Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Masa lalu yang tidak terlupakan.. part. 3


__ADS_3

Dua tahun berlalu, sekarang kami kelas XII di semester terakhir. Hubungan pacaran yang kami jalani semakin lama semakin dekat, tapi kami pacaran secara sehat. Bahkan menjadi motivasi bagi kami untuk semakin giat belajar. Aku akui Ani lebih pintar dari ak, buktinya selama dua tahun terakhir, dia selalu dapat juara umum, dan aku bangga memiliki pacar.


Namanya hubungan, pasti ada pahit manisnya, terkadang kami akan bertengkar, karena masalah sepele, tapi selalu Ani yang mengalah padaku, walau dia punya sifat keras kepala, tapi dia selalu yang pertama berusaha untuk berbaikan denganku.


Baru seminggu yang lalu, kami melaksanakan ujian Nasional, dan sekarang kami tinggal nunggu hasil ujian dan kelulusan kami semua kelas XII.


Malam ini adalah malam minggu, kami berjanji untuk ke pasar malam bersama. Aku menjemput Ani ke rumah pamannya, karena selama ini, Ani memang tinggal di rumah pamannya.


" Assalaamu alaikum..!", ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamannya.


" Wa alaikum salam...", jawab Ani sambil membuka pintu. Dia mempersilahkan aku masuk dan duduk di kursi tamu.


" Ada nak Azam rupanya", ucap pamannya.


" Iya om, aku kesini untuk minta izin sama om mau ngajak Ani untuk ke pasar malam di tanah lapang om".


" Baiklah nak Azam, kalian boleh pergi, tapi jangan lama hanya sampai jam 9 malam, kalian harus sampai dirumah paling lambat jam 10 malam, kamu harus menjaga Ani dengan baik", pesan pamannya padaku,


" iya om", jawabku dengan penuh keyakinan.


Kami segera berangkat ke pasar malam setelah berpamitan dengan paman dan bibinya Ani. Karena lokasi pasar malamnya tidak terlalu jauh, kami berjalan kaki kesana.


" Ani udah makan malam belum?", tanyaku dengan tersenyum padanya.


" Udah zam, tadi makan malam sama paman dan bibiku di rumah, kamu udah makan belum?", tanyanya padaku,


" Aku belum makan malam, rencananya mau makan malam sama kamu, tapi kamu mau kan nemanin aku makan malam kan sayang", ucapku padanya,


Dia menoleh padaku, mungkin dia kaget mendengar ucapan sayangku padanya, karena selama ini, baru kali ini, aku mengatakannya. Dia hanya tersenyum menanggapi ucapanku.


" Kita makan di warung bakso ini aja ya Ni", ucapku sambil mengajaknya masuk ke warung bakso yang kami lewati.


" Iya zam", jawabnya singkat.

__ADS_1


Kamipun memesan dua porsi bakso, setelah menyantap baksonya, aku membayar tagihan bakso kami.


Setelah keluar dari warung bakso, kami melanjutkan perjalanan ke pasar malam.


Sesampainya di pasar malam, pertama kami bermain lempar bola untuk mendapatkan boneka happy bear, aku bertekad mendapatkannya untuk kuhadiahi untuk Ani.


Setelah berjuang beberapa menit, aku mendapatkan bonekanya untuk Ani,. Kemudian kami menaiki komedi putar, aku tidak tahu kalau Ani takut ketinggian, seharusnya dia mengatakannya padaku.


" Jangan takut Ni, ada aku disini untukmu", ucapku sambil menggenggam tangannya. Saat dia berpegangan padaku, kucium keningnya, kemudian dia menoleh padaku, tidak kusia- siakan kesempatan itu, aku langsung mencium bibirnya, dan dia terpaku melihat aksiku.


Kulepaskan ciumanku, aku takut dia menampar atau mendorongku, tapi ternyata dia tersenyum padaku, dan akupun kembali mencium bibirnya, dan dia juga membalas ciumanku. Mungkin kami terbawa suasana sehingga kami berciuman cukup lama.


Setelah menyudahi ciuman, kami saling berpelukan, dan saling berbisik " Kamu mengambil ciuman pertamaku", sambil tersenyum.


Setelah turun dari komedi putar, kami duduk di sebuah kursi bambu di depan pasar malam.


Kulihat sikap Ani yang malu menatapku, mungkin karena kejadian tadi sewaktu di komedi putar. Wajahnya memerah karena malu. Aku raih tangannya, dan kucium, " Kamu ga usah malu sama aku Ni, kita memang saling mencintai kan, udah wajar kita melakukannya Ni,kita sudah sama-sama dewasa kan," ucapku menghiburnya.


" Sebenarnya yang kita perbuat itu dosa zam, karena kita melakukannya sebelum menikah, dan haram hukumnya jika bersentuhan dengan yang bukan mahram," jawab Ani dengan rasa bersalah.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan zam, karena kita sama-sama salah dan memperbuatnya dengan sadar", ucapnya sambil menatap mataku.


" Nantinya kalau sudah lulus, Ani mau menjutkan kuliah ga?", tanyaku mencoba mencairkan suasana.


" Aku belum tahu zam ,tu tergantung kepada Nenek atau pamanku", jawabnya singkat.


" Minggu depan sekolah kita kan mengadakan acara perpisahan kelas XII, dengan wisata ke Sibolga,kamu ikut ga Ni?", tanyaku lagi.


" Insha Allah aku ikut zam, kamu gimana?", tanyanya padaku.


" Kalau kamu ikut, aku pasti juga ikutlatNi, ntar siapa yang jagain kamu disana, katanya ka kita menginap semalam di Sibolga", ucapku dengan penuh semangat.


Karena sudah jam 9 malam, kami memutuskan untuk pulang, aku terlebih dahulu mengantarkan Ani kerumahnya.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, hari ini adalah hari keberangkatan kami ke kota Sibolga. Rombongan sekolah kami minaiku bus Mercedes Benz, karena jumlah peserta wisata yang lumayan banyak.


Aku bersebelahan dengan Ani, karena aku selalu ingin dekat dengannya. Mira àda di belakang kami. Sekilas ku lihat raut wajahnya terlihat begitu kesal melihatku dekat dengan Ani, tapi aku tidak mempedulikannya, yang penting bagiku adalah kebahagiaan Cintaku, Ani.


Setelah beberapa jam perjalanan, rombongan kami tiba di pantai Pandan, dan kami bergegas membawa barang bawaan kami masing-masing ke kamar penginapan yang sudah dibooking ole panitia wisata sekolah kami.


Ani didekat dengan Mira, dan tiga orang lainnya. Sedangkan aku sekamar dengan teman sekelasku, yang berjumlah empat orang.


Setelah menaruh barang bawaan kami, kami bergegas menuju pantai untuk mandi laut. Aku mengajak Ani untuk jalan-jalan terlebih dahulu di pinggiran pantai, dan aku membelikannya beberapa pernak- parnik khas kota Sibolga.


Kami pun mandi laut bersama. Ketika sedang asyik-asyiknya mandi, kami dipanggil panitia untuk berkumpul ke MK Bali di bawah pohon rindang di tepi pantai, untuk makan siang bersama. Selesai makan, kami ditanya panitia untuk ikut berkunjung ke pulau Poncan, tapi karena Ani takut nyeberang laut, kami tidak ikut ke pulau Poncan, hanya beberapa teman kami saja yang ikut.


Aku dan Ani saat ini sedan membuat istana pasir, aku mengatakan kepadanya,


" Ani, jika aku sudah sukses nantinya, apa kamu mau menikah denganku dan menjadi istriku dan ratu di istana kita ini", tanyaku padanya sambil tersenyum.


" Apa kamu serius zam ?", tanyanya padaku sambil menatap mataku,


" Iya, aku Serius Ni, bagiku kamu adalah yang pertama dan yang terakhir di hiduku dan hanya kamu seorang dihatiku", ucapku dengan penuh keyakinan.


" Iya aku mau zam, baik kamu sukses atau tidak di masa depan, aku tetap mau menikah denganmu, asalkan kamu setia dan menepati janjimu", jawab Ani sambil tersenyum menatap wajahku.


" Terimakasih ya Ni, sudah mau mencintaiku dengan tulus, aku tidak akan mengecewakanmu", ucapku dengan penuh keyakinan.


Selesai bermain pasir, kami kembali ke penginapan untuk membersihkan diri.


Malam pun tiba, selesai makan malam di penginapan, aku mendapatkan sebuah surat kecil di bawah tasku.


" Aku tunggu di tepi pantai zam, aku mau ngasih sesuatu sama kamu, dari Ani", begitu isinya.


Aku bergegas ke tepi pantai untuk menemui Ani, dan kulihat dari kejauhan, Ani sedang berdiri memandangi langit dan memakai jaket yang kuberikan dulu padanya, karena gelap dan tidak ada orang di sekitar pantai, aku memberanikan diri untuk memeluknya dari belakang, ketika aku memeluknya dan mengatakan aku mencintaimu dan dia menjawab aku juga mencintaimu, aku heran mendengar suaranya yang berubah seperti suaranya Mira, aku membalikkan tubuhnya, dan memperhatikan wajahnya, ternyata dia memang Mira, berarti dia sedang menjebakku.


Saat itu, aku mendengar suara Ani yang memanggil namaku, " Azam.,.. teganya kamu menghianatiku dengan temanku sendiri, aku kecewa padamu Zam", teriaknya sambil menangis,

__ADS_1


aku langsung meninggalkan Mira, dan mengejar Ani, untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi, tapi....


Bersambung...


__ADS_2