
Hampir seminggu berlalu, hari ini adalah hari Jum'at, saat aku sedang membersihkan dapur setelah sarapan pagi dengan suamiku, ada yang mengetuk pintu rumah kami.
Aku bergegas membuka pintu, aku melihat nenek, paman dan bibiku sudah ada di depan rumah. Aku segera menyalami mereka satu-persatu dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
" Dimana suamimu Ni", tanya bibiku,
" Bang Izal udah berangkat ke kantornya bi, jam 8 pagi tadi", jawabku sambil tersenyum.
Aku mempersilahkan mereka untuk di kursi tamu. Aku bergegas membuatkan minuman dan cemilan kue yang sudah ada di kulkas yang kami beli kemarin saat belanja kebutuhan dapur di pasar.
Setelah selesai membuat minuman dan cemilan ke atas piring, aku membawanya ke ruang tamu satu-persatu. Aku menghidangkan di atas meja dan ikut duduk bersama mereka di ruang tamu. Kamipun menikmati makanan dan minuman sambil mengobrol.
" Bi, sekarang siapa yang akan menempati rumah yang di Binjai?", tanyaku,
" Rumah itu dikontrak sama anak tetangga bibi, anaknya itu udah menikah dan punya anak, rumahnya terlalu kecil di tempati banyak orang, jadi mereka meminta tolong kepada bibi agar diizinkan untuk mengontrak rumah kami, bibi mengizinkannya untuk sementara, tapi dengan syarat rumah harus dirawat dan dibersihkan, dan perabot rumah tangga yang sudah bibi simpan di gudang, tidak boleh dipakai, padahal bibi ingin Khadijah dan suaminya Raka yang menempati rumah itu, tapi suaminya tidak setuju, karena dia bekerja di sebuah pabrik di kota Medan ini", ujar bibiku menjelaskan.
" Bagaimana kandunganmu nek", tanya nenekku,
" Alhamdulillah sehat nek, sekarang sudah hampir tiga bulan ", ucapku sambil tersenyum.
" Kalau nenek mau istirahat, ayo Ani antar ke kamar tamu di dekat ruang tv", ucapku sambil menunggu jawaban dari nenek.
" Iya, ayo antar nenek ke kamar, jadi nenek dan bibi tidur satu kamar, dan pamanmu tidur di ruang tv aja y", ucap nenek sambil tersenyum,
" Iya nek, terserah nenek sama bibi aja gimana baiknya, karena rumah ini cuma punya dua kamar", ucapku sambil membawa nenek ke kamar tamu.
Tas bawaan nenek dan bibi, dibawa paman ke kamar tamu, agar tidak berantakan di ruang tamu. Setelah di dalam kamar, " Nenek istirahat aja dulu, aku mau lanjutin kerjaanku di dapur, tadi belum selesai semua", ujarku pada nenek.
" Baiklah, selesaikan dulu pekerjaanmu di dapur, nanti malam kita ngobrol lagi ya nek", jawab nenekku.
Aku bergegas ke dapur, sedangkan paman dan bibiku masih di ruang tamu sambil mengobrol. Selesai menyusun piring yang sudah ku cuci, aku bergegas ke kulkas untuk menyiapkan bahan masakan untuk makan siang, khusus untuk suamiku dan tamu istimewa kami.
__ADS_1
Aku berencana untuk memasak opor ayam , sayur rebusan bayam, dan sambal terasi. Ketika sedang merajang bumbunya, bibi datang ke dapur menemuiku," Ani lagi ngapain di dapur sibuk sendiri, ga manggil bibi?", tanya bibiku,
" Ni mau masak opor ayam bi, untuk makan siang nanti, sekalian sambal terasi, tanpa bawang putih, biar bang Izal ga muntah kalau kecium bau bawang putih", ucapku sambil tersenyum.
" Bibi bantu aja ya biar cepat selesai, nanti Ani kecapean gara- gara banyak kerjaan", ucap bibiku,.
" Ga kok bi, Ani udah biasa ngerjainnya, bibi temenin paman aja di depan", ujarku lagi.
" Pamanmu lagi nonton tv di ruang tv, paman mu kalau udah nonton berita di tv, ga bisa diajak ngobrol sama sekali, jadi bibi bosan sendiri, mendingan disini bantuin kamu", ujar bibiku sambil tersenyum.
Satu jam lebih Kami memasak di dapur sambil mengobrol tentunya. Taulah kalau emak- emak ngobrol, suka lupa waktu, sekalian aku belajar masak makanan yang enak sama bibi, agar suamiku semakin sayang padaku.
Selesai memasuki, aku membersihkan peralatan memasak yang sudah kami pakai. Setelah ku susun di lemari piring, aku bergegas menuju kamar untuk istirahat sejenak, karena hamil aku mudah merasa lelah, jika bekerja terlalu banyak. Bibiku sudah di ruang tv bersama dengan pamanku.
Sebelum shalat Jumat, biasanya bang Izal sudah pulang dari kantornya, mungkin masih di perjalanan menuju rumah, ucapku dalam hati.
Akhirnya aku ketiduran siang ini. Aku tidak tahu, kalau bang Izal sudah pulang dan sholat Jumat bersama paman ke masjid terdekat dari rumah kam.
" Udah lama pulangnya bang?", tanyaku sambil menyantap padanya,
" lumayan lama sayang, ni udah pulang dari masjid, sholat Jum'at bersama pamanmu", jawabnya dengan tersenyum padaku.
" Aku ketiduran tadi selesai memasak, aku sholat Dzuhur dulu y sayang", ucapku buru- buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk sholat Dzuhur.
Selesai sholat, kami keluar dari kamar dan mengajak nenek, paman dan bibi untuk makan siang bersama. Kamipun makan siang bersama dengan lahapnya, karena kami memang sudah merasa lapar.
Setelah membersihkan meja dan mencuci peralatan makan, aku menyusul nenek, dan bibi yang sedang duduk di ruang tamu.
Sedangkan paman dan suamiku mengobrol di teras.
" Assalamualaikum...", ucap kak Khadijah dan suaminya Raka,
__ADS_1
" Wa alaikum salam", Jawab paman dan suamiku.
Karena mendengar suara kak Khadijah, aku bergegas ke teras untuk memastikannya, ternyata memang benar itu adalah kak Khadijah dan Raka, suaminya.
" Bi...!, kak Khadijah datang", panggiku kepada bibi, dan bibi segera menyusul kami ke teras, dan nenek juga ikut serta menemui kami.
" Baguslah pengantin barunya sudah tiba, jadi makin ramai suasana rumah ini", ucapku bahagia, dan mereka tersenyum mendengar ucapanku.
Kami segera masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu, sedangkan para pria duduk di teras rumah sambil mengobrol.
Aku bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman dan cemilan untuk kami dan para pria di teras rumah.
"Gimana keadaan kak Khadijah sama bang Raka?", tanyaku penasaran,
" Alhamdulillah baik- baik saja dek, keluarga bang Raka menyambutku dengan baik", jawab kak Khadijah sambil tersenyum pada kami.
" Syukurlah kalau begitu, Mudah- mudahan rumah tangga kalian bahagia selalu", ujar nenekku menimpali.
Selama beberapa jam kami mengobrol, dan kami sholat ashar bergantian. Tepat pukul 5 sore, kak Khadijah dan bang Raka pamit untuk pulang ke rumah mereka, dan kami mengantarkan mereka sampai di teras rumah, karena jarak rumah kami tidak terlalu jauh, mereka pulang dengan jalan kaki saja.
Sore ini, kami sedang mengobrol di teras rumah,
" Ani jam berapa acara wisudanya dimulai hari Minggu ini?", tanya pamanku,
"Paling lambat jam 8 pagi, kita harus tiba di tempat acara wisuda biar tidak terlambat paman", ujarku.
" Berarti, Ani sudah sarjana Biologi ya sekarang, rencana ke depannya gimana?", tanya pamanku lagi,
" Aku terserah bang Izal, kalau mau aku ibu rumah tangga atau wanita yang berkarier, semua tergantung idzin dari bang Izal", ucapku dengan penuh keyakinan.
Bersambung....
__ADS_1
"