Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Kembali...


__ADS_3

Setengah jam kemudian, kami tiba di depan rumah pamanku.


" Assalamualaikum", ucapku sambil berlalu masuk ke dalam rumah, karena pintu rumah tidak dikunci.


" Wa alaikum salam", ucap Syakira sambil berlari memeluk tubuhku.


" Kira kangen sama mama!", ucapnya.


" Mama kan cuma satu malam Pergibya sayang!", ucapku.


" Iya ma, Walau satu malam, rasanya kayak setahun, karena kita ga pernah pisah, mungkin karena itu, Kira jadi kangen terus sama mama", ucapnya lagi.


" Mana adek-adekmu nak?", tanyaku sambil mencari keberadaan Syifa dan Habib.


" Syifa sedang tidur siang, tadi habis nangis nyariin mama, untung nenek bisa bujuk Syifa, jadinya ketiduran deh!, kalau Habib sedang pergi sama kakek, katanya mau beli sepeda baru, hadiah kenaikan kelas kata kakek", ucapnya menjelaskan.


" Ooh, Kira beresin baju-baju adek ya, ntar lagi kita balik ke rumah dulu, besok baru kita pindah ke rumah om Zain yang ada di komplek DPR ya nak!", ucapku.


" Ma, apa Kira ga boleh manggil om Zain dengan panggilan papa?", tanyanya.


" Yah bolehlah sayang, mama cuma takut aja Kira merasa kepaksa untuk manggil om Zain dengan panggilan papa, tapi kalau Kira senang dan suka manggil om Zain dengan panggilan papa, silahkan saja!", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ngomong -ngomong, papa ada dimana?", tanyanya.


" Lagi di teras ngerokok bak, katanya ga bagus kalau ngerokok di dalam rumah, karena asapnya bisa mencemari udara di dalam rumah, tap kalau ga ngerokok juga papamu ga merasa enak, jadinya dia ngerokok di teras aja, sana buatin minum teh manis hangat untuk papamu, gulanya satu sendok aja ya!", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya ma, nenek lagi di kamar tidurnya ya ma, tadi dek Syifa dibawa nenek ke kamar tidurnya", ucapnya sambil berlalu pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman teh manis hangat.


Aku bergegas menuju kamar tidur bibiku.


" Assalamualaikum Bu!", ucapku sambil mengetuk pintu kamarnya.


" Iya nak, masuk aja!", ucap bibiku dari dalam kamar tidurnya.


Akupun membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.


"Syifa tidur ya Bu?", tanyaku dengan suara pelan.


" Iya nak, dari tadi pagi dia nangis nyariin kamu, untung saja bibi bisa bujukin dia, akhirnya ketiduran deh!", ucapnya.


" Adekku dimana?", tanyaku.


" Ooh, adekmu pergi ke toko sepeda sama Habib sama pamanmu naik sepeda motor untuk membeli sepeda baru sebagai hadiah naik kelasnya Habib", ucapnya.


" Apa Habib yang minta bi?", tanyaku.


" Ga nak, Pamanmu yang ingin membelikan, ga apa-apa lah nak, kakeknya memanjakan cucunya ", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Iya Bu, aku ga mau kalau anak-anakku merepotkan Paman dan bibi, itu saja kok bi!", ucapku.


" Ini kado dari paman dan bibimu yang dari Sipirok, katanya semoga kamu menyukai hadiah pernikahan dari mereka, jangan dilihat dari harganya, tapi lihatlah dari ketulusannya, mereka ga bisa menunggu kalian pulang, karena Pamanmu ada urusan penting di Sipirok, jadi mereka berangkat tadi pagi dari sini", ucapnya menjelaskan sambil memberikan sebuah kotak kecil berwarna putih padaku.


" Terima kasih ya bi, atas perhatian dan kasih sayang kalian padaku", ucapku sambil memeluk tubuhnya.


Aku memasukkan hadiah tersebut ke dalam tas sandangku yang selalu kubawa.


" Mama!", ucap Syifa sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menghampiriku.


"ooh Putri cantik mama udah bangun ya!", ucapku sambil memeluknya.


" Kapan mama datang?", tanyanya.


" Baru aja sayang, maaf ya sayang, mama agak telat pulangnya", ucapku sambil mencium pipinya.


" Ga apa-apa ma, yang penting mama udah ada disini ", ucapnya sambil memeluk tubuhku dengan erat.


" Syifa mau ketemu sama om Zain ga?", tanyaku.


" Emangnya Papa dimana ma?", tanyanya.


" Kayaknya masih di teras, ngobrol sama Kakakmu Syakira ", ucapku sambil tersenyum.


" Ayi kita ke teras aja ma", ajaknya sambil menggenggam tanganku.


Kami pun bergegas menuju teras rumah, sedangkan Bibiku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, karena dia sibuk dari pagi membujuk Syifa yang sedang menangis, sehingga tidak sempat untuk mandi.

__ADS_1


Setibanya kami di teras, paman dan Habib serta adikku sudah berada di teras.


Ternyata mereka sedang asyik mengobrol. Sedangkan Habib sedang mencoba sepeda barunya yang berwarna merah.


" Paman sudah lama nyampe rumah?", tanyaku sambil duduk di samping Syakira dan juga Syifa.


" Baru aja nak!, itu si Habib ga sabaran mau pulang, katanya mau coba sepeda barunya, nyampe disini, langsung dipake tuh sepedanya!", ucapnya sambil menunjuk Habib yang sedang berkeliling memakai sepedanya.


" Iya paman, sepeda lamanya udah kecil katanya, ga cocok lagi untuknya, jadi ga pernah dipake lagi buat main sama temennya", ucapku sambil tersenyum.


" Ooh, Baguslah kalau begitu, sepedanya bisa dia pergunakan", ucapnya.


" Rencananya kalian akan tinggal dimana setelah ini?", tanyanya.


" Rencananya kami akan tinggal di komplek perumahan DPR om, jadi disitu halamannya cukup luas, jadi mereka bh Isa bermain dan bersepeda disana", jawab bang Zain.


" Tapi, kami akan ke rumah kami yang di Sadabuan dulu kek, untuk ngemasin barang-barang kami pindah ke rumah baru", ucap Syakira sambil memakan kue bolu yang kami beli tadi di perjalanan pulang ke rumah pamanku.


" Yah bagus donk nak, sering-sering mampir ke rumah kakek ya, nginap juga ga apa-apa kok!", ucap Pamanku sambil tersenyum.


" Iya donk kek, kami pasti sering main kerumah kakek", ucap Syifa sambil tersenyum padanya.


Setelah puas mengobrol, kamipun makan siang bersama dengan lauk pauk yang kami bungkus dari rumah makan Sibio-bio.


Kamipun makan dengan lahapnya, habis tanpa sisa sedikitpun.


Setelah berpamitan dengan paman dan bibiku, kami bergegas masuk ke dalam mobilnya bang Zain.


Setelah kami duduk dengan tenang, bang Zain menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah kami yang ada di Sadabuan.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami. Aku bergegas keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah untuk membuka kunci pintu rumah.


Setelah memarkirkan mobilnya di depan rumah kami, bang Zain dan anak -anak kami menyusulku ke dalam rumah.


Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tanganku.


Selesai mencuci tanganku, aku keluar dari kamar mandi.


" Aku bersihin kamar tidur dulu ya, mungkin banyak debunya, karena sudah tiga hari ga dibersihkan, abng tunggu di ruang tamu aja dulu ya!", ucapku sambil berlalu pergi menuju kamar tidur kami.


" Kira bersihin kamar Kira sama Habib dulu ya ma!", ucapnya sambil berlalu menuju kamar tidurnya.


Beberapa menit kemudian, aku selesai membersihkan kamar, sekarang aku akan membersihkan bagian dalam rumah kami, agar bersih dari debu.


Selesai membersihkan rumah, aku mencuci tanganju kembali dengan menggunakan sabun, karena aku ingin memasak makanan kami untuk makan malam.


Aku membuka pintu lemari es untuk memeriksa bahan makanan yang bisa kumasak untuk makan malam kami.


Rencananya, aku akan menggoreng ikan tongkol pake kentang, sama ngerebus sayur sawi hijau.


Selesai memasak, aku menghidangkannya di atas meja makan dan menutupinya dengan menggunakan tudung saji.


Aku bergegas menuju kamar tidur ku untuk beristirahat sejenak.


Di saat melewati ruang tv, aku melihat Syifa dan Habib sedang menonton televisi.


" Kakakmu mana Bib?", tanyaku.


" Kakak lagi di kamarku ma, membersihkannya ma", ucapnya tanp menoleh padaku.


" Mama ke kamar dulu ya nak, ntar lagi kalian mandi, karena udah sore, jadi mandinya gantian ya nak, jangan ribut-ribut kayak dulu ya!", ucapku sambil berlalu pergi menuju kamar tidurku.


" Iya ma", ucapnya sambil terus menonton film kartun kesukaan mereka.


Aku membuka pintu kamarku, dan segera merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.


" Udah selesai masaknya sayang?", tanya suamiku sambil berjalan menghampiriku.


" Astaghfirullah, Abang bikin kaget aja, pikir tadi siapa", ucapku sambil duduk di tepi ranjang.


" Adek udah lupa ya sekarang Uda punya suami", ucapnya sambil mencubit hidungku.


" Iya bang, sempat lupa adek", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Bekas ciuman Abang aja belum hilang dari leher adek, masa udah lup!", ucapnya sambil memeluk tubuhku.

__ADS_1


" Adek kan ga bisa ngeliatnya bang!", ucapku mengelak.


" Ya udah, sini biar Abang buatin yang lebih lama, biar adek ingat terus kalau adek udah punya suami ", ucapnya sambil mencium pipiku.


" Mau buatin apa bang?", tanyaku pura-pura tidak tahu.


" Abang buatin anak di rahim Adek, biar adek ingat terus sama Abang, adek mau kan mengandung anaknya Abang?", tanyanya sambil menatap mataku.


" Kalau Allah ngasih ya adek terimalah bang, udah kewajiban adek sebagai istri untuk melayani dan melahirkan keturunan Abang", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Terima kasih sayang, berarti kita harus bekerja lebih keras lagi ya sayang", ucapnya sambil memeluk tubuhku dengan erat.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.


Akhirnya, Sore ini kami habiskan dengan percintaan yang penuh gairah dan keringat yang bercucuran dari tubuh kami.


Setelah puas bercinta, kami tertidur lelap sambil berpelukan di atas ranjang.


Aku terbangun, karena suara ketukan pintu kamar kami.


" Ma, udah Maghrib, mama udah sholat?", tanya Syakira.


" Iya sayang, Kira sama adek duluan sholat Maghrib ya, ntar mama sama papa nyusul ya!", ucapku sambil berlalu menuju kamar mandi untuk mandi junub.


" Bangun sayang, udah Maghrib nih!", ucapku setelah selesai mandi dan mengambil wudhu.


" Iya sayang ", ucapnya sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mandi junub.


Setelah berpakaian, aku memakai kerudungku dan bergegas menuju ruang Sholat untuk sholat Maghrib.


Selesai sholat, aku melihat suamiku sedang berjalan menuju ruang Sholat juga untuk melakukan sholat Maghrib.


Setelah sholat Maghrib bergantian, kami pun makan malam bersama di dapur.


Selesai makan malam, kami beristirahat sejenak di ruang tv sambil menonton film.


" Ma, Kira udah selesai ngemasin pakaian Kira sama Habib serta Syifa juga, Kira suaun rap di dalam koper besar, mama udah selesai ngemasin pakaian, apa mau Kira bantuin mama?", tanyanya.


" Ga usah sayang, terima kasih ya sayang, udah ngemasin pakaian adek-adekmu, nanti kalau ada yang ketinggalan, kita masih bisa kesini kok, untuk mengambilnya", ucapku.


" Iya ma", ucap Kira sambil tersenyum.


" Bang, Kak Dewi masih dirumah atau udah pulang ke Medan?", tanyaku.


" Kayaknya dia masih dirumah dek, katanya dia mau nyiapin penyambutan untuk kalian disana", ucapnya.


" Abang bilangin sama kak Dewi, ga usah bikin acara yang berlebihan ya bang,adek merasa ga enak aja ngerepotin kak Dewi ", ucapku.


" Ga ngerepotin kok dek, itu memang sudah keinginan dari si Dewi", ucapnya sambil tersenyum padaku.


"Barang-barang perabotnya ga usah dibawa ya dek, dirumah kita sudah tersedia semuanya, adek sama anak-anak bawa pakaian aja sama keperluan lain yang lebih penting ", ucapnya.


"Iya Bang ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kira kapan didaftarkan ke pesantren Tahfidzul Qur'annya ma?", tanyanya.


" Inshaa Allah, tiga hari lagi ya sayang, kita selesaikan dulu urusan yang disini, baru kita berangkat ke Medan ya nak!", ucapku.


" Iya ma, Kira takut aja kalau waktu pendaftaranbya sudah ditutup", ucapnya.


" Ga sayang, waktu pendaftarannya masih lama kok, ada dua minggu lagi ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya ma", ucapnya.


" Syifa juga mau sekolah pesantren ya ma, kalau udah besar ", ucapnya sambil duduk di pangkuanku.


" Iya sayang, Syifa yang rajin sekolahnya dan rajin belajarnya ya, biar bisa sekolah pesantren kayak kakak Syakira ya!", ucapku sambil mencium pipinya.


" Iya ma, Abang Habib juga mau ke pesantren katanya ma!", ucapnya.


" Iya ma, Habib juga mau sekolah pesantren kayak kakak Syakira ya ma", ucapnya mebambahi.


" Insha Allah ya sayang, mama doakan selalu, agar anak-anak mama jadi anak-anak yang Sholeh dan Sholehah serta berbakti kepada agama, Nusa dan bangsa, Aamiin!", ucap kami bersamaan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2