia datang ke kantor abang untuk menemui suaminya Fauzi,. untuk membawa anaknya ke rumah sakit untuk berobat. Kebetulan waktu itu, Fauzi sedang tugas lapangan, dan karena kasihan, aku membantunya untuk mengantarkannya ke rumah sakit, tapi...", ucap bang Izal tercekat.
" Tapi apa bang..?, kamu mau bilang, kalau kalian bernostalgia berdua di taman, dan berciuman sampai puas disana, di depan mata anaknya yang tidak berdosa, apa salahku padamu, sehingga kamu tega berbuat seperti itu padaku ", ucapku sambil menangis terisak.
" Aku khilaf dek, saat itu Mira hanya ingin mengobrol sebentar sambil menarik tanganku, karena aku malu dilihatin banyak orang, jadi aku mengikutinya untuk mengobrol sebentar, di saat aku lengah, tiba-tiba dia menciumku dengan paksa, dan aku mendorongnya kuat, dan pergi meninggalkannya, mungkin saat itu dia menciumku dia memfotonya, dan dua hari yang lalu, dia menerorku, katanya dia akan mengatakan padamu kalau kami berdua memiliki hubungan gelap, agar kamu meninggalkan aku, agar pernikahan kita hancur ", ucapnya sambil memelukku.
" Kenapa kamu mau diajaknya untuk mengobrol di taman, sedangkan kalian bukan muhrim, berarti Abang masih mempunyai perasaan cinta untuk Mira, jujur saja bang!!", ucapku sambil melepaskan diri dari pelukannya.
" Tidak sayang, Abang tidak memiliki perasaan lagi padanya, sedikitpun tidak ada lagi sayang ", ucapanya sambil menggenggam tanganku.
" Di saat aku tidak sengaja memeluk bang Raka waktu itu, kamu sangat marah dan cemburu padaku, dan tidak peduli lagi padaku, jika aku berbuat seperti yang kamu lakukan, apa yang akan kamu lakukan?", tanyaku dengan lantang.
" Aku benci dengan penipu dan penghianat, selama ini aku mempercayaimu", ucapku sambil berusaha melepaskan tanganku.
" Abang minta maaf dek, tolong maafkan abang sayang, Abang tidak akan pernah mengulanginya lagi, demi anak kita sayang ", ucapnya menahan tanganku dan langsung memeluk tubuhku dengan erat.
Barulah aku sadari, kalau perutku sakit dan mules. Bayiku menendang lumayan kuat, sampai aku kaget dan kesakitan. Sehingga, aku terdiam dan terpaku di dalam pelukan suamiku.
Aku ...
__ADS_1