Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Menyelamatkan empat nyawa...


__ADS_3

Aku perlahan mendekati jendela kaca yang ada di dekat pintu kamar pasien. Aku melihat dua orang pria memakai penutup kepala berwarna hitam, mengendap-endap memeriksa kamar satu persatu.


Ada jarak lima kamar pasien ke kamar kami.


Aku mendekati kak Khadijah perlahan.


" Kak Khadijah, bangun Kak, kita dalam bahaya sekarang", ucapku sambil berbisik ke telinganya.


" Bahaya gimana maksudnya dek?", tanyanya lagi.


" Nanti saja kujelasin ya kak, yang penting kita harus keluar dulu dari kamar ini, kalau ngasih tahu bang Izal dan bang Raka udah ga keburu lagi kk", ucapku sambil melepaskan botol infus yang tergantung, setelah ku u steel pengaturan cairan infusnya agar kak Khadijah tidak mengalami stuing ( darah naik ke dalam selang infus).


Setelah membantu kak Khadijah turun dari tempat tidur, aku membuat bantal guling ke tengah kasur pasien dan menutupnya dengan selimut putih yang ada di atas kasur. Begitu juga dengan tempat tidur pasien yang kupakai tadi.


Aku kembali mengintip dari jendela kaca yang ada di dekat pintu.


Kulihat kedua pria berpenutup kepala itu masuk ke dalam kamar yang berjarak tiga kamar dari kamar kami.


Aku memapah kak Khadijah untuk keluar dari kamar dengan perlahan, agar pria itu tidak mendengar suara langkah kaki kami yang keluar dari kamar pasien.


Setelah keluar dari kamar tidur pasien, kami bersembunyi di balik gedung yang ada di dekat kamar kami tadi.


Kami melihat kedua pria itu memasuki kamar yang ada di sebelah kanan kamar kami.


Melihat itu, kami bergegas berjalan kaki menuju ruang tunggu rumah sakit, dimana suamiku dan bang Raka sedang mengobrol tadi.


Aku takut, kalau mereka datang ke kamar kami, di saat pria bertopeng itu masih ada di kamar kami.


Lima menit kemudian, kami tiba di ruang tunggu rumah sakit. Kami mempercepat langkah kaki kami untuk menemui suamiku dan bang Raka, karena kulihat mereka berdiri dari tempat duduk dan berjalan ke arah kamar kami.


" Bang Izal...!", panggilku dengan suara keras.


Seketika, bang Izal menoleh ke arah kami, dan kaget melihat kami berjalan tertatih mendekati mereka.


" Kalian kok bisa disini, emangnya kenapa dek?", tanyanya penasaran.


" Kalian jangan ke kamar kami, tadi ada dua pria yang memeriksa semua kamar sambil membawa benda tajam, mungkin kedua pria itu adalah suruhan si Jarwo, ketua komplotan begal yang menyerang kita tadi siang di perkebunan teh", ucapku sambil ngos-ngosan.

__ADS_1


" Aku telepon komandan polisi yang tadi sore kita temui di kantor polisi, agar mereka segera kesini menciduk kedua pria itu ", ucap bang Izal.


Disaat kami sedang sibuk menelepon pak komandan polisi, ada seorang satpam rumah sakit yang menemui kami.


," Bapak dan ibu kenapa berada disini membuat keributan, ini rumah sakit pak Bu", ucapnya tegas.


" Maaf pak satpam sebelumnya kami tidak ada niat untuk membuat keributan, tapi ada dua orang pria memakai topeng penutup kepala yang sedang mengancam nyawa kami", ucapku khawatir.


" Kok bisa Bu, emangnya ibu dan bapak ada musuh ?, tapi, kelihatannya, bapak dan ibu bukan orang asli daerah ini ", ucapnya dengan sopan.


" Iya, kami datang kesini untuk berlibur, tapi tadi siang di saat kami mau ke perkebunan teh untuk berwisata, ada lima orang pria yang ingin merampas hak milik kami, jadi kami membela diri dan melaporkannya ke polisi, dan ketua komplotan begalnya sudah di penjara, menurut firasatku, kedua pria itu adalah suruhan si Jarwo, ketua komplotan begal, mungkin dia menaruh dendam kepada kami", ucapku menjelaskannya.


" Kalau begitu, ayo kita tangkap kedua pria itu, agar mereka tidak bisa mencelakai kalian lagi ", ucapnya sambil bergegas memanggil teman - teman se profesinya yang berjumlah tujuh orang.


Kami bergegas menuju kamar kami, dan setibanya disana, kami melihat dari jendela kaca kamar pasien yang ada di dekat pintu, kedua pria itu sedang mengacak - acak kamar kami, dan menusuk - nusukkan pisau yang sangat tajam ke arah bantal guling yang kututupi by dengan selimut.


Melihat hal itu, kami menjadi sangat yakin, kalau kedua pria itu adalah suruhan si Jarwo, ketua komplotan begal yang tertangkap tadi siang.


Para satpam memasuki kamar pasien ingin menangkap kedua pria itu. Terjadi perkelahian sengit antara kedua pria itu dan ketujuh satpas itu, karena mereka sama-sama jago beladiri.


" Bang, adek takut ngeliatnya, kita pergi aja yuk ke ruang tunggu yang tadi, ntar kalo para satpamnya bisa mereka kalahin, bisa bahaya kita bang, kasihan anak kita bang, belum lahir", ucapku khawatir.


Mendengar perkataanku, bang Izal dan bang Raka langsung membawakan kami menjauh dari tempat kejadian menuju ruang tunggu.


Di saat kami tiba disana, ada tiga orang pria berpakaian seragam polisi yang sedang bertanya kepada seorang suster, menanyakan kamar kami.


Mendengar hal itu, kami bergegas menemui ketiga polisi itu.


" Selamat malam pak, kami dengar bapak mencari kami", ucap bang Izal.


" Apa anda yang bernam pak Izak ?", tanya salah satu polisi.


" Iya pak, saya sendiri, ada apa ya pak ?", tanyanya penasaran.


" Komandan kami mendengar percakapan ketua komplotan begal yang kami tangkap tadi siang, katanya dia sudah menyuruh anak buahnya untuk menghabisi nyawa kalian berempat, sehingga komandan kami menyuruh kami kesini untuk melindungi kalian", ucapnya dengan tegas.


" Kebetulan sekali pak, para satpam sedang m

__ADS_1


berkelahi dengan dua orang pria bertopeng di kamar kami, kemungkinan besar, mereka adalah suruhan si Jarwo itu pak", ucapku dengan semangat.


" Tolong antarkan kami ke tempat kejadian", ucap salah satu polisi.


Kami segera mengantarkan mereka ke tempat kejadian yang kami maksud. Setibanya disana, ada seorang pria bertopeng yang lolos dari bekukan para satpam, dan pria itu mencoba menyerang kami.


Dooorr...


Seorang polisi menbakkan timah panas ke kaki pria yang ingin menyerang kami.


Seketika pria itu tersungkur ke lantai rumah sakit.


Salah satu polisi langsung memborgol tangan si pria bertopeng itu kebelakang tubuhnya.


Kami bergegas melihat ke dalam kamar pasien, ada lima orang satpam yang terluka terkena sabetan senjata tajam, dan yang dua orang satpam hanya luka ringan saja.


Ternyata kedua pria bertopeng penutup kepala itu sangatlah mahir dalam ilmu beladiri, tapi sayangnya dia menggunakan ilmu beladirinya untuk jalan yang salah.


Para polisi menggiring kedua pria bertopeng itu keluar rumah sakit.


Disana sudah menunggu sebuah mobil tahanan yang akan membawa kedua pria itu.


" Terima kasih banyak ya pak, atas bantuan bapak- bapak kepada kami", ucap bang Izal kepada pak polisi dan para satpam.


" Iya, sama-sama pak, sudah sepatutnya kita sesama manusia harus saling tolong-menolong, dimanapun kita berada, semoga tidak ada lagi yang berniat mencelakai kalian nantinya", ucap pak satpam dan pak polisi bergantian.


" Aamiin pak, sekoga kita semua selalu dilindungi oleh Allah SWT", ucapku sambil tersenyum.


" Kami permisi kembali ke kantor polisi ya pak, Bu", ucap salah satu polisi.


" Iya pak, sekali lagi terima kasih banyak ya pak", ucap bang Raka kemudian.


Mobil tahanan yang ada di depan rumah sakit pun pergi meninggalkan rumah sakit, dan kami melihat para satpam yang terluka, sedang dirawat oleh suster rumah sakit.


Akhirnya....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2