Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Kita berpisah untuk bertemu lagi...


__ADS_3

Setelah satu jam kami berkutat di dapur, akhirnya menu makan malam sudah selesai kami masak, aku segera menghidangkannya di atas meja dan kututupi dengan tudung saji.


Selesai membersihkan dapur, dan mencuci peralatan masak, aku menyusul nenek dan bibi di kamar tidur mereka untuk membantu mereka mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa pulang.


" Aku membelikan ini kemaren di toko langgananku setelah pulang dari salon, aku sengaja menyembunyikannya dari kalian, sebagai hadiah kejutan untuk kalian", sambil memberikan bingkisan kepada nenek dan bibi.


" Aduh nak, Ani jadi repot membelikan hadiah untuk nenek dan bibi, padahal ga usah repot-repot untuk memberikan hadiah, terimakasih ya nak", ucap bibi terharu sambil memelukku.


" Hadiah yang kuberikan tidak sebanding dengan kasih sayang yang sudah kalian berikan padaku dari dulu sampai sekarang", ucapku dengan penuh keyakinan.


" Semoga Ani selalu bahagia dan sehat selalu ya nek", ucap nenek sambil tersenyum padaku.


" Aaamiin", ucap kami bersamaan.


Setelah berkemas, kami istirahat sejenak di ruang tv sambil menonton televisi, menunggu adzan magrib berkumandang.


" Ngomong -ngomong gimana kabarnya adikku dan paman yang di Sipirok", tanyaku.


" Adikmu sebentar lagi akan lulus SMP, mungkin besok mereka sudah ujian Nasional ", ucap nenek menjelaskan.


" Syukurlah, kalau si Irul akan menyelesaikan sekolahnya, semoga dia lulus ujian Nasional, dan melanjutkan sekolahnya ke SMA, walau dia orangnya bandel dan suka ngelawan, tapi masih bisa menyelesaikan sekolahnya ", ucapku sambil tersenyum.


Saat adzan berkumandang, aku masuk kedalam kamar kami, untuk mengambil wudhu, saa di dalam kamar, aku melihat suamiku sedang tertidur lelap di atas tempat tidur, mungkin dia kelelahan setelah aktivitas percintaan kami tadi siang.


Aku membangunkan suamiku," Sayang, bangu, udah magrib ini, ga bagus lho tidur di waktu Maghrib", ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya.

__ADS_1


" Sebentar sayang, masih ngantuk", ucapnya dengan manja.


" Habis magrib, kita harus mengantar nenek dan paman serta bibi ke loket busnya, nanti mereka ketinggalan bus, mana mau makan malam lagi", ucapku sambil menggelitiki kakinya. Akhirnya suamiku bangun juga.


Selesai sholat berjamaah di kamar kami, aku keluar dari kamar dan memanggil nenek,paman dan bibi untuk makan malam. Kamipun makan bersama dengan lahapnya, karena menurutku menu makan malam kami, cukup spesial, tiumis kangkung pedas, sambal terasi dan tahu pake ikan asin yang digoreng. Sangat menggugah selera.


Selesai makan, aku membersihkan meja. Selesai membersihkan meja, aku menyusul suamikubdi teras, yang sedang menunggu kak Khadijah dan suaminya Raka.


" Gimana sayang, kak Khadijah udah berangkat dari rumahnya?", tanyaku.


" Katanya sebentar lagi udah nyampe rumah ini ni", jawab suamiku.


Beberapa menit kemudian, kami melihat mobilnya kak Khadijah dan suaminya Raka sudah terparkir di depan rumah kontrakan kami.


" Wa alaikum salam kak, silahkan masuk dulu, nenek dan bibi sedang bersiap-siap, apa kakak udah makan malam sama bang Raka?", tanyaku.


" Alhamdulillah, tadi makan malam duluan dirumah sama bang Raka", jawabnya sambil tersenyum padaku.


" Nek, kak Khadijah sudah nyampe nih", ucapku setengah berteriak.


" Iya, ni udah selesai berkemasnya", ucap nenk sambil keluar dari kamar tidur.


" Udah selesai nek, coba di cek lagi, takut ada yang ketinggalan ", ucapku.


" Udah nek, udah nenek cek dua kali, inshaa Allah, ga ada lagi yang tertinggal ", ucap nenek sambil tersenyum.

__ADS_1


" Ayo kita berangkat, nanti ketinggalan busnya", ucap paman sambil mengangkat tas bawaan mereka.


Kami segera masuk ke dalam mobil, setelah suamiku mengunci pintu rumah kami, dan menyusul kami di dalam mobil, bang Raka, melajukan mobilnya menuju loket busnya.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di loket. Setelah memberikan barang bawaan nenek dan paman ke petugas loketnya, kami duduk sejenak di bangku sekitar loket yang kosong.


Kami mengobrol sebentar dan bersenda gurau.


Beberapa menit kemudian, supir busnya menyuruh para penumpang untuk masuk ke dalam bus, dan duduk di bangku masing-masing sesuai dengan nomor tiketnya yang tertera.


Kami melambaikan tangan mengantarkan kepergian nenek,paman dan bibi.


Akhirnya, kami berpisah lagi, tapi untuk bertemu kembali suatu hari nanti.


Kami bergegas masuk ke dalam mobil bang Raka, sebelum pulang ke rumah, kami diajak oleh kak Khadijah dan bang Raka untuk jalan-jalan keliling kota Medan. Kami mengiyakan ajakan mereka.


Aku dan suamiku duduk di belakang kak Khadijah dan suaminya Raka. Aku menyandang kepalaku ke bahu suamiku sambil menggenggam tangannya.


" Rencananya kalian mau bulan madu kemana kak", tanyaku pada kak Khadijah.


Kak Khadijah hanya diam membisu dan tidak menjawab pertanyaanku.


Aku jadi penasaran, apa memang benar yang dikatakan nenek dan bibiku, kalau kak Khadijah sedang ada masalah...?, ucapku dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2