
Aku melanjutkan pekerjaanku sampai selesai tanpa melihat bang Izal sedikitpun. Dia mencoba mengajakku berbicara, tapi aku tidak peduli, karena aku juga ingin memperlihatkan padanya, kalau aku juga bisa marah.
Selesai sholat, aku menyiapkan makan malam seadanya. Kami makan malam bersama tanpa bicara sepatah katapun.
Setelah makan malam, Marni mencuci peralatan masak dan makan yang sudah kotor, sedangkan aku membersihkan meja dan menyusun piring yang sudah dicuci ke rak piring.
Selesai mengerjakan pekerjaan dapur, aku dan dek Marni menonton televisi. Sedangkan suamiku sedang duduk di teras rumah sambil memainkan hp nya.
" Kakak tidur duluan ya dek, nanti jangan sampai larut malam nontonnya", ucap sambil beranjak ke kamar tidur kami. Rencananya, aku akan periksa kandungan ke dokter spesialis kandungan langgananku, tapi aku lagi marahan dengan suamiku. Lebih baik aku pergi sendiri naik becak motor, ucapku dalam hati sambil merebahkan tubuhku.
Di saat aku mulai terlelap, aku mendengar suara langkah kaki suamiku yang sedang menuju ke kamar tidur kami, dan saat ini dia sedang membuka pintu kamar kami dan berdiri disana cukup lama, kemudian dia merebahkan tubuhnya di sampingku, dan memeluk tubuhku sambil mengelus perutku.
Aku masih bisa merasakan elusan tangannya. Aku memang merasakan rasa bersalahnya, tapi mungkin karena bang Izal meràsa gengsi minta maaf padaku, ya sudahlah, biarkan waktu berlalu dengan cepat, agar semuanya tidak diingat lagi.
Tanpa sadar, kami tertidur lelap sampai malam pun berlalu tanla kehangatan yang biasa kami lalui sebelumnya. Karena ego kami sendiri.
Pagi pun tiba. Aku melakukan aktivitasku seperti biasanya. Selesai melakukan aktivitasku, aku bergegas menuju teras, untuk berjalan pagi di sekitar komplek perumahan yang kami tempati.
Selama lima belas menit, aku berjalan kaki di sekitar perumahan kami, tapi karena aku meràsa lelah, aku kembali ke rumah sambil berjalan kaki perlahan, aku merasa nyeri di bagian bawah perutku.
Akhirnya aku tiba di depan rumah, kemudian aku duduk sejenak di kursi teras rumah kami.
Aku membuka pintu rumah dan masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi untuk buang air kecil.
" Kamu kenapa dek?", tanya suamiku.
" Ga Kenapa-kenapa", ucapku singkat.
" Jangan marah lagi ya sama abang, Abang minta maaf kalau reaksi Abang kemaren terlalu berlebih-lebihan", ucap suamiku sambil menggenggam tanganku.
" Ya udah, ga apa-apa kok bang, aku ga marah sama abang cuma kesal aja nengok tingkah Abang yang berlebihan ", ucapku sambil berjalan menuju meja makan untuk sarapan.
__ADS_1
" Maarnii...", panggil dengan suara keras, walau mungkin dia tidak mendengarnya, karena kondisinya.
Suamiku tersenyum melihat tingkahku yang melampiaskan kekesalanku dengan memanggil Marni dengan suara keras.
" Ga usah dipaksain manggilnya dek, nanti kalau dia merasa lapar, dia pasti akan datang kesini untuk sarapan", ucap suamiku sambil tersenyum padaku.
Akhirnya kami hanya sarapan berdua pagi ini.
Selesai sarapan, aku membereskan piring kotor kami ke dalam sebuah baskom yang ada di dekat pintu kamar mandi, kemudian aku menutupi makanan kami dengan menggunakan tudung saji.
Aku menyusul suamiku ke kamar tidur kami. Aku melihat dia sedang bersiap -siap untuk berangkat kerja. Dia memakai pakaian stelan berwarna biru. Pakaian itu terlihat sangat cocok dipakainya, dan semakin terlihat gagah dan tampan.
" Kenapa sayang, adek terpesona ya ngeliat ketampanan Abang, sampai ga berkedip gitu natap Abang!", ucapnya menggodaku.
" Ke geeran banget si Abang ya, orang ga ada merhatiin kok, Wewe", elakku sambil berjalan menuju tempat tidur.
" Adek hari ini mau periksa kandungan ke dokter spesialis kandungan langgananku itu ya bang, ga apa-apa, adek sendirian aja periksa ya, apalagi Abang baru masuk kerja sepulang kita liburan dadakan itu", ucapku.
" Ke rumah sakit aja bang, kalau jam segini, biasanya dokter spesialis kandungannya lagi di rumah sakit, adek takut kelamaan nunggu kalau ke tempat prakteknya", ucapku.
" Oke lah kalau begitu ratuku, sesuai perintah sang Ratu saja", ucapnya sambil mengedipkan matanya padaku.
" Abang makin genit ya sekarang, main kedip mata segala ", ucapku sambil tersenyum.
" Abang kan genitnya cuma sama adek, yah .ga apa-apa donkz...", elaknya.
" Terserah Abang aja deh", ucapku sambil memakai jilbab pashmina berwarna pink kesukaanku, karena saat ini, aku sedang memakai daster berwarna pink juga.
Selesai bersiap, kaki pun bergegas keluar rumah. Di saat kami sedang duduk di kursi teras, Marni menanyakan kemana kami akan pergi dengan menggunakan bahasa isyarat.
Akupun menjawab pertanyaannya dengan bahasa isyarat juga, dan menyuruhnya untuk tidak keluar rumah, karena aku mengunci pintu rumah dari luar, dan hany keluar sebentar.
__ADS_1
Kamipun berangkat menuju rumah sakit umum dengan menaiki kuda besi kami. Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah saki umum Medan.
Aku turun dari sepeda motor dan menyalami suamiku, dan pamit padanya untuk masuk ke dalam rumah sakit. Aku bergegas menuju loket pendaftaran pasien.
Selesai mendaftar, aku disuruh petugas pendaftaran pasien untuk menunggu di dekat poly obgyn. Kebetulan hari ini, ibu hamil yang ingin memeriksa kandungan sudah ada sembilan orang, dan aku adalah pasien yang ke sembilan. Mungkin karena masih pagi, makanya Masih sedikit, mungkin nanti akan bertambah lagi.
" Antrian nomor tujuh..." , panggil si assisten dokter kandungannya.
Akhirnya, sebentar lagi giliranku, pinggangku sudah mulai terasa pegal, karena kelamaan duduk, memang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan dan melelahkan, sungutku dalam hati.
Di saat asisten dokter spesialis kandungannya memanggil nomor antrianku, ada, ketika aku beranjak dari tempat dudukku, dan berjalan menuju ruang pemeriksaan, ada seorang wanita yang sedang hamil juga sama sepertiku, menyerobot masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Otomatis, kau keberatan dengan ulah wanita itu. Aku mendatangi ruang pemeriksaan dokter spesialis kandungannya, dan komplain terhadap mereka.
" Ini namanya ketidakadilan pak, seharusnya ini adalah giliranku untuk diperiksa, masa dia seenaknya saja menyerobot masuk tanpa basa-basi, dan asisten bapak, diam saja melihat ulah wanita ini", ucapku dengan tegas.
" Apa benar begitu?", tanya sang dokter kepada asistennya, dan si asisten menganggukkan kepalanya tanda mengiyakannya.
" Seharusnya kamu melarang ibu ini untuk memotong antrian, karena itu adalah merupakan tindakan yang tidak patut dilakukan, seharusnya ibu ini harus mengantri terlebih dahulu", ucap sang dokter.
" Iya pak, saya minta maaf, sebenarnya saya tidak berani melarang ibu ini untuk masuk, karena ibu ini adalah family direktur rumah sakit ini pak, saya minta maaf pak,Bu, sekali lagi", ucap suster sambil menundukkan kepalanya.
" Sebenarnya pak, kalau ibu ini meminta tolong padaku secara baik-baik, aku ikhlas dia yang terlebih dahulu diperiksa oleh pak dokter, tapi tindakannya barusan, terkesan semena-mena pak", ucapku tegas.
" Ya udah, biar adil, ibu Linda menunggu di luar dulu sebentar, tunggu ibu Ani selesai saya periksa kandungannya", ucap pak dokter dengan tegas.
" Iya, baiklah pak, sebelumnya saya minta maaf ya Bu Ani", ucapnya sambil tersenyum dan keluar dari ruang pemeriksaan.
Beberapa menit kemudian, pak dokter selesai memeriksa kandunganku, dan dia berkata, kalau aku ...
Bersambung...
__ADS_1