
Saat ini, aku sedang menunggu kedatangan sister memabawa bayiku dari ruang inkubator. Karena berat badannya masih kurang, sehingga dia harus dirawat intensif di inkubator rumah sakit ini.
Menurut cerita suamiku, aku dirawat di ICU selama tiga hari, tiga malam, karena tidak sadarkan diri dan kekurangan darah.
Waktu itu, di rumah sakit ini kehabisan stok golongan darah AB, sehingga suamiku harus mencri pendonor darah dari keluarga atau teman-temannya, karena suamiku golongan darahnya O.
Kebetulan ada seorang pria yang mau mendonorkan darahnya padaku, tanpa mau menyebutkan namanya. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena mengerakkan hati pria itu untuk menolongku, dan aku sangat berterima kasih padanya, walau aku tidak mengetahui siapa dia, semoga Allah SWT melimpahkan rezeki dan rahmat-Nya kepada orang baik itu, ucapku dalam hati.
Aku tidak sabar menunggu kedatangan suster itu.
" Assalamualaikum", ucap sang suster sambil tersenyum dan mendorong tempat tidur bayi yang didalamnya ada bayiku.
" Assalamualaikum suster", jawabku dengan senyum bahagia.
"Giman keadaan ibu saat in", tanya suster padaku.
" Alhamdulillah, aku Uda merasa baikan suster, tolong bawa bayiku ke pangkuankua", ucapku tak sabar.
" Iya Bu", ucapnya sambil menggendong bayiku dan menaruhnya ke pangkuanku.
" Selamat ya Bu, ibu memiliki seorang putri yang sangat cantik seperti ibunya", ucap sang suster.
" Terima kasih banyak ya suster, sudah merawat putriku dengan baik", ucapku sambil tersenyum.
" Sama-sama Bu, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami sebagai perawat disini", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Ibu sudah menyiapkan nama putri ibu yang cantik ini?", tanyanya lagi.
" Aku memang sudah menyiapkannya dulu, tapi aku belum mengatakannya pada suamiku, aku menunggu persetujuannya dulu, barulah kami pastikan namanya yang terbaik untuk bayi kami", ucapku menjelaskan.
" Assalamualaikum ", ucap kak Khadijah dan suaminya Raka.
" Wa alaikum salam kak ", ucap kami bersamaan.
" Dimana bang Izal kak, apa kalian tidak bertemu dengannya di lobi rumah sakit, katanya dia dipanggil receptionist tadi", ucapku.
" Ga dek, mungkin dia ada urusan penting lainnya, gimana keadaan adek sekarang?", tanya kak Khadijah.
" Alhamdulillah udah mendingan kak, terima kasih sudah mau membantuku dan merawat kami disini ", ucapku haru.
__ADS_1
" Ga usah sungkan dek sama kakak, kita kan keluarga, sudah sepatutnya kita harus saling tolong-menolong dan saling menyayangi ", ucap kak Khadijah sambil tersenyum padaku.
" Iya kak, terima kasih atas kebaikan Kakak dan kakak ipar, semoga Allah SWT memberikan segala kebaikan kepada kakak dan kakak ipar ", ucapku tulus.
" Jangan berkecil hati ya dek, karena paman dan bibi tidak bisa datang menjengukmu, karena belum ada kesempatan saat ini, mungkin lusa, mereka akan tiba di kota ini untuk menjengukmu dan bayi cantikmu, oh ya, udah ditentuin namanya siapa?", tanya kak Khadijah.
" Udah kak, tapi aku harus bilang dulu sama bang Izal, dia setuju atau ga", ucapku sambil tersenyum.
" Iya dek, harus dibilang dulu sama ayahnya, ntar ngambek lagi dianya", ucap kak Khadijah menggodaku.
" Siapa yang ngambek kak" tanya bang Izal yang tiba-tiba masuk, karena pintu kamarnya tidak ditutup.
" Siapa lagi ya, yang tulang ngambek tanpa alasan yang jelas ", ucapnya sambil tertawa.
Akupun ikut tertawa mendengar ocehan kak Khadijah. Aku melihat bang Izal tersenyum, karena dia tau siapa yang dimaksud kak Khadijah.
" Dek, ini Abang beliin makanan di warung makan seberang rumah sakit, lauknya ikan gabus goreng, katanya bagus untuk dimakan oleh orang yang baru di operasi", ucap bang Izal sambil menaruhku ke atas piring.
" Ntar lagi aja bang, adek masih pengen menimang bayi kita yang cantik ini", ucapku sambil mencium pipi Putriku yang masih merah dan lumayan tembem, mungkin karena dia kuat minum susu formula.
" Iya sayang, ini ada cemilan gorengan kak Khadijah, silahkan dimakan", ucapnya sambil menyodorkan plastik yang berisi gorengan ke atas meja yang ada di dekat kak Khadijah dan suaminya Raka.
" Terima kasih dek" ucap kak Khadijah sambil mengambil dua buah goreng pisang yang masih panas untuknya dan suaminya Raka.
" Arti namanya apa dek ?", tanya Bang Izal.
" Artinya, bunga yang disyukuri, atau putri yang diberkahi, itu bang", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ya udah, itu aja, lagian Abang juga bingung mau ngasih nama apa, Abang setuju aja sama adek", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Kapan dek Ani bisa pulang dibilang dokternya dek Izal", tanya kak Khadijah.
" Inshaa Allah, besok sudah bisa pulang, Ita dokternya, agar kondisi mereka berdua tetap stabil, dan tidak ada kondisi yang menyebabkan kecemasan untuk kita setelah pulang ke rumah besok", ucap suamiku sambil tersenyum.
" Syukurlah, kalau begitu, semoga kondisi Ani dan Syakira, stabil dan sehta selalu", ucap kak Khadijah sambil tersenyum.
" Ngomong-ngomong, kamu memang ga tau siapa yang mendonorkan darah untuk si Ani kemaren ?", tanay bang Raka kepada bang Izal.
" Aku memang tidak tahu bang, siapa orangnya, karena dokter tidak mau memberitahuku siapa orangnya, padahal aku ingin mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikannya yang dengan tulus mau membantu kami, padahal aku sudah cari bantuan ke keluarga atau teman-teman, ga àda yang golongan darahnya sana dengan dek Ani", ucap bang Izal menjelaskan.
__ADS_1
" Semoga Allah SWT memberikan orang baik itu segala kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat", ucap Kak Khadijah dengan tulus.
" Aamiin..", ucap kami bersamaan.
" Apa air ASI mu udah keluar dek ?", tanya kak Khadijah.
" Iya kak, tapi Syakira belum bisa menghisapnya, padahal colostrum Asi sangat bagus untuk bayiku, jadi suster menyarankan untuk disedot saja pakai pompa ASI baru dimasukkan ke botol Asi nya, samapi bayiku bisa menyusu dengan normal, sekarang suster sedang mengambilkan pompa ASI nya ke apotek, karena bang Izal tadi di luar rumah sakit", ucapku menjelaskan.
" Iya dek, mana yang terbaik aja, semoga Syakira cepat bisa menyusu dengan normal", ucap kak Khadijah.
" Kalau begitu, kakak dan bang Raka pamit pulang ya dek, besok kami datang lagi, sekalian mengantarkan kalian pulang ke rumah, hanis dari sini, bang Raka masih ada urusan di kantornya, jadi harus cepat balik lagi", ucap kak Khadijah sambil tersenyum.
" Iya kak, ga apa-apa, terimakasih ya kak, dan hati-hati di jalan", ucapku sambil mengetuk.
Kak Khadijah dan suaminya Raka pun beranjak menuju pintu kamar, sebelum keluar dia menyempatkan mencium keningku dan bayiku, sebagai wujud rasa sayangnya pada kami.
Setelah kepergian kak Khadijah dan suaminya Raka, kamar kami menjadi sepi, hanya terdengar suara tangisan bayiku yang menggema di ruangan kamar pasien ini, karena kelaparan, dan tidak sabar menunggu mamanya yang sedang memompa ASI eksklusif untuknya.
Setelah dia kenyang, barulah bayiku diam dan tidur kembali. Aku menaruhnya di box bayi yang ada disampingku.
Aku melihat wajahnya yang cantik dan tenang saat tertidur lelap.
" Bang, tolong diambilin makanan yang Abang beli tadi", ucapku sambil tersenyum.
Suamiku segera mengambil makanannya yang sudah dia taruh diatas piring.
" Ino dek, makan yang banyak ya, biar cepat sehat kembali", ucap suamiku sambil memberikan piring yang berisi makanan padaku, dan menaruh air mineral di sampingku.
" Terima kasih ya bang", ucapku sambil tersenyum.
Selesai menyantap makananku, Aku mencoba berdiri dan berjalan perlahan di kamar pasien ini dengan bantuan suamiku, karena kamar ini cukup luas, dan hanya kami yang menempatinya.
" Bang, mungkin biaya kamar ini sangat mahal ya ?", tanyaku sambil berjalan perlahan.
" Abang ga tau dek,ga usah adek pikirkan, ini semua asuransi kesehatan tempat Abang bekerja yang menanggungnya", ucap suamiku sambil tersenyum.
Akupun merasa tenang mendengar ucapannya, karena aku takut suamiku kesusahan dan pontang-panting mencari pinjaman uang untuk pengobatan kami, Alhamdulillah, ucapku dalam hati.
Beberapa menit berjalan, aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur pasien kembali.
__ADS_1
Aku ...
Bersambung...