Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Bimbang...


__ADS_3

Aku terdiam dan terpaku di dalam pelukan suamiku. Aku bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, aku sakit hati dengan perbuatan suamiku, di sisi lain, ada bayiku yang belum lahir, dan masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah, sungguhan egois, jika aku hanya memikirkan diriku sendiri.


Aku melepaskan tubuhku dari pelukannya, dan bergegas menuju tempat tidur untuk merebahkan tubuhku.


Aku bimbang harus mengambil keputusan apa, disaat bathinku berkecamuk dan beradu argument dengan pikiranku, aku terlelap tidur dengan memeluk bantal gulingku sampai akhirnya aku terbangun di saat adzan magrib berkumandang.


Aku merasa badanku pegal-pegal dan lelah. Hati dan pikiranku juga sangat lelah menghadapi ujian hidup ini.


Coba bayangkan saja, disaat kamu mencintai dan mempercayai seseorang melebihi dirimu sendiri, tiba-tiba dia menipu dan menghianatimu, apa yang akan kamu lakukan..?


Aku juga bimbang dalam mengambil keputusanku. Apakah aku harus meninggalkannya atau memaafkannya..?


Aku tidak peduli lagi suamiku pergi kemana, saat ini aku hanya ingin menenangkan hati dan pikiranku.


Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sholat Maghrib. Seperti sebelumnya, aku mencurahkan isi hatiku, kegelisahan dan kegundahanku hanya pada sang Maha Kuasa. Selesai sholat, hati dan pikiranku mulai tenang.


Aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur sambil memeluk bantal gulingku.


Aku mendengar langkah kaki menuju kamar kami, dan kuyakin itu adalah suamiku.


Aku berpura-pura tidur, agar aku tidak melihat wajahnya.


" Sayang, ayo bangun, biar kita makan malam bersama, Abang udah masak makanan kesukaan adek, kangkung tumis pedas, sama sambal ikan teri kacang ", ucap suamiku membujukku sambil mencium keningku.


Aku diam saja dan tetap pura-pura tidur dan aku tidak mau merespon ucapannya.


Aku mendengar suara langkah kakinya yang menjauh dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Barulah aku membuka mataku.


Sebenarnya aku merasa bersalah padanya, karena tidak merespon perhatiannya, tapi aku masih kecewa dan sakit hati padanya.


Disaat aku melamun, aku tidak tahu kalau suamiku sudah ada di dalam kamar dan duduk di atas tempat tidur.

__ADS_1


" Sayang, ayo makan malam dulu, pasti kamu sudah lapar kan ?!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Taruh aja di atas meja rias ku, nanti aku makan sendiri", ucapku sambil memeluk bantal gulingku, tanpa melihatnya sedikitpun.


Bang Izal pun beranjak dari atas tempat tidur, dan keluar dari kamar. Aku melihat wajahnya yang terlihat sedih dan lesu.


Jujur saja, dari tadi aku memang sudah lapar, dan karena egoku, aku menahannya rasa laparku. Melihat makanan yang ditaruh suamiku di atas meja riasku, aku tidak bisa menahan rasa laparku lagi. Aku bergegas duduk dan by beranjak dari tempat tidur menuju meja riasku.


Aku menyantap makananku dengan lahapnya sampai tak tersisa, padahal makanannya cukup banyak. Aku kelaparan karena egoku sendiri.


Selesai makan, aku keluar dari kamar sambil membawa piring dan gelas bekas makanku. Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi, karena aku tidak ingin bang Izal memergokiku.


" Udah selesai sayang makan malamnya?", ucapnya sambil tersenyum melihat tingkahku.


" Sudah", ucapku singkat sambil berlalu menuju dapur.


Aku bergegas ke kamar mandi untuk menggosok gigiku, karena aku tidak mandi tadi sore. Selesai membersihkan wajah dan tanganku dengan menggunakan sabun dan air bersih, aku mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya.


" Dek, ini buah Sunkist yang kita beli di Brastagi, udah Abang kupasin kulitnya, adek tinggal makan aja, adek bawa ke kamar ya", ucap suamiku sambil tersenyum.


Aku tahu maksud dan tujuannya adalah untuk membujukku, agar aku mau memaafkannya, tapi entahlah, hatiku masih terasa berat.


Aku membawa Sunkist yang sudah dikupas suamiku ke dalam kamar dan menaruhnya di atas meja riasku.


Selesai sholat, aku memakan beberapa biji buah Sunkist yang ada di atas piring sambil menatap wajahku dari pantulan cermin.


Aku berdiri di depan cermin, aku melihat pipiku yang tembem, pinggangku yang melebar, dan payudaraku yang berukuran besar, karena sedang mengandung.


Tubuhku yang ramping dulu, dalam sekejap berubah menjadi gendut. Mungkin, karena aku tidak terlihat cantik lagi seperti dulu, sehingga suamiku bosan dan berpaling dariku, ucapku dalam hati, sambil melihat tubuhku dari pantulan cermin.


Mau gimana lagi, aku mencintainya, dan dari sikapnya, aku tau kalau dia memang mencintaiku atau dia hanya merasa kasihan dan simpati padaku, sehingga dia bersikap begitu baik dan manis padaku.

__ADS_1


Nasi sudah menjadi bubur, mungkin suat saat nanti, bang Izal akan mengakui perasaannya padaku, sehingga aku bisa mengetahui tentang perasaannya padaku.


Aku kembali duduk dan bersandar di kursi, sambil menatap wajahku yang tidak cantik lagi menurutku.


Kerena merasa lelah dengan semuanya, aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan mulai memejamkan mataku, dan berharap semua hal buruk yang terjadi hanyalah mimpi semata.


Aku berharap, esok hari, mimpi buruk ini akan berlalu, dan semua kebahagiaanku akan kembali seperti semula.


POV. Izal


Setelah kami pulang dari Brastagi, ada sebuah SMS masuk ke dalam ponselku.


Awalnya, aku tidak mengetahui kalau itu adalah SMS dari Mira, mantnk kekasihku dulu.


Saat dia mengirim sebuah foto, disaat kami berciuman, barulah aku sadari kalau itu adalah Mira. Aku mencoba mengingat dimana kejadian itu berlangsung.


Aku ingat saat dia meminta bantuanku untuk mengantarkan anaknya berobat ke rumah sakit, dan saat itulah aku masuk ke dalam perangkap nya ya ng kotor.


Karena emosi dengan ulahnya, aku menelponnya dan mengancamnya, jika dia memperlihatkan foto itu pada istriku, aku tidak akan pernah memaafkannya, karena dia sudah menjebakku.


Setelah menelponnya, aku membanting hp ku ke atas tempat tidur kami, dan aku lupa untuk menghapus foto itu, yang kupikirkan hanyalah Ani, dan betapa bodonya aku, sudah terjebak tipu muslihat Mira.


Saat Ani memperlihatkan foto itu yang ada di hp ku, barulah aku sadari, kalau aku salah tidak menghapus foto itu dari galeri hp ku. Kami bertengkar hebat, itu semua karena kesalahan dan kebodohanku.


Aku takut, pertengkaran kami akan berpengaruh terhadap kandungannya, dan aku tidak mau hal buruk terjadi pada istriku. Aku mencoba membujuknya sebisaku, agar dia mau memaafkan kesalaha dan kebodohanku, dan memberikan kesempatan kedua untukku memperbaiki diri.


Saat ini, aku sedang mengintip ulah istriku, dari pintu yang kubuka sedikit, aku hanya ingin memastikan keadaannya, tapi aku melihat istriku memperhatikan dirinya sendiri didepan cermin sambil memutar tubuhnya, aku mengerti lalu dia mulai tidak percaya diri karena perubahan yang terjadi pada tubuhnya, yang menurutnya aku tidak tertarik lagi padanya.


Aku sedih dan merasa sangat bersalah melihat istriku yang menyalahkan dirinya sendiri.


Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan dan kebodohanku itu, dan aku akan memperbaiki diri. Semoga istriku, mau memaafkanku dan memberikan kesempatan kedua padaku, ucapku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2