Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Honeymoon Kedua...


__ADS_3

Terima kasih ya guys, atas like nya...


makin semangat nih nulisnya!


love you all...


POV. Zain


Akhirnya, aku sudah menikah dengan wanita pujaan hatiku, Ani. Aku sangat bahagia karena sudah mendapatkannya, walau aku tahu, dia belum sepenuhnya mencintaiky, tapi ini adalah langkah awal untuk membuatnya mencintaiku.


Aku tahu dia masih trauma akan masa lalunya bersama dengan almarhum suaminya, sehingga dia susah untuk membuka pintu hatinya untuk orang lain.


Aku akan berusaha untuk membuatnya mencintaiku. Seperti kemarin, saat kami baru tiba di rumah kami, aku memanjakannya dengan makan siang di kamar, karena aku yakin, semakin sering kami berkomunikasi dan berinteraksi, secara perlahan, aku akan mendapatkan tempat di hatinya.


Cinta itu butuh perjuangan. Aku tulus mencintainya, di karena aku tahu Ani adalah wanita baik-baik, bahkan dia tidak pernah mau tahu seberapa banyak hartaku ataupun relasiku, yang dia tahu, aku menyayangi anak-anaknya dan dia dengan sepenuh hatiku.


Mungkin karena itu, dia mau menikah denganku, cinta bisa tumbuh dengan subur dihatinya, jika nanti kami akan memiliki anak kandung kami. Aku sangat bahagia, ketika dia mau mengandung anakku, padahal sebelumnya aku ragu akan permintaanku untuk memiliki anak kandung kami.


Ya Allah, terima kasih telah menjodohkan aku dengan wanita sebaik Ani, semoga engkau meridhoi dan merahmati pernikahan kami ingin, ucapku dalam hati.


Kami bercinta setiap kali aku menginginkannya, dan dia selalu menuruti kemauanku, karena dia menyadari kewajiban utamanya adalah untuk melayani kebutuhan biologisku.


Sorenya, di saat aku bangun tidur, aku mendengar suara putraku Boy, yang sedang berbicara dengan suara keras, di karena saat itu aku sedan di depan pintu kamar kami untuk mencari keberadaan istriku.


Aku mendekati suara tersebut dan mendengarkan semua perkataan kasar yang dia lontarkan kepada istriku. Aku melihatnya hanya berbicara dengan suara lemah lembut dan tegas kepada putraku yang kurang aja itu.


Aku sengaja membiarkan mereka berbicara, agar aku tahu ap yang akan terjadi selanjutnya, dan siapa yang bisa aku percayai, istriku atau putraku.


Setelah istriku Ani datang ke kamar kami, aku mencoba memancingnya untuk mengatakan hal apa saja yang dikatakan oleh putraku padanya, tapi, dia menutupi perbuatannya putraku padanya, mungkin dia tidak mau kalau aku akan memarahi putraku, sehingga keharmonisan keluarga kami akan terganggu.


Akupun mengikuti keinginannya, walau aku tidak akan mentolerir sikap putraku, jika dia berbuat lebih tidak sopan kepada istriku, yang sekarang sudah menjadi ibu sambungnya.


Aku bersyukur, bisa memilikimu sayang, dan aku berjanji akan membuatmu bahagia selalu, ucapku sambil mencium keningnya yang sedang tertidur lelap, karena kelelahan akibat percintaan kami.


Kembali ke topik utama ya guys!


Malam pun berlalu...


Pagi pun tiba!


Seperti biasa, aku melaksanakan tugasku sebagai muslim yang taat kepada Allah SWT, tentukan setelah tubuhku bersih dari Hadas besar dan kecil.


Setelah sholat, aku berjalan perlahan menuju tempat tidur untuk membangunkan suamiku.


" Bang, buruan bangun, mandi dulu baru sholat shubuh, keburu habis waktunya", ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya.


" Iya sayang, ini Abang udah bangun kok!", ucapnya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


" Adek ke dapur dulu ya, mau masak sarapan pagi, Abang mau sarapan apa pagi ini biar adek buatin?", tanyaku.


" Terserah adek aja, semua yang adek masak pasti enak!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Ya udah adek ke dapur dulu ya sayang!", ucapku sambil berlalu pergi menuju pintu kamar.


Setelah menuruni tangga dengan perlahan, aku segera berjalan menuju dapur untuk memasak nasi goreng spesial untuk suamiku dan anak-anakku.


Aku menyiapkan semua bumbu dan bahan makanan yang kuperlukan untuk membuat nasi goreng spesial, seperti: Bawang merah, bawang putih, cabe merah, telur, sosis dan nasi putih.


Selesai menyiapkan semuanya, aku segera menaruh wajan di atas kompor gas. Aku menuangkan sedikit minyak goreng ke dalam wajan dan menghidupkan api kompornya dengan api sedang, barulah setelah minyak gorengnya panas, aku memasukkan Bawang merah dan bawang putihny, serta cabai merah yang sudah kurajang.

__ADS_1


Kemudian, aku memasukkan telur yang sudah kupecahkan cangkangnya, dan sosis yang sudah ku potong-potong berbentuk bulat, kemudian aku menumisnya sambil memasukkan garam dan sedikit penyedap rasa, serta kecap manis pedas sedikit.


Setelah wanginya mengudara, barulah kumasukkan nasi putih dengan ukuran satu mangkok besar, agar cukup untuk kami makan.


Setelah nasi putihnua menyatu dengan bumbu dan telur serta sosisnya, yang menandakan kalau nasi goreng spesialnya sudah matang.


Setelah menghidangkannya di meja makan, aku menutupnya dengan tudung saji yang sudah tersedia.


Kemudian aku memasak ayam goreng dan telur dadar sebagai pelengkapnya.


Akupun menghidangkannya di atas meja makan bersama nasi goreng spesialnya.


" Nyonya udah bangun?, maaf ya nya, aku telat bangun, karena kecapekan tadi malam habis menyetrika pakaian tuan Boy!", tanya salah satu pelayan.


" Ya udah, ga apa-apa, makanan untuk sarapan pagi udah selesai akau masak, sekarang ibu bersihin dapur sama mencari peralatan masak aja ya Bu!", ucapku sambil mencuci tanganku di westafel.


" Iya nya!", ucapku lirih bergegas mencuci peralatan masak yang sudah kotor.


Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk melihat suamiku.


" Abang lagi ngapain?", tanyaku.


" Ini lagi istirahat sambil main game", ucapnya.


" Adek ke kamar anak-anak dulu ya bang, mau nengokin mereka, udah bangun apa belum, biar kita sarapan barengan", ucapku sambil berlalu.


" Iya sayang, nanti kesini lagi ya!", ucapnya sambil sibuk main game di ponselnya.


Aku berjalan perlahan menuju kamar putriku Syakira dan Syifa.


Aku membuka sedikit pintu kamar mereka dan melihat ke arah tempat tidur mereka, yang ternyata masih tidur lelap.


" Ma, ampun ma, geli ma!", ucap Syakira dan Syifa sambil tertawa kegelian.


" Putri mama kok malas ya bangun pagi, belum sholat shubuh, waktunya udah hampir habis, buruan sayang, ngambil wudhu, langsung sholat, keburu habis waktunya", ucapku sambil menarik kaki mereka ke bawah.


" Iya ma!", ucap mereka bersamaan sambil berlalu menuju kamar mandi.


" Gantian nak, hati -hati, jangan lari, ntar kepeleset, bahaya nak!", ucapku.


" Mama yang nyuruh buru-buru kan ma!, Makanya kami langsung lari, biar cepat!", jawab Syakira.


" Ga sopan sayang, menjawab perkataan orang tua seperti itu, seharusnya Kira ngomong iya aja kan udah selesai, ga usah panjang lebar", ucapku dengan nada ketus.


" Iya ma, maaf ya ma!", ucapnya.


" Iya sayang, ntar kalau Kira udah di pesantren, harus lebih sopan dan disiplin ya nak, jangan bikin Mama sama papa kecewa ya sayang!", ucapku menasehati.


" Insha Allah ma, Kira akan berusaha untuk tidak mengecewakan mama dan papa ", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Ya udah, ntar selesai sholat, kalian mandi ya sayang, baru nanti mama panggil untuk sarapan ya!", ucapku sambil berlalu meninggalkan kamar mereka.


Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk menemui suamiku.


" Emangnya Abang mau ngomong apa tadi?", tanyaku sambil duduk di sampingnya.


" Abang mau ngomong serius nih ", ucapnya.


" Ngomong aja bang, jangan bikin adek penasaran donk!", ucapku sambil tersenyum padanya.

__ADS_1


" Sini duduk di pangkuan Abang dulu biar Abang bisikin, biar ga ada yang dengar sayang!", ucapnya.


"Kita kan cuma berdua di kamar ini, Abang ada-ada saja nih!", ucapku sambil mencubit hidungnya.


" Duduk aja di pangkuan Abang Napa sayang ", ucapnya sambil mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di pangkuannya.


" Ini hukuman untuk adek, karena terlalu banyak pertanyaan ", ucapnya sambil ******* bibirku sampai aku kehabisan nafas.


" Abajg nakal ya, sampe bibir adek bengkak nih!, ntar adek malu donk diliat anak-anak ", ucapku sambil merajuk.


" Jangan marah ya sayang, abis Abang gemes banget nyium bibir adek yang manis ini", ucapnya sambil mencium bibirku lagi dan lagi.


" Udah donk sayang, adek malas mandi lagi bang, anak-anak juga udah nungguin kita untuk sarapan ", ucapku menolak ajakannya secara halus.


" Ya udah, ntar habis sarapan, kita lanjutin lagi ya sayang ciumannya ya!", ucapnya sambil memeluk tubuhku dengan erat.


" Tapi, kita kan mau kerumah yang di Sadabuan bang, untuk ngambil barang-barang kami yang tertinggal, sekalian bawa motor matic adek", ucapku.


" Ya udah, setelah pulang dari sana kita lanjutin ya sayang ", ucapnya.


" Okelah sayang!", ucapku sambil tersenyum padanya dan mencubit hidungnya.


" Emangnya Abang ga bosan apa, bercinta terus setiap waktu?", tanyaku.


" Abang ga akan pernah bosan sama adek, malahan Abang yang takut kalau adek bosan sama Abang!", jawabnya.


" Ga mungkinlah, adek bosan sama suami sendiri!", ucapku sambil memeluknya erat.


" Jangan pernah ninggalin Abang ya dek!", ucapnya.


" Itu semua tergantung sikap Abang, kalau Abang baik dan setia selamanya, pasti adek akan selalu bersama Abang selamanya dengan idzin Allah SWT", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Inshaa Allah sayang, Abang akan selalu setia dan mencintai adek dan anak-anak kita selamanya", ucapnya sambil mencium keningku dan bibirku.


Kamipun beranjak dari tempat tidur untuk menemui anak-anak kami di ruang makan untuk sarapan pagi bersama.


" Adek, masak apa tadi sayang?", tanyanya sambil berjalan menuju ruang makan.


" Nasi goreng, ayam goreng, sama telor dadar bang!", ucapku sambil menggenggam tangannya dan berjalan menuju ruang makan.


" Pasti enak rasanya, bikin Abang jadi lapar nih!", ucapnya.


" Ntar, Abang makan yang banyak ya sayang!", ucapku.


" Pastinya donk!", ucapnya sambil tersenyum.


Kamipun tiba di ruang makan, dan anak -anak kami sudah duduk dengan baik di kursi masing-masing.


" Mama sama Papa kok lama banget, Habib udah lapar nih!", ucapnya.


" Maaf ya nak, tadi papa terlambat bangun, ya udah, kita menyantap sarapannya yuk!", ajakhya.


Kamipun segera menyantap makanan yang sudah terhidang di atas piring kami.


Akhirnya, kami sarapan dengan tenang dan nikmat tanpa ada obrolan apapun, mungkin karena kami sudah merasa cukup lapar.


" Masakan mama memang yang terenak dan termantap!", ucap suamiku dan anak-anak kami bersamaan.


Aku tersenyum bahagia mendengar pujian anak-anakku dan suamiku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2