
" Emangnya Abang mau ngomong apa?", tanyaku setelah menghentikan aktivitask.
" Dek, Abang ingin tahu bagaimana penilaianmu tentang Abang?", ucapnya.
" Ooh, menurutku Abang orangnya baik, dan sopan serta sederhana, walau Abang dari kelas atas, tapi Abang mau berhubungan seperti keluarga dengan kami", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Jadi, bagaimana perasaan adek terhadap Abang?", tanyanya.
" Perasaan apa maksudnya bang?", tanyaku.
" Abang to the point aja ya, maukah adek membuka lembaran baru dengan Abang?, menikah dan hidup bersama selamanya", ucapnya.
Aku terdiam mendengar perkataannya, jujur saja, aku masih menunggu seseorang yang sudah lama menantiku sejak dulu, tapi aku belum tahu kepastian tentang perasaannya atau pemikiran tentang hubungan kami.
Selama ini kami hanya berkomunikasi sesekali melalui WhatsApp ataupun messenger.
" Bagaimana ya bang, jujur saja aku belum siap untuk menikah, tapi bisakah kita jalani saja hubungan ini seperti air yang mengalir?", tanyaku.
" Apa adek mau menggantung Abang?", tanyanya.
" Ga bang, hanya saja, hatiku belum siap untuk menikah, Abang tau masalahnya apa, karena masa laluku dengan almarhum bang Izal, yang membuatku trauma dan harus lebih berhati-hati dalam memilih pasangan", ucapku menjelaskan.
" Ooh!, iya dek, Abang mengerti dengan perasaan adek, apakah adek tidak merasa nyaman dengan Abang?", tanyanya.
" Selama ini, aku nyaman saja dengan Abang, hanya saja hatiku belum siap, dan aku berjanji, jika aku sudah bisa memantapkan hati untuk menikah kembali, aku akan memberi tahu Abang ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Baiklah dek, kalau begitu mau adej, Abang akan menunggu sampai adek mau membuka hati untuk Abang ", ucapnya.
" Ma!", panggil Syifa sambil melambaikan tangannya.
Akupun membalas lambaian tangannya.
" Apa alasan Abang mau menikahiku?", tanyaku.
" Aku kagum dengan ketulusan hatimu, kecantikanmu, dan prinsipmu dek", ucapnya.
" Ada seseorang yang kukenal yang lebih cantik dan baik daripada aku, itu ceweknya ada di belakangmu", ucapku ingin mengujinya.
Aku heran, bang Zain tidak menolehkan ke belakang sedikitpun.
" Kenapa Abang tidak menoleh ke belakang?", tanyaku penasaran.
" Cinta tidak akan memandang hati dan wajah yang lain, hanya dirimu yang ada di hatiku", ucapnya sambil menatapku dengan tatapan mata yang penuh cinta.
Aku terdiam mendengar perkataannya. Kok dia tahu jawaban dari pertanyaan yang kuajukan, apa dia sudah sering mendengar kata itu?, tanyaku dalam hati.
" Silahkan dinikmati makanan dan minumannya ya Bu", ucap pelayan yang mengantar pesanan kami.
" Terima kasih ya dek", ucapku.
Setelah pelayan tersebut meninggalkan gazebo tempat kami duduk, aku memanggilnya anak-anakku.
" Habib", panggilku karena dia yang jaraknya lumayan dekat dengan gazebo kami.
" Iya ma", ucapnya.
" Panggil kakak dan adikmu untuk makan siang nak", ucapku dengan suara keras.
" Iya ma", ucapnya sambil berlalu mendekati Syakira dan Syifa.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di gazebo.
" Ayo makan sayang, udah pada lapar kan?", ucapku.
" Iya ma, Sifa udah lapar nih!, aku mau duduk dekat sama om Zain aja ya ma", ucapnya.
" Baiklah sayang, tapi jangan ganggu om Zain mkaan ya nak!", ucapku.
" Oce ma!", ucapnya sambil tersenyum padaku.
__ADS_1
Kamipun menyantap makanan dan minuman yang sudah terhidang di depan kami.
Setelah kenyang, kami beristirahat sejenak.
" Habis ini kita kemana om?", tanya Syakira.
" Kita ke Simarsayang yuk om, aku penasaran seperti apa Simarsayang itu", ucap Syakira menambahi.
" Jangan keitulah kak, kata temanku Simarsayang tempat orang pacaran, banyak dosanya", ucap Habib keceplosan.
" Temanmu yang mana yang ngomong dek?", tanya Syakira.
" Teman sekolahkulah kak, katanya Abangnya bawa ceweknya ke Simarsayang untuk pacaran disana, begitu ceritanya ", ucap Habib lagi.
" Emabg ni bocah, kecil-kecil udah banyak taunya, sedangkan kakak aja ga tau, emang adek tau pacaran itu apa?", tanyanya sambil mencubit hidungnya Habib.
" Yah Taulah kak, pacaran itu kan kayak mama sama om Zain ", ucapnya sambil tertawa.
" Idih nih bocah ma, ngagetin terus omongannya, jodohin aja ma sama si cewe Bonengan yang ada di kelasnya ma, biar kapok ", ucap Syakira sambil mencubit hidungnya lagi.
" Udah nak, nanti adekmu kesakitan dicubit terus hidungnya ", ucapku melerai.
" Hore...mama sama om Zain pacalan", ucap Syifa seketika.
Kamipun tertawa mendengar ocehannya.
" Jangan ngomong gitulah nak, mama sama om Zain cuma temenan aja kok", ucapku meluruskan.
" Yah, gagal deh punya ayah baru", ucap Syifa.
" Emangnya Syifa mau kalau om Zain jadi ayahnya Syifa?", tanya bang Zainal.
" Mau dong om, om Zain kan baik dan sayang sama Syifa", ucap Syifa sambil tersenyum padanya.
Aku hanya diam membisu mendengar ucapannya Syifa, karena aku tahu kalau Syifa masih kecil dan belum mengerti apa -apa, dan keinginannya yang menggebu untuk memiliki seorang ayah, membuat hatiku sedih, karena belum bisa membuatnya bahagia.
" Ya udah, kita jadinya kemana nih om?", tanya Syakira.
" Iya ma, kita kesitu aj, tapi kita kan ga bawa baju ganti!", ucap Syakira.
" Tenang aja nanti mama beliin di dekat water park nya baju untuk mandi-mandinya aja yang serba tiga puluh lima ribu, biar kalian bisa mandi-mandi, gimana?", tanyaku.
" Oke ma, let's go ", ucap Habib sambil beranjak dari tempat duduknya.
" Eits, tunggu dulu, tanya om Zain dulu donk, setuju atau ga!", ucapku.
" Gimana om, om setuju kan kita ke water park ya?", bujuk Habib kepada bang Zainal.
" Gimana ya Bib, om setuju aja deh!", ucapnya sambil tersenyum padanya.
" Hooree!, kita mandi kolam renang ", ucap Syifa sambil bersorak gembira.
Kamipun bergegas menuju tempat parkiran. Sedangkan bang Zainal ke meja kasir untuk membayar tagihan makanan kami.
Beberapa menit kemudian, Bang Zainal sudah berada di tempat parkir. Setelah membuka pintu mobilnya, kamipun bergegas masuk ke dalam mobil.
Setelah kami sudah duduk dengan tenang, bang Zainal menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju waterpark Batunadua.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan waterpark Batunadua.
Setelah memarkirkan mobil ke tempat parkir yang sudah disediakan oleh pemilik waterpark. Kami segera turun dari mobil dan berjalan bersama menuju pintu masuk water park.
" Ma, baju renangnya gimana?, mama belum jadi membelinya ", ucapnya.
" Tunggu sebentar ya nak, mama ke toko serba itu dulu", ucapku sambil menunjuk toko serba yang kumaksudkan.
" Iya ma", ucapnya.
" Jaga adek -adekmu ya", ucapku sambil berlalu.
__ADS_1
" Iya, adej tenang aja, aku akan menjaga mereka disini, adej hati-hati nyebrangnya ya", ucap bang Zainal.
Aku hanya tersenyum menanggapi perhatiannya.
Beberapa menit kemudian, aku kembali ke tempat anak-anakku menunggu dengan membawa beberapa bungkus plastik yang berisi banju renang untuk mereka.
" Ayi kita masuk, tiket masuknya udah Abang beli tadi", ucap bang Zainal sambil menggenggam tangan Syifa.
Kamipun bergegas masuk menuju waterpark.
Aku memberikan anak -anakku baju renangnya masing-masing.
" Ini untuk Abang", ucapku sambil memberikan kantung plastik yang berisi celana boxer dan kaus tipis untuknya.
" Makasih ya dek, padahal Abang udah bingung, mau mandi atau ga, soalnya Abang juga ga bawa baju ganti", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Iya sama-sama bang, makasih juga karena Abang sudah mau membawa kami jalan-jalan, mentraktir kami makan, sehingga membuat kami bahagia seperti ini", ucapku sambil tersenyum padanya.
Diapun tersenyum padaku dan berlalu pergi menuju kamar mandi water park untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa menit kemudian, anak -anakku sudah mulai masuk ke dalam kolam renang yang dangkal, karena aku tidak membolehkan mereka ke kolam renang yang dalam.
Beberapa jam kemudian, kami selesai mandi dan berpakaian kembali.
Kamipun bergegas menuju pintu keluar water park dan berjalan menuju parkiran mobil bang Zainal.
Karena merasa mengantuk dan capek, akhirnya anak-anakku tertidur lelap dibangku mobil. Akhirnya bang Zainal memintaku untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya, agar putriku Syifa bisa tidur nyenyak bersama kakak dan abangnya.
Aku menuruti keinginannya dan pindah tempat duduk.
Bang Zainal menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah kami yang ada di Sadabuan.
Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak di sebuah kafe yang ada di jalan mobil. Katanya dia mau istirahat sebentar untuk minum kopi.
Aku hanya diam saja dan mengikutinya keluar dari mobil dan duduk bersamanya di kafe tersebut.
Setelah kami duduk dan memesan minuman, kami mengobrol sebentar. Setelah pelayan kafe mengantar minuman kami, tiba-tiba bang Zainal menarik tanganku untuk mendekat padanya.
" Apaan sih Bang?", tanyaku.
" Jangan jauh-jauh duduknya dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Kita harus jaga jaraklah bang, kita kan bukan muhrim, dan kuta harus menjauhi perbuatan zina", ucapku menjelaskan.
" Iya dek, Abang tau itu, tapi kalau adek jauh gitu, ga enak ngobrolnya", ucapnya.
Akupun menggeser posisi dudukku agak dekat dengannya.
Setelah menghabiskan minuman kami, aku mengajaknya untuk mengantarkan kami pulang kerumah kami, karena aku sudah mulai tidak nyaman dengan tatapan bang Zainal padaku.
Akhirnya, dia menuruti kemauanku untuk mengantarkan kami pulang kerumah kami.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami.
" Kira, habib, Syifa", ucapku sambil menggoyangkan tubuh mereka satu persatu untuk membangunkan mereka.
" Iya ma", ucap mereka dengan suara parau.
" Kita udah nyampe rumah sayang, bangun donkz, lanjut tidurnya di dalam rumah aja, om Zainnya mau pulang tuh!", ucapku.
" Iya ma", ucap mereka bersamaan dan turun dari mobil menuju ke dalam rumah yang sudah kubuka pintunya.
" Abang langsung pulang aja ya dek, mau istirahat juga", ucap bang Zainal.
" Iya bang, makasih banget ya bang", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Sini bentar dek, ada yang mau Abang ngomongin!", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Ada apa bang?", tanyaku sambil mendekati tempat duduknya.
__ADS_1
Tiba-tiba bang Zainal menarik tubuhku dan....
Bersambung...