Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Move on... part.3


__ADS_3

Dengan berat hati, kak Khadijah mulai menceritakan alasan mengapa Mertua dan kakak iparnya bertengkar dengannya.


" Sesudah kami menikah dan tinggal di rumah orang tua bang Raka, aku selalu dihina karena kondisiku ini, yang cacat fisik, tapi aku tidak cacat hati, aku mencoba bersabar menghadapi hinaan dari keluarga bang Raka, memang dia selalu membelaku, tapi aku takut jika bang Raka lambat laun akan jenuh dan mendengarkan perkataan ibu dan kakaknya", Ucapnya berlinang air mata.


" Apa salahku, aku tidak menginginkan kecacatan dalam diriku, ini adalah taqdir dari Allah yang harus kujalani, mungkin bang Raka tidak menceritakan kecacatan fisikku ini kepada mereka, sehingga mereka kaget dan tidak menerima kondisiku ini dek, dan mereka bilang bahwa bang Raka tidak pantas hidup bersamaku, dia masih bisa memisahkan seorang wanita yang lebih layak daripada aku".


" Memang mereka tidak pantas disebut manusia kak, meski mereka tidak cacat fisik, tapi mereka memiliki kecacatan hati dan jiwa, sehingga mereka menyalahkan taqdir Allah dan merasa menjadi makhluk yang paling sempurna ", ucapku geram, ingin rasanya kukasih cabe rawit hijau yang banyak ke mulut mereka itu, biar moonyoor sekalian.


" Kakak yang sabar dan tabah ya kk, syukurlah bang Raka memilih kakak, semoga nanti setelah tinggal di Binjai, rumah tangga kakak semakin bahagia dan baik-baik saja, dan apakah aku harus memberi tahukan Paman dan bibi di kampung?", tanyaku.


" Jangan dek, jangan beritahukan bibi, nanti dia jadi kepikiran dan menyebabkan banyak masalah nantinya, biarlah deritaku ini ku tanggung sendiri, jangan ada yang menderita karenaku", ucapnya haru, dan aku langsung memeluknya tubuhnya erat, dan mengusap air matanya.


" Jangan berkata seperti itu kak, walau kita bukan saudara kandung, aku menganggap kakak sebagai kakak kandungku sendiri, kakak tidak sendirian, masih ada aku yang akan membantu kakak semampuku", ucapku sambil memeluknya.

__ADS_1


Setelah kak Khadijah tertidur lelap, aku keluar dari kamar dan segera menemui suamiku yang sedang duduk di teras rumah.


" Sayang, apa bang Raka sudah lama pulangnya?", tanyaku.


" Baru saja dek, kami banyak membicarakan tentang keluarganya yang tidak mau menerima kondisi Kak Khadijah yang cacat fisik seperti itu", ujar suamiku.


" Aku tidak habis pikir melihat tingkah mereka yang semena-mena menghina kak Khadijah, mereka bisanya cuma menindas orang yang lemah", ucapku geram.


Karena sudah siang, kami bergegas masuk ke dalam rumah. Aku melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ternyata aku belum melakukan kewajibanku kepada Allah, karena sibuk menghibur kak Khadijah. Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Dzuhur, dan diikuti oleh suamiku juga.


Selesai sholat, kami makan siang bersama di dapur. Selesai makan, aku membawakan makanan untuk kak Khadijah di kamar tamu, sekalian segelas air putih untuknya.


Kubuka pintu kamar, kulihat kak Khadijah masih terlelap di atas tempat tidur, dan aku segera duduk di tepi ranjang, dan membangunkannya untuk makan siang.

__ADS_1


Kak Khadijah duduk bersandar di tempat tidur dan mulai makan siang. Selesai makan, aku menyuruhnya untuk sholat Dzuhur. Kak Khadijah melajukannya segera.


" Ternyata ya dek, kakak bangga punya adik yang baik seperti kamu", ucapnya sebelum aku keluar dari kamarnya.


Malam pun tiba, selesai makan malam dan membersihkan dapur, aku melihat kak Khadijah sedang duduk termenung di ruang tv.


" Kak, jangan ngelamun terus, ntar kesurupan gimana?", ujarku sambil menyalakan televisi.


Di saat kami menonton film romantis, aku mendengar ada orang yang mengetuk pintu rumah kami,. siapa gerangan tamu itu, ucapku dalam hati sambil bergegas menuju pintu rumah.


Aku membuka pintu rumah, dan kulihat....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2