
Waktupun berlalu dengan cepat, tidak terasa hari Minggu pun tiba. Hari ini adalah hari spesial untukku. Berjuang selama bertahun-tahun untuk mendapatkan gelar sarjana yang kuimpikan, yang ku cita-citakan sejak dari kecil.
Pagi ini seperti biasa, aku terbangun saat adzan shubuh berkumandang. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk sholat shubuh. Saat aku selesai sholat, aku melihat bang Izal sudah bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Pagi nek", ucapku saat melihat nenekku sedang duduk di kursi dekat meja makan sambil minum teh manis. Aku mengambilkan cemilan yang ada di kulkas untuk nenek.
" Ni nek kuenya, enak kok nek", ucapku sambil tersenyum dan duduk di depannya.
" Makasih ya sayang", ucap nenek sambil tersenyum.
" Nanti kalau seandainya Izal tidak mengizinkan Kamu untuk berkarir, kamu nurut aja sama perkataan suamimu, itu yang terbaik untuk rumah tangga kalian, lagian Ani kan sedang mengandung, jadi harus banyak istirahat", ucap nenek menasehatiku.
__ADS_1
" Iya nek, aku akan menuruti nasehat nenek dan perkataan suamiku nek, walau sebenarnya aku ingin belajar mandiri, sejak kecil sampai sebelum menikah, ,aku selalu bergantung pada nenek dan paman , dan setelah aku akan menggantungkan hidupku pada suamiku, apapun itu pasti yang terbaik untukku, iya kan nek?!", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya sayang, semua yang ditakdirkan Allah SWT adalah yang terbaik untuk kita, karena Allah SWT yang lebih Mengetahui nya", ucap nenek untuk meyakinkanku.
Saat mengobrol dengan nenek, bibi datang ke dapur untuk membuatkan kopi untuk paman dan bang Izal di ruang tv. " Pagi-pagi gini, nenek dan cucunya sedang asyik ngerumpi", ucapnya menggoga kami.
" iya bi, sekali- sekali kan ga apa-apa, kita masak nasi goreng kampung untuk sarapan pagi ini ya bi, nanti kita makan siannya di restoran sederhana saja setelah acara wisuda. Nanti setelah sarapan, aku dan bang Izal mau ke salon dulu, biar aku tampil cantik di acara wisudaku ini", ucapku dengan penuh semangat.
" Terserah kalian aja, enaknya gimana, bibi sih enjoy aja, gimana Bu ?", ucap bibi kepada nenek. Nenek pun kemudian menjawab dengan gaya gaulnya," Enjoy aja,, yang penting happy", ucap nenek, kamipun tertawa bersama mendengar ucapannya.
Aku menghampiri suamiku perlahan dan memegang tangaƱnya dan tersenyum padanya, barulah dia tersadar kalau aku sudah ada di depannya. Bang Izal langsung memeluk tubuhku dan mencium keningku, dan berbisik" Adek kelihatan cantik dan abang kangen banget bercinta sama adek, udah dua malam ga dikasih jatah juniornya Abang in", aku langsung mencubit tangannya, bisa- bisanya bang Izal ngomong kayak gitu, kalau orang dengar, malu donk.
__ADS_1
Bang Izal hanya tersenyum melihat reaksiku. " Abang makin genit ya sekarang", ucapku sambil tersenyum, " Ga apalah genitnya sama istri sendiri", ucapnya sambil memeluk tubuhku lagi.
" Buruan bang kita pulang ke rumah, mereka udah nungguin kita, biar berangkat bareng ke acara wisuda, lagian baju toga ku masi di rumah", ujaju sambil menarik tangan suamiku menuju parkiran sepeda motor kami.
" Hati- hati sayang, nanti adek bisa jatuh kalau buru- buru, ingat Adk lagi hamil sekarang", ucapnya sambil menahan tanganku agar memperlambat langkah kakiku.
" Maaf ya sayang, Adek jadi lupa", ucapku sambil tersenyum padanya.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di rumah.
Nenek,paman dan bibi, serta kak Khadijah dan suaminya Raka sudah menunggu kami di teras. Rencananya kami akan berangkat ke tempat acara wisuda dengan menaiki mobilnya bang Raka, biar cepat nyampenya dan gak ribet.
__ADS_1
Setelah mengambil perlengkapan wisudaku dan mengunci pintu rumah, kamipun segera masuk ke dalam mobil dan langsung berangkat...
Bersambung ...