Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Penyambutan istimewa...


__ADS_3

Keesokan harinya!


Saat ini, kami sedang dalam perjalanan menuju rumah kami yang baru, yang ada di komplek perumahan DPR.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami yang baru.


" Kok sepi ya bang?", tanyaku.


" Mungkin mereka sedang sibuk di dalam rumah untuk menyambut kedatangan kalian dek!", ucap suatu.


Kamipun segera keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah.


" Assalamualaikum", ucap kami sambil mengetuk pintu.


" Kita langsung masuk aja ke dalam rumah dek!", ajak suamiku sambil menggenggam tanganku.


Kamipun bergegas masuk ke dalam rumah yang memang pintunya tidak dikunci.


Biasanya kalau ada acara penyambutan pengantin baru, pasti akan ada keramaian, ini sepi banget, mungkin ini ciri khas orang kaya dalam acara penyambutan pengantin baru kali ya!, ucapku dalam hati.


Setelah kami masuk ke dalam rumah, memang ada beberapa orang yang sedang sibuk mengobrol tanpa menoleh pada kami sedikitpun.


" Kami datang!", ucap suamiku.


" Ooh, om Zain udah datang ya, ayo kita duduk dulu disini om!", ajak Dewi.


Kami pun mengikuti bang Zain dari belakang dan duduk di atas permadani hijau yang sudah tersedia.


" Maaf ya om, Tante, hanya kami saja yang menyambut kedatangan kalian, karena anak-anak om sedang keluar kota untuk berlibur katanya, dan hanya kami yang hadir disini", ucapnya menjelaskan.


" Ga apa-apa nak!, tolong kamu tunjukkan ke Tantemu dimana kamarnya om, dan kamar anak-anak kami yang sudah kamu siapkan!", ucapnya dengan nada tegas.


" Baik om!", jawabnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengajak aku dan anak -anakku mengikutinya.


" Kak Dewi!", panggilku.


Dia hanya diam, tidak menyahutiku.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan kamar tidur kami.


" Maaf ya dek, tadi aku tidak menjawab panggilanmu, karena aku takut om Zain marah pada kita, karena adek manggil kakak padaku di saat di depannya, karena sekarang kamu adalah Tanteku, jangan marah ya dek!", ucapnya menjelaskan.


" Ooh, begitu ya kak, ga apa-apa kok kak, santai aja kak!", ucapku.


" Aku antar anak-anakmu dulu ya ke kamar mereka masing-masing, karena sebelum kalian kesini, semua keperluan kalian udah disediain, sesuai perintah om Zain!", ucapnya.


" Kenapa kalian begitu takut dengan bang Zain?", tanyaku penasaran.


" Kami tidak takut dek, hanya saja kami segan dengannya, karena om Zain sudah banyak membantu kami, dan orang-orang yang duduk bersama kita tadi, adalah pekerja om Zain, yang sudah dianggapnya sebagai keluarga", ucapnya menjelaskan.


" Intinya, kamu sangat beruntung memiliki om Zain sebagai suamimu dek, kamu pasti bahagia hidup bersamanya, karena om Zain adalah orang yang sangat baik", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Terima kasih ya kak atas infonya dan sambutan hangat dari kakak dan keluarga yang lain", ucapku sambil tersenyum.


" Ya udah, kamu istirahat dulu di dalam, dan sekarang kakak harus mengantarkan keponakan Kakak ke kamar mereka masing-masing ya!", ucapnya.


" Kak, kalau bisa, Syakira sama Syifa satu kamar aja, karena Syifa takut sendirian di dalam kamar, kalau soal Habib, dia anak yang pemberani, jadi dia ga apa-apa di kamar sendiri, benar kan sayang?", tanyaku sambil tersenyum kepada putraku.


" Iya ma, Habib kan jagoannya mama!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Syifa ga apa-apa kan ma, sesekali tidur sama mama dan pap", tanyanya.


" Iya sayang, ga apa-apa", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ayo sayang, bibi antar ke kamar kalian!", ucap kak Dewi sambil menggenggam tangan kedua Putriku, dan Habib mengikuti mereka dari belakang.


Akupun masuk ke dalam kamar.


Aku tercengang melihat kamar yang sangat luas dan tempat tidur yang berukuran besar melebihi tempat tidur di rumahku.


Di atasnya bertabur bunga mawar merah yang berbentuk love.


Pasti kak Dewi yang merancang ini semua, ucapku dengan tersenyum.


Aku bergegas membuka koperku yang sudah ada di dalam kamar, mungkin bang Zain yang menyuruh pembantunya untuk membawa koper ku ke kamar ini.


Aku menggeser pintu lemari Jepara yang berwarna putih yang ada di depanku. Aku pun segera merapikan pakaianku ke dalam ruang kosong yang ada di lemari tersebut.

__ADS_1


Selesai merapikan pakaianku, aku beristirahat sejenak di atas sofa yang ada di depan televisi yang berukuran besar yang ada di dekat lemari pakaian.


Sejujurnya, aku sudah merasa lapar, dan aku malu untuk turut ke bawah hanya untuk mengisi perutku, sedangkan anak -anakku masih belum ada yang meminta makan.


Aku memeriksa mereka dulu ke kamar mereka masing-masing, ucapku dalam hati sambil beranjak dari sofa.


Di saat aku ingin membuka pintu, bang Zain sudah berada di depan pintu.


" Adek mau kemana sayang?", tanyanya.


" Adek mau memeriksa anak-anak kita ke kamar mereka!", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Mereka sudah di urus dengan baik oleh Dewi, sekarang adek temanin Abang aja ya makan siang di kamar!", ucapnya sambil menyuruh pembantunya untuk membawa nampan berisi makanan ke dalam kamar kami.


Aku pun melangkah mundur untuk memberikan jalan kepada pembantu tersebut untuk membawakan nampan ke dalam kamar dan meletakkannya ke atas meja yang ada di dekat sofa.


" Sini sayang!", panggilnya sambil mengulurkan tangannya padaku.


Akupun menggenggam tangannya dan mengikutinya ke arah sofa dan duduk di sampingnya.


" Ditutup pintunya ya bi!", ucap Suamiku.


Bibi itu menutup pintu kamar dengan perlahan.


Bang Zain berjalan menuju pintu kamar dan mengunci pintu tersebut dan kembali duduk di sofa tempat kami duduk.


" Adek lapar kan?", tanyanya.


" Ga kok bang", ucapku sambil tersenyum padanya.


kruukk.kruuk...


" Tuh sampe bunyi perut adek, karena menahan lapar!", ucapnya sambil mencubit hidungku.


Emang ni perut, bikin malu aja, ucapku dalam hati.


" Ga terlalu lapar kok bang, suerr..!!", ucapku sambil tersenyum malu padanya.


" Ga usah malu sayang, sini Abang suapin", ucapnya sambil menyuapiku.


Akupun menerima suapannya dengan malu-malu, dan akhirnya kamip saling menyuapi sampai perut kami kenyang.


" Ayi sholat Dzuhur bang, kita kan belum sholat dari tadi, ntar keburu habis waktunya ", ucapku sambil beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju pintu kamar.


" Adek mau kemana?", tanyanya.


" Mau sholat Dzuhur di lantai bawah, tadi adek lihat ada ruang sholat disana", ucapku sambil membalikkan tubuhku padanya.


" Adek sholat sama Abang di kamar aja ya, biar ga capek naik turun tangga ", ucapnya.


" Baiklah sayang, adek sholat duluan ya ", ucapku sambil berlalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


" Tunggu Abang ya dek!, kita sholat berjamaah aja ya!", ucapnya sambil mengikutiku dari belakang.


Selesai mengambil wudhu, aku menyiapkan sajadah untuk kami berdua yang sudah disediakan di dekat lemari pakaian.


Setelah memakai mukenah, aku duduk sebentar untuk menunggu suamiku selesau mengambil wudhu.


Setelah suamiku selesai mengambil wudhu, dan berdiri di atasnya sajadah yang kusuapkan, kamipun memulai shalat kami.


Selesai sholat, aku menyalaminya dan diapun mencium keningku sambil tersenyum.


Sungguh ya Allah, dialah imam yang kubutuhkan di dunia ini, semoga engkau meridhoi dan merahmati pernikahan kami ini, yang dalam hati.


Setelah merapikan sajadah dan mukenahku, kami duduk santai di atas sofa sambil mengobrol.


" Dek, pakai lagi ya gaun malam yang Abang beli kemarin secara online, yang warna merah, pasti pas banget buat adek!", ucapnya sambil memeluk tubuhku dari belakang.


" Iya sayang, tenang aja, semua permintaan Abang, adek turutin kok!", ucapku sambil tersenyum.


" Beneran dek?", tanyanya.


" Iya, beneran bang!", ucapku.


" Kalau gitu, adek dulu yang goyang hot di atas Abang ya!", ucapnya.


" Beres sayang, Abang maunya goyang ngebor atau goyang patah-patah?", tanyaku sambil menatap wajahnya.

__ADS_1


" Dua-duanya ya sayang, biar lebih nikmat dan mantap!", ucapnya sambil mencium bibirku.


Akupun membalasnya ciumannya.


Akhirnya kami berciuman sampai kehamilan nafas kami masing-masing.


" Adek memang super hot, sekarang aja prakteknya ya sayang!", ucapnya sambil mencium bibirku dengan penuh gairah.


Kamipun melanjutkan permainan kami yang lebih hot sesuai dengan permintaan suamiku.


Kali ini, kami bercinta dengan lebih bergairah dan bersemangat demi mencapai kepuasan kami secara maksimal.


Kami melewati siang kami dengan penuh gairah dan cinta yang membara.


Kamipun tertidur lelap sambil berpelukan sampi Sore pun tiba.


Aku terbangun karena suara ketukan pintu kamar kami.


" Mama, ini Syifa ma, Syifa mau masuk ma!", ucapnya.


" Tunggu ya sayang, papa masih tidur, mama aja yang nemuin Syifa di kamar ya!", ucapku sambil beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


Setelah mandi dan berpakaian, aku pun bergegas keluar dari kamar tidur kami dan menemui putriku Syifa.


" Maaf ya sayang, papa lagi bobo, kita main di kamar Syifa sama Kakak aja ya!, nanti kalau papa udah bangun, baru kita main di kamar mama ya!", ucapku membujuknya.


" Baiklah ma, ayo Syifa tunjukin lama Syifa sama kakak, cantik banget ma, ada gambar Boneka kesukaa Syifa ma, dan tempat tidurnya juga besar dan empuk, pokonya manta ma!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Kamipun bergegas menuju kamar tidurnya. Setelah kami tiba di depan kamar tidurnya, kami segera masuk ke dalam kamar.


" Wow, cantik banget kamarnya nak!", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Betul kan ma yang Syifa bilang, memang papa yang terbaik ma!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Ooh gitu ya, jadi mama ga baik gitu!", ucapku sambil pura-pura merajuk.


" Ga ma, mama kok yang paling terbaik di atas papa", ucapnya sambil memeluk tubuhku dengan erat.


" Ga apa-apa sayang, mama cuma bercanda kok", ucapku sambil mencium pipinya.


" Kakakmu dimana?", tanyaku.


" Sedang duduk di kursi yang ada di balkon ma, sambil baca buku", ucapnya.


" Kalian Uda makan siang kan tadi?", tanyaku.


" Iya ma, bibi Dewi yang ngajakin kami makan siang di ruang makan yang ada di lantai bawah", ucapnya.


" Syifa bahagia ga tinggal di rumah papa?", tanyaku.


" Bahagia donkz ma, yang penting tinggalnya sama mama!", ucapnya.


" Syifa main sama Kakak dulu ya, mama mau nengok Abang Habib dulu di kamarnya", ucapku.


" Bang Habib lagi main sepeda ma di halaman rumah, katanya ga boleh keluar dari pagar ma, jadi bang Habib main sepedanya keliling halaman rumah aja!", ucapnya menjelaskan.


" Ya udah, Syifa mau ikut sama mama nengokin bang Habib main sepeda?", tanyaku sambil menggenggam tangannya.


" Ayo ma!", ucapnya.


Kamipun berjalan perlahan menuju lantai bawah.


" Mau kemana Ni?", tanya kak Dewi sambil menghampiri kami.


" Mau nengokin Habib main sepeda kak", jawabku sambil tersenyum padanya.


" Dia ditemani sama Darma kok diluar, jadi kamu tenang aja, Habib baik-baik saja kok!, kita ngobrol aja disini!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Ya udah, kita ngobrol aja dulu kak!", ucapku sambil duduk di sofa yang ada di ruang tamu bersama Syifa.


" menurut kakak, apa yang harus aku lakukan agar anak-anak bang Zain mau menerima aku sebagai ibu sambung mereka?", tanyaku.


Kak Dewi terdiam mendengar pertanyaanku.


Kemudian ada seseorang yang menjawab pertanyaanku.


" Kami tidak akan...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2