Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Yang Terakhir... Part. 2


__ADS_3

Terima kasih banyak atas dukungannya dan komentar positif nya ya guys...


Detik -detik Episode terakhir ya guys,tapi masih ada season 2 nya, yang pastinya lebih seeeru dan lebih bahagia dan penuh tantangan juga ya...


Love you all...


POV Izal


Pagi ini, setelah sholat shubuh, aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Sipirok untuk menghadiri sidang perdana perceraianku dengan Ani, istriku. Aku bergegas menuju mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Di tengah perjalanan, aku membelikan oleh-oleh untuk anak-anakku.


Tujuh jam berlalu, aku tiba di depan pengadilan agama negeri Sipirok, by karena sidang perdana kami diadakan jam dua siang setelah istirahat.


Aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul sebelas siang.


Aku mencari -cari keberadaan Ani dan anak-anakku, tapi aku tidak melihat mereka dimana-mana. Karena merasa lapar, aku memutuskan untuk makan siang di sebuah rumah Minang yang terkenal masakannya yang lezat dan istimewa.


Setelah duduk di kursi yang sudah disediakan, aku memesan makanan yang kuinginkan kepada pelayan rumah makan.


" Bang, aku mesan rendang daging sapi satu porsi, perkedel kentangnya tiga buah, sama sambal terasi ya", ucapku sambil tersenyum padanya.


Iya bang, tunggu sebentar ya", ucapnya.


Beberapa menit kemudian, makanan yang kupesan sudah dihidangkan di atas meja.


Aku langsung menyantap makanan yang sudah disediakan oleh pelayan di atas piring.


Setelah kenyang, aku beristirahat sebentar di dalam rumah makan, menunggu adzan Dzuhur berkumandang.


Saat adzan Dzuhur berkumandang, aku bergegas menuju masjid untuk shalat berjamaah di masjid raya Sipirok yang tidak berapa jauh dari rumah makan.


Selesai sholat, aku kembali ke pengadilan agama negeri, karena jam menunjukkan pukul satu siang. Aku tidak mau terlambat menghadiri sidang perdana perceraianku, karena aku ingin melihat Ani dan anak-anakku, karena sejujurnya aku sangat merindukan mereka.


Setibanya di depan pengadilan agama negeri, aku terpaku melihat Ani yang terlihat sangat cantik, sama seperti dulu sewaktu pertama kali kami bertemu, disaat dia masih seorang gadis.


Aku melihatnya dengan mata yang tak berkedip, karena perubahan penampilannya dulu sewaktu kami bersama.


Kembali ke topik utama ya guys...


" Assalamualaikum", ucap Bang Izal sambil tersenyum padaku.


"Wa alaikum salam", ucapku dengan reaksi biasa saja.


Aku bersama Pamanku untuk menghadiri sidang perdana perceraianku, sedangkan bang Izal sendirian, tidak ada yang menemani.


" Dimana Habib dan Syakira dek?", tanyanya padaku.


" Mereka di rumah pamanku bersama bibiku", ucapku dengan singkat.


" Padahal aku ingin bertemu dengan mereka, aku sangat merindukan mereka ", ucapnya tanpa sadar.

__ADS_1


" Tumben bang Izal peduli dan rindu sama Habib dan Syakira, selama ini, Abang tidak pernah mempedulikan mereka?", ucapku sambil menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.


" Bukannya aku tidak peduli dan tidak rindu, aku selalu merindukan mereka dan peduli terhadap mereka, adalah anak kandungku, tidak mungkin aku tidak peduli dan tidak rindu, selama ini aku selalu mencoba menghubungi nomor handphonemu, tapi tidak pernah tersambung, mungkin adek sudah mengganti nomor handphone?", ucapnya.


" Iya, aku memang mengganti nomor ponselku, agar kalian tidak bisa mengganggu kehidupan kami yang bahagia ", ucapku dengan penuh keyakinan.


" Syukurlah dek, kalau kalian bahagia tanpa diriku, aku meminta maaf kepada kalian, karena sudah menelantarkan kalian dan membuat kalian menderita", ucapnya.


" Seiring berjalannya waktu, mungkin suatu , saat nanti, kami akan memaafkan kesalahanmu", ucapku dengan penuh keyakinan.


" Walau kita sudah berpisah, aku harap adek tidak menghalangi aku untuk bertemu dengan anak -anak kita, karena sebagai ayah kandungnya, aku berhak", ucapnya dengan nada tegas.


" Aku tidak akan menghalangimu untuk menemui mereka, tapi hanya satu kali dalam sebulan, karena aku tidak mau, mental mereka terpengaruh denganmu, jika kalian sering bertemu, mereka masih anak -anak, lain halnya, kalau mereka sudah besar nantinya, keputusan ada di tangan mereka, apa kamu tidak akan meminta hak asuh penuh terhadap anak- anak?", tanyaku penasaran.


" Tidak, aku yakin kamu lebih baik mengasuh mereka dibandingkan aku dan Mira, karena kamu adalah ibu kandung mereka", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya. Aku pikir kami akan rebutan hak asuh anak, seperti yang di film sinetron yang sering aku tonton di televisi, tapi sebaliknya, diluar dugaanku.


" Baiklah, terima kasih banyak atas kepercayaanmu padaku untuk mengasuh anak-anak kita, dan tahukah kamu bang Izal ini tanggal berapa?", tanyaku.


" Ini tanggal 11 bulan November, ini tanggal sidang perdana perceraian kita ", ucapnya bingung.


" Iya, sejak dulu, memang kamu tidak pernah mengingat tanggal pernikahan kita, karena kamu tidak merasa itu adalah hal yang penting, sungguh ironis sekali, tanggal sidang perdana perceraian kita, adalah tanggal pernikahan kita, dan seharusnya ini anniversary kita yang ke delapan tahun, tapi taqdir berkata lain", ucapku dengan mata nanar menatap wajahnya.


Diapun terdiam mendengar perkataanku, dan menghela nafasnya panjang.


Aku pun berbalik meninggalkannya yang berdiri terpaku melihatku.


Setelah delapan tahun berlalu, baru pertama kali , aku mendengar " Aku mencintaimu", dari mulut suamiku, tapi apalah artinya, semuanya sudah berakhir.


Nasi sudah menjadi bubur, hatiku sudah hancur lebur tak bersisa, tidak ada tempat lagi dihatiku untuk cintanya yang sudah terlambat.


Aku bergegas melangkahkan kakiku, tanpa melihatnya, karena aku tidak mau dia melihatku menangis, bukan karena aku masih mencintainya, tapi karena penyesalan akan cintaku yang bertepuk sebelah tangan dulu, dan saat ini semuanya benar-benar berakhir.


" Ani, katakanlah padaku bahwa kamu masih mencintaiku dan mau hidup bersamaku, aku akan memperbaiki diri dan hubungan kita, dan anak-anak kita tidak akan menderita", ucapnya sambil menggenggam tanganku.


" Lepaskan tanganku", ucapku dengan tegas.


" Semuanya sudah berakhir bang Izal, aku bisa memaafkan semua kesalahanmu, tapi aku tidak akan pernah mau hidup bersamamu lagi selamanya, karena kamu bisa dengan mudah mencampakkan wanita, kamu menganggap diriku seperti sampah, yang bisa kau buang dan kau pungut seenaknya ", ucapku sambil berlalu pergi meninggalkannya.


Di saat dia ingin menyusulku, pamanku menghentikannya dan memberikannya peringatan.


" Jangan kamu paksaan kehendakmu padanya, jika Ani bilang tidak, yah tidak, kamu sudah membuat putriku menderita selama ini ", ucap pamanku padanya dengan tegas.


Waktu berlalu, setelah menjalani sidang selama tiga jam, akhirnya kami sepakat tidak ada mediasi, karena aku sudah muak melihatnya.


Ketua pengadilan agama pun memutuskan untuk membaca keputusan akhir dari Sidang perceraian kami, dibacakan tanggal sebelas bulan depan.


Kamipun keluar dari ruang sidang.

__ADS_1


" Ani, bolehkah aku menemui anak-anak kita?", tanyanya.


" Baiklah, anak-anak ada di rumah pamanku yang di Simaninggir, kamu sudah tahu rumahnya, kamu datanglah kesana", ucapku sambil berlalu pergi meninggalkannya bersama pamanku dengan menaiki sepeda motornya.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah pamanku, sedangkan bang Izal tiba dengan menaiki mobilnya.


" Assalamualaikum ", ucapku sambil tersenyum pada anak-anakku yang sedang bermain di teras rumah pamanku.


" Wa alaikum salam Ma" , jawab Syakira sambil memelukku.


Hari ini, Syakira cuti sekolah, karena aku tahu bang Izal pasti ingin menemui mereka, makanya aku membawa anak-anakku ke Sipirok, rumah pamanku.


" Assalamualaikum", ucap bang Izal.


Aku melihat reaksi Syakira biasa saja, kalau Habib hanya sibuk bermain mobil-mobilannya.


" Nak, ini ayah bawa oleh -oleh untuk Syakira dan Habib", ucapnya sendu.


" Sana sayang, diterima oleh-oleh dari ayahmu", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Apa boleh ma?", tanya putriku sambil tersenyum padaku.


" Boleh sayang, nanti ayahmu bersedih, kalau Kira bersikap acuh seperti itu ", ucapku lagi.


Syakira pun berjalan perlahan menuju tempat duduk bang Izal.


" Terima kasih ya Yah", ucap Syakira sambil tersenyum padanya.


Bang Izal langsung memeluk tubuh putrinya sambil berlinang air mata.


" Kira baik-baik ya sama Mama, jagain Mama dan adek Habib ya, ayah akan mengunjungi kalian sekali dalam sebulan", ucap bang Izal.


" Iya Yah, ayah juga sehat dan baik-baik disana ", ucap Syakira sambil tersenyum.


Aku terhenyak mendengar ucapannya, karena aku tidak menyangka dan menyadari bahwa Putriku memiliki sifat dewasa seperti itu.


Selesai bercengkrama dengan Syakira dan Habib, bang Izal pun pamit kepada kami untuk kembali ke Medan.


" Aku pulang ya dek, semoga Allah SWT memberikan segala kebaikan kepada kalian semua, dan semoga Allah mengampuni semua dosaku karena sudah menyia-nyiakan kalian", ucapnya dengan sendu sambil berlalu menuju mobilnya.


Aku terdiam dan melihatnya pergi.


Iya bang, semoga Allah SWT memberikan segala kebaikan kepada kita semua, ucapku dalam hati sambil tersenyum pada anak-anakku.


" Ayi sayang, kita masuk ke dalam, ntar lagi adzan magrib berkumandang", ucapku sambil menggenggam tangan anak-anakku.


" Ayah kemana Ma?", tanya putriku.


" Ayahmu kembali ke tempat yang seharusnya dia berada", ucapku sambil tersenyum padanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2